Sabtu, 14 Februari 2015

INDONESIA JUARA BEST NATIONAL COSTUME 2014




NusanTaRa.Com

Miss Universe 2014 di Florida USA pada 25 Januari 2015 akhirnya menetapkan Miss Universe 2014 Paulina Vega dari Kolumbia,  Runner-Up 1  Nia Sanches dari USA, Runner-Up 2  Diana Harkusha dari  Ukraina,  Runner-Up  3  Yamin Verheijen dari Belanda dan  Runner-Up 4  Kaci Fennell dari Jamaika.   Indonesia di ajang ini diwakili Elvira Devinamira yang merupakan Miss Universe 2014 Indonesia.

Penyertaan Indonesia di ajang Miss Universe 2014 meskipun tidak masuk dalam jajaran Lima besar Miss Universe 2014 tapi ajang ke-63 ini menjadi satu kebanggaan bagi bangsa Indonesia karna untuk pertama kalinya menjadi juara pada kategori Best National Costume dengan menampilkan Busana bernuansa Indonesia  bertema " The Cronicle of Borobudur ", meski peserta Canada Chanel Beckenlehner tampil dengan sangat unik untuk mencuri perhatian juri ajang Miss Universe 2014 dengan mengenakan pakaian bersayap yang dikomposisi dari 10 stik hockey. Tak ketinggalan papan skor yang menyala di bagian atas kepalanya yang ditutupi wig putih.

Konsep dasar busana yang dibawakan Elvira Devinamira pada ajang tersebut adalah Borobudur yang dikemas dalam desain yang menampakkan  Hiasan kepala berbentuk jejeran stupa yang menjulang ke atas menimbulkan kesan megah.   Dengan busana two pieces-nya, gadis Jawa Timur itu bak Srikandi yang kuat nan memikat. Apalagi saat bagian sayap ia bentangkan. Menakjubkan!     Dengan kostum bertema ‘The Chronicle of Borobudur’, Elvira mengantar Indonesia memenangkan kategori kostum nasional terbaik. Untuk kali pertamanya, sejak Nusantara mengikuti ajang Miss Universe pada tahun 1995.

Dalam penilaian Best National Costume melewati dua sistem penyaringan. Pertama, semua peserta melewati penilaian  dewan juri yang terdiri dari Indonesia bersama 5 negara lainnya seperti Argentina, India, Jerman -- bahkan busana Kanada yang aneh masuk jajaran Top 5.   Kedua sistem seleksi dilakukan lewat voting warga dunia melalui jaringan internet yang disediakan panitia.


Adalah Dynand Fariz Sosok yang ada di balik kemegahan ‘The Chronicle of Borobudur’ yang merepresentasikan keagungan budaya Indonesia khususnya kemegahan Candi Borobudur dalam satu rancangan gaum seberat 20 kilogram.    Pria asal Jember itu punya alasan memilih tema Borobudur. “Borubudur merupakan keajaiban dunia yang merepresentasikan Indonesia. Borobudur adalah hal yang menakjubkan,” kata dia dalam wawancara. 

“Saya merasa perlu mengangkat roh Borobudur dalam bentuk kostum yang juga dapat membuat orang takjub,” jelas Dynand tentang alasannya mengangkat candi warisan Wangsa Sailendra yang berkisah tentang pencapaian Nirwana itu sebagai tema kostum kontestan Indonesia di ajang Miss Universe 2014.  Hasilnya Dynan F berhasil. membuat Spirit Borobudur dalam karyanya memukau dunia untuk memilihnya sebagai yang terbaik.    Kostum tersebut tampil sangat mengagumkan dan mempesona mana kala rancangan Dynand yang dibawakan Elvira mengembangkan sayap kain berhias royal motif dan gambar stupa Borobudur warna emas.

Busana two-pieces yang terbilang mini dan dengan detil batu-batu cantik itu menghadirkan karakter yang kuat sekaligus eksotis. Satu elemen dekoratif yang memegang peran penting dari kostum tersebut adalah deretan stupa Borobudur yang menjulang ke atas. Dari elemen inilah nafas spiritual kostum ini meradiasi. Roh kemegahan dan keanggungan Borobudur, sang keajaiban dunia yang ada di Indonesia, meresapi tiap jengkal kostum dan menyirap mata-mata yang melihatnya.

Acara ini mengalami beberapa kali pergantian tempat penyelenggaraan sebelum penetapan Florida, dan merupakan untuk yang pertama kalinya dilaksanakan pada tahun yang bukan tahun penetapan juaranya.  Dalam Miss Universe 2014 ini juga ditetapkan tiga kategori yang masuk dalam penyelenggaraan ini yaitu Best National Costume yang menempatkan Elvira Devinamira (Indonesia)  sebagai juara kemudian Valentina Ferrer (Argentina), Nayonita Lodh (India), Josefin Donat (Jerman) dan Chanel Bsckenlehner (Kanada).  Miss Congeniality Queen Celestine (Nigeria) dan Miss Photogenic  Gabriela Berrier (Puerto Riko)

Desainer berambut dicat biru yang kala itu hadir mengenakan jas mengaku bahwa meski mantap merasa rancangannya hebat, ia sempat cemas saat melihat kostum kontestan-kontestan negara lain yang juga bagus.
Salah satu yang disebutnya adalah kostum kontestan Argentina. Busana leotard bertabur batu-batu indah dengan sayap putih ekstra besar yang dikenakan Valentina Ferrer memang boleh disebut sebagai pesaing berat. Kostum itu merupakan representasi dari air terjun cantik Iguazu yang terdapat di negara Eva Peron itu. Bulu-bulu putih dalam busana itu membangkitkan imajinasi: pusaran air atau sayap sang dewi.
byRyan Syahputra



KREASI JEMBER DI PENTAS BUSANA INTERNASIONAL
https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=3366974358182964749#editor/target=post,postID=7762132671960708809

Indah busana manis juga pribadi si Suminten,
Pentas Jember tempat seniman mengekspresikan karya gaun.



