Rabu, 01 Maret 2017

GESITS, MOTOR LISTRIK PRODUK LOKAL INDONESIA

NusanTaRa.Com



GESITS, Satu jenama Motor listrik produksi Lokal Indonesia, hasil kerja sama Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) dengan perusahaan distribusi  kendaraan Indonesia  GARANSINDO, PADA 12 November 2016 berhasil menempuh uji coba  jalan dari Jakarta menuju Denpasar Bali berjarak 1.400 km selama lima hari tanpa mengalami masalah yang berarti.     Keberhasilan itu tentu saja membuat optimisme akan kemampuan anak-anak Indonesia untuk memproduksi kendaraan listrik semakin membuncah dan mendukung pertumbuhan ekonomi otomotiv dalam semakin mandiri.    Pengembaangan Motor Listrik Gesits  yang  mendapat bantuan dana riset Rp5 miliar dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), menjadi bukti bahwa para ahli otomotif di Indonesia sudah siap dalam mengantisipasi perubahan arah industri kendaraan di dunia, dari penggunaan mesin berbahan bakar minyak menjadi mesin listrik.

Pengembang Gesits (Garansindo Electric Scooter ITS) mengatakan  akan memproduksi motor tersebut mulai pertengahan 2017, sementara pemasarannya akan dilakukan paling lambat pada 2018.   Peredaraan kendaraan listrik saat ini masih sangat  jarang sementara  kendaraan yang beredar terus meningkat  sejak 1980-an, meski Garansindo sudah memulai menjual motor listrik “ Zero Motorcycles “ di Indonesia sejak 2015.

Pengembangan kendaraan Listrik  diera  sekarang menjadi sangat  penting  mengingat  mesin listrik dipandang lebih efisien dan ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi gas buang,  akibatnya tingkat polusi udara bisa semakin ditekan.   Bahkan Juni 2016 Volkswagen produsen terbesar dunia kendaraan roda empat akan focus pada pengembangan kendaraan bertenaga listrik melalui    Strategy 2025  “.

Untuk mendukung regulasi  sepeda motor listrik  pihak  Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin),  akan bekerja sama dengan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).    Selain itu, akan ditentukan komponen apa saja yang akan masuk standardisasi nasional motor listrik.    "  Kami bisa mulai memikirkannya, panitia teknisnya  bersama dengan kawan-kawan di Kemenristekdikti.   Nanti yang akan distandarkan apanya ?,  Apakah baterainya, motornya, rangkanya.   Itu akan disesuaikan dengan kebijakan pengembangan kendaraan bermotor  ", Ujar Sidin  I Gusti Putu Suryawirawan.

Setidaknya ada tiga hal positif yang dapat dihasilkan dari penerapan produksi dan pengembangan motor listrik secara massal ;  Pertama,  mesin listrik dianggap lebih bersih karena tidak menghasilkan polusi dari emisi gas buang seperti pada kendaraan bermesin BBM,    Kedua,  mesin motor listrik diklaim lebih tenang, tidak bising seperti banyak motor konvensional bermesin konvensional dan   Ketiga,  perawatannya relatif lebih mudah karena mekanisme kerja mesin listrik lebih sederhana, tak serumit mesin bensin.

Keran pemesanan telah dibuka,  pra pemesanan (pre-order) saat ini  sejak 28 Mei 2016 melalui laman resmi Gesits, hingga kini hingga 18 November 2016 telah lebih dari 30 ribu unit terpesankan dari berbagai pihak yang tertarik untuk memesan motor listrik karya anak bangsa.    Diantaranya  oleh pemerintah Bali sebanyak 10 ribu unit, PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) sebanyak 5.000 unit, dan sisanya dari perusahaan lain.   Chief Executive Officer (CEO) Garansindo Group Muhammad Al Abdullah mengungkapkan Gesits akan dijual dengan harga di bawah Rp20 juta per unit (Rp 15-18 juta)  dan  Sebagai awal tahun  2017 akan diproduksi sebanyak 50.000 unit Gesits.

