Senin, 15 Oktober 2012

SAMPE’ AKUSTIK TRADISIONIL MASUK REKOR DUNIA DAN MURI.







Sampe termasuk alat musik petik (akustik) tradisional berbagai suku Dayak  terdiri dari badan yang lebar panjang mencapai 1 meter, tangkai  yang pedek dan Senar dari dawai  2 hingga 4 buah yang biasa di mainkan saat ada upacara adat  dan pesta panen, bentuk Sampe’ untuk setiap suku-suku dayak agak berbeda-beda namun cirri-ciri umumnya tidak jauh berbeda dari kriteria diatas.   Memainkan Sampe’ berbeda dengan Gitar yang telah memiliki kunci nada sementara Sampe’ dawai yang dipetik dengan cara menekan dawai gitar tersebut pada titik tertentu sehingga dirasakan nada yang dihasilkan sesuai dengan irama yang di inginkan,   jadi mutu permainannya sangat ditentukan oleh kemampuan Perasaan si pemetik Sampe’ tersebut. Suku Dayak yang memiliki kesenian memainkan Sampe’ yang tinggi adalah Dayak Kayan dan Kenyah yang mendiami  sepanjang sungai Kayan Kalimantan Timur bagian Utara.

Pada pesta Birau 2012 yang dilaksanakan di Tanjung Selor yang merupakan  daerah  kediaman Suku Dayak Kayan dan Kenyah,  salah satu kegiatannya mempersembahkan permainan musik Sampe’ oleh seniman daerah  Bulungan  telah berhasil memecahkan rekor Indonesia (MURI) dan Rekor Dunia sebagai Persembahan Musik Sampe’ dengan peserta terbanyak yaitu 250 orang pemetik Sampe’ dan pertama kali dilaksanakan baik di Indonesia maupun dunia.   Manager MURI Sri Widyati menyerahkan piagam penghargaan kepada penggas yaitu  Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bulungan dan Komunitas Muda Peduli Dayak Bulungan dan dalam buku MURI rekor music Sampe’ ini masuk  rekor urutan yang ke-5.630.

Pesta Birau atau pekan seni dan Budaya yang dilaksanakan pada tanggal 10 oktober 2012 di Tanjung Selor Kabupaten Bulungan tersebut dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Bulungan ke 52 dan Kota tanjung Selor ke 222 yang dibuka oleh Gubernur Kalimantan Timur Bapak Awang Faroek Ishak di hadiri Menteri Pemberdayaan wanita RI Ibu Linda Amalia Sari Gumelar serta Bupati Bulungan Budiman Aripin dan seluruh pejabat SKPD daerah.   Birau diisi dengan berbagai kegiatan yang dikhususkan mengangkat budaya lokal daerah untuk memperkuat kemajuan daerah seperti ajang pameran produk daerah, Persembahan Sampe’, Pertandingan Sumpit, Bergasing, menaiki perahu Bebandung, seni hiburan dan banyak lagi lainnya.

Sejarah keberadaan Sampe' sebagai satu budaya suku dayak yang mendiami Pulau Kalimantan seiring dengan sejarah keberadaan mereka yang termasuk rumpun Mongolid-Austronesia yang bermigrasi dari daerah Yunan sekitar 2500 tahun SM,  yang tba d nusantara,  Sebagian Legenda menceritakan bahwa Dahulu kala ada seorang raja dengan seratus pasukan pengawalnya berlayar di Sungai Kayan ketika tiba disuatu Giram yang deras perahu mereka terbalik, Sang Raja tersebut terdampar di sebuah Batu besar di sekitar sungai  saat antara sadar dan tidak ia mendengar sebuah nada yang indah dari dalam sungai tersebut dan bayangan suatu benda, sekembalinya ke kampung karena selalu teringat bunyian merdu tersebut ia dengan petunjuk dewa ia mnciptakan alat bebunyian tersebut yang di sebut " SAMPE' ".  Ada beberapa alat musik tradisional di Indonesia yang mempunyai kemiripan dengan Sampe' baik bodi gitar, sistem Senar dan bunyiannya seperti Kecapi di Sunda Jawa Barat, di Sumatra dan di Bugis Sulawesi Selatan.