Selasa, 10 Februari 2015

STOP !.. MARJINALISASI MAMA2 PEDAGANG ASLI PAPUA DI MERAUKE



     Sejumlah Mama- mama Papua mengadakan aksi demo (seles)

NusanTaRa.Com.

MERAUKE, Dari sederet masalah yang ada sedang menumpuk di Kabupaten Merauke diantaranya adalah masalah pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

     Rosina JM Kebubun Aktivis pendamping mama- mama papua,saat wawancara (Seles/Sekon)
Persoalan masalah pemberdayaan ekonomi kerakyatan terutama ekonomi di Merauke untuk orang asli yakni Suku Marind selama ini telah mati atau sengaja dimatikan, bahkan tidak berjalan. Semua peluang dan aspek ekonomi dikuasai oleh orang luar Papua, mulai dari monopoli tempat jualan di pasar hingga mengejar proyek-proyek besar.

Semua peluang dimonopoli akibatnya orang papua hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Usaha dilakoni orang papua di Merauke itu pun hanya mama-mama berjualan diluar pasar saja.
Mama-mama papua berjualan produksi pangan seperti ubi, keledi, pinang. Sementara usaha lain dikuasai oleh orang lain. Padahal potensi orang papua sangat tersedia, tanah, kekayaan alam, dan lainnya. Namun mereka terjepit, dicekik dengan pembunuhan karateristik.
           Stiker mama- mama saat aksi demo (seles/Sekon)

Hal ini disampaikan mama-mama Merauke Papua yang sehari-hari pedagang sayur mayur melakukan aksi demo mengeluhkan kepada pihak Pemerintah Daerah (Pemda) Merauke yang selama ini kurang serius menanggapi bahkan tidak pernah mau mendengarkan jeritan dan keluhannya.Sambil membagikan Striker bertuliskan “STOP MARJINALISASI” mama-mama pedagang asli Papua,suarakan hak mama untuk keadilan,Senin (9/2).

Begitu mendengar informasi aksi mama-mama turun ke jalan,Hasan Matdoan kepala distrik Merauke langsung menuju ke tempat aksi dan langsung bertemu dengan mama-mama papua yang melakukan aksi tersebut sekaligus Matdoan meminta untuk tidak melakukan kegiatan dijalan.

Dirinya,selaku Kepala Distrik akan memediasi persoalan ini dengan Instansi terkait juga siap memfasilitasi agar mama-mama ini dapat menyampaikan aspirasinya kepada kepala Dinas.

Dengan demikian mama-mama dapat mendengar langsung kebijakan yang diambil serta keluhan –keluhan yang disampaikan saat dikantor dinas Sosial,Janji Matdoan pada Mama-mama.

Rosina J.M.Kebubun aktivis perempuan Merauke dan selaku koordinator aksi,menyampaikan bahwa aksi damai ini merupakan bentuk kampanye tentang bagaimana memperjuangkan hak-hak mama-mama papua yang selama ini bekerja dipasar Wamanggu maupun pasar Mopah di mana selama ini kurang diperhatikan Pemerintah Pemda setempat.

Dan aksi damai ini tidak lain tujuannya mau menyampaikan kepada public bahwa pasar ini bukan hanya sekedar tempat berjualandan beli membeli barang tetapi di dalam pasarpun sebenarnya ada sejumlah persoalan yang selama ini belum pernah diperhatikan oleh Pemda Merauke.
Delapan isyu persoalannya yang kami dapatkan dari proses diskusi ,proses pendampingan yang kami lakukan pertama adalah persaingan harga diakibatkan oleh berbagai hal misalnya sekarang fungsi pasar ini di gantikan dengan adanya kios-kios yang juga mengantikan fungsi pasar lalu ada becak-becak yang makin bertambah jumlahnya .Ini perlu ada regulasi untuk membatasi persolan ini.Lalu menyangkut tempat jualan ini menjadi hal yang sangat penting,dimana tidak semua mendapatkan tempat di pasar Wamanggu. Karena persoalan pembagian tempat yang tidak merata ini di akibatkan oleh pendataan yang tidak akurat.

Contoh untuk restribusi bagi mama-mama Papua merasa bahwa retribusi ini cukup memberatkan.Kemudian juga menyangkut hal penyediaan modal, bahwa selama ini tidak ada modal yang diberikan kepada mereka,sehingga kami mengetuk berbagai macam pihak untuk melihat persoalan ini.