Produsen kendaraan roda dua yang cukup besar di tanah air yaitu Yamaha jenama berlogo Garputala telah diketahui  juga memproduksi motor skuter listrik E-Vino untuk pasar domestik Taiwan.    "  Terkait dengan pengembangan, Yamaha sendiri sudah memiliki skuter listrik, namun kapan itu diperkenalkan di Indonesia masih tidak tahu saya  ",  Ujar Sidin Abidin San GM  Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM).

Gesits, Motor listrik yang dilengkapi baterai lima kwh, baterai bisa di-charge selama 1,5–2 jam dan digunakan untuk jarak tempuh 80–100 kilometer.   Harga jual bsa lebih murah karena menggunakan komponen lokal, satu-satunya komponen import adalah Baterai dari Jepang,    Teknologi dibuat mirip-mirip motor Zero (motor listrik asal Amerika). Kalau itu dijual Rp 200 juta, kita bisa Rp 20 juta  ”, Ujar Sidin Muhammad  Nur  Yuniarto Kepala Laboratorium ITS, Rabu (4/5/16).

Data Spesifikasi Gesits Motor :

Sasis : Tubular

Panjang : 1910 mm

Lebar : 695 mm                                                      
Tinggi : 1.110 mm
Jarak Tempuh : 85 – 100 km
Motor listrik : 5 KW
Baterai : 50 V, 40 AH
Kapasitas angkut : 150 kg
Max speed : 110 km/jam
Berat total : 120 kg
Daya  :  5 KW
Konsumsi energi : 50 km/kwh
byBakuiNunukaN


Transportasi melancarkan komunikasi sosial,
Gesit Motor listrik produk lokal membantu rakyat kecil.

Selasa, 21 Februari 2017

MENYIMAK KEBERADAAN 10 MESJID TERTUA DI INDONESIA

NusanTaRa.Com     


Mesjid merupakan suatu rumah ibadah bagi ummat Islam tempat melaksanakan Sholat, Pengajian, Zikir, Sekolah, Ceramah, Itikap, Shalawat dan berbagai ibadah lainnya, Indonesia dengan ummat Islam terbesar tentulah memiliki banyak mesjid yang dibangun sejak kedatangan Islam yang di bawakan para saudagar dan Muballik dari tanah Arab.  Membangun mesjid tentulah satu tntunan wajib bagi ummat Islam karena dianjurkan berjemaah serta keberadaan ummat Islam yang cukup banyak di suatu wilayah selain sebagai sarana ibadah tentu juga untuk Ukhkuwah Islamiah.

Bangunan Mesjid umumnya berbentuk sebagaimana mesjid di zaman Nabi Muhammad sebagai pembawa Risalah Islam, memiliki bangunan utama tempat Jemaah sholat, Ruang Iman, memiliki Kubah entah bundar atau persegi dengan lambang bulan bintang diatasnya, Menara mesjid yang tinggi, Mimbar tempat berkhutbah, Tempat wudu dsbgnya.   Berdirinya Mesjid di Indonesia berawal sejak masuknya Islam di Nusantara yaitu sejak Kerajaan Islam Samudera Pasai berdiri di Lhokseumawe Aceh Utara oleh Sultan Malik Al-Saleh tahun 1267 M,  keberadaan mesjid tersebut tidak semuanya berdiri hingga kini di bawah ini ada 10 mesjid dahulu yang bertahan hingga kini sebagai mesjid tertua di Indonesia. 

1. Masjid Saka Tunggal (1288 M)

Masjid Saka Tunggal



















Mesjid Saka Tunggal terletak di Desa Cikakak Kec. Wangon di bangun tahun 1288 M pada saat zaman kerajaan Singosari berdiri atau 6 tahun lebih awal dari berdirinya kerajaan Majapahit sebagaimana terpahat di pilar utama masjid.   Proses pembangunan masjid kuno ini tertulis dalam buku karangan Kyai Mustolih sebagai pendiri masjid.

