Selasa, 13 Juni 2017

" SUKU MANTE " SUKU TERASING YANG HIDUP DI PEDALAMAN ACEH

NusanTaRa.Com   


Kisah suku Mante sebagai satu suku asli di Bumi Nusantara sejak zaman dahulu telah ada, yang hingga kini kisah tersebut masih dikisahkan orang secara turun-temurun, lintas generasi namun hingga hari ini  Suku Mante masih misteri setidaknya dalam ukuran orang awam.   Suku Mante mendiami wilayah pedalaman Aceh cenderung hidup soliter dengan 4 keluarga, menyendiri ditempat terpencil jauh dari perkampungan dengan pola hidup tertinggal sehingga kehidupannya sangat bergantung pada ketersedian sumber daya alam.   



Kisah ini kembali mencuat bahkan menjadi viral di dunia sosmed manakala sekelompok anak muda bermotor trail menyelusuri hutan pedalaman Aceh dan kamera mereka merekam penampakan seorang kerdil tak berbusana berlari kencang didepan mereka  kemudian menghilang kedalam semak-semak, sekitar Maret 2017.   Video yang di unggah pada Rabu, 22 maret 2017,  tidak terlihat secara jelas tapi terlihat sosok manusia kecil membawa kayu berlari terus agak cepat, entah karena ia takut dan menghindari kejaran  rombongan motor trail tersebut.

Gambaran tersebut memberi kesan bahwa ia berlari ketakutan karena adanya sesuatu yang asing memasuki areal  pemukiman mereka, sesuatu yang mengeluarkan suara asing dan keras serta ditunggangi manusia yang lebih besar.   Keberadaan pemukiman yang jauh ditengah hutan sebagai bentuk ketakutan hidup secara normal dan membuat kehidupannya menjadi terasing sebagai suatu kehidupan yang alami, tiba-tiba kehidupan tersebut diusik oleh sesuatu yang asing dan menakutkan bagi mereka sementara bentangan alam tempat tinggal bagi mereka semakin terbatas.

Spekulasi tentang manusia kerdil dengan ketinggian sekitar satu meter tersebut bermunculan,  anggapan tentang    suku Mante  “ semakin menguat setelah membaca berbagai komentar mengakui bahwa tanda dan keberadaan suku tersebut sejak zaman dahulu telah ada di Bumi Aceh.    Seorang Orientalis  Belanda Snouck Hurgronje dalam bukunya “De Atjehers” menyebutkan tentang keberadaan suku Mante di Aceh sebagai suku Etnis Melayu Proto yang kecil.    Seorang pawang hutan, Gusnar Effendy, “  Saya pernah menemukan Suku Mante hidup di hutan-hutan  pedalaman Lokop   Kab.  Aceh Timur,  di hutan-hutan Oneng, Pintu Rimba, Rikit Gaib Kab.  Aceh Tengah dan Aceh Tenggara.    Umumnya tinggal di gua-gua, celah gunung. Kalau siang hari berada di alur-alur sungai dalam lembah   “,  Ujar SiDin Gusnar Pawang Hutan,  Kompas, 18 Desember 1987. 

"  Melihat bentuk tubuhnya yang kerdil dengan ukuran semeteran serta hidup terasing ini  akan mengingatkan kita dengan satu suku Hobbit (manusia kerdil) di Flores disebut Homo florensiensis yang hidup di dalam gua-gua dengan tanda yang sama namun kulitnya lebih gelap, apakah mereka masih sama mengingat jarak dan pola penyebaran manusia yang agak berjauhan tentu perlu kajian lebih jauh ?  ",  Ujar SiDin LaHabing pada NusanTaRa.Com.   Harian Kompas 18 Desember 1987 memuat tentang suku Mante suku terasing yang hampir punah tinggal di dalam Gua Bete, Jambur Atang, Jambur Ketibung, Jambur Ratu daan Jambur Situpang.   Suku Mante memiliki pisiologi tubuh kerdil tinggi sekitar satu meter, Rambut terurai panjang hingga pantat, kulit cerah, tubuh berotot kasar dan wajah bersegi dengan dahi sempit,  kedua alis mata bertemu di pangkal hidung yang pesek dan sebagian mereka bertelanjang.   Sementara versi Wikipedia mengatakan Suku Mantesalah satu etnis terawal dan pembentuk etnik-etnik di Aceh,  Suku ini bersama suku lainnya, yakni Lanun, Sakai, Jakun, Senoi dan Semong, merupakan cikal bakal suku-suku yang ada saat ini di Aceh.  

