Jumat, 20 Oktober 2017

DAMPAK KECOWBOYAN SUSY PUJIASTUTI BAGI KOTA GENSEN DI FILIPINA SELATAN

NusanTaRa.Com
byAsnISamandaK, 8/9/2017


Ketika kebijakan CowBoy Ibu Susi Pudjiastuti di Kementeri Kelautan dan Perikanan penenggelaman kapal Illegal Fishing dan kebijakan tentang penangkapan lainnya,  sejak awal tentu saja secara keseluruhan berdampak positip bagi dunia perikanan Tanah air namun  kebijakan tersebut juga  berpengaruh bagi dunia perikanan Negara tetangga seperti di Gensen pusat kota General Santos City Flipina Selatan.    Dengan Julukan Kota "  IKAN TUNA  " dan pelabuhan perikanan di Filipina kebijakan Ibu Susi memberi dampak penurunan produksi perikanan, Produksi Tuna tahun 2014 = 140,245 metrik ton dan 2015 = 80.794 metrik ton dengan Nilai Produksi Ekspor Tuna  2014 = 90,7 juta US$, 2015 = 36,6 juta US$ dan 2016 = 23,7 juta US$.    

Data perikanan di Gensen menunjukkan sejak tahun 2008 hingga 2014, hampir 89 persen dari total 1.012.488 metrik ton ikan di Gensan adalah jenis ikan tuna,  Produksi Tuna tahun 2014  sebagai tahun keemasan  dengan produksi mencapai 101.480 metrik ton sebagai rekor tertinggi selama 12 tahun terakhir.    Dari poduksi Ikan Tuna di Gensen  47 persennya merupakan  tuna beku  serta  70 persen  produksinya  dari kapal asing.   Kekalutan  di Gensan berawal ketika Susi meneken kebijakan larangan transhipment (alih muatan) di tengah laut dalam Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan Nomor 57/2014, yang berlaku 12 November dan Penenggelaman Kapal penangkap ikan Illegal termasuk beberapa kapal Perikanan yang berbendera Filipina. 

Data statistic milik otoritas lembaga Budidaya Perikanan Filipina PFDA mencatat penurunan tajam ikan tuna di Gensan periode  2014-2015,   ikan cakalang anjlok 76 persen dari 50,417 metrik ton =  2014 menjadi 28,658 metrik ton =  2015  dan begitu juga untuk ikan tuna sirip kuning pasar domestik turun -43 persen dari 8.289 metrik ton =  2014 menjadi 5.794 metrik ton =  2015 bahkan dari Februari hingga Maret 2015  ikan tuna sirip kuning kelas A tidak masuk dalam 10 ikan yang diperjualbelikan di Pelabuhan Ikan Gensan.

Sebagai kota sentra tuna, industri pengolahan tuna di Gensan amat tumbuh pesat. Ada delapan perusahaan besar yang beroperasi di Gensan: Amadeo Fishing, Atlantis Fishing Industries, Citra Mina Group of Companies, Frabelle Fishing Corporation, General Tuna Canning Corporation, Philbest Canning Corporation, RD Tuna Ventures Inc, dan San Andres Fishing Industries Inc, dengan perkiraan menyerap tenaga kerja 200.000 orang.    Pekerja Atlantis Fishing , Marcelo, 24 tahun, merasakan getir perusahaan di Gensen ketika perusahaannya harus merumahkan lebih dari 1.000 karyawan pada 2015-2016.    “  Jika tidak ada ikan, lalu apa yang mesti kami kerjakan?,  ”,  Ujar SiDin Marcelo dan lanjutnya,   “  Sejak Indonesia memperketat urusan di laut, nelayan kami tidak ada lagi yang berani melaut. Perusahaan pun tidak berani nekat karena takut kapal mereka ditenggelamkan  ”

Seorang TNI pemantau perdamaian disana ketika berjalan di  Dermaga General Santos City menemukan nelayan yang menggerutu padanya,  “  Selama di penjara, tentara Indonesia menyiksanya, mungkin karena itu dia kesal kepada Anda  ”, Ujar SiDin Marcos seorang nelayan Calumpang seraya tertawa.   Sampai Juni 2017, setidaknya sudah ada 200-an nelayan Filipina yang ditangkap dan direpatriasi oleh otoritas Indonesia. Banyak dari mereka ditahan di Ternate, Maluku, atau Bitung, Sulawesi Utara.