Kekhasan jemaah masjid ini setiap tanggal 27 Rajab mengadakan ziarah masjid dan membersihkan makam Kyai Jaro Mustolih.   Di sebuut Saka Tunggal karena di masjid ini hanya memiliki satu tiang yaitu ditengah sebagai simbol bahwa ALLAH itu satu dan  umumnya jemaaah ini mengikuti keyakinan Islam Aboge.   Masjid ini terletak sekitar 30 km dari Purwokerto. 

2.  Masjid Wapauwe (1414 M)

 

















Secara keseluruhan Masjid ini masih tampak sebagaimana dulu kubah, atap daan dinding setengah permanen tapi tetap terawat dengan baik, masjid  " WAWANE " di Maluku yang dibangun tahun 1414 M di masa lampau dijadikan pusat penyebaran Islam di Maluku dan sokitarnya.   Mulanya masjid ini bernama Masjid Wawane karena dibangun dilereng gunung Wawane by Pernada Jamilu seorang yang masih keturunan Sultanan Islam Jailolo dari Moloku Kie Raha (Maluku Utara).

Kedatangan Pernada Jamilu ke tanah Hitu sekitar tahun 1400 M untuk mengembangkan ajaran Islam pada lima negeri di sekitar pegunungan Wawane yaitu Assen, wawane, Atetu, Tehala dan Nukuhaly, namun sebelumnya telah dirintis oleh seorang mubalik dari Negeri Arab, kemudian nama masjid ini dirubah namanya menjadi  " WAPAUWE ".  

Masjid Wapuwe hanya berukuran 10 x 10 meter, sedang bangunan tambahan yang merupakan serambi berukuran  6,35 x  4,75 meter.   Tipologi bangunannya berbentuk empaat bujur sangkar berukuran.  Bangunan asli pada saat pendiriaannya tidak mempunyai serambi.   Konstruksi bangunan induk dirancang tanpa memakai paku atau pask kayu pada setiap sambungan kayu.

3.  Masjid Ampel  (1421 M).

 

















Masjid Ampel termasuk sebuah masjid kuno yang berada dibagian utara kota Surabaya Jawa Timur.  Masjid ini didirikan seorang pemuka dan penyebar agama Islam di Surabaya kala itu  " SUNAN AMPEL " yang makamnay terdapat di samping Masjid tersebut berupa sebuah kompleks makam Sunan Ampel.  

Hingga kini besaran Sunan Ampel masih terkenal se Nusantara sehingga banyak ummat Islam yang datang untuk menjenguknya.   Banyak pengunjung tersebut membuat Masjid Sunan Ampel dan Kompleeks makam Sunan Ampel menjadi salah satu tujuan objek wisata Religi di Surabaya.  Masjid ini dikelilingi bangunan berarsitektur Tiongkok dan Arab.  Di samping kiri halaman bangunan masjid Ampel  terdapat sebuah sumur yang diyakini sebuah sumur yang dapat membawa tuah maka ketika pulang banyak pengunjung yang menjadikannya sebagai oleh - oleh. 

4.  Masjid Agung Demak (1474 M)  

 
















Masjid Agung Demak termasuk satu masjid tertua di Indonesia dan termasuk masjid yang terpenting dalam penyebaran agama Islam Wali Songo sebagai mana masjid Sunan Ampel.   Masjid ini terletak di Desa Kauman, Demak , Jawa Tengah,  dulunya dipercaya sebagai pusat berkumpul dan tempat penyebaran Islam para Wali Songo, bahkaan para wali bermusyawarah di masjid Demak untuk membahas penyebaran Agama Islam di Indonesia.  

