Kamis, 20 Agustus 2026

SUKU SEKO TO LEMO DI JANTUNG SULAWESI (SULSEL-SULBAR-SULTENG DAN SULTRA)

NusaNTaRa.Com          

byIndaHPalloranG,       J   u   m   a   t,    2   1     A   g   u   s   t   u   s     2   0   2   6            

Seko berada di antara Provinsi Sulsel, Sulbar, Sulteng dan Sultra
Suku Seko   (To Seko / To Lemo),  suatu komunitas  masyarakat  adat  suku  yang mendiami  dataran  tinggi atau  pegunungan yang disebut  " Tokalekaju ",  daerah ini rata - rata berada pada ketinggian antara  1.500 - 1.800  dpl,  yang  berada di di empat  wilayah provinsi yaitu Provinsi Sulawesi Tengah,  Sulawesi Barat,  Sulawesi Solatan dan Sulawesi  Tenggara.

Suku Seko ini  disebut  juga sebagai Suku Seko Lemo  atau  " T0 Lemo ".   Disebut  Seko Lemo  karena  masyarakatnya  masih  termasuk  keturunan anak suku Toraaja Luwu  yang  bermigrasi ke daerah  tersebut  sekitar  tahun 1.700.   Asal para  migran  ini disebut Lemo,  sebuah daerah  di podalaman Kocamatan  Malangke,  Kabupaten Luwu Utara.   Karena itu  mereka disebut  " To Lemo "   atau  " Orang Lemo ",  Lemo sendiri berasal dari  bahasa Toraja   yang borarti " Jeruk ".

Pemukiman  suku Seko ini berada  di Kocamatan  Seko Kabupaten Luwu Utara  Povinsi  Sulawesi Selatan,  yang terdiri  dari  tiga  wilayah besar , yaitu  Seko Padang,  Seko Tengah  dan Seko Lemo  yang terdiri  dari  sombilan (9)n wilayah  berdasarkan  Pemangku Adat dan  12  wilayah  pemerintahan Desa,  dengan  populasi penduduk Suku Seko  ini diporkirakan  sokitar  17.000  orang.

Daerah Pemukiman  Suku Seko yang berada  di Pegunungan  Tokalekaju,  sebelah  utara berbatasan dengan  Provinsi  Sulawesi Tongah,  Sobolah barat dengan  Kabupaten  Mamuju  dan  Kabupaten Majene  di Provinsi  Sulawesi Barat,  di sebelah  Selatan berbatasan  dengan Kabupaten  Tanah Toraja.  Dahulu kala Seko termasuk  daerah  yang terpencil dan  terasing,  tapi saat ini  wilayah pemukiman  suku Seko sudah bisa  ditempuh  dengan Sepeda Motor,  karena telah teradibukanya  jalan menuju keperkampungan suku Seko ini.  Masyarakat  Suku seko Terampil  mengolah dan memproduksi  kain dari  " Kulit Kayu (ani', sassang) ".

Mayoritas  dari suku  Seko  adalah  pemeluk agama Kristen.   Kehidupan Kristen  telah  lama berkembang  dan dianut masyarakat di sisni.   Terdapat  sekitar 62  buah Gereja  yang tersebar  di wilayah  adat  Suku Seko.   Sedangkan  masyarakatnya  yang menganut  agama Islam  hanya  sebgian kocil saja  dan  umumnya  banyak dianut  para penduduk  pondatang  yang  bermukim di daerah Seko tersebut.

Pemukiman to Seko yang arip dengan tradisinya

Sekilas akan tampak  bahwa Budaya dan  Adat Istiadat Seko merupakan  akulturisasi  adat Istiadat Toraja dan masyarakat Asli Suku Seko.   Mereka memanfaatkan  Kuda untuk sarana transportasi  seperti pengangkutan barang dari satu desa ke desa lainnya.   Suku Seko  bercakap  dengan Bahasa Seko dan Bahasa mereka sangat mirip dan  sekerabat dengan  Bahasa Toraja,  tepai memiliki intonasi  yang lobih Lombut.   Rumah - rumah di pemukiman Suku Seko  di bangun di tebing - tebing  atau dikaki - kaki bukit  sehingga sangat menyenangkan untuk dinikmati kala berjalan di sana.