Lanjut serta menyangkut persoalan transportasi secara khusus mama-mama asli Merauke Papua mengeluhksn soal transportasi sekarang misalnya BBM turun tetapi harga taksi tidak turun ini berakibat juga bagi pendapatan yang mereka dapat ,pasar sepi,kemudian mereka harus pulang menggunakan transportasi hal ini tentu sangat memberatkan bagi meraka.

Robertina salah satu pedagang asli Papua menyampaikan bahwa kami tidak punya tempat untuk berjualan,selama ini pemerintah tidak perhatikan,sehingga kami duduk jualan harus di pinggir jalan makanya kami buat aksi begini.Akibat masalah ini setiap hari saya mengalami kerugian sebesar Rp 300.000,sementara saya biasa belanja dengan Rp.1000.000 tetapi uang yang saya peroleh hanya dapatnya Rp.500.000,”paparnya.

Hal senada disampaikan Fransiskus, mengeluhkan pada pihak pemerintah setempat namun tidak pernah ditanggapi,”berulang kali kami menyampaikan keluhan kepada pemerintah daerah kabupaten Merauke,namun keluhan kami tidak pernah di tanggapi serius oleh Pemerintah Daerah.Oleh sebab itu,pada kesempatan ini kami semua turun jalan melakukan aksi damai sehingga dengan harapan keluhan kami dapat terjawab. Ungkapnya.

Kami selaku warga masyarakat asli Papua mengharapkan adanya tempat yang layak bagi kami yaitu pemerintah bangun pasar lagi sehingga kami dapat berjualan.”Tambahnya.

Uli selaku pendamping Mama-mama juga menegaskan bahwa,”selama ini kami mewakili mama-mama sebanyak 770 orang yang berjualan di pinggiran lantai trotoar pinggir jalan, belum dapat tempat di pasar Wamanggu kami minta kepada bapak Bupati kabupaten Merauke untuk membangun pasar,”tegasnya.

Dan selama ini Bupati Romanus Mbaraka tidak pernah mengambil satu kebijakan yang memihak terhadap mama-mama yang berjualan dipasar,mereka dibiarkan terlantar dan diabaikan. 

Padahal kebijakan itu sangat diperlukan agar sistem ekonomi yang sedang monopolistik ini hidup. Kebijakan yang benar-benar harus memihak pada kaum yang lemah, tak berdaya seperti mama-mama di pasar, mengapa tidak pernah ada?.

Melihat kondisi ini, keberpihakan peran pemerintah Merauke dalam pemberdayaan ekonomi kerakyatan jauh dari yang diharapkan. 
Akses pasar lokal misalnya, tidak ada penyediaan fasilitas pasar yang layak dari pemerintah Merauke sehingga mama-mama papua diseantero Merauke berjualan diatas tanah, onggokan sampah, jalan raya, diatas jembatan dan lainnya.Tambahnya.

Nasib mama-mama papua di Merauke dalam akses pasar kondisinya sangat memprihatinkan. Salah satu bukti otentik tidak ada keberpihakan pemerintah Merauke dalam penyediaan fasilitas pasar.Sudah sekian lama dengan bermodalkan meja-meja usang buatan sendiri, mama-mama berjualan setiap sore. 
Bagaimana perhatian pemerintah?,padahal pasar ini sudah beroperasi cukup lama.  Menjadi pertanyaan buat Bupati Romanus Mbaraka, lantas kapan mama-mama pasar ini berjualan di pasar yang permanent?. Dimanakah slogan Otonomi Khusus (Otsus) akan menjadi tuan diatas Negerinya sendiri?, kapan akan terwujud?.(Seles/Sekon)
bySuaraPilarDemokrasi9/2/2015








Mat Jais Penjual Ikan di Pasar Butun,
Berjualan suatu proses penyedian dan imbalan .

Minggu, 08 Februari 2015

PROTOKOL NAGOYA PROTEK ALAM DAN KEARIPAN INDONESIA

Protokol Nagoya mengatur akses pada sumber daya genetika dan pembagian keuntungan yang adil dari pemanfaatannya.

 

Tanggal 12 Oktober 2014, Protokol Nagoya mulai berlaku. Protokol dapat berlaku dan berkekuatan penuh karena sudah ditandatangani lebih dari 50 negara dan telah 90 hari diterima Sekretaris Jenderal PBB.

NusanTaRa.Com  Pada 8 Mei 2013 Indonesia telah meratifikasi Protokol Nagoya dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2013, hanya dua tahun setelah protokol tersebut ditandatangani.yaitu 29 10 2010.   Dengan demikian, Indonesia menjadi negara ke-26 yang meratifikasi.

Protokol Nagoya mengatur akses pada sumber daya genetika dan pembagian keuntungan yang adil dari pemanfaatannya atas Konvensi Keragaman Hayati.    Dalam pembahasan di PBB protokol Nagoya Jepang dihasilkan tiga putusan utama, yakni rencana strategis untuk mengembalikan keragaman hayati, pendanaan strategi itu dan kesepakatan dalam isu penyalahgunaan sumber-sumber genetika.

Sangat wajar jika Indonesia menerima dan  menjadi penanda tangan protokol tersebut serta meratipikasi dalam bentuk UU,  karena negara kita memiliki  keragaman hayati sangat tinggi di dunia yang memerlukan satu penataan dan perlindungan yang kuat.   Putusan tersebut Akan mengatur pemanfaatan dan perdagangan keragaman hayati secara global, termasuk pembagian keuntungan, persetujuan transfer yang menguntungkan, dan pemberitahuan kepada pemangku kepentingan, alih teknologi, dukungan negara lain terhadap kebijakan negara terkait keragaman hayati dan lain-lain.

