Minggu, 17 April 2022

HUTAN DAN LAHAN ADAT “ JANTUNG “ SUKU MAPUR, HARUS DIKEMBALIKAN SEBAGAI ASET ADAT

NusaNTaRa.Com

byLaSikUAgaY,      S  e  l  a  s  a,     1   5       M  a  r  e  t       2  0  2  2

Suku MAPUR ditengah lahan Sawit yg menggerus HUTAN ADAT mereka

Suku Mapur di Dusun Aik Abik, Desa Gunung Muda, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung,  saat ini resah karena di desa mereka tidak ada lagi hutan yang dapat diberlakukan sebagai hutan adat         penopang hidup, kekuatan moral dan semangat hidup  karena   sebagian besar menjadi perkebunan sawit dan penambangan timah.   Mereka  berharap negara mengembalikan dan mengakui  keberadaan hutan adatnya  yang  berada di wilayah perbukitan maupun pesisir,  ratusan jiwa warga mereka menetap di Dusun Aik Abik, Dusun Pejem, Dusun Tuing, Dusun Mapur  dan lainnya.

Seorang warga Suku Mapur di Dusun Aik Abik, Desa Gunung Muda, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung bernama Asih Harmoko (40) terdiam sejenak saat harus menjelaskan Hutan Mapur yang sudah kritis,   “  Tidak ada hutan adat di dusun ini. Semuanya sudah menjadi padang sawit  ”,  Ujar SiDin Asih Harmoko dengan Plabomoranya (hebatnya) yang meringis,  awal Februari 2022.   “  Dusun ini dulunya dikelilingi hutan dan kelekak [kebun buah seperti durian, cempedak, dan manggis]. Beragam pohon tumbuh  ”,  Ujar SiDin Asih Harmoko, yang sejak 2019 menjadi Ketua Lembaga Adat Mapur [LAM].

Bagi Asih Harmoko Hutan adat sangat  penting dan dekat bagi kaum mereka sebagaimana yang sering  ia dengar kisahnya dari orang tuanya (Saini Pangilan Aku)  dan neneknya (Atuk Amin) sejak kecil lagi.  Melihat keberadaan Hutan Mapur ia khawatir budaya dan tradisi Suku Mapur hilang karena banyak hutan menjadi perkebunan sawit, dia bersama tokoh adat Suku Mapur mendirikan Lembaga Adat Mapur [LAM]. Tujuannya, selain melestarikan budaya dan tradisi Suku Mapur,  “  Kami juga berjuang mendapatkan kembali hutan adat  ”,  Ujar SiDin Asih Harmoko.

Banyak masyarakat di Dusun Aik Abik menyetujui perluasan kebun kelapa sawit ketika  PT. Gunung Pelawan Lestari [GPL] melakukan sosialisasi  tahun  2006 dan diberi ganti rugi lahan dan menjadi petani sawit Plasmanya,  meski ada sebagian yang menolak.  “  Tapi, tidak semua warga Dusun Aik Abik yang kehilangan kebunnya menjadi plasma perusahaan  ”,  Ujar SiDin Asih Harmoko.   Sehingga tahun 2013-2014 terjadi aksi penolakan perluasan perkebunan sawit  PT. GPL oleh masyarakat Dusun Aik Abik. Masyarakat menyatakan perusahaan melakukan perusakan terhadap 11 makam leluhur Suku Mapur, serta merusak hutan adat.

PT. GPL membantah tuduhan tersebut. Perusahaan menyatakan merawat dan menjaga makam leluhur Suku Mapur. Dijelaskan, PT. GPL memiliki izin perluasan perkebunan sawit dari Pemerintah Kabupaten Bangka pada 2005, seluas 13.565 ribu hektar, yang berada di Desa Gunung Muda, Desa Gunung Pelawan, Desa Mapur  dan Desa Silip yang masuk Kecamatan Belinyu dan Kecamatan Riau Silip.   Dua tahun sebelum aksi penolakan tersebut  kata Asih, sejumlah perempuan Suku Mapur melakukan aksi buka baju [masih menggunakan pakaian dalam], menghadang buldoser milik perusahaan PT. GPL  yang sudah meratakan ladang padi milik warga Dusun Aik Abik, di kaki Gunung Kiareng [250-an meter].

Sebelum kehadiran perusahaan sawit, aktivitas penambangan timah sudah berjalan di kawasan adat Suku Mapur di Kecamatan Belinyu dan Kecamatan Riau Silip, sejalan dengan terbitnya  Perda No. 6 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Pertambangan Umum oleh Pemerintah Kepulauan Bangka Belitung,  diikuti oleh penambangan illegal  berlangsung hingga saat ini.   “  Awalnya tidak ada orang Mapur di Dusun Aik Abik yang terlibat penambangan timah, tapi persoalan ekonomi karena kebun dan hutan sudah habis, ya sejumlah warga terpaksa menambang  ”,  Ujar SiDin  Asih Harmoko.