Manajer Pelabuhan Ikan Gensan, Luisito Romeo M. Correa mengatakan, meski produksi ikan mereka sempat terpukul, kini semua telah kembali berjalan normal meski tidak sebesar dulu.   Ketika ditanya dari mana sumber-sumber ikan itu, dan apakah tetap dari Indonesia,   Correa menjawab,  “  Tentu saja tidak. Kami sudah mendapatkan tempat eksploitasi baru di laut lepas Davao Oriental  ”.  Relatip sekitar tahun 2016  produksi perikanan kembali membaik mendekati hasil produksi tahun 2014.    Untuk Ikan cakalang Tren positif  terjadi tahun 2017  hingga semester pertama, Juni 2017, tangkapan ikan cakalang  dari kapal asing mencapai 48.569 metrik ton hampir menyamai data tahun2014.

Sebagai Pusat Tuna atau perikanan di Filipina Selatan yang  di kelola di Pelabuhan Ikan General Santos City di sebelah selatan pusat kota Gensen  yaitu Barangay Tambler di pinggir jalan Nasional Sarangani-CotaBato selatan, luas pelabuhan mencapai 32 hektar.    Untuk menuju ke sana, kita bisa menumpang becak motor dari pusat kota, cukup membayar 30 peso atau Rp 9 ribu. Pelabuhan ini menghadap ke Teluk Sarangani. Ombaknya relatif tenang tetapi lautnya agak dalam. Wajar jika banyak kapal dari bermacam ukuran, termasuk kapal kontainer, bisa berlabuh di dermaga Pelabuhan Gensan.   Lokasi Gensan memang strategis. Ia dekat dengan lokasi yang kaya ikan di Teluk Moro, Laut Sulu, Mindanao, dan Sulawesi. Filipina saat ini didapuk sebagai produsen terbesar tuna kalengan kedua di Asia setelah Thailand.

Kemerosotan Produksi perikanan Pelabuhan  di General  Santos City berakibat terjadinya banyak pengurangan tenaga kerja dari perusahaan perikanan yang beroperasi disana.   Gensen menurut  data kedutaan besar Republik Indonesia ternyata menjadi daerah pemukiman bagi pendatang WNI terbesar yang datang ke Filipina diperkirakan 22.000 jiwa dan kebanyakan bekerja sebagai nelayan 75  % terutama kapal-kapal perikanan yang akan beroperasi ke perairan  Indonesia.  

Data resmi Konjen RI Davao menyebutkan ada 15.000-22.000 WNI di Pulau Mindanao. Sebagian besar tinggal di Provinsi Sarangani, terletak di ujung selatan pulau di sekitar Kota General Santos, Cotabato, dan Pulau Balud.    Kampung Quilantang di Gensan sering disebut kampung Indonesia  ada sekitar 700 kepala keluarga bermukim di sana   nenek moyang mereka berasal dari Talaud dan Sangir.    Josapath Layang, Ketua Diaspora Indonesia di Filipina selatan, menyebut bahwa sebelum kebijakan Susi mengenai ABK, hampir 75 persen WNI di Gensan bekerja sebagai buruh nelayan,   “  Hidup mereka cukup lumayan jika dibandingkan dengan penduduk lokal Filipina di sini.   Tapi setelah peraturan Susi dibuat, semuanya jadi kacau  ”,  Ujar SiDin Josapath Layang.



Orang Sangir pelaut sejati menuju Utara,
Gensen Kota penghasil Ikan Tuna terbesar di Filipina.