Beberapa kisah orang tentang Suku Mante  :   SiDin  Buchari Riseh Tunong berujar,     Di daerah kami juga juga ada satu tempat yang pernah didiami manusia (mante) orang tua-tua di kampung kami menyebut namanya bante, mereka kadang muncul di sore hari sambil berlari-lari kecil di tepi sungai Leubok Lhok Panyang Gampong Riseh Tunong  ” dan "  Sekitar tahun 86 saya bertemu makhluk seperti itu di kebun di daerah Leupung jalan menuju Meulaboh. Dulu kami kira mereka orang pedalaman yang berbulu.  Ketika abang saya bertanya. “Siapa key?”. Dia hanya diam. terus kami teriak memanggil bapak. Makhluk itu langsung masuk semak-semak hutan rotan dan ijuk. Tingginya kira-kira 1 meter karena saya masih kelas 4 SD. Tapi baru dalam 4 tahun ini tahu nama mahkluk itu. Manthe atau manti... Semoga Manusia tak mengusiknya jika tidak ingin diusik  ”, Ujar SiDin Helmy Rommy dalam kisahnya.
byAsnISamandaK dr berbg tulisan.


Orang kerdil makan Talas,
Suku Mante manusia primitip hidup tragis.         

Minggu, 14 Mei 2017

MUSIK GENDANG BELEQ KESENIAN MASYARAKAT SASAK YANG ATRAKTIP

NusanTaRa.Com


Dung  dung dung brak  ...... suara tabuhan alat musik gendang dengan irama yang beraturan ditabuh sekumpulan pria yang berbusana adat Suku Sasak, itulah kesenian tradisional Gendang Beleq  dari suku Sasak Lombok Nusatenggara Barat Indonesia.   Kesenian ini biasanya diselenggarakan pada kegiatan tradisional islam seperti  pesta perkawinan,  Selamatan  dan kegiatan lain yang  bersifat islami atau diacara formal seperti acara penyambutan dan peresmian yang dihadiri kalangan penting.   Penambah keindahan kesenian karena  bunyi tabuhan tersebut dikuti dengan koreotari yang menarik serta para pemainnya yang menggunakan busana  adat sumba yang indah mirip busana Bali.

Sebagai kelompok musik yang lahir dari masyarakat Sasak  mayoritas menganut agama Islam maka dengan sendiri nuansa Islam terasa dalam pertunjukan ini.   Semua itu dapat terlihat  pada susunan personilnya,  gerak tarinya yang berlatar gerak yang indah,  irama tabuhan yang dominan di hasilkan dari Gendang  serta  nada  yang mengiringi tabuhan ini cukup mempesona. Gedeng Beleq sebagai alat musik utama  yang terdiri empat buah atau lebih memiliki ukuran besar dibandingkan gendang biasa berukuran Panjang 60 Cm dan diameter 40 Cm dan dalam atraksi biasanya di gantung di depan dada si penabuh.  Kesenian ini jika tampil mirip dengan Marching Band yang berdemonstarsi di lapangan terbuka atau dapat juga di jalan, namun saat ini ada yang tampil khusus dengan mengiringi seorang penyanyi dengan lagu daerahnya.

Gendang Beleq  merupakan  kesenian musik tradisional Suku Sasak Lombok  yang dimainkan secara berkelompok  di ruang terbuka diiringi gerak tari atau dalam ruangan dengan gerakan  fasip.     Gendang Beleq berarti Gendang Besar yang menghasilkan bunyi  dan  Beleq  dari bahasa Sasak yang berarti besar sebagai alat musik utamanya,  kelompok ini biasanya dimainkan  13 – 17 orang sebagai angka rakaat dalam sholat wajib Islam,  terdiri dari 2 – 4 gendang besar atau lebih (Ada dua macam 2 Gendang Beleq mama dan 2 gendang Beleq nina) berfungsi sebagai pembawa dinamika,   dua Gendang Kodeq (gendang kecil) disebut  perembak belek dan perembak kodeq sebagai alat ritmis, gong,   dua  Reog  dan beberapa pengindah gerakan kelompok.
Bagi masyarakat Sasak  dahulu kala  Gendang Beleq  dijadikan penyemangat prajurit yang pergi berperang dan yang pulang dari peperangan karena suara yang dihasilkan dapat menyemangati pasukan untuk membela raja  atau pengiring dalam upacara adat seperti Merari (pernikahan), Sunathan, Ngurisang (Potong rambut bayi) dan Begawe Beleq.    Bagi Masyarakat Sasak Gendang Beleq memiliki nilai filosofis bagi kehidupan mereka dan  disakralkan  yang menyatu dengan jiwa dan semangat hidup mereka. 