Masjid ini didirikan Raden Patah raja pertama dari kesultanan Demak Bintoro pada abad ke 15 M, Bangunan berbentuk bangunan Induk dan Serambi.   Bangunan Induk memiliki empat tiamh utama yang disebut Saka Guru,  tiang ini konon dari sepihan - serpihan kayu sehingga disebut Saka Tatal, bangunan serambi merupakan bangunan terbuka,  Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit.   

Konon ketika sunan Kali Jaga kesulitan memperoleh Kayu Jati, akhirnya mengumpulkan tatal-tatal dan diikat menjadi sebuah tiang yang hingga kini masih dilestarikan.   Di dalam kompleks lokasi masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam  rojo - rojo kesultanan Demak dan para abdinya.  Di sana juga terdapat sebuah museum yang berisi berbagai hal mengenai berdirinya masjid Agung Demak.  

5.  Masjid Sultan Suriansyah  (1526 M)  

 
















Untuk kepentingan penyebaran Islam di Kalimantan Selatan  maka pada tahun 1526 M di bangun masjid Sultan Suriansyah oleh raja Banjar pertama.  Masjid ini terletak di utara kecamata Kesehatan, Banjarmasin Utara, Banjarmasin daerah yang dikenal sebagai Banjar Lama merupakan ibukota Kesultanan Banjar untuk pertama kalinya.   

Arsitektur bangunan masjid bergaya tradisionil Banjar dengan atap bangunan bersusun tumpang tindih.   Gaya masjid tradisionil di Banjar mihrabnya memiliki atap sendiri terpisah dari bangunan utama.   Masjid ini dibangun tepat di sisi sungai Kecamatan Kesehatan.  Hingga kini masjid Suriansya masih terawat dengan baik dan semakin banyak pengunjungnya. 

6.  Masjid Menara Kudus  (1549 M)      

 

















Sunan Kudus ( salah satu dari Wali Songo) pada tahun 1549 M atu 956 Hijriah  membanguna sebuah masjid yang hingga kini disebut Masjid Menara Kudus di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus Jawa Tengah.  Konon bangunan ini menggunakan batu khusus yang didatangkan dari Baitul Maqdis Palestina sebagai batu peletakan pertamanya.   

Sebagaimana terlihat dalam kalender yang memuatnya bangunannya terlihat Unik  dengan menara seperti Candi dan arsitekturnyapun merupakan perpaduan budaya Islam dan Hindu karena waktu itu masih banyak ummat Hindu.   Hingga kinii masjid ini masih berdiri megah dengan pengunjung yang sangat ramai.  

7.  Masjid Agung Banten (1552 M)  

 
















Meski terbilang masjid tertua saat ini, tapi masjid ini masih banyak dikunjungi para penjiarah bukan saja yang datang dari Banten dan Jawa Barat, tetapi juga dari berbagai daerah di P Jawa dan dari Luar P Jawa, yaitu masjid Agung Banten.
  
Masjid Agung Banten terletak di kompleks bangunan masjid di Desa Banten Lama, sekitar 10 km sebelah utara Kota Serang,  Masjid ini dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570) Sultan pertama Kasultanan Demak  seorang putra pertama Sunan Gunung Jati.



Salah satu kekhasan yang tampak dari masjid ini adalah atap bangunan utama yang bertumpuk limas   mirip pagoda China sebagai sebuah  karya dari arsitektur China yang bernama Tjek Nan Tjut.   Dua buah serambi yang dibangun kemudian menjadi pelengkap di sisi utara dan selatan bangunan utama.

Di masjid ini juga terdapat komplek makam sultan-sultan Banten serta keluarganya,  makam Sultan Maulana Hasanuddin dan istrinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar. Sementara di sisi utara serambi selatan terdapat makam Sultan Maulana Muhammad dan Sultan Zainul Abidin, dan lainnya.