Hingga tahun 2006 di Pulau Bangka terdapat 1.021 kolong atau eks penambangan timah yang menjadi sumber kerusakan lingkungan Suku Mapur ,  kolong terbanyak di Kabupaten Bangka  413 lubang. Sebanyak 230 kolong berada di Kecamatan Belinyu dengan luasan 1.006,39 ha, serta di Kec. Riau Silip sebanyak 72 kolong dengan luasan 274,11 ha. Kecamatan Belinyu dan Kecamatan Riau Silip merupakan ruang hidup Suku Mapur.  Di wilayah adat Suku Mapur terdapat tiga sungai besar dan puluhan sungai kecil. Tiga sungai besarnya : Sungai Tengkalat, Sungai Pejem dan Sungai Mapur  yang  bermuara ke pesisir utara dan timur Pulau Bangka yang menghadap Laut China Selatan.

Rumah Adat Suku MAPUR 

Muhammad Syaiful Anwar, peneliti masyarakat adat dan pengajar Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung, menjelaskan apa yang dialami Suku Mapur juga dirasakan masyarakat adat lainnya di Indonesia.  Suku Mapur, satu dari ratusan masyarakat adat di Nusantara, yang  kurang terperhatikan keberadaannya  oleh pemerintah sejak lahirnya Republik Indonesia,   “  Tapi rezim Orde Baru yang memulai penguasaan wilayah adat  ”,  Ujar SiDin M Syaiful Anwar.   “  Ini dosa Orde Baru, tapi pemerintahan setelah Reformasi 1998 kian melenyapkan masyarakat adat. Menghadirkan berbagai perusahaan di wilayah yang sebelumnya hutan atau tanah adat  ”,   Ujar SiDin M Syaiful Anwar.

Pemindahan masyarakat adat ke permukiman baru, melalui Proyek Perkampungan Masyarakat Terasing [PKMT]  bertujuan memudahkan pendataan dan pembinaan masyarakat yang dinilai terasing, yang berakibat masyarakat terjauhkan dari wilayah adatnya dan dikuasai penambangan.   “  Suku Mapur dipandang pemerintahan Orde Baru bukan sebagai masyarakat adat, tapi sebagai masyarakat terasing, sehingga pada 1973 mereka dibuatkan perkampungan, yakni Dusun Aik Abik. Lalu, awal 1980-an dibuatkan Dusun Pejem  ”.

Sementara skema Perhutanan Sosial [PS] dengan salah satu tujuannya mengembalikan hutan adat, yang dicanangkan pemerintahan SBY [Susilo Bambang Yudhoyono] hingga pemerintahan Jokowi [Joko Widodo] belum berjalan optimal. Termasuk, belum menyentuh ruang hidup Suku Mapur di Pulau Bangka.  Dr. Fitri Ramdhani Harahap, sosiolog dari Universitas Bangka Belitung, menyatakan perjuangan Suku Mapur maupun masyarakat atau komunitas adat lainnya di Indonesia, bukan hanya dikarenakan kurangnya kepedulian pemerintah dan para pelaku usaha. Juga, rendahnya dukungan masyarakat di luar komunitas adat.

“   Dalam kasus Suku Mapur, saya menilai ada penggambaran negatif terhadap mereka. Jadi, ketika mereka berjuang mempertahankan wilayah adatnya, minim sekali dukungan dari luar. Mungkin, dukungan hanya dari organisasi nonpemerintah dan pegiat budaya. Dukungan dari kampus, seperti dosen dan mahasiswa, mungkin tidak terlalu besar  ”,  Ujar SiDin Fitri R Harahap dengan Plabomora (hebatnya).

Hamparan Perkebunan Sawit di kawasan Suku Mapur


Hutan Adat  kekuatan magis masyarakat Adat,

Karena perusahaan Suku Mapur Bangka  kehilangan Hutan Adat.




KISAH “RAMANG” SANG LEGENDA SEPAKBOLA INDONESIA YANG DIAKUI FIFA DAN MASUK DALAM FIFA LEGEND

NusaNTaRa.Com

byLaDollaHBantA,    S  a  b  t  u,     1   2       M  a  r  e  t       2  0  2  2


Berikut ini pernyataan FIFA tentang Andi Ramang legenda sepak bola Indonesia  :

.

FIFA :  " Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi sudah ada sejak 1950-an, bernama Ramang, berasal dari Indonesia yang pernah membuat kiper terbaik sepanjang masa (Lev) Yashin jatuh bangun menangkap bola ",

FIFA :  " (Ramang) tingginya hanya 156 cm tapi bagi para pemain (lawan) yang berbadan jauh lebih tinggi, besar, dan kekar, Ramang adalah Si Kurcaci Pembunuh ",

FIFA :  " Ialah pemain yang pernah mengejutkan dunia, dengan kelebihan tendangan yang keras, skill dan dribling luar biasa, serta heading mematikan itulah hal istimewa yang dimiliki oleh legenda besar sepakbola Tim Nasional Indonesia, Ramang ",