Gendang Beleq yang dimainkan dengan cara ditabuh terbuat dari pohon meranti yang  banyak ditemukan  di Pulau  Lombok, gendang beleq menghasilkan suara yang besar dan bergema.   Suara ini dihasilkan karena batang pohon Meranti  yang dibuat gendang pada  bagian tengah  dilubangi kemudian kedua ujungnya  ditutupi  dengan kulit kambing, sapi  atau  kerbau sebagai bagian yang ditabuh untuk menghasilkan suara meski sesekali bagian tubuh dipukul untuk menciptakan impropisasi irama.   Bagian tubuh gendang dari kayu tersebut kadang di ukir dan diwarnai dengan indah penambah kesemarakan kelompok kesenian ini kala beratraksi.

Keberadaan musik  tradisional Gendang Beleq dirasakan keberadaannya dimasyarakat tidak sepesat pertumbuhan musik  modern terutama dalam penggunaannya seperti Band atau elekton, tapi pertumbuhan kelompok ini masih tetap eksis terukur masih adanya kelompok ini pada setiap daerah.  Menurut beberapa tokoh adat Sumba bahwa keberadaan musik ini berkembang menjadi beberapa jenis kesenian yang cenderung lebih kreatip,  sederhana dan terkolaborasi dengan alat musik modern  seperti  Kecimol,  Ale –ale dan lainnya. 
byFarhaDTukirmaN


Dung Dung Braak  silat diraja tari,
Gendang Beleq kesenian Islam bernuansa Bali.

Sabtu, 22 April 2017

LATSITARDA 37 TAHUN 2017 DENGAN KONPLEKSITAS PERSOALAN PERBATASAN DI KABUPATEN NUNUKAN

NusanTaRa.Com


Peserta Latsitrada angkatan XXXVII tahun 2017 tiba di pelabuhan Tunon Taka Nunukan sebanyak 380 orang menggunakan Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Teluk Bintuni senin 17 April 2017, disambut Bupati Nunukan Hj. Asmin Laura Hafid dan jajaran Pemda Nunukan.   Peserta yang akan bertugas dalam Latsitarda tersebut selama 20 hari dari Taruna Akademi  TNI, Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) dan Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) tingkat akhir sebagai pematangan dan bekal awal bagai para Taruna dalam bertugas nanti.



Latihan Integrasi Taruna Wreda (Latsitarda) merupakan satu kurikulum  pendidikan Taruna Akpol, Akmil dan Praja IPDN yang harus diikuti sebelum lulus pendidikan, latihan ini tentunya akan memberikan kemampuan dan Integritas yang baik bagi para peserta sesuai dengan pendidikan sebelumnya yang diaplikasikan dengan situasi yang mereka hadapi di masyarakat.  Penempatan 380 personal Latsitarda di Kabupaten Nunukan  disebar pada beberapa kecamatan seperti Kec. Nunukan Selatan, Kec. Sebatik dan Kec,Seimenggaris akan memberikan satu wawasan nasional yang lebih luas karena daerah tersebut berada di perbatasan Indonesia dan Malaysia.     Dengan hadirnya peserta Latsitarda di Nunukan  diharapkan peserta  dapat lebih mengenal daerah Perbatasan yang sangat membutuhkan sentuhan pembangunan dan sejumlah permasalahan tapal batas yang konpleks  “,  Ujar SiGaluh Hj. Asmin Laura Hafid dalam sambutannya.   



Latsitarda angk. 37 tahun 2017, dipusatkan di Provinsi  Kalimantan Utara yang disebar ke beberapa Kabupaten yang berada di perbatasan termasuk Kab. Nunukan,  Pembukaan acara Latsitarda tingkat Provinsi dilaksanakan di Tarakan dipimpin Wakil Gubernur Kaltara H. Udin Hianggio 20 April 2017.   Untuk tingkat Provinsi Kaltara peserta Latsitarda di ikuti 1.602 peronil terdiri dari Akmil yaitu AD  = 226 personil,  AU = 96 personil,   AL = 117,  AKPOL = 295 personil, STPP = 45 personil, Praja IPDN  = 400 personil, Mahasiswa  = 146 personil, Dosen Pembimbing = 11  personil dan Pelatih = 311 personil.      Diharapkan para peserta dalam pelatihan ini dapat menambah rasa Nasionalismenya sehingga menjadi tunas-tunas bangsa dengan integritas tinggi dalam pembangunan melalui pelaksanaan program kegiatan yang telah disiapkan bersama masyarakat baik fisik maupun non fisik  “, Ujar SiDin Udin Hianggio.