Rabu, 18 Oktober 2017

EKSPOR BAWANG MERAH ENREKANG KE VIETNAM 100 KG DILEPAS A AMRAN SULAIMAN

NusanTaRa.Com
byAsnISamandaK, 17/10/2017
Festival Bawang Nasional 2017 di Enrekang

Kabupaten Enrekang merupakan salah satu daerah penghasil bawang merah terbesar keempat di Indonesia sehingga tak heran jika banyak pemasaran bawang di Nusantara utamanya Indonesia Timur berasal dari Enrekang dengan total produksi 900 ribu ton pertahun dengan luas lahan budidaya 1.200 ha serta produktipitas sekitar 10 ton per hektar.   Meski demikian petani bawang di Enrekang hampir setiap panen raya akan menghadapi persoalan berlimpahnya produksi tapi masih kurangnya pembeli sehingga harga bawang dipetani anjlok dapat mencapai Rp 4.500 / kg sedangkan harga normal pasaran Rp 12.000 / kg.  

Untuk mengatasi kemelut ini Dinas Pertanian Enrekang menggelar Festival Bawang Merah Nasional 2017  yang akan dipusatkan di Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang, 14 Oktober hingga 15 Oktkber 2017 mendatang dalam acara ini dirangkaikan dengan panen raya.  Festival Bawang ini bertujuan untuk memperkenalkan daerah ini sebagai penghasil bawang merah terbesar se Indonesia Timur sehingga diharapkan dapat merangsa lebih baik pemasaran hasil petani.    "  Festival bawang merah nasional ini, bertujuan memperkenalkan Enrekang sebagai penghasil bawang merah terbesar di Indonesia timur  ", Ujar SiDin Arsil Bagenda Kepala dinas Pertanian Enrekang. 

Festival Bawang Nasional 2017 akan dihadiri Menteri Pertanian A. Amran Sulaiman, Dirjen  Hortikultura  Spudnik Sujono Kamino, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, Bupati Enrekang Muslimin Bando dan Arsil Bagenda Kadis Pertanian Enrekang, dipameran ini juga akan di laksanakan kerjasama pemasaran dengan pengusaha,  Pameran hasil panen dari 10 kabupaten penghasil bawang merah terbesar di Indonesia Bima, Brebes, Nganjuk, Probolinggo, Kendal, Solok, Malang dan Bandung dan pelepasaan eksport bawang ke Vietnam.  "  Kita ingin nantinya akan ada kerja sama antar pengusaha dengan petani bawang merah agar harganya tidak terlalu anjlok saat waktu-waktu tertentu  ",  Ujar SiDin  Arsil Bagenda,  dari festival ini juga diharapkan dapat ditentukan pengaturan tanam bawang merah di setiap daerah penghasil bawang di Indonesia.

Turunnya harga bawang di tingkat petani diketahui Menteri Pertanian saat interaksi langsung dengan petani bahwa harga  Bawang merah aanjlok hingga   Rp 3.500 /kg, ini dianggap harga yang tidak mampu menutupi biaya penanaman,   dalam hal ini Bapak A. Amran Sulaiman telah memerintahkan Bulog agar membeli Bawang petani tidak di bawah Rp 12.000 per kilogram, dan untuk para pedangang / pengusaha dengan harga Rp 11.000 per kg dan beliau menggaransi bahwa harga bawang petani tidak akan berada di bawah Rp 10.000 /kg.   

Manajemen tanamann Bawang Merah musti dikawal lebih baik lagi jangan ada waktu over suplay dalam waktu yang bersamaan sehingga kita akan mudah mengendalikan harga dan tekanan harga akan semakin berkurang,   sebagai mana kata Spudnik Sujono ,  "  Terutama masalah kualitas harus kita perbaiki dan tata dengan baik supaya negara tujuan ekspor terus minat terhadap bawang merah kita. Sebab kualitas juga akan mempengaruhi harga ". 

