Entah yang
keberapa kalinya saya mengunjungi Candi
Borobudur sebuah prasasti tempat
persembahyangan ummat Buddha peninggalan dinasti syailendra yang dibangun tahun 750 di kabupaten Magelang Jawa tengah, Kesannya
sangat mengagumkan akan bangunan yang merupakan susunan batu besar dan kecil menjadi sebuah
candi besar, serta tehnik menyusun batu yang sangat tinggi sehingga tak menggunakan paku dan
semen meski saat ini ada beberapa bagian telah
menggunakannya yaitu bagian yang mengalami rehab karena kerusakan dan dilakukan para
tehnisi sekarang.
Ke Borobudur
saya bersama rombongan 12 orang setelah melakukan Agrowisata selama 3 hari di Kabupaten Sleman, dari
Jokyakarta tempat bermalam kami meluncur menuju Borobudur dengan Bus Carteran, mengenakan
baju seragam warna Kuning. Perjalanan
ditempuh selama 1 jam 10 menit
melewati beberapa desa pertanian yang
berhiaskan pertanian dan sesekali terlihat puncak bukit merapi. Setelah melewati Candi mendut yang berbentuk
segi empat tak lama kemudian kamipun memasuki area
parkir Taman Wisata Borobudur, dari
area parkir melewati beberapa stand jualan menuju pintu masuk dengan tiket
yang sebelumnya dibeli di loket seharga Rp 30.000 per kepala.
Menaiki lantai demi lantai sambil memperhatikan ukiran
yang memperlihatkan berbagai gambaran baik kegiatan masyarakat, peribadatan, budaya maupun satwa yang ada
dimasa pembuatannya cukup melelahkan, di lantai ketiga terlihat sederet
kerangka besi berdiri disudut Timur laut ternyata disini ada pekerjaan perbaikan candi
yang runtuh akibat gempa bumi tahun
lalu. Dua lantai di atas tidak berbentuk segi empat
sebagaimana didasar melainkan bundar dengan stupa di sepanjang lingkaran, di Puncak candi terdapat stupa besar
berupa bulatan yang berlobang-lobang di dalamnya terdapat patung Buddha yang duduk bersila dengan tangan rapat di
dada, beberapa pengunjung mengatakan bahwa jika kita beruntung dapat menyentuh
patung tersebut maka apa yang kita mohonkan saat itu mudah terkabul.
Setelah istirahat di puncak candi Borobudur sambil menikmati
panorama gunung merapi yang terlihat
dari kejauhan berlatarkan pedesaan dengan sawah yang indah menghijau di kaki bukit, Kami tak melewatkan momen berharga ini dengan mengabadikannya dalam bentuk foto baik
persendirian maupun bersama, lalu turun melalui pintu Barat, sebenarnya
ada ada empat pintu keluar tapi pintu Utara di tutup untuk
perbaikan, sekitar 25 menit barulah
kami tiba di dasar candi, jadi kami berada
dicandi sekitar 3 jam woow cukup puas.
Ternyata Candi Borobudur dibangun dipuncak dua buah bukit
yang dirangkai jadi satu dan diperkirakan dulu kaki bukit merupakan sebuah Danau
tapi telah menjadi lahan pertanian penduduk, setelah melewati gapura
sebelum sampai dipintu gerbang keluar pengunjung dapat menikmati
Perpustakaan, Cafe, Ruangan Videorama dan stand
pusat Cinderamata yang berada dalam satu jalur keluar. Selamat tinggal Candi Borobudur jumpa di lain
kesempatan.
Menyusun Batu membentuk budaya hidup,
Menata kehidupan dengan keserasian tempat menetap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar