Jumat, 20 Maret 2015

UU 23 TAHUN 2014 GAGAL MERILIS PERATURAN PILKADA DEWAN




NusanTaRa.Com
Undang-undang No. 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, merupakan sebuah produk hukum tentang penyelenggaraan Pemerintahan daerah yang mencoba untuk meninggalkan semangat reformasi murni yang mengutamakan  penyelenggaraan  otonomi daerah dengan lebih melibatkan masyarakat dalam penyelenggaraan tersebut seperti dalam pemilihan.  Namun nasib produk Undang-undang ini harus mengalami revisi praktisnya hanya sekitar empat bulan setelah pengesahannya  menjadi UU No 1 dan 2 tahun 2015.

Undang-undang No. 32 Tahun 2004 pada dasar sebuah undang-undang yang memuat peraturan penyelenggaran Pemerintahan yang bernapaskan semangat reformasi yaitu suatu peraturan yang memberikan keluasan bagi daerah (Provinsi, Kabupaten dan Kota) untuk menyelenggarakan pungsi pemerintahan yang lebih luas dan penyelenggaraan Pemilihan Presiden, Gubernur, Bupati dan Walikota secara langsung oleh Rakyat, namun melalui UU 23 Tahun 2014 mengalami perubahan yang sangat siqnifikan.

Setiap aparat pemerintah daerah dan pejabat daerah merupakan penyelenggara administrasi pemerintahan di daerah yang bertugas menyelenggarakaan dukungan terhadap pelaksanaan pemerintahan agar pencapaian pembangunan dapat tercapai sebagaimana mestinya.  Untuk itu hendaklah  setiap aparat dan pejabat daerah memahami tentang Undang-undang penyelenggaraan pemerintahan daerah dengan benar, demikian ungkapan Drs. Basri Bupati Nunukan dalam sambutannya pada acara Konsultasi dan Sosialisasi UU No. 23 tahun 2015 di kantor Bupati Nunukan jalan sei Jepun Nunukan (Jum’at, 20 maret 2015).

Drs. Basri dalam sambutan tersebut juga menyampaikan, “ untuk itu maka pemerintah perlu menetapkan rekan konsultasi  hukum  sebagai satu rekanan yang dapat memberikan masukan seputar hukum dan aturan dalam penyelenggaran pemerintah daerah yang benar “, selanjutnya beliau membuka acara konsultasi hukum tersebut dan melanjutkan penandatangan MoU dengan  Konsultan Hukum Pemerintah Daerah Nunukan Prof. Dr. Ir. Abrar Saleng, SH, MH Guru Besar llmu Hukum  Universitas Hasanuddin.

Pada dasarnya Undang-undang No 23 tahun 2014 bisa dikatakan tidak pernah berjalan dalam rangka misi untuk mengembalikan kejayaan Dewan dalam menetapkan pimpinan eksekutip di tanah air sebagaimana kejayaannya di zaman orde baru, karena melalui undang-undang No. 1 dan 2 tahun 2015 mengalami revisi  dalam hal penyelenggaraan  pemerintah daerah dan pemilihan kepala daerah yang dilaksanakan secara langsung oleh rakyat, ujar Prof Abrar Saleng.

Dalam UU No. 23 tahun 2014 Paragraf 3 Pasal 101 ayat 1.d dan Pasal 154 paragraf 3, bahwa DPRD  Provinsi dan Kabupaten dan Kota mempunyai tugas dan wewenang memilih Gubernur dan Bupati dan Walikota, namun revisi UU No. 1 tahun 2015 Untuk  menjamin pemilihan Gubernur, Bupati dan Wali Kota dapat dilaksanakan secara demokratis sesuai UUD 45 maka pemilihan tersebut harus dilakukan secara langsung oleh Rakyat karena pemilihan melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah telah mendapat penolakan masyarakat secara luas.

Penyelenggaraan pemerintahan daerah pada UU No. 23 tahun 2014, pada Pasal 5 menetapkan bahwa Urusan pemerintahan terdiri atas 1. Urusan pemerintahan Obsulut yang merupakan kewenangan pusat yang meliputi  -Politik Luar Negeri –Pertahanan –keamanan  -Yustisi  -moneter dan fiscal nasional dan –Agama.  2. Urusan pemerintahan Konkuren, urusan pemerintah yang dibagi antara pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota, urusan pemerintah yang diserahkan ke daerah menjadi dasar pelaksanaan Otonomi daerah.  3. Urusan pemerintahan Umum, urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan  Presiden sebagai Kepala Pemerintahan.

