Selasa, 21 Januari 2020

KEMELUT TVRI DALAM PENCOPOTAN HELMY YAHYA SEBAGAI DIREKTUR.

NusanTaRa.Com
byRyaNSyaHPutrA,   16/01/2020



Helmi Yahya dipecat Dewan Pengawas (Dewas) TVRI.   Dia melawan serta mendapat dukungan dari  para pekerja TVRI yang menyenanginya.  

Dewan Pengawas (Dewas) Lembaga Penyiaran Publik TVRI sekonyong-konyong mengeluarkan Surat Keputusan (SK) memberhentikan dengan hormat Helmy Yahya sebagai Direktur Utama pada tanggal 16 Januari 2020.  Kala menggelontornya SK tersebut Bung Helmy Yahya dali sibuk melakukan pembenahan dan rebranding besar-besaran seperti menggantikan Logo dan memodernkan kontennya kerja tersebut telah merubah wajah Televisi Indonesia menjadi lebih Keren.

Perubahan yang signifikan tersebut terbukti dengan berbagai komentar positif dari para penonton setia,  " Kini  TVRI tampak siap bersaing dengan TV swasta terrestrial maupun digital ".   Di tengah proses peralihan itu, Dewan Pengawas (Dewas) Lembaga Penyiaran Publik TVRI sekonyong-konyong mengeluarkan Surat Keputusan (SK) tertanggal 16 Januari 2020 tentang pemberthentian  Direktur Utama. 

Ketua Dewas TVRI Arief Hidayat Thamrin mengatakan keputusan itu diambil berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 13 Tahun 2005 tentang LPP TVRI  sesuai  Pasal 7 disebutkan,  Dewan Pengawas mempunyai tugas menetapkan kebijakan LPP TVRI, mengawasi pelaksanaan rencana kerja dan anggaran, serta independensi dan netralitas siaran.   "  Dewan Pengawas juga berwenang mengangkat dan memberhentikan Dewan Direksi  ",  Ujar SiDin  Arief melalui keterangan tertulis, Jumat (17/1/2020).   Namun sebelumnya  Surat Pemberitahuan Rencana Pemberhentian (SPRP) diberikan kepada Helmy Yahya pada 4 Desember 2019.

Pencopotan Helmy Yahya sebagai Direktur TVRI karena melakukan sejumlah pelanggaran.   Pelaksanaan tata tertib administrasi anggaran TVRI,  adanya ketidaksesuaian pelaksanaan re-branding TVRI dengan Rencana Kerja Anggaran Tahunan 2019 dan adanya mutasi pejabat struktural yang tidak sesuai norma, standar, prosedur, dan kriteria manajemen ASN.  Selain itu beliau  dinilai melanggar beberapa Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB) UU Nomor 30 tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan, yakni asas ketidakberpihakan, asas kecermatan, dan asas keterbukaan.

Menanggapi kebijakan pencopotan dirinya  tersebut Helmy Yahya memutuskan untuk menempuh jalur hukum  dan menunjuk  mantan Wakil Ketua KPK Chandra Hamzah sebagai penasihat hukum.   Kemkominfo melalui Johnny G Plate (menteri) tidak berhak atas hal tersebut tapi dapat memoderasi persoalan ini, untuk  menyerahkannya  kepada Komisi I DPR RI untuk menyelesaikan masalah antara Dewan Pengawas TVRI dan Helmy Yahya.

Keputusan yang tetap mempecat Helmy  memantik respons besar dari karyawan TVRI sehingga  Kamis (16/1/2020) sekitar pukul 18.00, setelah mendapatkan informasi soal SK pemecatan Helmy, mereka serentak menyegel ruangan dewas dengan lakban.   " Kami spontan ",  kata salah satu karyawan TVRI, Agil Samal, Jumat (17/1/2020),   saat itu tidak ada satu pun anggota dewas, hanya ada sekretaris dan staf,    " Kami meminta mereka untuk keluar, mereka ikut ", Ujar SiDin Agil Samal. 

Ruangan itu akhirnya dibuka segelnya ketika Kabul Budiono, salah satu anggota dewas, memohon kepada karyawan.   " Kami buka siang tadi ", Ujar SiDin Agil.    Pada hari yang sama saat ruang dewas kembali dibuka, sekitar 4.000 karyawan melayangkan mosi tidak percaya. Namun hanya ada puluhan karyawan yang hadir saat pernyataan sikap dibacakan. Mereka berasal dari Papua, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, NTT, Riau, NTB, dan Sumbar.

Dalam mosi tersebut mereka menegaskan Dewas TVRI telah bertindak semena-mena dan subjektif. Dewas juga disebut tidak pernah melihat pencapaian direksi yang mampu mengangkat harkat TVRI yang kini layak ditonton.    "  Dewas berniat mengerdilkan kembali TVRI  ", Ujar SiDin Agil Samal. 
                 
Tahun 1962,  mulai tayangnya TVRI,
Helmy Yahya dicopot Dewas sebagai Direktur TVRI.