Menara yang menjadi ciri khas sebuah masjid juga dimiliki Masjid Agung Banten. Terletak di sebelah timur masjid, menara ini terbuat dari batu bata dengan ketinggian kurang lebih 24 meter, diameter bagian bawahnya kurang lebih 10 meter.

8.  Masjid Mantingan  (1559 M)



















Salah satu masjid tertua di Pesisir pantai utara P Jawa adalah Masjid Mantingan Kecamatan Tahunan, Kab. Jepara  Jawa Tengah.   Masjid ini dibangun Kesultanan Demak tahun 1559 M Sebagai sarana pendekatan masyarakat Demak dengan Raja dan Allah, Pembinaan ummat Islam dan sarana penyebaran Agama Islam.

Model bangunan terlihat masih kental dengan arsitektur China seperti ubin-ubin lantai tinggi dengan kereta  api-undakannya menggunakan bahan yang di datangkan dari Makao.  Dinding dalam dan luar dihiasi piring tembikar bergambar biru, sedangkan dinding tempat imam berhiaskan relief persegi bergambarkn Margasatwa dan penari-penari diukir dibatu-batu kuning tua.   

Pengawasan pekerjaan konstruksi ini dilaksanakaan tidak lain oleh  Babah Liem Mo Han.  Di dalam kompleks masjid terdapat makam sultan Hadlirin  suami dari Ratu Kanjeng Kali Nya'mat dan adik ipar Sultan Tranggono  penguasa terakhir Demak.  Selain itu terdapat juga makam Waliullah Mbah Abdul Jalil yang disebut juga sebagai  Syehk Siti Jenar.

9.  Masjid Al-Hilal Katangka  (1603  M)


















Masjid ini dibangun tahun 1603 M pada masa pemerintahan Raja Gowwa-24, Aku Manga'ragi Daeng-Manrabbia Karaeng Lakiung, Sultan Alaudin.   Kemudian pada tahun 1605 M mesjid ini benar-benar di rubah dan diberi nama Masjid Katangka Gowa. 

Masjid berukuran 14 x  14,5 meter, tinggi bangunan  11,9 meter dan 90 Centi meter tebal dindingnya sehingga dua orang bisa shoolat di atas dinding jendolanya, bahan baku dari batu bata dengan atap ubin lantai porselin.  Lokasi daerah Kobang, Katangka Gowa.  Perbatasan Kodya Makassar dan Kabupaten Gowa.


10.  Masjid Tua Palopo  (1604 M)

 















Sultan Abdullah Matinroe seorang Raja Luwu merupakan pendiri masjid pertama di Palopo pada tahun 1604 M, Memiliki luas 15 meter persegi diberi nama " Orang Tua " karena usianya yang sudah tua.   Sedangkan nama Palopo diambil dari kata dalam bahasa Bugis dan Luwu yang memiliki dua arti,  Pertama, Penganan  yang terbuat dari campuran beras ketan dan air gula,   Kedua, memasukkan pasak dalam lubang tiang bangunan, kedua makna ini memiliki hubungan dengan proses pembangunan Masjid  tua Palopo sebagai Pusat keIslaman Kesultanan Luwu ketika itu

byMuhammaDBakkaranG




Azan berkumandang pemanggil sholat,

Masjid rumah Allah tempat orang Islam berdoa dan sholat.