Urusan pemerintah konkuren yang menjadi kewenangan daerah terdiri atas 1. Urusan pemrintahan wajib yang meliputi –Pendidikan –Kesehatan –Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang –Perumahan Rakyat –Ketentraman dan –Sosial   2. Urusan pemerintahan Pilihan meliputi –Kelautan dan Perikanan –Pertanian –Pariwisata –Perdagangan –Kehutanan –ESDM –Perindustrian –Transmigrasi.    Sementara Urusan Pemerintah konkuren antara Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota  didasarkan pada Akuntabilitas, Efisiensi dan eksternalitas serta Kepentingan strategus Nasional.

Dengan berhasilnya penandatangan MoU tentang Konsultasi Hukum Pemerintah daerah Nunukan dengan Prof. Dr Ir Abrar Saleng SH, MH, Asissten I Sekretariat Daerah Nunukan Abidin Tajang, SH, MSi mengatakan bahwa setiap SKPD dan aparat pemda Nunukan dapat menghubungi beliau untuk mendapatkan penjelasan  hukum dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.  
byBakriSupian


Neraca mengukur kesetaraan beban,
Pembangunan akan berhasil bila  hukum  telah  dijalankan. 

KIPRAH PESEPAK BOLA JUNIOR INDONESIA DI BENUA BIRU, HINGGA KAPTEN U-15 REAL MADRIT



Muh. Daffa berdiri baju hitam paling kanan.

NusanTaRa.Com

Dunia sepak bola tanah air mungkin dapat berbangga diri saat ini, khususnya buat pemain muda  U  9-17  karena seorang pesepak bola tanah air yang mengikuti Tim Akademia U-15 Real Madrid terpilih menjadi penyandang ban kapten sekaligus menjadi putra Indonesia yang menjadi Kapten Tim yang bermain di Benua biru dia adalah Muhammad  Daffa Imran kelahiran Bekasi 18 Agustus 1999.  Meski sebelumnya kita telah mengenal beberapa pemain muda Indonesia yang membuat sejarah dalam persepakbolaan di Benua Biru tersebut seperti Tristan Alif Naufal dan Yussa Nugraha.

Tristan Alif Naufal pemain cilik berusia 10 tahun yang telah dilirik dua klub sepak bola raksasa negeri Belanda yaitu di Akademia Ajax Amsterdam dan Feyenoord dan saat ini sedang mengurus keberangkatnnya ke Belanda kata orang tua beliau yaituIvan Trianto dan Irma Lansano yang lagi mengurus proses keberangkatan di Kementerian Pemuda dan Olah Raga.   Sebelumnya iapun sempat mengikuti sesi pelatihan di Akedemia Ajax yang disebut DE TAEKOUNTS.   Alif Naufal dalam sesi pelatihan sebelumnya di Ajax International Camp 2014 yang diikuti 250 peserta dari 20 negara telah di nobatkan sebagai Most Valuable Player 2014 dan Best Player Categori 1V1.  Alif Naufal juga oleh pengamat bola belanda dianggap sebagai masa depan sepak bola Indonesia dengan gelar “MESSI INDONESIA “.


Yussa Nugraha yang telah menetap di negeri Belanda, merupakan kelahiran Solo Jawa Tengah dari ayah Edi Nugraha dan ibu Indra Lieu Nugraha saat ini beliau berlatih di SVC Scheveningen Belanda.  Yussa merupakan satu putra Indonesia yang akan mengikuti penyaringan Tim Nasional Belanda  yang masuk dalam program Jeugdplan Nederland sebagaimana bunyi kutipan surat undangan tersebut di bawah ini  :

 “Berkat prestasi sepak bola di klub, kamu menarik perhatian para pemburu bakat dari KNVB. Maka, kami mengundang untuk mengikuti pertandingan penyaringan untuk program Jeugdplan Nederland. Atas nama staf teknis KNVB region Barat, kami mengucapkan selamat atas undangan ini,” bunyi undangan seperti dituturkan Yussa, Selasa (28/1/2014)

Waktu itu Kapten Akademia sedang sakit sehingga pelatih memanggil saya untuk menjadi Kapten Tim Akademia U-15 Real Madrit, kata Muhammad Daffa Imran dengan gembira dan akan berusaha dengan baik agar dapat mengharumkan nama bangsa.  Dia merupakan anak Indonesia pertama yang berhasil menjadi kapten tim di klub sepakbola U 15  yang merupakan klub junior dan amatir di Eropa.