FIFA :  " Kakinya (Ramang) sangat kuat, seakan sulit untuk di cederai, Yashin adalah saksi bagaimana pemain ini menunjukkan kemampuan luar biasa, kalau saja bukan karena ketangkasan dirinya (Lev Yashin) mungkin Uni Soviet sudah dipermalukan oleh Indonesia melalui Ramang ",

FIFA :  " Saat memperkuat Timnas Indonesia, Ramang yang identik dengan kaos nomor punggung 11 pernah mencetak 19 gol hanya dalam 5 pertandingan, itu terjadi pada 1953 ketika Indonesia tampil di suatu turnamen di Asia ",

FIFA :  " Tidak hanya Uni Soviet dan Lev Yashin yang kewalahan menghadapi Indonesia dengan Ramang-nya, tapi Jerman Timur juga pernah merasakan ketangguhan Si Macan Asia (Indonesia) bahkan mereka (Jerman Timur) hampir saja kalah ",

FIFA :  " Jika ia muncul di era sepakbola masa kini bukan tidak mungkin ia akan diperebutkan banyak klub-klub besar dan mungkin penghargaan Ballon d'Or akan ia dapatkan ",

FIFA :  " Kami mengakuinya (Ramang) sebagai pesepakbola hebat yang pernah ada yang berasal dari Makassar, Indonesia. Mungkin suatu saat akan muncul Ramang yg lain...   “. 

Source: FIFA  (dr.Laman Football Media Housen-05/03/2022)

Berikut komentar Laman  SKOR.ID -  06/10/2020  :   "  Dia (Andi Ramang) bisa menembak ke gawang dari posisi apapun  ",  kata Maulwi Saelan, rekannya sesama pemain PSM Makassar pada 1987, dikutip Majalah Tempo. 

Itu diucapkan Saelan sebagai obituari kematian sang Macan Asia pada 26 September 1987. Menurut Saelan, legenda nomor sembilan pertama Indonesia adalah  A Ramang. 

Pada masa jayanya bersama PSM pada era 1950-an, Ramang tak mentereng sendirian. Ia gilang-gemilang bersama dua rekannya, Suwardi Arlan dan Noorsalam.

Ramang menjadi penyerang tengah, Suwardi Arlan di kanan dan Noorsalam di kiri. Jika main bersama, meminjam syair band Superman is Dead, nyalakan tanda bahaya. 

Babak putaran final Kejuaraan Nasional PSSI, Perserikatan 1959 adalah bukti. Dari enam laga, Juku Eja, julukan PSM, tampil ganas dan melibas semua lawannya. 


Lincah menggiring bola hingga ke gawang

Legenda sikulit Bundar lapangan Hijau Makassar,  Ramang.



 NusaNTaRa.Com  Adverstesment                                                                                      Melayani pemasangan Iklan                                                                                                        Sila Dail Talian  0812 5856 599 

Sabtu, 16 April 2022

HISTORI, LORONG BUANGKOK MENYISAHKAN SATU KAMPUNG TERAKHIR DI SINGAPURA

NusaNTaRa.Com

byGreaTBritteN,     S  e  l  e  s  a,      1   2       A  p  r  i  l       2  0  2  2

Perumahan di Lorong Buangkok di tengah Metro Singapura

Singapura satu kota supermetro ternyata  hingga kini masih memiliki desa tradisional yang dihuni  25 keluarga,   kawasan tersebut diberi nama Lorong Buangkok  dan menjadi satu-satunya desa  tradisional  yang oleh penduduk setempat disebut  "kampung"   yang masih  tersisa di negara-kota.   Dulunya tahun 1956 di kawasan Singapura ini berdiam pria  Sng Teow Koon yang  pertama  kali  membeli sebidang tanah ini seluas 12.248 meter,   sekarang  nilainya bisa mencapai 70 juta dolar Singapura atau 52 juta dolar AS atau Rp747 miliar. Putri Sng, Mui Hong, sekarang memiliki desa yang dikelilingi oleh apartemen bertingkat tinggi dan bungalow modern itu.

Kesan pertama, kampung ini terlihat seperti dusun dari pertengahan tahun 1900-an, dengan rumah-rumah yang terbuat dari kayu dan seng atap. Di balik rumah tua, banyak warga justru menikmati teknologi terkini, termasuk mobil mewah, WiFi berkecepatan tinggi, dan smart TV.   "  Penduduknya tidak miskin - setiap rumah memiliki mobil  ",  Ujar SiDin Sng Teow Koon dan menambahkan "kami ingin menjaga budaya".

Rumah Attap adalah rumah tradisional Melayu dengan atap jerami yang terbuat rajutan daun tumbuhan (nipah) dan seng.  Mereka adalah tempat tinggal pilihan di kampung-kampung karena ventilasi alami dari struktur tersebut mendinginkan rumah meskipun cuaca tropis yang panas, menurut profesor dari Universitas Putra Malaysia.  Meski tinggal di rumah tradisional, mereka hidup tidak berbeda dari rata-rata orang Singapura. Beberapa berprofesi sebagai pegawai kantoran pusat kota, dan banyak yang membeli bahan makanan dari supermarket lokal.