Rencana 10 Tahun

Untuk 10 tahun ke depan, sampai 2020 kawasan lindung darat akan diperluas sebanyak 17%  dari 13%, sedangkan wilayah laut yang dilindungi akan ditambah sebanyak 10% dari 1% angka ini berada jauh dibawah tuntutan Organisasi Lingkungan GreenPeace. Delegasi juga menyepakati rencana untuk mendirikan badan internasional yang memberikan informasi lebih baik bagi negara-negara keputusannya akan berdampak pada lingkungan hidup.   Dengan hampir 1/4 jenis mamalia,  1/3 jenis amfibi dan lebih 1/5 spesies flora terancam punah, kedepan ancaman tersebut akan semakin meningkat seiring pertumbuhan populasi manusia.

Terobosan Dalam Upaya Melawan Pembajakan Bio-Genetika

Masyarakat pribumi negara-negara miskin namun kaya akan keragaman sumberdaya alam dengan materi genetik tersendiri dan pengetahuan tradisionil mengolah hasil alam mereka dalam berbagai bentuk produk sederhana sering mengalami kerugian yang cukup besar tanpa mengalami konpensasi yang sewajarnya dan eksploitasi secara besar-besaran yang merusak alam tempat mereka bergantung.    Sementara kearipan masyarakat tersebut dan alamnya dikembangkan dalam bentuk produk-produk lebih modern dan kemudian dijual kembali kemereka dalam harga yang lebih tinggi dan laba tinggi.
          
Negara-negara Afrika dan negara-negara lain yang miskin secara finansial tapi kaya dalam sumber alam, seperti India dan Brasil melalui  KTT Nagoya ini berharap dapat menjembatani kesenjangan pemanfaatan alam dan kearipan tersebut lebih bijak yang berdampak pada lebih terlindunginya alam mereka dari kerusakan.

Sebagai negara yang keragaman hayatinya setara dengan Brasil di Benua Amerika dan Zaire atau Republik Demokratik Kongo di Afrika, dengan  mempunyai 10 persen tumbuhan berbunga di dunia, selain mempunyai 15 persen jumlah serangga, 25 persen spesies ikan, 16 persen jumlah amfibi dan reptil, 17 persen burung, dan sekitar 12 persen mamalia di dunia.    Sepantasnya kita bersiap diri menyongsong pemberlakuan protokol ini dengan penguatan bidang sains dan teknologi mengenai biodiversitas.    Kalau tidak, maka kita akan menerima banyak sekali pakar biologi dan ilmu sejenisnya dari luar negeri yang memanfaatkan peluang di Indonesia, terlebih pada 2015 kita akan memasuki komunitas ASEAN dan penerapan Sustainable Development Goal.

Pengaturan dalam Protokol Nagoya bertujuan memberi akses dan pembagian keuntungan terhadap pemanfaatan sumber daya genetika dan pengetahuan tradisional, termasuk pemanfaatan produk turunannya (derivatif). Tujuan lain, mencegah pencurian sumber daya genetika atau biopiracy.


Rentan pembajakan

Kekayaan sumber daya hayati memang perlu dikelola sekaligus dilindungi karena rentan pembajakan hayati, terutama oleh negara-negara maju. Perusahaan dari negara maju kerap mengambil sumber daya genetika tanpa izin. Indonesia pun pernah mengalami praktik serupa. Banyak sekali sumber daya genetika, seperti obat, bahan industri, dan pangan, dipatenkan perusahaan dan pakar luar negeri.

Sumber daya genetika itu menjadi tujuan peneliti luar negeri karena materi genetika kita sangat tinggi. Data menunjukkan, 9 dari 10 obat-obatan yang diproduksi berasal dari materi genetika (Dobson 1995).
Ini sejalan dengan hasil penelitian lain, yaitu dari 150 obat-obatan yang diresepkan dokter di Amerika Serikat, 118 jenis berbasis sumber alam, yaitu 74 persen dari tumbuhan, 18 persen jamur, 5 persen bakteri, dan 3 persen vertebrata seperti ular. Nilai obat-obatan dari bahan alam mencapai 40 miliar dollar AS per tahun.

Keahlian memanfaatkan tumbuhan sebagai bahan baku obat penting dalam pengembangan obat. Industri obat-obatan yang menggunakan bahan tradisional (jamu) termasuk industri tangguh dan permintaan akan bahan tradisional di negara maju semakin meningkat. Maka dari itu, Indonesia sangat mengharapkan keuntungan dari pemanfaatan sumber daya alam genetika ini.

Hal itu dapat dicapai melalui kerja sama yang melibatkan masyarakat setempat, swasta, dan lembaga internasional dalam penelitian sehingga keuntungan dapat terbagi merata dan dinikmati bersama.

Seiring dengan gencarnya usaha industri farmasi dalam mencari sumber baru bahan baku kimia tumbuhan untuk mengembangkan obat, industri memusatkan perhatian pada negara dengan keragaman hayati tinggi seperti Indonesia. Berarti Indonesia dapat turut berpartisipasi dalam pertukaran barang, informasi, dan teknologi ke pasar dunia.