Anak berdarah Minang dari ayah Zuchi Imran dan Nurhaidah  kelahiran Bekasi 18 Agustus 1999,   sejak usia 10 tahun sudah akrab dengan sepak bola  dulunya ia berlatih di SSB MBSS yang dilatih oleh M Nur Inyong. Terakhir bergabung dengan ISA (Imran Soccer Academy) pada 1 Januari 2012.

Muh. Daffa untuk meraih prestasi demikian tentunya bukanlah hal mudah karna sebelumnya ia telah berkali-kali mengikuti berbagai turnamen sepak bola seperti mengantarkan timnya menjadi Runer-Up  kala menjadi pemain Timnas Indonesia U-13 diajang Yamaha cup di Thailand pada tahun 2011,  Terpilih dalam ajang pencarian bakat Club De Meteeoor Amsterdam Belanda pada 2013,  dia juga ikut mengangkat prestasi ISA di ajang Kanga Cup Australia dengan menjadi peringkat kedua turnamen itu.  Muh. Daffa juga pernah membela klub Indonesia yang berlaga di final pada ajang Danone Cup 2011 di stadion Santiago Barnebeu, madrid. Hingga akhirnya kini ia berhasil bergabung dengan Real Madrid U-15 setelah terlebih dahulu mengikuti seleksi di Real Madrid.

Setelah menjadi kapten tim U-15 Real Madrid Muh. Daffa merasa bangga dan berkata, “Saya bangga dan saya akan berusaha bertahan di sini demi semua yang saya impikan. Paling utama tentu restu orangtua dan dukungan orangtua. Saya harus tetap bisa menjaga apa yang sudah saya dapat dan apa yang saya perjuangkan,”. Daffa juga mempunyai mimpi untuk dapat bergabung dan membela tim Nasional Indoesia kelak dimasa mendatang.

Bakatnya dalam mengolah sikulit bundarpun mampu memikat para pelatih dari akademi U-15 klub yang sudah menjuarai sepuluh kali Liga Champions Eropa itu.  Setelah satu tahun berada di sana,  Daffa akhirnya mendapatkan kepercayaan untuk menyandang ban kapten timnya.   "Ketika itu mau bertanding pemain yang biasa jadi kapten sedang cedera. Dan tanpa disangka saya yang dipilih pelatih untuk menggantikannya. Sampai pemain itu sudah pulih, saya tetap dipercaya sebagai kapten," ucap Daffa, yang berposisi sebagai gelandang bertahan itu.

Pemain yang mengidolakan Andres Iniesta dan Evan Dimas Darmono itu menambahkan, dirinya juga sudah tiga kali diminta untuk memperkuat tim Real Madrid U-17 pada kompetisi yang digelar tahun ini. "Kalau kata pelatih saya diminta untuk lebih memperkuat tim. Saat ini baik tim U-17 dan U-15 sedang berada di peringkat pertama," jelasnya.   Hidup jauh dari keluarga dan orang tua tak membuatnya menyerah. "Saya bangga dan saya akan berusaha bertahan di sini demi semua yang saya impikan. Yang paling utama tentu restu orang tua dan dukungan orang tua. Saya harus tetap bisa menjaga apa yang sudah saya dapat dan apa yang saya perjuangkan," tegas pemain yang sudah menguasai lima bahasa asing ini.

Dia pun siap apabila nanti memang dipanggil untuk memperkuat timnas Indonesia. "Itu adalah cita-cita saya bisa membela timnas," tegasnya.
byRyanSyahputra.

Yussa Nugraha di Belanda
Lahabing mengolah sikulit bundar dari sayap kanan,
Mengolah Bola dan pisik baik mendukung kemampuan bermain.

Minggu, 15 Maret 2015

PERAYAAN NAIK DANGO SEBAGAI HARI GAWAI DAYAK


NusanTaRa.Com.

Hari Gawai merupakan satu prosesi adat masyarakat Dayak Kalimantan yang dipersembahkan pada penguasa alam dan arwah leluhur sebagai rasa syukur atas apa yang mereka peroleh atau kebaikan yang telah melimpahi kehidupan mereka atau satu permohonan masyarakt pada penguasa alam untuk memperoleh keberhasil atau hasil yang baik atas usaha mereka.  Pesta ini tentunya mempunyai keragaman yang banyak tergantung daerah dan jenis Gawai yang mereka laksanakan seperti Naik Dango untuk perayaan Panen Padi.   Saat ini Pelaksanaan Gawai telah dikemas dengan berbagai aktipitas yang dapat menyemarakkan perayaan dan mempersatukan kehidupan masyarakat dayak. 