Komandan Resimen Taruna Latihan  (Danmentarlat) Nusantara ke 37 tahun 2017 di Kalimantan Utara  Kolonel (Pnb) Ramot Sinaga, mengharapkan dengan adanya program kerja dari Taruna tingkat akhir ini mereka diharapkan mendapatkan wawasan yang lebih luas tentang Negara Kesatuan RI khususnya di Kaltara yang merupakan daerah perbatasan dengan Malaysia.   Program Latsitarda di daerah perbatasan tentunya juga sejalan dengan Nawacita program Presiden Joko Widodo yaitu membangun dari daerah pinggiran (perbatasan), sehingga kedepan para Taruna  dalam pengambdian dinasnya telah memiliki wawasan pembangunan yang berada di daerah pinggiran dalam mengukuhkan Negara NKRI.



Peserta pelatihan ketika turun kelapangan tentunya akan menghadapi berbagai persoalan yang ada dalam masyarakat dan  wilayah perbatasan yang konpleks semua itu tidak saja akan memberi pengetahuan dan pengalaman,  lebih dari itu akan menambah kematangan moral dan  nasionalisme,  dan semua peserta akan diarahkan untuk terus  menjalankan kegiatan sebagaimana yang telah diprogramkan.  Kondisi alam Kabupaten yang berbatasan dengan Malaysia mulai dari Pulau Sebatik hingga  wilayah krayan sepanjang 495 km merupakan area yang sangat mudah untuk menjangkau  Malaysia, tapi tidak satupun peserta dibenarkan menyeberangi kawasan tersebut, adapun pengenalan patok batas Negara akan dilakukan sesuai materi yang telah disajikan  dipandu para pelatih.



Para peserta  juga memperoleh kesempatan untuk berintegrasi satu dengan yang lainnya, yang nantinya akan berbaur menjadi satu dan ditempatkan di induk semang / satu keluarga untuk melaksanakan kegiatan integrasi,  beberapa Sasaran yang ingin diraih yakni, sasaran fisik maupun nonfisik yang sudah diprogramkan selain itu juga masyarakat Kaltara  bisa ikut membantu dan merasakan kehadiran dari taruna dan praja sebagai satu motivasi untuk maju.   Tujuan dilaksanakannya Latsitarda Nusantara yakni agar Akademis Taruna mantap moralitas perjuangannya,  cinta tanah air tinggi  serta menumbuhkan semangat kemanunggalan Abdi Negara.



Bagi peserta Latsitarda angkatan 37 yang bertugas di Kecamatan perbatasan Kabupaten Nunukan sebanyak 380 personil terdiri dari Akmil dan Akpol 330 personil dan Praja IPDN  50 personil harus siap mengabdikan diri kedalam masyarakat Perbatasan bukan hanya dengan kesiapan pengetahuan tapi juga kesiapan mental dan moral yang baik sehingga menjadi satu pandangan dan teladan positip.  Bagi peserta ada pribahasa yang mengatakan   Lain Padang lain Belalang Lain Lubuk lain Ikannya, dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung ‘, sehingga jaga nama baikmu, jaga kode kehormatanmu dan jaga kode etikmu selama pelatihan di sana.
byMuhammaDBakkaranG 



Lain Lubuk lain pula Ikannya,
Latsitarda di Daerah Perbatasan memberikan pengalaman berbeda.

Minggu, 16 April 2017

KUDAPAN " SAMBAL MANISAN MANGGA KUTAI BARAT " PENAMBAH SELERA

NusanTaRaa.Com  












Kata orang kurang lengkap suatu Traveling kesuatu daerah bila kita tidak menikmati kuliner khasnya, karena makanan adalah jamuan sambutan atau pesahabatan yang sangat familiar, akrab dan berkesan bagi setiap orang.   Dengan sajian khas maka kita dapat menikmati bersama-sama dengan bahagia baik itu awal pertemuan, Acara keluarga, Acara Resmi, Kumpul bareng, atau berwisata,  terlebih bila sudah jam waktu makan sehingga sekalian menghilangkan rasa lapar dan mengembalikan semangat serta energi setiap yang terlibat dalam perjamuan makan tersebut.