Negara industri maju perlu memenuhi kebutuhan sumber daya alam untuk kepentingan ekonomi, tetapi sebagian besar sumber daya hayati ada di negara berkembang. Sangat jelas bahwa kerja sama antarnegara sangat dibutuhkan untuk mengatasinya. Indonesia dapat menjalin kerja sama dengan industri farmasi internasional melalui dua cara.

Pertama, mengurangi peran bioprospeksi menjadi sekadar alat pencari uang. Namun, ekspor dan eksploitasi sumber daya alam skala besar dapat menyebabkan menurunnya persediaan bahan baku alam tanpa menghasilkan keuntungan dan teknologi apa pun. Dengan dukungan dari Konvensi Keragaman Hayati, pilihan kedua adalah mengelola secara komersial sumber daya alam yang dapat menghasilkan keuntungan buat masyarakat dan penduduk lokal.

Selain peluang, terdapat pula tantangan bagi Indonesia. Paling tidak terdapat dua tantangan Indonesia. Pertama, pembentukan otoritas nasional pengelolaan dan perlindungan sumber daya di Indonesia. Bentuk kelembagaan ini bersifat multisektor karena sifat sumber daya genetika di berbagai habitat yang mencakup perairan dan kelautan, pertanian, kehutanan, serta penelitian/ilmu pengetahuan. Keanggotaan lembaga terdiri dari pemangku kepentingan dan instansi terkait. Kedua, pembentukan standar baku atau prosedur operasi standar (SOP) naskah akses dan pembagian manfaat sumber daya genetika serta perjanjian transfer materi biologik (material transfer agreement).

Perlu sinergi

Sinergi institusi pengelola perlu agar tercipta tata kelola dan perlindungan sumber daya genetika di Indonesia yang holistik serta didukung negara lain akan menjamin tercapainya tujuan tersebut. Langkah selanjutnya adalah kerja keras dari negara dan masyarakat untuk mewujudkannya. Tanpa sinergi antara negara dan masyarakat, amat sukar untuk mewujudkan tata kelola dan perlindungan sumber daya genetika yang holistik di Indonesia.

Pengembangan ini tentunya akan diikuti dengan memperkuat akses tehnologi yang dapat memberi  nilai tambah yang lebih yang meliputi pelayanan yang berhubungan dengan identifikasi sampel, ekstraksi kimia, dan investigasi sampel, yang semuanya nantinya akan berujung pada peningkatan kompensasi perekonomian khususnya bagi masyarakat pemilik dan pengguna kawasan alam.

Peluang dan Tantangan protokol Nagoya bagi Indonesia
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) di Yogyakarta 29 Nopember 2013, menyelenggarakan Sosialisasi Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2013 (08 mei 2013) tentang Pengesahan Protokol  Nagoya tentang Akses pada Sumber Daya Genetik dan Pembagian Keuntungan yang Adil dan Seimbang yang timbul dari Pemanfaatannya atas Konvensi Keanekaragaman Hayati.   Dalam sosialisasinya tersebut Deputi V KLH Bidang Penaatan Hukum Lingkunga, Drs. Sudariyono, mengatakan, “Dengan adanya pengesahan Protokol Nagoya atau UU Nomor 11 tahun 2013 maka apabila ada pihak asing ingin meneliti, memanfaatkan atau mengembangbiakkan berbagai jenis tanaman, hewan atau obat-obat tradisional serta menggunakan kearifan lokal warga Indonesia tentang penggunaan alam, maka mereka wajib membayar harga kepada pihak Indonesia”.  

Secara umum pengaturan tersebut maksud dan tujuan antara : (1) memberikan akses dan pembagian keuntungan terhadap pemanfaatan sumber daya genetik dan pengetahuan tradisional terkait sumber daya genetik, termasuk pemanfaatan atau komersialisasinya serta produk turunannya (derivative); (2) Akses terhadap sumber daya genetik tersebut tetap mengedapankan kedaulatan negara dan disesuaikan dengan hukum nasional ; dan (3) mencegah pencurian sumber daya genetik (biopiracy).

Secara resmi Indonesia menjadi Negara Pihak Protokol Nagoya pada 24 September 2013. Manfaat menjadi Negara Pihak Protokol Nagoya antara lain: (1) menegaskan penguasaan negara atas sumber daya alam dan kedaulatan negara atas pengaturan akses terhadap Sumber Daya Genetik (SDG) dan pengetahuan tradisional dari masyarakat hukum adat dan komunitas lokal, sejalan dengan Pasal 33 dan Pasal 18 UUD RI 1945; (2) mencegah biopiracy dan pemanfaatan tidak sah (illegal utilization) terhadap keanekaragaman hayati; (3) menjamin pembagian keuntungan yang adil dan seimbang atas pemanfaatan SDG dan pengetahuan tradisional yang berkaitan dengan SDG kepada pemilik atau penyedia SDG; dan (4) menciptakan peluang untuk akses alih teknologi pada kegiatan konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.
byBakriSupian.  Reff. NGI&Kompas.

 

Kearifan bentuk naturalis budaya manusia,
Perlindungan alam terkait dengan masyarakat disekitarnya.