Pesta Gawai saat ini dikemas dalam satu bentuk yang sangat  menarik selain dengan acara ritual pormal terkait dengan acara tersebut,  juga diisi dengan perbagai kegiatan yang dapat meningkatkan persatuan masyarakat, pentas kesenian, perlombaan dan sebagainya bahkan kegiatan ini menjadi satu paket Wisata daerah sehingga dalam pelaksanaan ini banyak atribut dan umbul-umbul yang menghiasi daerah peryaan dengan berbagai kalimat sambutan seperti dibawah ini.

“Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata”
Kalimat tersebut bermakna, “Adil dan toleran terhadap sesama, bercermin ke surge dan setiap tarikan napas harus patuh terhadap Tuhan. Setiap ada yang mengucapkan salam tersebut, orang harus menjawab, arus, arus, arus yang berarti mengiyakan dan mengharapkan salam itu akan terpenuhi dalam kehidupan semua orang."

Salam tersebut kerap dijumpai dalam setiap upacara adat Naik Dango yang merupakan sebuah upacara Gawai untuk menghaturkan rasa syukur terhadap Nek Jubata atau Sang Pencipta atas berkah yang diberikannya berupa hasil panen (padi) yang berlimpah. Tidak hanya itu, upacara yang biasa dilakukan oleh masyarakat adat Dayak Kanayatn yang mendiami Kabupaten Landak, Kabupaten Pontianak, hingga Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat tersebut diselengarakan secara rutin setiap tahun.

Upacara Naik Dango memiliki empat kegiatan utama.
Yang pertama berjuluk Batutuk atau kegiatan menumbuk padi dalam lesung untuk mendapatkan beras, tepung beras (sunguh) atau beras ketan (poe’) untuk persiapan ritual makan bersama atau sesaji.
Kemudian disusul dengan acara Matik alias mengucapkan doa untuk menyampaikan maksud dan niatan kepada Nek Jubata agar member restu pada pelaksanaan upacara Naik Dango. Di sini disajikan juga perangkat adat berupa Tumpi Sunguh (cucur putih), Solekng Poe” (ruas bambu berisikan ketan masak), hingga Sirih Masak (daun sirih, pinang siap kunyah dan gulungan rokok daun nipah). 

Perhelatan Naik Dango memiliki inti upacara berupa Nyangahathn alias melantunkan doa dan mantra-mantra oleh Panyangahatn (imam adat) untuk memanggil semangat padi, mengucapkan syukur kepada Tuhan atas anugerah yang diberikannya berupa panen padi sampai memohon ampun kepada Nek Jubata atas dosa dan kesalahan dan meminta agar diberikan kesejahteraan pada tahun yang akan datang.

Selanjutnya para peserta upacara akan saling mengunjungi rumah kerabat dan tetangga dan disajikan kudapan atau penganan berupa poe atau salikat (lemang atau pulut yang terbuat dari beras ketan yang ditanak di dalam batang bambu), tumpi cucur (campuran tepung terigu dan tepung beras yang diaduk dengan gula merah dan digoreng), Bontonkng (berbahan baku beras sunguh/beras lading-Bontonkng Sumuh dan yang berbahan dasar beras pulut ladang alias Bontonkng Poe’). 

Naik Dango sendiri bermula dari mitos asal mula padi mashyur di antara orang Dayak Kalimantan Barat lewat kisah Ne Baruankng Kulup. Cerita tersebut diawali dengan asal mula padi milik Jubata di Gunung Bawang yang dicuri oleh burung pipit. Padi tersebut kemudian jatuh ke tangan Ne Jaek yang sedang mengayau alias memenggal. Akibat hanya membawa setangkai padi dan bukan kepala, maka Ne Jaek pun menuai ejekan.

Keteguhan Ne Jaek yang ingin membudidayakan padi tersebut menyebabkan pertentangan di sukunya yang berimbas pada diusirnya Nenek Jaek dari kampungnya. Dalam pengembaraannya, dia bertemu dengan Jubata dan lalu menikah. Perkawinan tersebut menghasilkan Ne Baruankng Kulup yang akhirnya membawa padi kepada “Talino” (manusia) akibat senang turun ke dunia untuk bermain Gasing. Hal tersebut membuat Ne Baruankng Kulup diusir dari Gunung Bawang dan kemudian menikah dengan manusia. Dial ah yang mengenalkan padi (beras) untuk menjadi makanan utama manusia menggantikan Kulat (jamur).