Birau sendiri merupakan kata serapan suku Bulungan yang berarti Pesta Besar (agung), atau ramai-ramai sehinggs tak mengherankan  bila pelaksanaan Birau akan diartikan hari penuh kebahagian dan kecerian.   Pada masa Kesultanan Bulungan Birau digelar saat ada Perkawinan putra dan putrid sultan, khitanan, naik ayun dan lebih teristimewa lagi saat  Penobatan Sultan.  Birau mulai dilaksanakan di Kesultanan Bulungan  pada masa kepemimpinan  Ali Kahar bergelar  Sultan Kaharuddin II yang bertahta tahun  1875 – 1889.   Pada Masa pemerintahan Datu  Tiras  dengan gelar Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin tahun 1931 -1958 Birau pernah dilaksnakan selama 40 hari 40 malam waktu itu Sultan Djalaluddin mendapat penghargaan dari  Ratu  Kerajaan Belanda , Wilhelmina dengan gelar  Letnan Kolonel Tituler dan mulai saat inilah  istilah mulai popular hingga sekarang.

By Bakri Supian









Naik sampan hanyutnya kehilir sungai,
Pesta Birau menghadirkan budaya mengangkat tradisi.

Jumat, 12 Oktober 2012

YAKI KERA SULAWESI UTARA







Yaki (Macaca  nigra), Bolai atau Monyet berjambul sulawesi merupakan jenis monyet endemik Sulawesi Utara.   Populasinya menyebar mulai dari ujung timur laut Sulawesi utara hingga ke dekat Kotamobagu pada dataran rendah hingga daerah ketinggian 2.000 m dpl, Monyet ini telah diintroduksi ke Pulau Bacan Maluku dan berkembang dengan baik sehingga populasinya dapat mencapai ratusan ribu ekor, lebih banyak dibandingkan dengan populasi aslinya.  

Tubuhnya berwarna hitam  kecuali pada bagian pantat yang disebut inchial callosities yang berwarna kemerahan. Panjang kepala dan badan binatang dewasa berkisar antara 45 hingga 57 cm, beratnya bervariasi antara 5  hingga 15 kg. Yaki hidup berkelompok  antara 5 sampai 10 ekor. Kelompok yang besar dapat mencapai 15 – 35 ekor terdiri atas beberapa pejantan tetapi umumnya jenis Yaki betina dewasa lebih banyak. dengan perbandingan satu pejantan untuk kira-kira 3 ekor betina.   Masa kehamilan monyet hitam ini berkisar antara 170-190 hari, jarak kelahiran sekitar 24 bulan dan dapat bertahan hidup hingga 26 tahun.  Yaki dominan hidup di pohon (arboreal) untuk menjelajah ke mana-mana tapi sebagian hidupnya juga hidup di tanah (terestrial) dengan luas daerah jelajah hidupnya sekitar 114 – 329 ha, untuk seharian mencapai luas 5 km2.   Aktipitas hidupnya disiang hari (diurnal) dan malam hari memilih tempat tidur di Cabang pohon yang tinggi dan rimbun secara berkelompot.

Disemenanjung Sulawesi utara kita mengenal tiga jenis Yaki yaitu Macaca nigra di semenanjung bagian utara,  Macaca nigrescens  sebarannya di daerah Kabupaten Bolang Mongondow dan  Macac  hecki.   Macaca nigra adalah spesies Yaki yang banyak mendiami Cagar alam Tangkoko Duasudara dan merupakan yang paling terancam diantara ketiga jenis tersebut sehingga jumlahnya hingga sekarang  terus mengalami penurunan,   kalau pada tahun 1980 masih ditemukan 300 ekor/km2 maka tahun 1995 menurun menjadi 58 ekor/km2 yang berarti mengalami penurunan 75 %, demikian juga keberadaannya di Suaka Marga Satwa Manembo-nembo juga mengalami penurunan.
Suara : Suara Macaca nigra berbeda dengan monyet Sulawesi lainnya. Suara terdengar seperti :  Kokokoko Seperti pada primata umumnya, suara berfungsi sebagai tanda bahaya atau penunjuk kekuatan kepada anggota kelompok lainnya.