Di Festival Bawang Nasional 2017 ini Mentan Andi Amran Sulaiman didampingi Dirjen Hortikultura Spudnik Sujono Kamino, kembali melepas ekspor bawang merah 90 ton dari Enrekang ke Vietnam,  "  Ini menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia bukan lagi pengimpor bawang, tapi sudah sebaliknya menjadi pengekspor  ", Ujar SiDin Amran Sulaiman usai melepas ekspor bawang merah dari Lapangan Andi Liu Anggeraja, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan (Sulsel), Sabtu (14/10/2017).   Ekspor bawang merah produk Indonesia  telah beberapa kali dilakukan karena memang kebutuhan secara nasional sudah sangat mencukupi  sehingga beliau sangat mendukung usaha swasta mengekspor kenegara lain,  sebagaimana kata Mentan,   "  Dalam tahun ini saja kita sudah ekspor bawang merah ke berbagai negara seperti Thailand sebanyak 5.600 ton. Lalu ke Malaysia, Filippina, Singapura, Timor Leste dan negara lainnya. Sekarang kita ekspor ke Negara Vietnam  ". 

Untuk mempertahankan predikat itu, Amran Sulaiman meminta semua stakeholder tidak membiarkan para petani berjalan sendiri, tapi kita harus saling bersinegri mewujutkan peluang dan kemampuan pasar produk mereka serta partisipasi petani dalam meningkatkan kwalitas diperkuat  jika ini terwujutkan bukan Cuma pemasaran Bawang yang lancar tapi Negara kitapun  akan menjadi kuat.  


Bawang ditanam di lereng dengan rapih,
Bawang Merah Enrekang berkwalitas baik dan bersih. 

Selasa, 17 Oktober 2017

SEJARAH DAN JALUR PERDAGANGAN REMPAH MENDUNIAKAN NUSANTARA

NusanTaRa.Com
byKariTaLa LA, 29SeptembeR2017.



Indonesia mulai dikenal masyarakat dunia khususnya Timur Tengah dan Eropah  jauh sebelum Masehi melalui REMPAH yang merupakan produksi alami alam Nusantara kala itu,  meski barang kali saat itu bukan nama atau daerah Indonesia yang mereka kenal tetapi rempahnya yang berkwalitas tinggi seperti  Cengkeh, Gaharu, Lada, Kemenyan, Pala dll.   Hasil kajian menyimpulkan bahwa Rempah Indonesia mencapai Timur Tengah dan Eropah di bawah para pedagang melalui Malaka, kemudian  menempuh Asia Selatan hingga Timur tengah dan Eropa, dilakukan  pedagang Arab, Cina dan India Selatan.    Kala itu Rempah-rempah  memiliki peranan  yang sangat penting bagi kehidupan, mulai dari urusan citarasa masakan, obat-obatan,  urusan ibadah hingga mengawetkan mayat.

Ketika harga Rempah melambung tinggi di pasaran Eropah karena pasaran yang hanya dikuasai pedagang pendatang dan masih sulitnya menempuh dan menemukan daerah Rempah Indonesia tersebut  sementara kebutuhan akan rempah semakin penting membuat masyarakat Eropah berusaha mencari  jalan untuk dapat mendatangkan sendiri kebutuhan tersebut karena pedagang Arab, Cina dan  Asia Selatan sangat merahasiakan perdagangan  Rempah tersebut.   Pada abad 14  hingga 16  bermunculan para penjelajah Eropah yang akan berpetualang untuk menemukan sumber Rempah dan jalur  perdagangan yang lebih hemat dan cepat seperti Christopher Colombus dari Italia dan Vasco de Gama dari Portugis sebagaimana ungkap sejarawan JJ Rizal dan Jack Turner.  