Pada hakekatnya, upacara Naik Dango memiliki tiga aspek. Aspek tersebut antara lain aspek kehidupan masyarakat agraris di mana masyarakat Dayak mengungkapkan tradisi bercocok tanam dengan padi sebagai panen utamanya. Aspek kedua adalah aspek kehidupan religious. Lewat Naik Dango, masyarakat Dayak mengekspresikan rasa syukur, terima kasih dan hormat kepada Tuhan atas panen yang mereka peroleh. Aspek yang terakhir adalah aspek kekeluargaan, solidaritas dan persatuan.

Penyelenggaraan Naik Dango secara serentak dalam wilayah kesatuan hukum adat (binua) merupakan sebuah kegiatan yang bertujuan untuk mempererat silaturahmi antar keluarga khususnya dan masyarakat Dayak umumnya.

Pesta Gawai yang umumnya diselengarakan masyarakat suku dayak Kalimantan beragam jenisnya tergantung suku dayak dan kediamannya,  seperti Pesta gawai di Pontianak yang dilaksanakan setiap 20 mei itu, pada dasarnya upcara ritual yang meliputi,   Upacara dimulai dengan upacara adat bapipis, prosesi ini seperti sebuah pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan tahap kedua yaitu upacara dipantak atau panyugu, di saat inilah para pemimpin upacara adat akan memanjatkan doa kepada Tuhan dan para leluhur supaya segala acara berjalan dengan lancar. Yang ketiga adalah upacara adat nyahaten masak yang merupakan acara memasak ayam yang akan dimasak ramai-ramai dan dinikmati beramai-ramai, bagian ini seperti puncak pada upacara Ngampar Bide.  Dan masih banyak jenis lainnya.

byIanApokayan(FB)






Pesta Gawai dirayakan masyarakat pedalaman,
Agar Arwah leluhur selalu melimpahkan rahmat dan keselamatan.


Selasa, 10 Maret 2015

DUILAT LEBIH MATRE KATENYE PEREMPUAN INDONESIA


Aktris esek-esek tajir © Aktris esek-esek tajir Aktris esek-esek tajir 

NusanTaRa.Com.
 
Dari hasil riset yang dilakukan perusahan biro jodoh profesional asal Singapura, Lunch Actually, menunjukkan bahwa perempuan di Indonesia pantas bila disebut matre atau matrealistis.      Alasannya, ketika riset itu dilakukan, perempuan di Indonesia cenderung menilai sosok pria dari sisi materi. Mereka menyebut kalau kebanyakan perempuan Indonesia memiliki pria dengan karir gemilang dan penghasilan yang mapan. Hasil ini sangatlah berbeda dari perempuan di negara lain yang tertarik kepada pria yang memiliki kepercayaan diri tinggi.

Lunch Actually melakukan penelitian terhadap 1.658 responden dengan komposisi 49,01 persen adalah perempuan dan 50,99 persen adalah pria dari empat negara; Singapura, Malaysia, Hongkong, dan Indonesia. Di mana 74,08 persen pendidikan para responden adalah sarjana ke atas. 

“Riset kami menemukan tiga alasan besar apa yang menjadi daya tarik dari seorang pria atau wanita. Pria akan tertarik pada wanita karena faktor kecantikan sebesar 44,7 %, daya tarik fisik sebesar 36,2 % serta humoris atau baik sebanyak 31,9 %. Tidak ada perbedaan signifikan antara pria di Singapura, Hong Kong dan Malaysia. Sementara wanita Indonesia tertarik pada pria yang memiliki karir dan penghasilan yang mapan di banding wanita di negara lain yang memilih pria karena rasa percaya dirinya,” kata Violet Lim, CEO Lunch Actually seperti dikutip dari keterangan pers yang diterimaHealth-Liputan6.com pada Senin (23/2/2015)

Violet melanjutkan, para responden itu snagat yakin bahwa setiap orang memiliki pasangan hidupnya masing-masing. Sayang, mereka masih meragukan apakah mereka itu masih bisa menemukan jodohnya atau tidak.
Dilihat dari presenstasenya, perempuan lebih banyak memiliki keraguan (43,90 persen) dibandingkan pria (39,72 persen). Kondisi ini disebabkan karena secara psikologis, perempuan yang ragu tersebut beranggapan bahwa mereka tidak seagresif perempuan lain dalam mengejar jodoh.
"Di samping itu pula, keraguan timbul karena memiliki standart yang tinggi dalam memilih calon suami, dan tidak ada pria yang memenuhi standart itu," kata dia menekankan
byLiputan6.23/2/2015








 Hidup Indah karena ada hati yang baik,
Hati yang baik akan membuat hubungan dengan sesama menjadi asik
 

Sabtu, 07 Maret 2015

ANEH JUGA AUSTRALIA NEGARA HUKUM MENAWARKAN PERTUKARAN TAHANAN


NusanTaRa.Com.