Sabtu, 18 Januari 2020

La MARSEILLAISE LAGU KEBANGSAAN PRANCIS MIRIP LAGU “ DARI SABANG SAMPAI MERAUKE “, KOK ISSO ?.

NusanTaRa.Com
byRaisALembuduT, 10/03/2019



Meski ini sebuah topik bahasan yang usang tapi masih menarik  untuk bahasan,   Lantas bagaimana hubungan  R. Suharjo selaku penciptane  lagu  " dari Sabang Sampai Merauke “  bisa terinspirasi oleh lagu kebangsaan Prancis La Marseillaise, sedangkan Indonesia tidak pernah dijajah oleh Prancis  ?, Dibawah ini sekelumit sejarah singkatne tentang iku, semoga bisa mengklarifikasi akan kejelasan terciptanya lagu kebangsaan kita.

Revolusi Amerika di tahun 1783 dan Revolusi Prancis di tahun 1799 secara langsung membakar semangat rakyat Belanda untuk juga menyuarakan demokrasi sebagai bentuk negara dan pemerintahan.   Sebagai hasil dari pemberontakan tersebut, terbentuklah Republik Batavia, lalu menjadi Kerajaan Holandia di bawah administrasi Dinasti Bonaparte, hingga akhirnya wilayah Belanda dicaplok oleh Kekaisaran Pertama Prancis di bawah kepemimpinan Napoleon Bonaparte pertama pada tahun 1810.

Masyarakat Nusantara  kala itu sudah berinteraksi dengan orang-orang Eropa  khususnya Belanda yang telah hadir di sama sejak tahun 1602 melalui perusahaan dagang VOC.   Awalnya VOC memberikan profit yang sangat besar untuk Kerajaan Belanda, namun karena perang berkepanjangan berkecamuk di negeri asalnya VOC akhirnya bangkrut di 1799.   Otomatis  penguasaan Indonesia digantikan Pemerintah Belanda alias secara de facto Indonesia  menjadi tanah jajahan Belanda.

Indonesia atau Hindia Belanda resmi menjadi tanah jajahan Belanda di tahun 1800  masih ingatkan di tahun yang sama Republik Batavia sedang berkuasa  dan diisi oleh orang-orang yang pro-Prancis  maka  tidaklah aneh apabila semangat Revolusi Prancis juga dibawa ke tanah Hindia Belanda.

Lagu La Marseillaise tercipta di tahun 1792,  dua tahun kemudian langsung diadopsi sebagai lagu kebangsaan  Prancis  dan  hingga sekarang ini.  Sehingga wajar apabila lagu La Marseillaise turut ikut populer se Hindia Belanda atau sa Nusantara.  Bermakna bahwa  lagu La Marseillaise atau lagu kebangsaan Prancis bisa ke telinga orang Indonesia melalui pemerintah Belanda  yang saat itu sedang dalam kekuasaan pemerintah Prancis  dan  kemudian membawanya ke Nusantara.

La Marseillaise memiliki struktur melodi yang bagus, tentu lagu tersebut tidak mudah untuk dilupakan begitu saja bagi siapa saja yang mendengarkannya. Nyatanya, lagu ini masih juga dinyanyikan meskipun Negara Belanda sudah tidak lagi di bawah kekuasaan Prancis.    Untuk menyanyikan La Marseillais harus secara sembunyi-sembunyi bila tidak ingin dicap sebagai penghianat.   Di buku Guru, Pahlawan Tanda Tanda Jasa yang diterbitkan oleh Departemen P&K di tahun 1980-an, terdapat kumpulan cerita nyata yang dialami oleh para guru dengan latar mulai pra hingga pasca kemerdekaan. Salah satu cerita yang pernah saya baca (semoga saja tidak salah) berjudul  “ Guruku di Boven Digoel “.

Cerita tersebut mengisahkan seorang guru dari Jawa di era pra-kemerdekaan, yang ketika waktu luang mengajarkan lagu La Marseillaise kepada para muridnya. Perbuatan tersebut dianggap sebagai penghianatan oleh pemerintah kolonial Hindia Belada, sehingga guru tersebut diasingkan ke Boven Digoel, Papua.   Kisah  tersebut  menyimpulkan  bahwa lagu ini populer bahkan hingga di ujung waktu kekuasaan Belanda di Indonesia.

Meskipun Indonesia tidak pernah berinteraksi langsung dengan Prancis, namun pengaruh Prancis masuk melalui orang-orang Belanda yang dahulu ada di Indonesia. Tidak hanya lagu La Marseillaise, banyak kosa kata dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Prancis, seperti trotoar, sopir, sepeda, toilet, dsb.   Mempermasalahkan kemiripan  lagu dari  Sabang  sampai  Merauke dengan La Marseillaise, saya ingatkan bahwa Dari Sabang  sampai  Merauke bukanlah satu-satunya lagu yang terinspirasi dari indahnya melodi lagu kebangsaan Prancis. Coba juga dengarkan lagu All You Need Is Love dari The Beatles.
dr.Quora, RulliPratama, 16/06/2018


Lagu dapat mendendangkan,

Dari Sabang sampai Merauke satu lagu kebangsaan.