Lorong Buangkok, kampung tradisional terakhir yang ada di Singapura,  penduduk desa membangun pagar untuk melindungi diri dari penyusup, kata seorang pemandu wisata, Kyanta Yap  yang  telah menggelar tur di kampung selama lebih dari setahun.   "  Secara tradisional, penduduk desa percaya pada 'gotong royong', rasa kebersamaan yang kuat tanpa batas  ",  Ujar SiDin Kyanta Yap.  "  Tapi sekarang mereka mengunci pintu dan gerbang karena banyaknya orang yang masuk tanpa izin ke kampong  ",  Ujarnya  menambahkan.

Sebagian besar apartemen umum di Singapura berukuran kecil, rata-rata hanya berukuran 90 meter persegi, atau sekitar 968 kaki persegi. Sementara, rumah-rumah attap berukuran luas, dengan halaman belakang yang luas.  Terlepas dari ukuran properti,  pada tahun 1950-an dan 1960-an Sng  Teow Koon menagih penyewanya  4  dolar Singapura hingga 13 dolar Singapura atau Rp137 ribu per bulan, ujar Kyanta Yap.   sekarang  sewa bulanan untuk rumah dengan tiga kamar tidur di Singapura mulai dari 4.000 dolar Singapura atau Rp44 juta per bulan.

Berbeda dengan rumah-rumah lain di kampung itu, satu rumah ini tidak ada unit AC, hanya dua kipas angin.  Sementara, beberapa rumah penduduk di kampung memiliki toilet bergaya Jepang yang canggih, bekas rumah Sng Teow Koon memiliki panci jongkok kecil.  Banyak warga menggunakan jamban yang yang masih tradisionil ujar Kyanta Yap. Seorang pria Singapura yang besar di kampung mengatakan menggunakan jamban memberi  "pengalaman traumatis"  karena sering melihat cacing dan darah,  Jamban akhirnya digantikan oleh toilet rumah pada 1970-an.

Rumah di Lorong Buangkok

Di Singapura, 13,2 persen penduduknya adalah orang Melayu, yang mayoritas beragama Islam. Setengah dari penduduk di kampung itu adalah Muslim Melayu, kata Kyanta Yap.  Penduduk kampung membangun surau pada 1960-an, yang menjadi  satu-satunya rumah ibadah di kampung ini mampu menampung hingga 200 orang.  Surau tidak hanya melayani penduduk Muslim di kampung, tetapi juga Muslim yang tinggal di tempat lain di negara-kota.

Kehidupan di kampung dalam banyak hal mengingatkan seperti apa Singapura dulu, tetapi pengingat akan lingkungan modernnya ada di mana-mana. Kakak-kakak Sng telah pindah dari kampung untuk tinggal di apartemen bertingkat di dekatnya. Jumlah penduduk di kampung itu menyusut menjadi 25 keluarga, turun dari 40.

Pemerintah berencana untuk membangun kembali kampung tersebut, menurut laporan lokal. Namun, beberapa kelompok telah mengampanyekan pelestariannya.   Sementara masa depan kampung tetap menjadi isu yang diperdebatkan di negara-kota,  Sng Teow  Koon  tetap mengabdikan diri pada satu-satunya tempat yang dia sebut rumah.   "  Saya suka menjaga desa, saya memastikan semua orang baik-baik saja  ",  Ujar Teow Koon dan   "  Selama saya berbuat baik, surga akan melindungi saya ".

                                  Lorong Buangkok, kampung tradisional terakhir yang ada di Singapura

 

Singapura satu Kampung Melayu pada awalnya, 

Lorong Buangkok Kampung terakhir yang tersisa di Sangapura.




GAUM SAWUNGGALING HANTARKAN NADIA TJOA JADI MISS FACE OF HUMANITY 2022 DI CANADA

NusaNTaRa.Com

byRaisALembuduT,      S  e  n  i  n,     0   4       A  p  r  i  l       2  0  2  2

Nadia Tjoa juara Miss Face of Humanity 2022

Nadia Tjoa menyabet gelar Miss Face of Humanity 2022 dalam grand final yang  diselenggarakan di Metro Convention Center, Toronto, Kanada pada 2 April 2022.  Nadia mengaku sangat bangga dan bahagia bisa dinobatkan sebagai Miss Face of Humanity 2022,   "  Saya merasa sangat bangga dan bahagia. Ini sunggu diluar dugaan saya bisa menjadi pemenang dari Miss face of Humanity. Saya datang dan berusaha melakukan yang terbaik untuk Indonesia. Saya ingin dunia tahu tentang Indonesia dan ingin menjadikan perempuan Indonesia diakui oleh dunia  ",  Ujar SiGaluH Nadia Tjoa dalam keterangan tertulis.

Kebahagiaan Nadia juga dirasakan Ivan Gunawan sang mentor sekaligus National Director dari Yayasan Dunia Mega Bintang yang memberangkatkan Nadia ke Ajang Miss Face Of Humanity.  " Saya sangat bangga dan bahagia atas kemenangan Nadia sebagai Miss Face of Humanity 2022. Setelah melewati 1,5 tahun untuk training dan akhirnya berangkat ke Toronto, Kanada, akhirnya Nadia berhasil membawa kemenangan dan kebanggaan bagi Indonesia ",  Ujar SiDin Ivan Gunawan dengan Plabomoranya (hebatnya).

Sebelum berangkat ke Toronto, Kanada, Ivan Gunawan dan Yayasan Dunia Mega Bintang telah menyiapkan Nadia dengan sejumlah pelatihan diantaranya  pelatihan di bidang sosial kemanusiaan.  "  Selama ini Nadia sudah ditraining cukup baik. Makanya ketika malam final, Nadia tampil  maksimal. Dia melakukan berbagai training, mulai dari make up, hair do, public speaking dan speech diplomatic training. Nadia juga melakukan berbagai aktivitas sosial untuk menunjang advokasinya yaitu education for refugees  ",  Ujar SiDin Ivan Gunawan.

Mengenai training yang telah dilaluinya, Nadia mengaku beruntung bisa mendapatkan training khusus untuk menghadapi pagelaran Miss Face Of Humanity, baginya kontes ini tidak hanya dinilai dari fisik.   Nadia Tjoa sudah aktif menjadi pengajar sukarelawan untuk anak-anak pengungsi di Indonesia.  "  Dari dulu Nadia ini sudah menjadi tenaga pengajar freelance di refugee camp di Jakarta. Selama ini Nadia sudah ditraining cukup baik. Makanya ketika malam final, Nadia tampil maksimal  ",  Ujar Ivan Gunawan.

Dalam kontes ini, Nadia Tjoa dalam final Miss Face Humanity 2022,  tampil dengan gaun hitam motif sawunggaling dan pradan bertajuk “The Reminiscence of Golden Phoenix”   rancangan desainer Ivan Gunawan.   Gaun yang dikenakan  Nadia Tjoa terdapat makna yang mendalam,  Sawunggaling sendiri merupakan makhluk mitologi dari legenda Jawa yang mewakili kekuatan lembut dan kebijaksanaan atau dikenal masyarakat global sebagai phonix. Sementara pradan kerap digunakan untuk teknik aplikasi emas pada batik.

Mengutip situs resminya, Miss Face Of Humanity merupakan kontes kecantikan yang pemenangnya akan menjadi global ambassador untuk melakukan berbagai kegiatan kemanusiaan di berbagai negara berkembang.  "  Selama pelatihan saya menjalani berbagai training termasuk diplomatic speech. Dalam pelatihan khusus ini selain mengasah wawasan, juga untuk memberikan saya pemhaman mengenai issues yang terjadi di dunia  ",  Ujar SiGaluH Nadia Tjoa.

Nadia Tjoa merupakan wanita asal Surabaya kelahiran 17 Juli 1998 alumni Teknik Arsitektur dari Universitas Bina Nusantara  dan mengawali karier sebagai model  sebagai anak didik Ivan Gunawan.  Nadia Tjoa  diketahui memang kerap mengikuti ajang kecantikan,  seperti mengikuti ajang Miss Grand Indonesia 2020 dan berhasil masuk 5 besar  dan  dinobatkan sebagai Miss Glowing Skin.

Lebih lanjut Nadia mengatakan, setelah menjadi Global Ambassador dari Miss face Of Humanity, ia mempunyai sebuah harapan.  "  Saya ingin setiap wanita dan juga anak-anak mempunyai kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan dengan mudah, termasuk bagi anak-anak dan wanita pengungsi di seluruh dunia  " Ujar Nadia Tjoa.

"  Dengan modal pengetahuan dan wawasan yang luas saya yakin, perempuan bisa menjadi juara dalam bidang apapun dan dimanapun. Untuk itulah saya sebagai Global Ambassador dari Miss face Of Humanity, saya ingin setiap wanita dan juga anak-anak  mempunyai kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan dengan mudah, termasuk bagi anak-anak dan wanita pengungsi di seluruh dunia  ",  Ungkap Nadia Tjoa menutup kisah.

Nadia Tjoa 

Kepribadian mulia mengharumkan nama bangsa,

Nadia Tjoa menjadi  Miss Face of Humanity 2022 di Canada.




Kamis, 14 April 2022

RITUAL PENGASINGAN WANITA DAN PENGGAL KEPALA UNTUK MAS KAWIN DALAM SUKU NAULU DI SERAM

NusaNTaRa.Com

byKariTaLa  L A,     R   a   b   u,    3   0       M  a  r  e  t       2  0  2  2 

Tradisi suku Naulu di Seram

Indonesia memiliki lebih dari seribu suku bangsa atau kelompok etnis yang memiliki perbedaan soal cara hidup, budaya  dan tradisi masing-masing.  Suku Naulu satu diantaranya  yang tinggal di kawasan pesisir selatan Pulau Seram, Maluku.   Masyarakat Naulu awalnya berasal dari Maluku Utara, tepatnya Pulau Halmahera, setelah perang Hotebanggoi, mereka bermigrasi ke wilayah selatan Pulau Seram dan berdiam di hulu Sungai Noa di Desa Sepa, Kecamatan Amahai.

Masyarakat Suku Naulu tersebar di Desa Sepa, Seram, tepatnya di daerah Yaisuru, Nua Nea, Bunara, Latan (Kampung Lama), Hahuwalan, Simalouw, Rohua, dan Rohua Waemanesi.   Suku Naulu dikenal dengan tradisi masa lalunya yang  menyeramkan, termasuk di antaranya mengasingkan para perempuan dan memenggal kepala untuk mas kawin.

Laki-laki  Naulu biasa mengenakan Patahari atau kaeng berang, kain merah yang diikat di kepala dan menjadi khas Suku Naulu.  Dari sudut etnis suku Naulu ada hubungannya dengan Manusela baik dalam  bahasa dan keyakinan Naurus,  suku Naulu juga diketahui mengikuti agama Hindu.  Dalam masyarakat Naulu  terdapat  12 klan atau marga   yaitu Pia, Matoke, Kamama, Sounawe Aepura, Sounawe Aenakahata, Sopalani, Perissa, Hury, Nahatue, Soumory, Leipary  dan Rumalait.

Naurus merupakan agama yang diturunkan  nenek moyang mereka dengan keyakinan  Tuhan pencipta alam semesta yang gaib dan maha agung disebut “Upuku Anahatana”.  Namun, warga Naulu terpaksa harus mencantumkan agama lain dalam identitas mereka dalam berurusan dengan birokrasi negara seperti pendidikan, pernikahan, pekerjaan  dan pembuatan KTP karena agama tersebut belum diakui negara.

Dalam kepercayaan Naurus, hubungan dengan Tuhan tidak dilakukan secara langsung, melainkan lewat perantara, mereka percaya dalam setiap aspek kehidupan ada roh atau upu yang mengontrol keseharian mereka.  Adapun para upu yang senantiasa menjaga alam semesta, yaitu Nue Nosite (penjaga laut), Wesia Upue (penjaga darat), Sionoi Aha (penjaga udara)  dan Seite Upue (penjaga hutan atau kebun).

Ketika berinteraksi dengan masyarakat luar, Suku Naulu senantiasa mengedepankan perasaan damai. Mereka memiliki prinsip yang dipegang teguh, yaitu selama berbuat baik maka tidak akan ada hal buruk yang datang.

Suku Naulu memiliki beberapa tradisi  salah satunya  Pataheri, yaitu ritual untuk para lelaki yang telah dianggap dewasa.  Selama ritual yang disebut upacara cidaku ini, laki-laki akan mengenakan kaeng berang di kepala dan cawat.  Ritual tersebut akan dimulai dengan puasa satu hari, sejak pukul tiga dini hari hingga enam sore. Selama puasa, kaeng berang diikat di leher karena diyakini akan menjauhkan diri dari gangguan setan.

Usai berpuasa, mereka akan berkumpul di numa onate atau rumah utama  dan diberikan pakaian adat karanunu onate. Mereka akan didampingi oleh seorang kapitan atau panglima perang menuju rumah orang tua kapitan untuk memohon doa agar diberikan keberanian dan terhindar dari bahaya.   Setelah berdoa, mereka kembali ke numa onate dan mengambil perlengkapan seperti parang, panah, tombak  dan satu tas berisi sirih pinang yang diberikan tetua adat menghadap utara.

Kemudian menuju  arah ke timur memimpin ritual di dalam hutan.  Ritual pataheri juga melibatkan pemenggalan kepala manusia untuk perayaan atas kedewasaannya. Tak hanya itu, memenggal kepala juga dilakukan dalam upacara adat, misalnya saat mendirikan rumah adat baru sebagai persembahan untuk para dewa atau nenek moyang.

Mereka percaya tradisi ini wajib dilakukan demi terhindar dari bahaya dan musibah. Selain itu, tradisi tersebut memiliki arti ponting  dan  dianggap menjadi simbol kebanggaan dan kekuasan bahkan, dijadikan mas kawin saat masyarakat Suku Naulu menikah.  Tradisi yang berasal dari masa lalu ini berawal dari raja Suku Naulu dalam memilih calon menantunya.  Sebagai bukti kejantanan, maka laki-laki harus membawa kepala mahusia sebagai mas kawin.  

Selain pataheri untuk laki-laki, ada  ritual pinamou untuk perempuan menuju dewasa,  mengasingkan perempuan yang baru mendapat menstruasi pertama dari masyarakat dan keluarga  karena darah haid dianggap tidak baik bagi lingkungan adat.  Mereka  akan dibawa ke posune selama sebelas hari  yaitu   rumah kecil yang terbuat dari daun rumbia. Luasnya sekitar 2x2 meter yang terletak di bagian belakang rumah atau pinggiran kampung.

Selama diasingkan, mereka akan dilayani oleh ibu atau saudara perempuan. Di dalam posune, mereka hanya akan dibekali dengan tempat tidur, sarung, piring dari daun sagu, dan batu tungku untuk memasak. Mereka harus makan makanan kering dan tidak boleh berkuah. Selama pinamou, para perempuan tidak boleh keluar dari posune, termasuk pulang ke rumah orang tuanya.