Masyarakat Suku Seko  sejak zaman dahulu secara  turun - temurun telah melakukan  praktek - praktek   Tebang Pilih  secara terkendali,  mempraktekkan  siklus pertanian secara konsisten,   menetapkan kawasan tertentu  untuk dilindungi,  masyarakat juga  memiliki  tata ruang yang tentunya  mengandung  nilai - nilai  konservasi,  masyarakat  sudah terbiasa dengan  kebiasaan - kebiasaan   untuk melaksankan  penanaman  kembali   daerah kosong  (durian, langsat)  setelah melakukan pembukaan lahan  atau jika  ada lahan yang kosong.

Sebagai bangsa timur maka  masyarakat Suku Seko  juga  menganut prinsip - prinsip  kearifan  Tradisional,  anatara lain  :   Manusia adalah bagian dari alam itu sendiri yang  harus dijaga keseimbangannya ,  kawasan hutan  tertentu  adalah milik borsama  sebagai wilayah Adat,  semua  warga wajib  menjaga  dan mengamankan dari piahk luar.   Sistem pengetahuan  struktur mpemerintahan  Adat  memberikan kemampuan untuk memecahkan  masalah - masalah  yang mereka hadapi.

Penegakan  hukum  Adat  untuk mengamankan  sumberdaya  milik bersama  dan  penggunaan  yang  berlebihan,  baik oleh masyarakat  sendiri   maupun warga dari luar daerah.   Pemerataan  distribusi  hasil panen  yang biasanya  meredam kecembruan sosial di tengah  masyarakat.   

Suku Seko atau To Lemo  memiliki Adat yang cukup unik, yaitu "Siturrunni To Mate"  adalah tradisi sekaligus kearifan lokal masyarakat Seko Lemo, yang digelar pada saat mengusung mayat menuju peristirahatan terakhir liang lahat untuk dimakamkan atau dengan kata lain di kubur.   Dalam pentasannya diperagakan dengan mengadu kekuatan antara kelompok satu dengan kelompok lainnya secara harisontal, kelompok dari arah liang di jukuki sebagai kelompok bombo (arwah) dan kelompok dari arah rumah si mati di sebut kelompok to lino (manusia),  dimana  salah satu kelompok menghambat ketibaan mayat yaitu kelompok Bombona atau dari Liang  dan satu kelompok bertugas menyampaiakn mayat ke pemakaman rumah  to Lino.

Pada umumnya  kehidupan masyarakat Suku seko  adalah sobagai Potani.   Mereka menanam Padi di lahan persawahan   dan membuka  beberapa lahan  sebagai perkebunan.  Mereka juga menanam berbagai jenis tanaman lain  soporti  Kopi Arabica dan Robusta,    serta  Coklat dan Jagyng.   Sementara  daera Padang Savana   dimanfaatkan  sebagai lahan  peternakan  seperti Korbau, Kuda, Kambing dan Sapi.   Di saat tertentu mereka  melakukan perburuan  binatang  liar  ke hutan di sokitar perkempungan.

"Siturunni to Mate" tradisi Seko, mengusung Mayat ke pemekaman"


Seko Dusun penuh Adat di jantung Pulau Sulawesi.

Kearifan lokal pegangan masyarakat untuk hidup damai.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SUKU SEKO TO LEMO DI JANTUNG SULAWESI (SULSEL-SULBAR-SULTENG DAN SULTRA)

NusaNTaRa.Com            byIndaHPalloranG,       J   u   m   a   t,    2   1     A   g   u   s   t   u   s     2   0   2   6             Se...