Pemerintah Australia jelang eksekusi mati duo bali nine,  terus melakukan manuver demi menyelamatkan nyawa dari Myuran Sukumaran dan Andrew Chan sehingga terkesan tidak mengerti akan kebijakan negara tetangganya sendiri. Usaha yang diupayakan Australia melalui Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop sangat  terkesan sebagai suatu langkah ekstrem yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Bishop menawarkan pertukaran tahanan dengan Pemerintah Indonesia.

Satu sikap yang lucu dari sebuah negara maju bahkan dianggap sebagai salah satu negara pilar hukum dunia, mengambil sikap yang tidak sesuai dengan kaedah hukum di Indonesia dan mungkin krama hukum di dunia demi suatu keegoan kuasa dengan lebih mengedepankan tindakan politik, sehingga nilai hukum menjadi lebih rendah, setidaknya demikianlah satu kebijakan yang diambil Pemerintah Australia melalui Kemenlu Australia dalam membebaskan warga negaranya yang terkait narkoba dalam kasus Bali Nine.

Kebijakan Australia dalam membebaskan dua warga negaranya yaitu Andrew Chan dan Myuran Sukumaran  dari hukuman eksekusi mati tersebut adalah dengan menawarkan pertukaran tahanan, yaitu pemerintah Indonesia membebaskan terpidana mati warga Australia dan Australia akan membebaskan terpidana Narkoba Indonesia yang saat ini ada di tahanan Australia saat ini.  

Australia merupakan salah satu negara yang tidak menerapkan hukuman mati dan sangat menentang kebijakan hukum  tersebut, Sehingga pemerintah Australia di bawah perdana menteri Tony Abbott sangat serius membela warganya tersebut untuk terbebas dari hukuman tersebut dan sebelumnya dalam rangka mendapat simpati dari RI pemerintah Australia melalui kementerian Luar Negerinya secara tidak etis harus mengungkit bantuan kemanusian mereka terhadap tragedi Tsunami agar dapat membebaskan kedua warganya.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu). Melalui Juru Bicaranya  Arrmanatha Nasir menanggapi tawaran tersebut di kantor Kemlu Jakarta, Kamis 5/3/2015 menyatakan, pertukaran tahanan tak ada dalam UU resmi Indonesia.   "Indonesia tidak punya hukum atau instrumen hukum mengenai pelaksaan pertukaran tahanan," tandas beliau.

Julie Bishop di Canberra mengatakan bahwa, "Apa yang kita ingin lakukan adalah memiliki kesempatan untuk berbicara tentang pilihan yang mungkin tersedia pada ranah pertukaran tahanan,"  Pada pagi ini Bishop memberikan penawaran pertukaran tahanan dalam upaya terakhir menyelamatkan duo Bali Nine, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran dan hal tersebut telah beliau ungkapkan pada rekannya Menlu RI Retno Marsudi pada selasa malam 3 maret 2015 melalui sambungan telepon meski beliau enggan mengungkapkan secara deteil pembicaraan mereka.

Juru bicara Kemlu Arrmanatha Nasir
Juru Bicara Kemlu RI Arrmanatha Nasir
Hikmahanto Juwana Guru besar hukum internasional dari UI  melihat tawaran pemerintah Australia untuk menukar terpidana mati duo Bali Nine dengan WNI yang ditahan di Negeri Kanguru itu sebagai sesuatu yang janggal  dan beranggapan bahwa  tawaran Australia itu cenderung membodohi pemerintah Indonesia karena Pertama : " Pertukaran tahanan atau tawanan (exchange of prisoners) hanya dikenal ketika dua negara berperang dan masing-masing menawan tentara yang tertangkap," Kedua : "  Kalaupun  yang dimaksud  Menlu Australia  Julia Bishop adalah pemindahan terpidana (transfer of sentenced person) maka antara Indonesia dengan Australia belum ada perjanjian pemindahan terpidana,"  Ketiga : " Kalaupun ada perjanjian pemindahan terpidana maka ini tidak berlaku bagi terpidana mati,", dalam pernyataan tertulisnya di Jakarta, Kamis (5/3/2015).

Julie  Bishop mengatakan "Benar-benar tidak ada rincian dibahas tapi kami mencari kesempatan untuk menjelajahi setiap pilihan yang mungkin tersedia, setiap jalan yang mungkin tersedia untuk menyelamatkan nyawa kedua orang ini,".