Saat pinamou selesai, akan dilakukan upacara adat dengan berkeliling kampung untuk menunjukkan pada warga desa bahwa perempuan tersebut sudah dewasa dan siap menikah.

Lelaki suku Naulu mengenakan Patahari "Kain merah Ikat Kepala"

Ritual budaya hidup untuk tentram,

Pataheri kaen merah ikat kepala suku Naulu di Seram.




Selasa, 12 April 2022

ADE ARMANDO DOSEN UI DIKEROYOK MASSA DEMONSTRASI NYARIS BUGIL DI DEPAN GEDUNG DPR RI, SEJUMLAH PELAKU DIPERIKSA

 NusaNTaRa.Com

byBakrIRoYMarteN,       S  e  n  i  n,      1   1       A  p  r  i  l       2  0  2  2

Ade Armando  Dosen UI teraniaya di tengah Demonstrasi

Ade Armando  Dosen Universitas Indonesia (UI) sekaligus pegiat media sosial  babat belur dikeroyok massa saat mengikuti demonstrasi di Gedung DPR RI, Senin 11 April 2022,  ketika itu beliau berada  ditengah acara demonstrasi untuk menyaksikan sembari memberi semangat kepada peserta.  Dalam sebuah video yang tersebar di media sosial, Ade Armando bahkan nyaris ditelanjangi oleh sejumlah orang ditempat kejadian. Meskipun demikian, nyawa Ade Armando berhasil selamat usai dievakuasi sejumlah aparat.

Paska kejadian itu,  kini Ade Armando  tengah menjalani perawatan di dalam gedung DPR RI dengan pengamanan ketat dari pihak kepolisian.  Hingga berita ini diterbitkan belum diketahui secara pasti penyebab pengeroyokan dosen UI ini dan sejumlah tersangka akan diperiksa terkait kasus ini.   Sebelumnya peristiwa ini dimulai saat aksi yang digelar oleh BEM SI untuk memprotes wacana Presiden tiga perioda dan beberapa kebijakan pememerintah  dibubarkan sekitar pukul 15.30 WIB, usai Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan ketiga wakil DPR RI menemui massa aksi demonstran.

Sontak aksi saling lempar botol minuman terjadi,   hal ini membuat massa mahasiswa mundur ke arah timur,  sementara itu di sisi lain  nampak gerombolan pemuda dengan pakaian bebas terlihat saling melempar benda.  Kemudian pada pukul 15.39 WIB, terlihat asap hitam mengudara akibat dari ban yang dibakar di depan gerbang DPR RI.  Tak jauh dari tempat itu, ada orang berkerubung bak orang yang sedang berselisih dikeramaian para demonstrasi.

Lalu di belakang pria itu, ditemukan Ade Armando telah terkapar di aspal dengan darah yang bercucuran di wajahnya,  meskipun telah terlihat lemah dan tak berdaya, Ade Armando nampak masih diinjak sejumlah orang sehingga beliau  selamatkan  polisi untuk diamankan.   Secara bersamaan, ada beberapa orang yang mencoba untuk menghalau pengeroyokan yang dilakukan oleh orang-orang tersebut,   "  Udah, udah, ini polisi !  ",  Ujar teriak orang yang mencoba membantu Ade Armando tersebut.

Merujuk pada potongan-potongan video yang beredar, Ade Armando mengaku tidak ikut serta secara langsung dalam aksi demo 11 April  2022  tersebut. Namun ia hanya memberikan dukungannya kepada rekan-rekan mahasiswa di gedung DPR RI yang melakukan unjuk rasa menentang beberapa wacana pemerintah saat ini.

Ditengah kerusuhan tersebut Polisi menangkap sejumlah orang  yang diduga terkait pemukulan dosen Universitas Indonesia (UI) Ade Armando.   Saat ini polisi masih memeriksa sejumlah orang tersebut,   "  Iya ada sejumlah orang yang diamankan, tapi masih kita pilah-pilah dahulu  ",  Ujar SiDin Kombes Zulpan Kabid Humas Polda Metro Jaya,   Senin (11/4/2022).   Zulpan belum merinci berapa banyak peserta demo yang ditangkap polisi. Namun, ia mengatakan, tidak semuanya yang ditangkap adalah pelaku pengeroyokan terhadap Ade.

"  Masih kita pilah-pilah, yang melempar, yang melakukan pemukulan. Tidak semua (terkait Ade Armando), tetapi juga ada provokator  "  dam   "  Kita lihat pemukulannya cukup melukai korban, Ade Armando, karena lukanya cukup parah, karena terlihat celananya diturunkan  ",  Ujar SiDin Zulpan dengan Plabomora (hebatnya).   Zulpan belum mengetahui pasti pemukulan yang dialami Ade Armando. Dia mengatakan saat ini korban sudah diberi perawatan.