Permasalahan utama dalam pelestarianYaki  adalah perburuan yang masih berlangsung, untuk mendapatkan dagingnya karna dpat dijual dengan harga mahal di pasar-pasar di Sulut yang mempunyai penggemar  dagingnya sangat banyak disana jo,  selain itu perburuan dilakukan petani untuk menjaga ladangnya dari gangguan Yaki dan Perburuan hidup-hidup yaki untuk dijadikan binatang piaraan.
Makanan utama Yaki adalah dari buah-buahan dan  beberapa jenis serangga.   Lebih dari setengah menu hariannya terdiri dari buah-buah dan buah yang paling digemarinya adalah dari jenis-jenis buah beringin (Ficus benjamina, Ficus caulocarpa, Ficus  drupacea), Rao (Dracontomeolon dao), dan Kananga (Cananga odorata).  Di bagian hutan yang lebih bersemak mereka dapat memakan banyak buah Sirih (Piper aduncum) dan serangga (seperti jangkrik dan kumbang).  Yaki juga dikenal sebagai penjarah tanaman pertanian yang suka memakan jagung, pepaya, mangga, dan kelapa.

by.  Bakri Supian





 

Gunung Saputan menjulang tinggi di jazirah utara,
Di kaki gunung habitat monyet Yaki hidup dalam bahaya.
 


Rabu, 10 Oktober 2012

MENIKMATI PERJALANAN MENUJU KAWASAN PERBATASAN LONG MIDANG KALTIM




Sabtu 29 September 2012, Tiba di Long Bawang Kecamatan Krayan yang berpenduduk 8.000 jiwa dengan pesawat Susy Air yang  mendarat di Bandara Yuvai Semaring  dan menginap di Hotel Agung Raya.    Perjalanan kali ini untuk menyaksikan keindahan panorama alam  di Desa-desa  Kawasan perbatasan Krayan dekat Malaysia bersama sahabat yang tinggal di sana   bapak Kurniawan Hendsoy.

Memulai perjalanan diudara sangat dingin maklum daerah krayan rata-rata berada pada ketinggian 2.000 m dpl sehingga ketika mandi pagi terasa  bagai mandi air es,  meninggalkan hotel dengan motor treil melewati jembatan kayu desa Long  Katung sepanjang 4 m  yang dibawahnya mengalir  air berwarna kecoklatan jernih,  kemudian mendaki jalan berbatu  yang cukup besar membuat perut sakit karena goncangan diboncengan,  sesampai di atas membelok ke kiri menyusuri tepi perbukitan  dengan Rumah dan Kantor Camat krayan di sisi.    Setelah itu hanya ditemui semak rumput jenis paku dan ilalang sesekali rumah petani  dengan jalan dari pasir halus sehingga ketika kendaraan disalip  mobil dari belakang bersiaplah menutup hidung karena debu berterbangan hingga kendaraan itu sejauh 55 m baru hilang.


Dua puluh menit kemudian memasuki Desa Long Api Jalan disini sama seperti sebelumnya masih bertanah dengan parit jalan yang baik sehingga jalan menjadi  lebih baik.  Membelok kekiri,  disamping berdiri gereja GKII yang besar dari kayu tapi terlihat  tua,  dibelakangnya terdapat rumah Pak desa Long Api.     Pak desa lagi keluar maka kami hanya ditemani Istrinya mengamati  tiga petak kolam ikan  Nila dan emas dan beberapa petakan sawah  dibelakang kampung,  umumnya sawah penduduk terletak dibelakang kampung yang terlihat  bagus, sehat dan padi yang ditanam telah berumur satu bulan lebih, baru akan panen empat atau lima bulan lagi kata ibu desa.   

Setelah menitip salam pada istri pak desa perjalanan dilanjutkan  menemui Pengurus GAPOKTAN (Gabungan Kelompok Tani)  Rimba Lestari,  kebetulan ketuanya Pak Jones Pudun  lagi ada di unit usaha sembako.   Kata Pak Jones P hampir semua anggota Gapoktannya telah menanam Padi sejak Agustus dengan jenis padi lokal  padi Adan yang telah mendapat sertipikasi  Menhukum tentang hak paten kategori spesipik geografik dan beberapa petani belum dapat mengembalikan pinjamannya yang digunakan buat  usaha tani tersebut.   Di tengah desa terdapat padang yang luas dan beberapa Sapi merumput dan tak jauh dari situ terdapat Geraja Bethany besar terlihat sementara dibangun dengan berdinding bata merah dan atap seng.

Memasuki  Desa Buduk Tumu sepanjang sebelah kiri jalan, kami menikmati pemandangan  barisan panorama sawah yang menghijau dengan aliran sungai Long Nawang sebagai sumber pengairan dan beberapa rumah penduduk yang  tak jauh dari kaki bukit.     Beberapa sawah utamanya yang berada di deretan paling atas sisi jalan terlihat kering  serta jauh dari aliran sungai sekitar 600 meter bahkan  menurut petani di Long Api  sawah di Krayan masih banyak  tadah hujan.   

Sepanjang jalan  kami sering  bertemu beberapa petani yang membawa cangkul dan  wanita suku Lungdayeh yang bertopi CAPING (Topi bundar terbuat dari ayaman Pandan)  dan menggendong ANJAT (keranjang rotan) dibelakangnya sambil bercekerama sesekali  mereka mengangkat  tangan  jika ada yang melewati sebagai sapa kemesraan.   Di  depan sekolah SD yang terbuat dari kayu   yang berada di sebelah kiri jalan dan Gereja GKII disebelah kanan jalan, kami  terhenti karena seseorang sedang mengerjakan pipa air yang memotong jalan untuk pembagian air pada sawah dan kolan ikan Nila sebanyak enam petak, ternyata beliau Kepala Desa Buduk Tumu.

Sajian Pak Desa dengan Kopi manis dan Kue Kaleng ia dengan ramah menceritakan keadaan warganya yang sebagian besar petani, bahwa desa disini masih mempertahankan pertanian padi Organik dengan menghindarkan penggunaan pupuk anorganik atau kimia serta mereka lebih mengutamakan pengolahan yang berbasis alami yaitu pengaturan air,  Pengolahan rumput di sawah serta pengembalaan kerbau di sawah saat tidak bersawah sebagai cara menyuburkan lahan dan tenggang waktu olah yang teratur sehingga dapat menuai dalam sehektar 2 – 3,5 ton.

Peran Kelompok tani disini katanya meski belum besar tapi cukup membantu usaha tani, karena keterbatasan kemampuan SDM pengurus dalam mengurus usaha tapi dengan kesepakatan kelompok tani dan Ketua adat banyak kegiatan pertanian dapat dilaksanakan dengan bersama-sama.    Setelah  pamitan  perjalanan dilanjutkan ke Long Midang kawasan paling ujung dari Indonesia karena kalau diteruskan akan sampai di Negara tetangga Serawak Malaysia namun sebelumnya kami sempat  menyaksikan keberadaan petak kolam disekitar rumah beliau yang dipadukan dengan peternakan Babi.

20 menit meninggalkan Desa Buduk tumu kami melalui jalan yang berbatu,  berlobang dan sebagian  jalan beraspal,  ketika akan memasuki kampung  jalan beraspal terputus yang ada Cuma jalan berbatu dan berlobang.    Kemudian melintasi jembatan terbuat dari kayu  yang  beratap sepanjang 4 meter,  jembatan disepanjang jalan Perbatasan ini  banyak yang berbentuk demikian seperti  yang telah  dilalui sebelumnya.   Beberapa hamparan sawah dikiri kanan jalan dilalui sungai kecil yang mengalir dari puncak bukit dan bila musim kemarau akan mongering  serta  beberapa kerbau yang terbiar di atas sawah yang tidak di oleh tahun ini menambah keindahan pesona pedesaan.