Di penjara Australia saat ini ada 3 WNI menjadi tahanan yang terkait kasus narkoba. Ketiganya adalah Kristito Mandagi, Saud Siregar, dan Ismunandar. Mereka kedapatan membawa 390 kilogram narkoba di dekat Port Macquarie Australia.suatu jumlah yang sangat besar jumlahnya bahkan 47 kali lebih besar dari  Chan dan Sukumaran.  Ketiganya ditangkap pada 1998 dalam sebuah operasi besar yang melibatkan 76 federal, NSW, Bea Cukai, helikopter Polair, dua kapal polisi, kapal fregat, angkatan laut HMAS Bendigo, dan dua kapal Bea Cukai. 

Dalam kasus ini Lembaga pegiat hak asasi manusia Amnesty International mengatakan Indonesia seharusnya memilah permohonan grasi terpidana mati berdasarkan kasus per kasus. "Kegagalan Indonesia untuk mempertimbangkan permohonan grasi atas dasar kasus per kasus untuk mereka yang dihukum mati karena kejahatan narkoba, bertentangan dengan Konstitusi Indonesia dan hukum internasional sekaligus memunculkan pertanyaan serius tentang peraturan hukum di Indonesia," tambah Rupert Abbott Directur Riset Amnesty Internasional di Asia Kamis 5/3/2015.
byMcDonaldBiunG.

Kamis, 05 Maret 2015

MENGUNJUNGI CAMP SEJARAH MANUSIA PERAHU DI PULAU GALANG BATAM, KEPRI




NusanTaRa.Com.
Keberadaan “ Manusia Perahu “ sebagai satu potret sejarah kemanusia terbesar di tanah air telah saya ketahui sejak masih SMA yang berada di Pulau Galang Provinsi Kep. Riau.   Atas daya tarik tersebutlah maka ketika saya berkunjung ke Pulau Batam pada 29 Desember 2014 saya menyempatkan diri untuk melihat secara langsung situs sejarah Kemanusia Manusia Perahu di Pulau Galang yang berjarak sekitar 70 km dari bandara Hang Nadiem Kota Batam dengan menggunakan mobil rental.
Memasuki kawasan situs Kemanusian manusia perahu dengan melewati sebuah Gate serta membayar Rp 20.000 per orang, saya disambut monyet  berkeliaran yang  terlihat tidak terlalu kaget dengan keberadaan manusia, suasana Camp bisa dikatakan sangat teduh dengan jalan beraspal semuanya baik dan pohon yang tertata dan terawat disepanjang jalan.  Di Camp pengungsi tersebut terlihat  peninggalan pasca penanganan Manusia Perahu yang berlangsung sejak tahun 1979 hingga  tahun 1996 yang berbaris teratur di sepanjang jalan meski banyak juga bangunan yang terkesan tak dipugar, Seperti Humanity statu, Monumen perahu yang digunakan para pengungsi, Rumah pengungsi yang dibangun UNHCR, Rumah sakit, Kantor UNHCR saat menangani tragedy tersebut, Kuburan yang menampung sekitar 500 orang meninggal selama tragedy tersebut, Gereja baik protestan maupun Katolik, Pagoda, Pusat pendidikan dan gedung remaja dan pembinaan.


Terjadinya pengungsian besar-besaran bangsa Vietnam ke daerah sekitar Laut Cina Selatan hingga ke P Galang Riau bermula sejak meletusnya perang saudara di Vietnam pada 19 April 1975,  perang saudara tersebut terjadi karena adanya  perbedaan ideology antara Republik Vietnam selatan dan Demokratik Vietnam Utara yang dimenangkan Vietnam Utara.    Dampak pergolakan tersebut terjadinya penekanan pihak Vietkong yang membuat ribuan warga Vietnam harus meninggalkan tanah airnya untuk mendapatkan keamanan,   sebagai Negara yang sekawasan maka Negara Asean yang berada di perairan Laut China Selatan  menerima akibat pengungsian  tersebut yang popular dengan istilah “ MANUSIA PERAHU “ seperti Negara Indonesia, Thailand, Malaysia dan Pilippina.


Keberadaan Manusia Perahu mulai terdeteksi ketika ditemukan sebanyak 75 jiwa  di Pulau Natuna tahun 1976 dan beberapa kepulauan di laut Cina Selatan.  Tahun 1977 Indonesia memprakarsai penanganan manusia perahu tersebut dengan melaporkan keadaan tersebut pada UNHACR (United Nations High Commissioner For Refugees) salah satu badan Organisasi yang bernaung di Bawah UNO bidang kemanusian dan pengungsi.  Pertemuan UNHCR di Bangkok 1978 yang menetapkan bahwa semua Manusia perahu tersebut akan ditangani oleh UNHCR, sementara pihak Indonesia membuat keputusan bahwa bersedia menangani kasus pengungsi, Menyediakan lokasi pemukiman, Biaya ditanggung badan dunia dan pengungsian bersifat sementara. 

Museum yang saya kunjungi merupakan eks Kantor pelayanan Administrasi kaum pengungsi yang ditata secara sederha untuk memudahkan pemahaman akan kondisi sejarah tersebut serta dipandu seorang pemandu badan pengelola sejarah tersebut yang disebut “ B3V DAERAH KOMANDO SATUAN PENGAMAN DAN PERAWATAN SINAN P  GALANG “.    Gambaran yang ada menunjukkan bagaimana pedihnya perjalanan Bangsa  Perahu tersebut berjuang menantang maut meninggalkan kampung dari tekanan kaum komunis Vietkong yang sangat kejam hanya dengan menumpang sebuah perahu kecil yang dapat menampung 40 – 100  orang dan terkadang mereka harus terapung di lautan selama dua bulan baru sampai daratan, kondisi tersebut membuat banyak pengungsi harus menghembuskan napas terakhirnya di perahu sebelum mencapai daerah tujuan.

Sejarah Camp kemanusian manusia perahu mencatat selama penampungan sejak tahun 1979 hingga 1996,  banyak diantara mereka yang berhasil di tampung Negara lain seperti Amerika Serikat, Inggeris, Prancis, Jepang, Australia dan Kanada sementara sisanya harus di pulangkan  ke Vietnam.   Menurut petugas waktu pemulangan banyak pengungsi yang merasa keberatan bagi mereka kalaupun tak mendapat suaka dari Negara ketiga  menetap di P Galang lebih baik dari pada pulang mendapatkan tekanan dari pihak Vietkong.  Sehingga tak jarang ditemukan perahu yang akan dipakai pulang di karaman bahkan ada yang sampai bunuh diri, meski akhirnya mereka berhasil dipulangkan.

Camp pengungsian yang disediakan pihak RI menempati areal seluas 80 ha di P Galang dan selama itu juga telah menampung sebanyak 250.000 jiwa manusia Perahu yang menempati barak  kecil dengan kapasitas  8 orang per rumah dan Rumah sakit sebanyak 30 kamar.   Selama dalam penampungan Migran Manusia Perahu tersebut mendapat pembinaan dari para sukarelawan semua itu terabadikan dalam museum tersebut seperti Pendidikan bagi remaja usia pelajar,  Pelatihan keterampilan, Pembinaan keremajaan, pembinaan kerohanian dari jemaat Gereja Katolik, Protestan dan Pagoda dan Kesehatan.

Pajangan yang ada di museum memperlihatkan  bagaimana gambaran perahu yang mereka gunakan, proses pembangunan Kamp. Pengungsi, Gambaran pengungsi dibarak  dan kunjungan pembesar baik dari pihak UNHCR maupun pemerintah seperti Menristek BJ H Bibie, dan aktipitas keseharian lainnya.   Serta sebuah potret  kegiatan reuni mantan pengungsi  P  Galang dari berbagai Negara yang telah sukses di Negara tempatnya menetap pada 24 maret  2005. 

Dalam kunjungan ini saya menyempatkan berpotret di beberapa situs Humanity Statue seperti berlatar Perahu pengungsi, Rumah sakit, kuburan umum yang disebut “ NGHA TRANG “, Pagoda, dan poto-poto pengungsi.   Sejak tahun 1996 penanganan manusia perahu ditutup dan pengelolaannya diserahkan ke pihak Otorita Batam dan resmi dijadikan Kawasan Wisata Camp pengungsi Galang tahun 2000,   keseluruhan kawasan wisata masih baik terutama jalan-jalan masih menghubungkan semua daerah kegiatan pemukiman namun beberapa bangunan tidak direhab bahkan menurut saya ada beberapa bangunan yang telah hilang, sehingga bila ditangani dengan baik maka tak ayal daerah ini dapat menarik wisata sebagai mana daerah tetangganya Singapore.
ByBakriSupian



Manusia perahu terdampar di Pulau Galang,
Camp. Galang bukti  peperangan sumber penderitaan panjang.

SUKU SEKO TO LEMO DI JANTUNG SULAWESI (SULSEL-SULBAR-SULTENG DAN SULTRA)

NusaNTaRa.Com            byIndaHPalloranG,       J   u   m   a   t,    2   1     A   g   u   s   t   u   s     2   0   2   6             Se...