Dia mengatakan Ade Armando diduga dipukuli sekelompok orang di tengah aksi.   Dia mengaku belum mengetahui motif pemukulan terhadap Ade Armando,   "  Kita belum tahu motif dia dilakukan pemukulan  ",  Ujar SiDin Zulpan menambahkan.

Ade Armando di amankan


Demonstrasi   11 April 2022 menolak presiden tiga periodi,

Ade Armando Dosen UI dianiaya di tengah Demonstrasi depan DPR RI.



Minggu, 10 April 2022

MUNARMAN TERBUKTI DALAM KASUS TERORISME DIVONIS 3 TAHUN PONJARA

NusaNTaRa.Com

byMuhammaDNunukaN,        R   a   b   u,      0   6       A  p  r  i  l        2  0  2  2

Munarman tersangka terkait Teroris

Munarman  mantan Sekretaris Umum (Sekum) FPI  divonis 3 tahun penjara terkait perkara kasus terorisme,  beliau  dinyatakan bersalah  kareba membantu atau memudahkan pelaku tindak pidana terorisme.   "  Menyatakan Terdakwa Munarman secara hukum telah terbukti secara sah meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana terorisme  ",   Ujar SiDin hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Timur (Jaktim), Rabu (6/4/2022)  dan  "  Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa pidana penjara selama 3 tahun  ",  Ujar  Laji   menyambung.

Munarman dinyatakan bersalah melanggar Pasal 13 C Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang telah ditetapkan menjadi UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi UU juncto UU Nomor 5 Tahun 2018 tentang Perubahan atas UU 15 Tahun 2003 tentang penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Sebelumnya, Munarman dituntut  8 tahun penjara.  Munarman diyakini jaksa melakukan pemufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana terorisme,   "  Menuntut supaya majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan menyatakan Terdakwa Munarman telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dakwaan kedua  ",   Ujar jaksa  di PN Jaktim, Senin (14/3/2022)  dam   "  Menjatuhkan pidana 8 tahun penjara  ",  Ujar Jaksa  melanjutkan dalam putusanne.

Jaksa penuntut umum (JPU) menyatakan menolak seluruh pleidoi yang diajukan terdakwa Munarman dan penasihat hukumnya dalam kasus terorisme. Jaksa tetap menuntut Munarman dipenjara 8 tahun.   "  Kami penuntut umum pada tuntutan, kami tetap pada tuntutan yang telah kami bacakan, supaya majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur yang memeriksa dan mengadili memutuskan perkara ini menolak seluruh pembelaan penasihat hukum terdakwa dan terdakwa  ",   Ujar jaksa saat membacakan replik di sidang Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Rabu (23/3/2022).

Jaksa dalam pemaparannya mengatakan Munarman awal mulanya masuk di kalangan organisasi yang berbaiat dengan ISIS saat menjadi pengacara MMI pada 2002  serta  menyebutkan bahwa  sejak saat itu Munarman kenal dengan beberapa organisasi.   "  Berdasarkan fakta terungkap bahwa Terdakwa tahun 2002 menjadi pengacara MMI dengan tujuan membela Ustaz Abubakar Ba'asyir agar MMI tidak ikut terlibat. Saat itu Terdakwa sering bertemu Abdul Haris, sejak saat itu Terdakwa mengenal kelompok sepemahaman dengan Terdakwa antara lain HTI atau Hizbut Tahrir Indonesia  ",  Ujar Jaksa PN itcu.

Jaksa mengatakan, hingga 2014, Munarman melakukan baiat di UIN Syarif Hidayatullah di acara Faksi. Menurut jaksa, Munarman sudah tahu bahwa acara Faksi di UIN itu adalah acara baiat karena dihadiri beberapa anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD).   Jaksa meyakini Munarman bersama sejumlah orang melakukan pemufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana terorisme. Munarman disebut jaksa memberi motivasi kepada beberapa peserta seminar yang diadakannya untuk mendukung khilafah.

"  Bahwa Terdakwa bersama-sama telah melakukan permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana terorisme dengan menerapkan ISIS berupa mengikuti melaksanakan baiat kepada Abu Bakr al Baghdadi, menyelenggarakan acara terkiat ISIS, dan melakukan ajakan atau motivasi yang dilakukan dalam bentuk pelaksanaan di Makassar 24-25 Januari 2014 di mana Terdakwa memberikan motivasi atau dorongan untuk mendukung khilafah atau ISIS, dalam kegiatan tersebut juga dilakukan baiat ke pada amir ISIS dan selanjutnya konvoi di Makassar dengan bawa bendera dan atribut ISIS  ",  Ujar  Jaksa Laji.


Terorisme kejahatan sangat kejam, 

Munarman terkait teroris dijatuhi  3 tahun hukumam.




SUKU SEKO TO LEMO DI JANTUNG SULAWESI (SULSEL-SULBAR-SULTENG DAN SULTRA)

NusaNTaRa.Com            byIndaHPalloranG,       J   u   m   a   t,    2   1     A   g   u   s   t   u   s     2   0   2   6             Se...