Minggu, 19 Februari 2017

BUPATI NUNUKAN, HJ. ASMIN LAURA HAFID, MELANTIK PEGAWAI PASCA 6 BULAN MENJABAT

NusanTaRa.Com



Bupati  Nunukan Hj. Asmin Laura Hafid, SE, MM,  melantikan Pegawai di lingkungan Kabupaten Nunukan untuk pertama kali dimasa jabatannya  tanggal 30 Desember 2016 sebanyak 600 orang  lebih pegawai,  Pelantikan ini masih bersifat Pengukuhan untuk mengisi jabatan di Organisasi Perangkat  Daerah (OPD)  terutama yang baru terbentuk.   Sekretaris Daerah Drs. Tummy Harun MSi berUjar bahwa, “  Pelantikan ini hanya berupa Pengukuhan dalam rangka mengisi pejabat pada OPD  yang baru disyahkan berdasarkan Perda No. 18 tahun 2016  meliputi 50 SKPD “, disamping itu lanjut Sekda bahwa “ Pengukuhan ini berguna bagi Pemda atau SKPD terkait untuk membuat kebijakan terkait pengelolaan anggaran tahun kerja 2017 nantinya, namun Pelantikan atau Mutasi sesungguhnya baru digelar pada awal Januari tahun 2017 “.  

Organisasi Perangkat Daerah yang baru terbentuk berdasarkan Perda memuat 50 SKPD meliputi  OPD lama dan OPD baru diantaranya Dinas Pertanahan, Dinas Kebakaran,  Badan LHD dan Kebersihan, BAPPEDA,  Dinas Informatika, Dinas Sosial, Dinas Perdagangan, Tiga Kecamatan pemekaran Krayan dan lainnya.   Pengukuhan tersebut dilakukan Bupati Hj. Asmin Laura Hafid, SE, MM pada Jumat 30 Desember 2016 termasuk juga pengukuhan  semua kepala SKPD yang ada di lingkungan Pemda Nunukan. 

Awal 2017,   10 Januari Pemkab Nunukan melaksanakan Mutasi besar-besar dengan melantik pejabat daerah sebanyak 512 orang pegawai meliputi Eselon III dan IV yang dilantik oleh Bupati HJ. Asmin LAURA Hafid, SE, MM,  Sementara untuk Eselon II baru  akan dilaksanakan  pada waktu yang akan datang  melalui mekanisme sistem Assesmen untuk mendapatkan pimpinan yang benar-benar sesuai dengan SKPD yang bersangkutan. 

Sebagaimana diketahui bahwa di akhir tahun 2016 dan awal  tahun 2017 merupakan satu sejarah tersendiri bagi pemerintahan di Indonesia khususnya di Daerah baik Povinsi maupun Kabupaten dan Kota, karena untuk pertama kali terjadi Mutasi besar-besaran pada setiap daerah,  kegiatan ini terjadi secara serentak untuk beberapa daerah sehingga dalam kurun waktu tersebut media massa baik TV maupun media surat kabar selalu dipenuhi dengan berita Mutasi pegawai dalam jumlah besar hingga mencapai 800 pegawai.   Pada hal biasanya pelaksanaan pelantikan di lingkungan Pemerintah daerah dilaksanakan dalam jumlah jauh lebih sedikit sekitar 200 pegawai serta waktu pelaksanaanya antara pemda sangat berbeda.

Keadaan ini memungkinkan terjadi tidak lepas dari beberapa perubahan tatanan Birokrasi pemerintahan daerah yang berawal dari ditetapkannya pelaksanaan pemilihan kepala daerah secara bersamaan baik ditingkat Provinsi maupun Kabupaten dan Kota di seluruh Indonesia meski dalam beberapa tahapan yang kemudian diharapkan bahwa kedepan pemilihan Kepala daerah tersebut dapat dilaksanakan secara serentak di Seluruh Indonesia.  Kebijakan ini mulai di tetapkan ketika Gunawan Fauzi menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, Pelaksanaan Pemilukada secara Serentak dipandang lebih bijak baik secara tehnis, Ekonomis dan Politis karena akan memudahkan bagi Partai Politik, Masyarakat, Peserta dan Pemerintah dalam penyelenggaraaan pemilu disamping akan lebih menyingkatkan waktu.    