Sabtu, 07 Februari 2015

PESONA JALAN DAN LIMA BRIDGE BARELANG YANG MELINTASI ENAM PULAU DARI BATAM



NusanTaRa.Com

Batam merupakan salah satu kota dengan jumlah penduduk 1,3 juta  jiwa merupakan kota terbesar ketiga di Sumatera setelah Medan dan Palembang, selain itu kota ini banyak dikunjungi para wisatawan luar negeri dan dari penjuru Nusantara untuk berlibur disana,  selain panorama alamnya yang indah seperti beberapa Pantai dengan sarana rekreasinya, Water Park Batam, Shoping center yang  banyak  dengan barang  berkualitas  dan murah, menikmati Singapore  sehari dengan perjalanan PP,  Menikmati  Hummaty Statue yaitu pusat penampungan manusia perahu Vietnam tahun 1980 an dan menikmati perjalanan Barelang yang melintasi  enam buah pulau.

Nara Singa Bridge
Dua jam lebih sejak  TakeuP  dari Bandara Sutan Aji Sulaiman Balikpapan pesawat Lion Air yang kami tumpangipun telah berada di atas Pulau Batam.   Dari udara terlihat banyaknya sebaran pusat-pusat perbelanjaan,  daerah-daerah industry, Komplek Perumahan, Gugusan pulau yang berada di sekitar pulau Batam dan Jalan lurus yang menghubungkan enam buah pulau yaitu Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Setoko, Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru memanjang dari Barat ke Timur.   Bandara Internasional Hang Nadiem berlantai dua sangat besar melayani penerbangan luar negeri memiliki sarana bandara yang cukup konplik dengan tujuh buah Garbarata. 

Berhubung hari masih  siang  jam 12.15 menit wib ketika mendarat di Hang Nadiem Airport,  maka kesempatan tersebut saya gunakan untuk mengisi perjalanan  liburanku ke Batam dan ber New Year 2015 di Singapore dengan  menikmati perjalanan Barelang dari P Batam ke P Galang sejauh 70 km sebuah mega proyek tahun 1996 dalam pengembangan Otorita Batam oleh Bapak BJ Habibie,  tentunya dengan menggunakan Mobil  sewa bersama sahabatku.    Setelah membayar biaya makan dan rokok direstoran yang terletak di front  bandara  Rp 50.000,  saya menemui  pemilik mobil rental yang banyak berhamburan di front bandara tersebut, dengan sedikit nego  biaya  P Galang PP  hingga ke penginapan  di sepakati Rp 300.000.

Tak lama kamipun meluncur keluar menuju pintu gerbang bandara sejauh 3 km melewati kawasan bandara yang hijau dengan perkiraan bandara ini sangat jauh dari pusat kota Batam.   Di luar kawasan bandara terbentang  jalan besar  dua jalur  dengan meridian tiga meter ditumbuhi pohon  rindang dan indah demikian juga dengan sisi kiri dan kanan jalan,  kemudian  berbelok kearah kiri  menuju jalur ke Barelang , sepanjang jalan ini masih kurang dengan bangunan.   “  KAWASAN INDUSTRI BATAMINDO “  sebuah tulisan terpampang di suatu komplek bangunan yang luas yang dipenuhi dengan bangunan industry,   didepannya terdapat pusat perbelanjaan sekitar lima km kemudian  kearah kiri  banyak pengusaha kecil.

Setelah  melewati  jalan  lurus dan lebar sejauh 20 km  dengan beberapa ruko dan perumahan dikiri kanan jalan  kamipun sampai di Jembatan  Barelang Pertama yang menghubungkan Pulau Batam dan Pulau Tonton FISABILILLAH BRIDGE.  Jembatan sepanjang 600 meter  bertipe “ Cable stayed bridge “ yang bergantung pada  dua tiang utama dengan tali besi di kiri kanan jembatan  sedikit agak melengkung namun kokoh dan tak goyang.    Sangat asik untuk  berdiri bagian tengah  diterpa hembusan angin laut yang kencang serta  menyaksikan gejolak ombak dan arus air laut biru dibawah pada ketinggian  75 meter.   Atau melepaskan pandangan keluar selat  menyaksikan gugusan  pulau kecil berhias  rumah  nelayan disepanjang  bibir pulau dan bila kita berpaling  kearah dalam kita akan menyaksikan keindahan selat seolah teluk yang berhiaskan deretan Keramba jaring apung  didepan rumah nelayan.   Tak heran bila dijembatan banyak Wisman yang asik berpoto dengan latar tersebut sehingga disepanjang  jembatan banyak mobil parkir baik milik penjaja maupun  pengantar pengunjung  seperti yang sempat  saya kenal dari Malaysia, Korea  dan  dari dalam negeri seperti  dari Jakarta, Surabaya, Medan, Palembang dan Aceh.
 
