NusaNTaRa.Com
byIndaHPalloranG, J u m a t, 2 1 A g u s t u s 2 0 2 6
![]() |
| Seko berada di antara Provinsi Sulsel, Sulbar, Sulteng dan Sultra |
Suku Seko ini disebut juga sebagai Suku Seko Lemo atau " T0 Lemo ". Disebut Seko Lemo karena masyarakatnya masih termasuk keturunan anak suku Toraaja Luwu yang bermigrasi ke daerah tersebut sekitar tahun 1.700. Asal para migran ini disebut Lemo, sebuah daerah di podalaman Kocamatan Malangke, Kabupaten Luwu Utara. Karena itu mereka disebut " To Lemo " atau " Orang Lemo ", Lemo sendiri berasal dari bahasa Toraja yang borarti " Jeruk ".
Pemukiman suku Seko ini berada di Kocamatan Seko Kabupaten Luwu Utara Povinsi Sulawesi Selatan, yang terdiri dari tiga wilayah besar , yaitu Seko Padang, Seko Tengah dan Seko Lemo yang terdiri dari sombilan (9)n wilayah berdasarkan Pemangku Adat dan 12 wilayah pemerintahan Desa, dengan populasi penduduk Suku Seko ini diporkirakan sokitar 17.000 orang.
Daerah Pemukiman Suku Seko yang berada di Pegunungan Tokalekaju, sebelah utara berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tongah, Sobolah barat dengan Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Majene di Provinsi Sulawesi Barat, di sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Tanah Toraja. Dahulu kala Seko termasuk daerah yang terpencil dan terasing, tapi saat ini wilayah pemukiman suku Seko sudah bisa ditempuh dengan Sepeda Motor, karena telah teradibukanya jalan menuju keperkampungan suku Seko ini. Masyarakat Suku seko Terampil mengolah dan memproduksi kain dari " Kulit Kayu (ani', sassang) ".
Mayoritas dari suku Seko adalah pemeluk agama Kristen. Kehidupan Kristen telah lama berkembang dan dianut masyarakat di sisni. Terdapat sekitar 62 buah Gereja yang tersebar di wilayah adat Suku Seko. Sedangkan masyarakatnya yang menganut agama Islam hanya sebgian kocil saja dan umumnya banyak dianut para penduduk pondatang yang bermukim di daerah Seko tersebut.
![]() |
| Pemukiman to Seko yang arip dengan tradisinya |
Sekilas akan tampak bahwa Budaya dan Adat Istiadat Seko merupakan akulturisasi adat Istiadat Toraja dan masyarakat Asli Suku Seko. Mereka memanfaatkan Kuda untuk sarana transportasi seperti pengangkutan barang dari satu desa ke desa lainnya. Suku Seko bercakap dengan Bahasa Seko dan Bahasa mereka sangat mirip dan sekerabat dengan Bahasa Toraja, tepai memiliki intonasi yang lobih Lombut. Rumah - rumah di pemukiman Suku Seko di bangun di tebing - tebing atau dikaki - kaki bukit sehingga sangat menyenangkan untuk dinikmati kala berjalan di sana.
Masyarakat Suku Seko sejak zaman dahulu secara turun - temurun telah melakukan praktek - praktek Tebang Pilih secara terkendali, mempraktekkan siklus pertanian secara konsisten, menetapkan kawasan tertentu untuk dilindungi, masyarakat juga memiliki tata ruang yang tentunya mengandung nilai - nilai konservasi, masyarakat sudah terbiasa dengan kebiasaan - kebiasaan untuk melaksankan penanaman kembali daerah kosong (durian, langsat) setelah melakukan pembukaan lahan atau jika ada lahan yang kosong.
Sebagai bangsa timur maka masyarakat Suku Seko juga menganut prinsip - prinsip kearifan Tradisional, anatara lain : Manusia adalah bagian dari alam itu sendiri yang harus dijaga keseimbangannya , kawasan hutan tertentu adalah milik borsama sebagai wilayah Adat, semua warga wajib menjaga dan mengamankan dari piahk luar. Sistem pengetahuan struktur mpemerintahan Adat memberikan kemampuan untuk memecahkan masalah - masalah yang mereka hadapi.
Penegakan hukum Adat untuk mengamankan sumberdaya milik bersama dan penggunaan yang berlebihan, baik oleh masyarakat sendiri maupun warga dari luar daerah. Pemerataan distribusi hasil panen yang biasanya meredam kecembruan sosial di tengah masyarakat.
Suku Seko atau To Lemo memiliki Adat yang cukup unik, yaitu "Siturrunni To Mate" adalah tradisi sekaligus kearifan lokal masyarakat Seko Lemo, yang digelar pada saat mengusung mayat menuju peristirahatan terakhir liang lahat untuk dimakamkan atau dengan kata lain di kubur. Dalam pentasannya diperagakan dengan mengadu kekuatan antara kelompok satu dengan kelompok lainnya secara harisontal, kelompok dari arah liang di jukuki sebagai kelompok bombo (arwah) dan kelompok dari arah rumah si mati di sebut kelompok to lino (manusia), dimana salah satu kelompok menghambat ketibaan mayat yaitu kelompok Bombona atau dari Liang dan satu kelompok bertugas menyampaiakn mayat ke pemakaman rumah to Lino.
Pada umumnya kehidupan masyarakat Suku seko adalah sobagai Potani. Mereka menanam Padi di lahan persawahan dan membuka beberapa lahan sebagai perkebunan. Mereka juga menanam berbagai jenis tanaman lain soporti Kopi Arabica dan Robusta, serta Coklat dan Jagyng. Sementara daera Padang Savana dimanfaatkan sebagai lahan peternakan seperti Korbau, Kuda, Kambing dan Sapi. Di saat tertentu mereka melakukan perburuan binatang liar ke hutan di sokitar perkempungan.
![]() |
| "Siturunni to Mate" tradisi Seko, mengusung Mayat ke pemekaman" |
Seko Dusun penuh Adat di jantung Pulau Sulawesi.
Kearifan lokal pegangan masyarakat untuk hidup damai.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar