NusanTaRa.Com
Muktamar Muhammadiyah ke VIII yang berlangsung sejak tanggal 3 - 8 Agustus 2015 di Makassar berlangsung dengan baik, dengan berhasillnya sidang Pleno VIII Menetapkan 13 pengurus pusat Muhammadiyah periode 2015-2020 dan Penetapan Pemimpin Pusat Muhammadiyah dan Pemimpin Aisiyah periode 2015 - 2020. Muktamar Muhammadiyah ke-47 tetap berjalan sesuai dengan Langgam Muhammadiyah atau Muktamar yang berkarakter Muhammadiyah yang mengedepankan semangat keihlasan dan ukhkuwah dan tidak dikotori hal-hal yang bersifat tidak substansial.
Pemilihan 13 Pengurus Pusat Muhammadiyah merupakan pilihan para muktamirin yang menghadiri muktamar tersebut setelah pimpiinan sidang mengatakan " Apakah 13 pengurus ini layak memimpin Muhammadiyah 2015 - 2020 " para peserta secara serentak menyetujui usulan tersebut yang kemudian disyahkan yang kemudian dilanjutkan pemilihan Pemimpin yang dimusyawarahkan oleh ke 13 Pengurus tersebut dan berhasil menetapkan DR. Kh. Haedar Nashir. Dibawah ini salah satu petikan beliau saat diwawancara :
Muhammadiyah
kini sudah berusia lebih dari satu abad. Dulu punya cita-cita membuat
Islam yang berkemajuan. Nah, ke depan, apa yang harus dilakukan
Muhammadiyah?
Dalam frame Muhammadiyah yang sudah dibangun semenjak kemarin, yakni pada Muktamar Satu Abad di Yogyakarta itu, kami akan terus melakukan proses transformasi gerakan. Ini karena pendirian dasar Muhammadiyah itu adalah dalam rangka melakukan dakwah (menyebar luaskan Islam sehingga menjadi nilai pribadi, warga, dan masyarakat) dan tajdid (memperbarui seluruh pandangan dan paham aktualisasi keagamaan untuk mencapai kemajuan).
Jadi, setelah memasuki usia satu abad, Muhammadiyah melakukan evaluasi. Kami memandang ada hal-hal yang memang perlu transformasi baru. Pertama, dalam pandangan keagamaan, frame Muhammadiyah telah jelas merujuk pada Alquran dan sunah, tetapi aktualisasi Islam yang berbasis dua hal ini menghadapai realitas baru dengan ada paham baru yang postmoderen, globalisasi, dan ketiadaan sekat antarnegara.
Akibatnya, kami di Muhamamdiyah merasa tidak cukup kalau semua perkembangan baru itu didekati dengan fiqih yang klasik, tapi harus melalui fiqih jadid (fiqih yang baru). Tujuannya ini agar nanti orang dari banyak kalangan di umat Islam merasa nyaman di dalam mengontesktualisasikan kehidupannya.
kedua, kami sadar bahwa sisi terlemah dari kekuatan Islam itu pada soal
ekonomi. Inilah yang membuat umat Islam selama berpuluh-puluh tahun
hidup dengan kategori 'menadahkan tangan'. Padahal, kita pernah punya
masa lalu yang cemerlang, di mana gerakan wirausaha umat bangkit dan
berjaya. Dan, patut diketahui Muhammadiyah bisa meluas dan tegak hingga
sekarang karena ada dukungan dari kaum itu. Di sinilah kemudian
Muhammadiyah harus kian mandiri dan punya daya tawar politik yang
tinggi."Terima kasih
pada Pak Din yang telah memimpin Muhammadiyah dengan cemerlang. Pak Din
telah melakukan hal-hal strategis seperti jihad kebangsaan dan jihad
konstitusi," kata Haedar dalam keterangan persnya di Unismuh Makassar.
Siti Noordjannah Djohantini kembali terpilih menjadi
ketua umum Aisyiyah periode 2015-2020. Anggota Humas Muktamar Aisyiyah,
Hajar N R mengatakan,Noordjannah kembali terpilih setelah 13 formatur
yang terpilih melakukan konsolidasi. "Iya, bu Nur kembali terpilih. ini
jadi periode kedua beliau," singkat Hajar, Kamis (6/8) malam.
Dengan terpilihnya Noorjannah sebagai Ketua Umum PP Aisyiyah, maka
pasangan Haedar Nashir dan Noordjannah akan menjadi pasangan suami-istri
yang memimpin organisasi Muhhamadiyah dan Aisyiyah. Pasalnya sang suami
yaitu Haedar Nashir telah terpilih terlebih dahulu menjadi Ketua Umum
Muhammadiyah periode 2015-2020. Terpilihnya kedua tokoh ini mengingatkan
masyarakat akan kepemimpinan Kyai Ahmad Dahlan sebagi pendiri
Muhammadiyah, serta Nyai Walidah sebagai pendiri Aisyiyah. Keduanya
mampu memberikan kehidupan lebih maju bagi rakyat Indonesia, sebelum
negara ini merdeka.
Profil Dr. Kh. Haedar Nashir.
Dr. Kh. Haedar Nashir. Lahir di Bandung 25 Februari 1958. Besar di
Bandung dan Tasikmalya, Haedar menyebrang ke Yogyakarta untuk berkuliah
di STPMD Yogyakarta. Setelah menamatkan gelar S1, Haedar kembali
mengambil kuliah untuk menyelesaikan gelar S2 dam S3 di Fisipol UGM pada
bidang Sosiologi.
Dunia perkuliahan telah menjadi nafas seorang Haedar. Dia banyak menghabiskan dan bekerja sebagai Dosen Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Beliau menjadi anggota Muhammadiyah sejak tahun 1883 dengan nomor anggota Penulis buku "Muhammadiyah Gerakan Pembaruan" (2010) ini pernah menjadi Ketua PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah periode 1983-1986. Suami dari Ketua PP Aisyiyah Siti Noordjannah ini juga sempat menduduki Ketua Dep. Kader PP Muhammadiyah periode 1985-1990.
Dunia perkuliahan telah menjadi nafas seorang Haedar. Dia banyak menghabiskan dan bekerja sebagai Dosen Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Beliau menjadi anggota Muhammadiyah sejak tahun 1883 dengan nomor anggota Penulis buku "Muhammadiyah Gerakan Pembaruan" (2010) ini pernah menjadi Ketua PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah periode 1983-1986. Suami dari Ketua PP Aisyiyah Siti Noordjannah ini juga sempat menduduki Ketua Dep. Kader PP Muhammadiyah periode 1985-1990.
Profil Siti Noordjannah
Siti Noordjannah lahir di Yogyakarta 15 Agustus 1958, saat ini pengajar
di Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Lulusan
Magister Manajemen Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini
adalah aktivis perempuan. Beliau aktif sebagai Pimpinan Pusat Aisyiyah
periode 2010-2015, dan Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan PP
Aisyiyah. Pengalamannya dalam pemilihan umum adalah dengan menjadi
koordinator Program Pendidikan Politik bagi Perempuan dalam Pemilu 1999
yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah bekerja sama
dengan TAF untuk 8 wilayah di Indonesia.
byBakriSupian reff. SanGPenceraH.
Muhammadiyah didirikan Kyai Achmad Dahlan,
Khalifah Allah di muka Bumi adalah pemimpin yang beriman.
Semoga sukses ........ yg berilah mereka rahmatmu
BalasHapus