Raja Ali Haji Bridge
Puas menikmati Keindahan Fisabilillah Bridge perjalanan dilanjutkan  melewati pulau Tonton,  tak jauh dari situ mobilpun telah berada di atas jembatan yang menghubung Pulau Tonton dan pulau Nipah disebut  Nara Singa Bridge 160 meter, jembatan ini tidak terlalu tinggi dari paras laut dan dari lima jembatan maka jembatan ini yang paling banyak di kunjungi Pemancing Maniak  yang terlihat memenuhi kiri kanan jembatan sehingga  sesekali terlihat pemancing menyintak pancing diikuti ikan yang terlempar ketengah jembatan menggelepar-gelepar.   Setelah melintasi Pulau Nipah di ujung pulau tedapat Raja Ali Haji Bridge sepanjang  120 meter berbis kuning hitam juga tidak tinggi dari paras air laut, jembatan ini menghubungkan ke Pulau setoko.   Dijembatan  ini banyak terlihat warga yang mancing sambil  menikmati hembusan angin laut dan keindahan taburan pulau diluar sana atau menikmati keindahan Pantai kampung nelayan dengan berbelok kekanan ketika memasuki pulau Setoko.

Perjalanan menikmati keindahan Island dan Bridge selanjutnya  adalah Jembatan  Sultan Zainal Abidin Bridge  yang menyambungkan Pulau Setoko dengan Pulau Rempang, tak jauh dari jembatan tersebut disebelah kiri  terdapat Pangkalan angkatan laut Batam dengan dermaga  berhias kapal Perang KRI yang terletak disebuah teluk kecil  dan tak jauh dari situ terdapat Dermaga Pos Pengawasan Perikana  Batam.  Sepanjang jalan sejak awal  perjalanan  tadi  terlihat banyak  tanah kosong  yang telah dipatok dan pagar dengan tulisan pemiliknya sepertinya  banyak dimiliki para pengusaha.  Sepanjang  perjalanan juga banyak terlihat petani menjajakan hasil pertaniannya baik sayur dan buah-buahan  seperti yang terlihat di jalur Pulau Rempang  terlihat kampung Pantai Flores yang dihuni suku Timor.
 
Tuanku Tambusai Bridge
Perjalanan  di Pulau Rempang menempuh jarak sangat jauh dengan mendaki dan lurus membelah semak dan bukit sehingga jalan tersebut seolah bertitik di cakrawala, dipenghujung pulau terbentang jembatan  Tuangku Tambusai Bridge yang menghubungkan dengan Pulau Galang sepanjang 230 meter, lebar 8 meter,  jembatan ini sangat melengkung dan tinggi  dari paras air laut 140 meter,  cukup ngeri ketika berdiri ditepi dengan menatap kebawah dengan hembusan  angin yang keras,  saat itu terpikir olehku alangkah indahnya jika jembatan ini dijadikan lokasi rekreasi Sport seperti Bridge Jumping yaitu mengikat kaki degan tali karet yang kemudian satu sisinya diikatkan ke Bridge kemudian kita meluncur  melompat kepermukaan air di bawah, pasti seru.    Selain itu dari  sini kita dapat menikmati  keindahan pulau nelayan serta aktipitasnya di luar selat tersebut dan  menyaksikan  kawasan kamp pengungsian Manusia Perahu Vietnam tahun 1980an.   Dihujung  jembatan  masuk kawasan pulau  Galang terdapat area parkir  yang cukup luas buat beristirahat pengunjung  sambil menikmati alam sekitar serta  mengamati arsitek jembatan yang berjarak 80 km  dari Batam, betapa indahnya memperhatikan keindahan jembatan yang tinggi, kokoh, dan melengkung seperti  jembatan di eropah sambil berpoto bersama rekan.  Sebenarnya masih ada satu jembatan lagi  yang menghubungkan Pulau Galang dan Pulau Galang Baru tapi perjalanan serasa sudah cukup sampai disini dan balik ke Batam.

Ketika pulang di ujung Fisabilillah Bridge aku mengajak sahabatku Raissa dan Sopir untuk  mampir menikmati Jagung bakar yang gurih dan manis sambil menikmati kopi diwarung tenda Rp 100.000 untuk tiga orang, selanjutnya kami mampir di Taman Barelang Bridge seluas  satu setengah  hektar,  banyak pengunjung menikmati keindahan Bridge Barelang I sambil duduk di sisi taman dan berphoto dengan latar pull Fisabilillah  Bridge dan  Nara Singa Bridge atau berlatar monument  Bertuliskan  “ BARELANG BRIDGE BATAM “,   disini banyak berkeliaran tukang photo hanya dalam waktu 15 menit sudah siap dan disekeliling taman berdiri penjaja makanan dan Cinderamata.   Selanjutnya go to Batam untuk istirahat. 
byBakriSupian
This Journey Sponsored by NusanTaRa.Com and Maroni FM. 



Raja Ali Haji terkenal dengan Gurindam duabelasnya,
Kepulaun Riau asal muasal kerajaan Melayu di Nusantara.

Jumat, 06 Februari 2015

PEMBANGUNAN POS MARINE MALAYSIA DI PERBATASAN KALIMANTAN UTARA



1 Hijau  Pos Marin Malaysia di Sungai Melayu P Sebatik 1 merah Pos Satgas Pamtas Laut RI dan 2 Hijau Pos Marine Malaysia di Pulau Kayu Mati 2 merah Pos Satgas Pamtas Pulau Tinabasan

NusanTaRa.Com

Saat ini Kerajaan Malaysia sedang membangun dua buah Pos Marinir  Perbatasan Laut permanen yang berada di Perbatasan Kalimantan Utara yaitu di muara sungai Melayu  Pulau Sebatik  dan di Pulau Kayu Mati di depan P Nunukan, tentunya untuk meningkatkan pengawasan perbatasan mereka dari berbagai hal yang mengancam dan merugikan negara.