Harga komoditas Rempah dizaman Kerajaan Romawi Kuno dan Yunani  dihargai sangat tinggi seperti harga emas dan permata,   dalam sejarah tercatat bahwa Ratu Syeba pernah mempersembahkan batu permata, emas, dan rempah kepada Raja Sulaiman pada 992 sebelum Masehi sebagai suatu penghargaan.   Kejayaan rempah sebagai komuditas penting  berlangsung sangat lama, bahkan pada abad ke-14 harga pala di Eropa masih sangat fantastis yaitu Satu pon pala (0,45 kilogram) dihargai setara dengan tujuh lembu gemuk!!.

Salah satu jalur perdagangan Rempah,  Rempah-rempah yang dikumpulkan dari Kepulauan Maluku dan Nusantara lainnya di Malaka di bawa ke Pantai Malabar, India kemudian rempah-rempah itu diangkut ke Teluk Persia dan di sepanjang Lembah Eufrat, Mesopotamia, ke Babilonia, kemudian menuju Eropah dan dipasarkan seperti di Venesia dan Konstantinopel.      Hal ini diperkuat hasil penemuan di sebuah gudang di Situs Terqa, Eufrat Tengah, Suriah, salah satu wilayah peradaban Mesopotamia yang menemukkan banyaknya Cengkeh di situ.   ”  Saat ekskavasi dilakukan, arkeolog Italia, Giorgio Buccelati, begitu terkagum-kagum atas temuan sebuah wadah berisi cengkeh. Rupanya ia menggali di rumah seorang saudagar yang berasal dari masa 1700 sebelum Masehi  ”,  Ujar SiDin Bambang Budi Utomo (Januari-2017) arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.   

Agar dapat menguasai komoditas rempah, ekspedisi penjelajah Eropa sangat agresif. Di tengah kehidupan feodal masyarakat Eropa, penguasaan atas rempah dianggap penting agar pemiliknya dapat disejajarkan dengan  golongan elit. Para penjelajah mengorbankan hidup mereka untuk menguasai rempah-rempah di Asia Tenggara bahkan ratusan awak da Gama, salah satu penjelajah paling obsesif, tewas dalam ekspedisi 1498.   


Dalam ekspansi pelayaran pelaut eropah untuk menemukan sumber perdagangan Rempah di Nusantara para pelaut banyak mengalami pengorbanan,  tusan awak Vasco de Gama tewas dalam ekspedisi 1498 untuk menemukan daerah tersebut.   Akhirnya pada abad ke 16 Pedagang Eropa tiba di nusantara di kepulauuan Maluku ironisnya setelah 50 tahun ditemukan dan dibuudidayakan di Eropah harga jualnya anjlok drastis hal ini memaksa Belanda harus memanfaatkan komoditas Nusantara lain untuk tetap eksis seperti Gula dan Teh.


Kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke Nusantara menjadi awal penguasaan perdagangan rempah.  ”  Era ini diawali dengan perebutan pelabuhan terkaya di timur, yaitu Malaka, oleh Portugis  ”,  Ujar SiDin Susanto Zuhdi Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.   Malaka merupakan pelabuhan transit strategis, titik pertemuan distribusi rempah-rempah dari timur ke barat seperti halnya Singapura sekarang. Penulis Tome Pires (1468-1540) memberikan perumpamaan bahwa siapa pun yang menguasai Malaka dapat ”mencekik mati” Venesia.   Penguasaan poros ekonomi bahari di Malaka oleh Peniaga Eropah otomatis merampas rantai perdagangan para pedagang lama di kawasan Malaka, termasuk mereka yang berasal dari kawasan Nusantara, jalur distribusi yang panjang menjadi lebih singkat dan menjadi titiik awal Era Monopoli perdagangan Rempah di mulai.


Keberadaan Perdagangan Rempah tersebut membuat beberapa kerajaan yang berada di daerah penghasil Rempah dan dijalur pelayaran perdagangan rempah menjadi maju dan berkembang dengan pesat  mencapai kejayaannya seperti Malaka, Batavia, Makassar, Surabaya, dan Samudera Pasai.  Pemasaran rempah yang menjadi salah satu dasar pertumbuhan kerajaan-kerajaan Nusantara serta  Belanda melahirkan politik Devide at Ampera (Politik adu domba) untuk menguasai perdagangan Rempah Nusantara  bahkan  Sejarah rempah juga telah memberi kontribusi pada sejarah panjang pembentukan nasionalisme Indonesia.  


Pemerintah Indonesia untk meningkatkan kesadaran betapa pentingnya  Jalur Rempah lewat  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI telah menyelenggarakan sejumlah program, seperti  membawa Jalur Rempah dalam Festival Europalia 2017 di Belgia dan negara sekitarnya. Agenda yang akan berlangsung pada 10 Oktober 2017 hingga 21 Januari 2018 ini merupakan festival budaya terbesar dan paling bergengsi di Eropa.


Nusantara mendunia karena Rempahnya,
Belanda melepaskan manhattam demi Pulau Banda.

Kamis, 12 Oktober 2017

PUPNS TAHUN 2016 MENEMUKAN PNS MISTERIUS 57 RIBU PEGAWAI SEDOT ANGGARAN RP 1,37 TRILIUN

NusanTaRa.Com
byMuhammaDNuRRochmI, 21ApriL2017.


Temuan mencengangkan dibeber oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN). Kepala BKN Bima Haria Wibisana menyebut, institusinya menemukan 57 ribu pegawai negeri sipil (PNS) statusnya tak jelas. Keberadaan mereka ini masih misterius, belum diketahui apakah orangnya ada atau tidak.  BKN menemukan ini lewat Pendataan Ulang PNS (PUPNS) yang berlangsung sejak setahun terakhir. Awalnya PNS se Indonesia Raya wajib mendaftar secara individu lewat aplikasi e-PUPNS. Hasilnya, terdeteksi 93 ribu PNS yang tak aktif. 

Setelah disisir lagi, ternyata sebagian sudah pensiun tapi datanya masih ada. Sebabnya, mereka pensiun atas permintaan sendiri, dan tidak tercatat di BKN. "Data itu kami bersihkan," tutur Bima seperti dikutip NusanTaRa.Com. Jika pensiun secara normal, pensiunnya terdaftar di BKN.   Keberadaan PNS misterius itu ada di daerah dan kementerian. Hingga hari ini, jumlah PNS seluruh Indonesia mencapai 4,5 juta orang. Di perguruan tinggi negeri misalnya, dari total 120 ribu PNS ada lima ribu yang tak jelas statusnya.
Bima mengungkapkan, kini BKN sudah memblokir data 57 ribu PNS misterius ini, tapi belum dihapus. " Kami perlu hati-hati. Takutnya orangnya ada, terus kita pensiunkan, kan kasihan  ", Ujar SiDin Menambah.   Pembenahan dan pemutakhiran data masih terus di jalankan dengan lebih baik agar ditemukan data yang sebenarnya dan proses kepegawaian berjalan lancar demikian dengan penggunaan anggaran negara tidak terjadi kebocoran yang betal.

Namun gaji untuk para PNS misterius ini telah disetop. Hingga saat ini belum diketahui bagaimana imbas penyetopan itu. Jika ada PNS yang protes, berarti orangnya ada. Tapi kalau tidak protes, BKN masih ragu-ragu, orangnya ada atau tidak.   BKN masih mencoba mencari tahu keberadaan 57 ribu PNS berstatus tak jelas tersebut. Apakah pensiun dini, sakit, atau ke mana. "  Sekarang kami masih investigasi   ",  ujar SiDin Bima,  kalau orangnya ternyata tidak ada, BKN akan menghapusnya dari database.