Tak lama berselang kami memasuki kawasan  hamparan sawah yang  membentang disepanjang kaki bukit yang agak datar dengan sungai mengalir di bawahnya dan tak jauh dari sana terlihat perkampungan dua desa yang masuk kawasan Long Midang,  moment indah  ini tak kami lewatkan dengan  mengambil gambar keindahan alam tersebut sambil memperhatikan ikan mas seukuran telapak tangan berenang-renang.   Kantor Gapoktan Malindo menempati bangunan rumah batu dua lantai yang belum diplaster di dalamnya terdapat dua meja, kursi Tamu dan dua lemari arsip.  

Dari Ketua Gapoktan Malindo Pak Joles dengan ditemani seduhan Teh dan Kue Kalengnya dari negeri jiran yang tersaji di meja, menceritakan kesulitan petani disini,  jika musim kemarau sawah sulit di airi karena sungai dari puncak bukit banyak yang kering demikian juga Dam-dam sementara sungai  dikaki bukit bawah sangat jauh dan airnya kecil sehingga mereka sulit untuk melakukan penanaman dua kali dalam setahun disisi lain keterikatan  pada budaya tani mereka dari leluhur yang mengharuskan menanam padi lokal yang membutuhkan waktu 4-5,5 bulan dan tidak menggunakan bahan-bahan kimia yang dapat merusak tubuh.  


Usai  berfoto-foto  bersama perjalanan dilanjutkan  melalui jalan berbatu dan diselingi beberapa meter jalan beraspal,  selama 15 menit kemudian kami melewati  Pos Pengaman Perbatasan (PAMTAS) berwarna loreng militer yang dikawal beberapa militer yang terlihata sedang bertugas dan disamping beberapa orang sedang berolah raga ,  Pos ini selain berpungsi penjaga keamanan diperbatasan juga  berpungsi mengecek adminsitrasi pelintas batas yang keluar masuk pintu tersebut.   

Pak Kurniawan Hendsoy   mengangkat  tangan dan dibalas tentara penjaga Pos perbatasan juga dengan lambaian, kemudian  kamipun melewati pos dengan melewati  kayu palang jalanan,  disebelah kanan terlihat bangunan pasar hewan perbatasan yang sepi dan tak lama kemudian  melewati Pintu Gerbang yang bertuliskan SELAMAT  JALAN  yang berarti kami telah melewati  batas Negara RI dan telah berada di wilayah  jalan menuju Bakalalan  sebagai kota terdekat  Malaysia.     

Kalau di daerah ini kami ditemukan  Polisi Malaysia tanpa surat perjalanan yang syah  seperti  PLB (Pas Lintas Batas) maka dipastikan akan diproses, untung  saja pos pengamanan Malaysia masih jauh sekitar 12  km.     Di suatu ketinggian puncak gunung kami  beristirahat  menikmati alam hutan tropikal yang masih asli  dan tidak melanjutkan perjalanan lebih jauh takut tertangkap Polisi Malaysia,  disini banyak melintas kendaraan menuju Malaysia dan sebaliknya membawa barang seperti mobil Pick up Datsun dan Toyota dengan garden yang ditinggikan  serta motor yang dirubah jadi ojek pengangkut barang,  ada yang menyebutnya sebagai Ojek Cargo karna berpungsi membawa barang dengan tarip sekitar Rp 15.000/kg dengan kapasitas 200 kg, motor ini telah dimodifikasi dengan membuat sobreker belakang lebih tinggi jadi pada saat hujan tidak takut terkandas oleh kumpulan lumpur.