Pos Perbatasan Laut Malaysia yang sedang dibangun di muara sungai Melayu  terbuat dari Beton setidaknya demikian yang terlihat saat ini ditepi pantai sekitar muara Sungai untuk tonggak Pos Maritim tersebut, keadaan ini sangat kontras dengan Pos Pamtas RI yang berada tidak jauh di Seberang muara sungai tersebut, karena Pos Satgas Pamtas RI tersebut terbuat dari Kayu yang bercetkan loreng hijau dan abu-abu dilengkapi petugas Satgas Pamtas dari AD yang bertugas secara bergilir.   Letak pos pengawasan kedua negara ini berdekatan hanya bersebelah sungai maka bila dilihat dari jarak 200 meter dari tengah laut sangat jelas berbeda seperti rumah di kota dan rumah di desa.

Panglima Devisi (Pangdiv) Mayor Jenderal TNI Edi Rahmayadi menilai "  Kalau kita lihat kondisi riil dilapangan, perlu dilakukan berbagai upaya guna meningkatkan pengawasan di wilayah perbatasan " kata beliau saat kunjungan kerja ke Pulau Sebatik,  lanjut beliau bahwa personil yang bertugas di Satgas Pamtas daerah P Sebatik dari satuan Kostrad Julu Siri jumlah yang ada sekarang masih setengah dari yang seharusnya.
Sementara Pos perbatasan Laut Malaysia yang sedang dibangun di Pulau Kayu Mati sangat dekat dengan Pulau Nunukan bahkan dapat terlihat dengan Mata telanjang dari Nunukan atau berjarak 15 menit menggunakan Speed boad dari Pos PLBL (Pos Lintas Batas Liem Hie Jung) Nunukan dan sangat dekat dari Pos Satgas Pamtas Laut di Pulau Tinabasan yang hanya berjarak 1 km.  Karna masih dalam tahap pembangunan maka yang terlihat saat ini masih berupa tiang Pancang beton tempat bangunan Pos marine  serta kapal Tongkang dengan peralatan untuk membangun Pos tersebut.  Inipun kalau kita  lihat dari tengah selat, akan terlihat sangat jauh perbedaan kedua Pos tersebut meski dengan pungsi yang sama.

Menurut beberapa pemuka bahwa posisi Pos Marine Malaysia di Pulau Kayu Mati tersebut masuk dalam kawasan Republik Indonesia, namun Komando satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Yonif Linud 433/Julu Siri (JS) Letkol Inf.Agustatius Sitepu S.Sos MSi, Membantah bahwa Pos Malaysia yang dalam tahap pembangunan saat ini tidak masuk dalam kawasan Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, berdasarkan dokumen yang disepakati dan dipegang kedua negara tersebut selama ini.

Dokumen resmi kedua negara yang menjadi acuan kedua negara dalam hal tapal batas negara yang dimaksud adalah Perjanjian tahun 1915 antara Inggris Raya dan Belanda.  Kala itu Indonesia masih berada dalam jajahan Belanda dan Malaysia menjadi jajahan Inggris,  " Perjanjian kedua belah pihak anatara Inggeris dan Belanda itu juga menetapkan wilayah jajahannya masing-masing dan menjadi acuan bagi negara jajahannya, yakni Malaysia dan Indonesia, " Ujar Agustatius Sitepu di Mako Satgas Pamtas Selasa 03 Februari 2015.

Dalam protokol 1915 antara Inggris Raya dan Belanda  Pasal 3 ayat 2 perbatasan di antara Malaysia dengan Indonesia di perairan Selat Sebatik,  di mulai dari Patok batas pada pantai Barat Pulau Sebatik, garis batas mengikuti Paralel  4 derajat 10' LU kearah barat hingga mencapai kebagian tengah dari Selat (middle of the channel), selanjutnya tetap mengikuti bagian tengah  selat hingga mencapai titik tengah muara TROESAN TAMBOE..   Tepatnya Pos pemantauan Marine Malaysia  itu berada  pada 04 09' 28,2"  LU,  117 37' 10,39"  BT dan hal ini telah disetujui dengan Memorandum of Understanding (MoU) 1973.

Seorang  masyarakat Nunukan yang telah menetap di Pulau Nunukan sejak tahun 1965 an mengatakan bahwa  "  Waktu kecil dulu saat Konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia tahun 1965 ia sering menyaksikan kapal Patroli Marine Malaysia dan Inggris yang kami sebut Pos Apung berlabuh di depan Pulau Kayu Mati tersebut (tempat pembangunan Pos Marine malaysia sekarang) dan tidak di halau oleh pihak KKO RI,  pada hal pos penjagaan selalu memperhatikan pergerakan kapal tersebut, itu kan bisa bermakna bahwa kapal Malaysia masih dalam tapal batas yang benar".
byKariTaLa LA




















Perbatasan memisahkan Keluarga dan Kebangsaan,
Kawasan Perbatasan jembatan terdepan dengan negara lain.

SUKU SEKO TO LEMO DI JANTUNG SULAWESI (SULSEL-SULBAR-SULTENG DAN SULTRA)

NusaNTaRa.Com            byIndaHPalloranG,       J   u   m   a   t,    2   1     A   g   u   s   t   u   s     2   0   2   6             Se...