Menurut Bima, pihak BKN tidak ingin ada uang yang hilang. Selama ini, PNS misterius tetap menyedot duit APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) untuk gaji. Dia mencontohkan, rata-rata gaji PNS berkisar antara Rp2 juta hingga Rp5 juta.   Misalkan ada 57 ribu PNS dengan gaji Rp2 juta, dalam satu bulan mereka menyedot Rp114 miliar. Dalam setahun Rp1,37 triliun. Jika gaji mereka Rp5 juta, duit yang disedot dua kali lipat lebih jumlahnya. 

Tahun ini Kementerian Keuangan mengalokasikan pagu anggaran belanja pegawai sebesar Rp347,5 triliun dalam APBN 2016. Anggaran tersebut naik dari belanja pegawai pada APBN-P 2015 yang dipatok Rp299,3 triliun.  Penambahan tersebut tentu disebabkan beban anggaran PNS dari pertambahan pegawai, Kenaikn gaji pegawai, Anggaran pelayanan kepegawaian yang bertambah setiap tahunnya dan anggaran pendapatan dari kegiatan keegawaian.

Data APBN 2016 Kementerian Keuangan, yang dikutip NusanTaRa.Com  Januari lalu menyebut, gaji pegawai menyedot 26 persen porsi belanja pemerintah pusat yang dipatok Rp1.325,6 triliun. Duit Rp 347,5 triliun itu termasuk buat membayar pensiunan PNS, jaminan kesehatan, dan THR (Tunjangan Hari Raya) mereka.

Kata Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara-Reformasi Birokrasi, Yuddy Crisnandi, Idealnya  rasionya 1,5 persen dari jumlah penduduk adalah PNS. Jika memakai rasio ideal, maka jumlah PNS seharusnya sekitar 3,75 juta orang. Seperti dilansir CNN Indonesia,  sehingga muncul wacana pemangkasan sekitar 750 ribu hingga sejuta PNS.  Menurutnya,  Jumlah PNS yang sekarang 4,5 juta  sangat berlebihan dengan  jumlah penduduk sekitar 250 juta dan jumlah itu menunjukkan  rasio  PNS pada  angka 1,77 persen.
dr.Britagar.id



PNS Abdi Negara pelayan Masyarakat,
57 ribu PNS Misterius karena Administrasi tak akurat.

Minggu, 08 Oktober 2017

FESTIVAL BUDAYA LEMBAH BALIEM PAPUA, MENCATAT REKOR DUNIA

NusanTaRa.Com 


Bhineka Tunggak Ika satu semboyan Negara Indonesia, membuat kita kaya akan Budaya, Suku, Agama, Bahasa dan sebagainya yang tergambar dalam alam dan kehidupan keseharian bangsa Indonesia dan membuat kita jadi Kuat.   Keragaman tersebut dapat tergambar dalam setiap budaya daerah masing-masing yang biasanya dapat kita saksikan dalam berbagai Festival yang diselenggarakan daerah-daerah menjadi suatu tontonan yang menarik, menghibur dan mudah dipahami setiap pengunjung, seperti yang terdapat di Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) di Baliem, Distrik Welesi, Kab. Wamena Prov. Papua.
Festival Budaya Lembah Baaliem  untuk tahun 2017 telah diselenggarakan pada Selasa (8/8/2017), penyelenggaraan perayaan anual baru-baru ini telah memecahkan satu rekor Indonesia maupun rekor dunia yaitu  untuk pelemparan lebih dari “ 1.359 Sege “  dan selama penyelenggaraan Lembah Baliem sebanyak  28 kali  acara pelemparan Sege baru  kali ini  digelar.  Sege merupakan salah satu senjata perang atau sejenis tombak yang bermaterial kayu hutan berjenis apa saja dengan panjang sekitar 2,5 meter dan harus lurus, yang banyak digunakan sku papua di Lembah Baliem seperti suku Yuli, Dani, Lani dll.