Peraturan Pemerintah (PP) No. 18 Tahun 2016 Pelantikan di maknai sebagai upaya penyegaran dan penambahan pengalaman kerja, sehingga nantinya mengemban amanah dalam cakupan tanggung jawab yang lebih luas.    "  Saya berharap kiranya momentum dari setiap pelaksanaan mutasi seperti ini, dimaknai sebagai upaya kita untuk mampu melahirkan aparatur pemerintah yang lebih responsif, mempunyai etos kerja yang tinggi, dan mampu merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi kinerjanya sesuai dengan sasaran pembangunan dan memiliki etika dan moral yang baik pula  ",  Ujar Bupati  Hj. Asmin Laura Hafid dalam sambutannya.  

Pelantikan Pegawai secara serentak dibeberapa daerah di akhir tahun 2016 dan awal tahun 2017, disamping tidak terlepas dari kebijakan pelaksanakan pemilukada secara serentak, kemudian kebijakan ini didukung dengan kebijakan tentang Aparat pemerintah yang tertuang dalam  UU No. 8/2015 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota khususnya pasal 162 ayat (03)  “ Gubernur, Bupati dan Walikota dilarang melakukan penggantian Pejabat di lingkungan pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam jangka waktu Enam bulan terhitung sejak tanggal pelantikannya, serta Surat Edaran No. 02/2016 Tentang Penggantian Pejabat yang dikeluarkan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi.

Karena Pemilukada secara serentak gelombang pertama  yang diselenggarakan oleh beberapa daerah Seperti Kabupaten Nunukan, Kabupaten Bulungan dan lainnya, umumnya pelantikan sebagai Kepala daerahnya sekitar bulan Juni 2016 praktis pejabat kepala daerah tesebut baru dapat melantik pejabat di lingkungannya sesuai surat Edaran No.02/2016 pada Bulan Desember 2016 dan Januari 2017.   

Pelantikan yang diselenggarakan pada 10 Januari 2017, ternyata meninggalkan satu persoalan baru karena sebanyak 28 orang Pejabat struktural sebelumnya dari Eselon IV dan III tidak mendapatkan jabatan yang tentunya menimbulkan rasa kurang senang dan protes dari pejabat tersebut seperti Drs. Sudihermanto mantan Kabag Umum, Yance Tambaru, SE mantan Kabag Ekonomi, Firnanda S.Ip mantan Sekretaris Kesbang, Maryala Djollo, SE mantan Kabid Perdagangan, dan  Yoslin Biantong, SE Mantan Kasubid di Bappeda.  Ketidak puasan tersebut membawa para pejabat tersebut untuk berdialoh dengan anggota Dewan dan Pihak Pemda untuk mendapatkan solusi yang terbaik, meski Wakil Bupati telah mengatakan bahwa Pelantikan Pejabat adalah hak Preagratip Bupati melalui mekanisme yang ada.

Usaha dialoh para pejabat yang tak mendapat jabatan pada pelantikan 10 Januari 2017 tersebut serta dukungan anggota Dewan dengan mengajukan permasalahan ini kepihak pemda untuk mendapatkan solusi terbaik,   Akhirnya bupati memberikan penetapan tugas baru bagi Mantan pejabat yang tidak mendapat jabatan  sebagai Pelaksana dan Pengawas di beberapa SKPD Daerah dalam membantu pelaksanaan tugas yang ada disana.  Penetapan sebagai Pelaksana dan Pengawas tersebut seperti, Yance Tambaru, SE Jabatan lama Kabg Ekonomi menjadi Pelaksana pada bagian umum dan Protokol, Budi Prasetya Sekretaris Inspektorat menjadi Pelaksana di Kec. Nunukan, Marnyalla Djollo Kabid Pedagangan mmnjadi Pelaksana Kec. Sebatik, Yoslin Biartong Kasubid di Bappeda menjadi Pelaksana di Bappeda, penetapan ini tentunya akan memudahkan proses status kepegawaian dan penggajian.
byKariTaLa LA

Mutasi Pejabat penyegaran dan penambah wawasan,
Asmin Laura, pejabat harus lebih responsip dalam pelayanan.