Demikian dengan pengalaman saya ketika mengunjungi Kota Barong Tongkok atau Sendawar di Kutai Barat, meski banyak penganan yang tersaji di warung namun yang sangat berkesan bagi saya tentulah "  Sambal manisan Mangga Kutai Barat  ",  yang memberikan kesan rasa Asam, Manis, Pedas, gurih sehingga menimbulkan gairah makan untuk lebih baik dalam menemani penganan lain seperti Nasi, Lauk, dan Pauk.   Penganan berbahan dasar Mangga Kuini ini banyak anda temukan ketika menuju Kutai Barat mulai dari warung disepanjang perjalanan, di kampung, dan di warung Barong Tongkok atau Melak yang tersaji dalam piring kecil,  sedap.

Menu Sambal Manisan Mangga Kutai Barat yang saya paparkan ini,  saya petik ketika mampir di warung Hidayah Camp Baru di jalan Trans Kutai Barat ketika mampir ngasoh disana sambil makan dengan Pepesan Patin ikan khas Urang Borneo.  Buah Mangga Kuini merupakaan buah yang banyak ditemukan di seputaran Kota-kota Kutai Barat sehingga hampir disetiap warung di Barong Tongkok, Bangun, Melak dan Sendawar pasti menyajikan manisan ini disamping bahwa penganan ini memang sudah menjadi penganan khas di sana.

Bahan-bahan yang digunakan   :

1.  9 biji cabe rawit setan
2.  5  biji Bawang Putih + 1 bawang Merah
3.  Garam secukupnya
4.   Jeruk  Nipis
5.   1  Mangga Mentah potong/iris tipis-tipis
6.  Minyak Goreng
7.  Gula pasir

Cara Membuatnya   :

1.                1.   Ulek kasar cabe bawang putih + Merah dan garam
2.   Masukkan mangga yg sudah dipotong tipis2 aduk rata dengan sambel nya
      3.   Panaskan minyak goreng tuangkan adonan sambel mangga hingga matang
            jangan kelembekan +  Gula.
      4.   Sajikan dipiring sebelumnya tiriskan dengan Jeruk Nipis.
     5.   Sajian ini siap disantap menemani penganan pokok lain dan pasti ada lahap dan bersemangat.
 
Jika  menikmati  "  Sambal Manisan Mangga Kutai Barat  "    jangan lupa  sekalian  pesan Pepesan Ikan Patin  sehingga  selera  Kutai  Barat  benar - benar  terasa  setidaknya penganan ini  juga  sangat  enak  ditemana  Lauk  Ikan Mas   dan   Ayam  Goreng  ......  Yammmy,   Jangan  lupa  saat  membuat   Sambal Manisan ini untuk  menyetel rasa pedas dan  bumbu lainnya sesuai  dengan rasa  anda karena ia  akan sangat mempengaruhi selera anda dan kerabat anda.
  
Mangga Kuini (Mangifera  odorata  Griffith), adalah sejenis dengan manga-manggaan yang memiliki Aroma yang harum,  Daging buah yang lembut dan Rasa yang manis namun pada saat mudaah masam,  buah ini sering dibuat manisan pada saat mengkal.    Buah   Mangga berpohon kayu lurus dengan ketinggian 10 – 15 meter daung lonjong tunggal sedang buah berbentuk Lonjong ketika mudah dagng buah berwarna Putih dan saat masak Daging buah berwarna Kuning.   Buah ini banyak tumbuh di alam seperti  di daerah hutan Asia Tenggara, seperti di Kabupaten Kutai Barat.    Kutai Barat sebuah Kabupaten yang terletak di Hulu Sungai Mahakam yang beribukota di Barong Tongkok sebagai pusat pemerintahan, kota besar lainnya adalah Melak, Kota Bangun, Muara Lawa dan Sendawar dengan suku lokalnya adalah Dayak Bahau, Dayak Benuaq, Dayak Tunjung, Dayak Kenyah, Melayu Kutai dan suku-suku lainnya. 
byAsnISamandaK















Di Sungai Mahakam terdapat Danau Semayang,
Sambal Manisan Mangga Kutai Barat menemani makan Siang.