Lembah Baliem  berada di lembah pegunungan Jayawijaya pada ketinggian 1.600 m dpl.  Suhu bisa mencapai 10-15 derajat celcius,   dikelilingi pegunungan dengan pemandangannya yang indah dan masih alami. Dikenal sebagai  Grand Baliem Valley merupakan tempat tinggal suku Dani di Desa Wosilimo 27 km dari Wamena  Papua,  selain Suku Dani terdapat beberapa suku lainnya hidup bertetangga di lembah ini yakni Suku Yali dan suku Lani. 

Lembah Baliem berukuran Panjang sekitar 80 km dan sebesar atau lebar 20 km dengan populasi sekitar 120.000 jiwa dengan Populasi pertanian yang cukup besar.   Lembah Baliem pertama kali ditemukan oleh sebuah Ekspedisi ketiga Zoologi Richard Archbold untuk New Guines pada tanggal 21 Juni  1938 pada penerbangan udara disebelah selatan Reconnaissance dari Hollandia (Jayapura) yang kemudian oleh kalangan ekspedisi disebut “ Grand Valley “.   Secara bertahap kemudian lembah teersebut didatangi manusia dan secara terbatas sebagai objek wisata serta pembukaan Festival Bidaya Lembah Baliem secara resmi dibka sejak tahun 1989.


Festival Budaya Lembah Baliem menjadi seru mana kala acara perang-perangan berlangsung yang melibatkan peserta laki-laki dari warga setempat dan wisatawan dalam maupun luar negeri yang datang berkuunjung, keadaan itu menggambarkan perang antara suku yang ada di Lembah Baliem.   Suasana di sekitar tempat penyelenggaraan FBLB seperti bukit-bukit di sekitar Walesi, Wamena  Kabupaten Jayawijay  langsung  menjadi riuh oleh sorakan ribuan orang yang turut serta,  ditambah sekitar 50 ribu wisatawan yang ikut menyaksikan saat “ SEGE ” dilempar bersamaan.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Jayawijaya, Alpius Wetipo, berharap dengan adanya pencatatan  rekor baru tersebut  sege semakin dikenal masyarakat  Indonesia dan  wisatawan asing.   Sege biasanya diberi cat warna hitam,  di beberapa suku  ada yang menghias sege dengan warna putih atau merah, kadang juga diberi racun untuk membunuh buruan.  Di FBLB semua tombak dicat hitam dengan ujung yang tak begitu runcing dan tanpa racun, hal lain yang menarik dari aksi memecahkan rekor melempar  Sege  bahwa semua pelempar harus Lki-laki sementara perempau menunggu dluar lapangan, ”  Biasanya memang sege ini digunakan untuk laki-laki. Perempuan mengurusi dapur  ” Ujar SiDin Alpius.


Festival Budaya Lembah Baliem Annual di Distrik Welesi, Wamena tahun ini  akan berlangsung selama empat hari, terhitung sejak tanggal 8 hingga 11 Agustus 2017. Berlangsungnya festival ini diharapkan sebagai upaya melestarikan, sekaligus memperkenalkan budaya Papua kepada masyarakat Indonesia dan dunia.   Keistimewaan  festival bermula dengan skenario  perang-perangan antara suku yang mendiami lembah yang telah berlangsung sejak dahulu kala sebagai simbol kesuburan dan kesejahteraan lembah Baliem,  Atraksi ini tidak menjadikan balas dendam atau permusuhan tetapi justru bermakna positif yaitu  “  Yogotak Hubuluk Motog Hanoro  “  yang berarti Harapan Akan Hari Esok yang Harus Lebih Baik dari Hari Ini.
byKariTaLa LA, 18/8/2017
 Burung Cenderawasih bersenandung di Rimba,
 Sege senjata Tombak kayu untuk Putra Bumi Papua.

SUKU SEKO TO LEMO DI JANTUNG SULAWESI (SULSEL-SULBAR-SULTENG DAN SULTRA)

NusaNTaRa.Com            byIndaHPalloranG,       J   u   m   a   t,    2   1     A   g   u   s   t   u   s     2   0   2   6             Se...