Setelah puas istirahat  agenda selanjutnya menyaksikan proses pembuatan Garam pegunungan di Pa’Nado dan pulang.      Di sebuah bangunan kayu dari jauh terlihat asap mengepul keangkasa yang masih jernih membiru ternyata didalam  terdapat dua tungku pemasak Garam menggunakan tungku Tanah dan kayu pembakar yang masing-masing terdiri dari tiga Belanga dari Derum yang dibagi dua,  air yang dimasak diambil dari dua sumur  didepan bangunan tersebut.    Kami  membasuh muka dengan air sumur tersebut sebelum masuk sebagai mana yang diberitahu pemiliknya sebagai petuah adat dulu.   Proses memasak garam ini membutuhkan waktu sekitar 21 jam dengan menggunakan air sumur sebanyak 380 liter per sekali  masak.
Setelah   membeli garam 5 kg dalam kemasan plastik berupa serbuk putih  halus dan bersih kamipun permisi untuk pulang.    Apa yang bisa saya simpulkan selama perjalanan ini selama 2 .30 jam adalah perjalanan ini menyusuri lereng di kaki bukit dan menyusuri aliran sungai besar   dan kiri kanan jalan atau kampung yang berada di dataran lereng yang sempit dikelilingi gunung yang tinggi namun sangat indah karena pesona hijaunya alam

By  Bakri Supian




Gadis gunung menanam padi di Lereng Bukit,
Jauh di Pedalaman, berbukit, terisolasi  ciri Perbatasan  selalu sulit.

Rabu, 03 Oktober 2012

FESTIVAL SUMPIT INTERNASIONAL DI PONTIANAK
















Untuk kedua kalinya Kalimantan Barat  menyelenggarakan International Borneo Sumpit Tournament (Ibost). Pontianak pada bulan oktober mendatang.   Walikota Pontianak, Sutarmidji, mengatakan, turnamen tersebut digagas oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Barat, serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pontianak sebagai tuan rumah,  dan promosi kegiatan ini harus sudah mulai sejak sekarang dengan pemasangan baliho dan pengiklanan pada media massa, Jum'at 14 September 2012.

Sumpit itu sendiri suatu alat yang zaman dulu digunakan sebagai alat berburu seperti burung, rusa dll dan digunakan untuk berperang seperti oleh suku Dayak, Papua dan suku lain di Indonesia namun seiring jalan kegiatan ini sekarang mulai mengarah sebagai Olah Raga dan termasuk oleh Raga Tradisonil.    Sumpit terdiri dari tiga bagian 1. Batang Sumpit  terbuat dari kayu berbentuk bulatan panjang dengan lubang di dalamnya dengan diameter kayu sekitar 3-3,5 cm serta diameter lubang 1-1,2 cm. Terbuat dari kayu  jenis terpilih seperti kayu Bunyau, Penyau’, Kebaca dan Tapang (Kalbar). Panjang batang Sumpit bisanya disesuaikan dengan si empunya sumpit itu sendiri yakni sepanjang satu depa sekitar 1,5-2 meter.   2.  Anak Sumpit terbuat dari Kayu atau Besi yang bagian depannya terbuat tajam dan biasanya bagian belakan diberi semacam rumbai buat kemudahan arah dan menguatkan tiupan saat di lepaskan, ukurannya sangat kecil atau lebih kecil dari lubang sumpit tempatnya meluncur zaman dulu untuk membunuh atau membius buruannya diolesi dengan racun yang setiap daerah berbeda-beda.   3.  Mata Tombak/Sangkur Sumpit (bu'bulis = bhs di Kalbar) besi tajam panjangnya 20  30 Cm untuk menusuk buruan dan pembidik, di bagian pangkal Sangkur Tombak ini terdapat Alat Pengintai terbuat dari besi bisa berbentuk tegakan kecil atau lingkaran kecil yang digunakan untuk membidik sasaran sumpit.

Sumpit sebagai Olah Raga sudah cukup memasyarakat namun masuk kategori olah Raga Tradisionil khususnya di Kalimantan Barat dan daerah lain di Indonesia lainnya.   Di Kalimantan Barat Pengembang Olah Raga Sumpit adalah Anna Budi Andjioe dengan membentuk PERSATUAN OLAH RAGA SUMPIT tahun 2006 dan anaknya DEDY atlit Sumpit andalan Kalimantan Barat dengan prestasi - Juara  I perseorangan putra pada Kejurda Sumpit se Kalbar 2008 dan Juara II beregu putra pada pesta Persahabatan se-Kalimantan (Sukan Borneo) II di Serawak Malaysia 2007.   Di Serawak olah raga sumpit telah memasarakat sarana latihan tersedia setiap hari dengan lapangan tembak yang memadai.  Di Brasil suku Indian Amazon dalam pertemuan suku tahunan telah memasukkan olah raga sumpit sebagai satu kegiatan pertandingan dalam perayaan tersebut.


Kesempatan baik ini hendaknya digunakan kalangan  anak-anak muda untuk ikut melibatkan diri seperti mereka yang tergabung dalam organisasi-organisasi yang mengakomodir duta pariwisata, bujang dare, lanceng praben dan lain sebagainya.  Pengelibatan mereka tentunya akan memudahkan memasyarakatkan dan mensosialisasikan turnament hingga kegiatan ini berjalan lancar dan sukses kalau bisa gaungnya nanti sampai keluar negeri sehingga akan diikuti peserta yang banyak dari luar negara.    Agenda-agenda pariwisata, terutama yang bertaraf internasional, sangat mendukung iklim pariwisata di Kota Pontianak. Data dari Badan Pusat Statistik Kalimantan Barat, menunjukkan adanya peningkatan kunjungan yang cukup signifikan, menjelang agenda pariwisata khas Kalimantan Barat.

Tercatat wisatawan mancanegara yang masuk melalui Bandara Supadio Pontianak pada Januari 2012 mengalami peningkatan apabila dibanding dengan periode yang sama tahun 2011, yakni sebanyak 303 orang, menjadi 634 orang atau naik sebesar 109,24 persen.   Data juga menyebutkan, penyumpang inflasi terbesar berasal dari sektor penerbangan, termasuk tingkat hunian hotel terjadi peningkatan setiap tahunnya. "Makanya pajak yang diperoleh kita manfaatkan untuk membangun infrastruktur supaya wisatawan yang berkunjung ke sini betah," kata Sutarmidji.

Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri Kemparekraf, M Faried, dalam rapat koordinasi dengan Pemerintah Kota Pontianak awal September lalu, menyatakan, turnamen akan digelar pada tanggal 5-7 Oktober 2012.   Negara yang telah menyatakan akan mengikuti turnamen tersebut adalah Malaysia, Brunei dan berbagai daerah di Kalimantan. "Perlombaan ini akan memperebutkan hadiah total sebesar Rp 125 juta," jelas Faried.

Kemapanan Kota Pontianak merupakan alasan utama dipercayanya  menjadi tuan rumah IBoST seperti  dinilai telah memenuhi aksesibilitas dan ketersediaan akomodasi khususnya hotel berbintang dengan kapasitas sesuai sehingga mampu menampung kunjungan wisatawan yang diperkirakan akan hadir.   Sisi lain yang dimiliki kota Pontianak Pusat perbelanjaan yang cukup megah  sebagai tempat perbelanjaan bagi para pengunjung dan  Pontianak juga kota yang terdekat dari perbatasan negara tetangga," tutur Faried.

IBoST ini perkirakan akan diikuti sebanyak 200 peserta lebih  dan seperempatnya dari peserta yang ikut berasal dari luar negeri.   Event ini selain diisi dengan kegiatan utama berupa tournament Sumpit juga akan diisi  dengan  stand-stand pameran yang menyajikan produk pariwisata khas Kalimantan termasuk pernak-pernik sumpit dan lain sebagainya sekaligus sebagai wahana promosi produk dalam negeri bagi pengunjung terutama wisatawan dari Manca negara.






 Anak Dayak Taman memetik dawai Kecapi,
 Menghargai Sumpit memajukan olah raga Tradisi.

SUKU SEKO TO LEMO DI JANTUNG SULAWESI (SULSEL-SULBAR-SULTENG DAN SULTRA)

NusaNTaRa.Com            byIndaHPalloranG,       J   u   m   a   t,    2   1     A   g   u   s   t   u   s     2   0   2   6             Se...