Jumat, 17 Januari 2020

PEMAHAT SALJU INDONESIA RAIH JUARA DI KEJOHANAN HARBIN CHINA.


NusanTaRa.Com
byPakeLEE,  16/01/2020



Luar biasa sebagai Negara Tropis, Indonesia dapat berkibar di ajang Harbin International Snow Sculpture Competition ke-25  yang digelar selama 4 hari tanggal 10-13 Januari 2020 di Harbin, China.   Karena Dua tim asal Indonesia yang ikut berkompetisi  tersebut, keduanya berhasil berhasil memenangi dua kategori berbeda di kompetisi international memahat patung es dan salju internasional tersebut.    

Tim Indonesia 1 yang beranggotakan I Nyoman Sungada, I Putu Andre Putra Yoga, Eka Budi Ariadee, dan I Made Sumerta Yasa ini berhasil memenangi kategori Best Skill dengan patung salju bertemakan Pengantin Bali.   Sementara tim Indonesia 2 yang terdiri dari I Ketut Suaryana, I Made Mardiawan, I Komang Karim, dan I Kadek Arya Undiyana berhasil memenangi kategori Excellent. Tema patung yang mereka buat adalah Frog Surfing.

Kedua tim berkompetisi membuat patung salju dengan menggunakan bahan salju berukuran 3x4 meter,  setiap  pesert lomb diberi waktu kurang lebih 3,5 hari untuk menyelesaikan karya mereka.    “  Kami berangkat dari hotel jam 08.30, sampai ke lokasi jam 09.00 lalu langsung bekerja sampai jam 12.00 untuk istirahat makan siang. Jam 13.00 lanjut lagi hingga jam 19.00. Waktu pengerjaannya total 3.5 hari  ”, Ujar SiDin I Ketut Suaryana, ketua tim Indonesia 2  yang terdiri komunitas Bali Talent Artist  pada NusanTaRa.Com  di Harbin,  Selasa (14/01/2020).

 Suhu tinggi dan ekstrem menjadi tantangan tersendiri dalam mengikuti  kompetisi ini, mereka berlatih dengan keras selama kurang lebih satu bulan.  Ketut mengaku lebih banyak mempersiapkan perihal visi dan strategi dalam eksekusi pahatan dengan   melakukan pembagian tugas yang cukup rinci mulai dari tugas masing-masing anggota tim hingga alur pengerjaan patung sehingga pengerjaan terselesaikan sesuai ide perencanaan yang diinginkan.

“  Chemistry sudah ada, tinggal menyamakan visi dan strategi. Karena baloknya kan besar. Jadi kita bikin miniatur kecil dari gabus. Pengerjaan langsungnya kita dari samping, jadi seperti membuat tangga untuk kemudian pelan-pelan naik ke atas  ”.   Nyoman bersama temannya yang keseuanya dari Bali mengaku sempat merasakan keram di bagian perut dan kaki saat proses pembuatan bentuk bola dunia yang mengharuskan ia masuk ke dalam salju untuk membuat lubang.

Tim Indonesia 1 punya kisah tersendiri, merupakan gabungan dari Himpunan Seniman Pecatu dan Desa Ungasan,   terdiri dari I Nyoman Sungada, I Putu Andre Putra Yoga, Eka Budi Ariadee, dan I Made Sumerta Yasa,  berhasil memenangi kategori Best Skill dengan patung salju bertemakan Pengantin Bali.   “  Dari segi artistik cukup kaya akan ornamen sangat indah untuk dipandang  ", Ujar SiDin I Nyoman Sungada,  Selasa (14/1/2020).

Bagi Nyoman dan Ketut kompetisi di Harbin ini bukan jadi yang pertama kali bagi  mereka karena  keduanya sudah cukup sering berkompetisi di ajang memahat patung tingkat internasional baik individu mau pun bersama tim.  Ketut sebelumnya berhasil meraih penghargaan Best People Choice di ajang kompetisi internasional di Nayoro, Jepang pada tahun 2018 dan Nyoman beberapa kali menjuarai ajang di Harbin,  tahun 2013 dan  2017 menyabet Juara 3 Dunia, Juara 3 Dunia di Sapporo Jepang 2013  dan  tahun 2015 berhasil mendapat kategori Best Skill di Harbin serta Juara Dunia Best Creativity di Harbin pada 2018.

Kedua Tim Indonesia di Harbin ini  berhasil mengalahkan 28 tim yang berasal dari 10 negara,  keberhasilan tersebut tak lepas dari keberhasilan mereka mengatasi dinginnya suhu Harbin yang sempat mencapai minus 15 derajat celsius.    Patung-patung salju karya kedua tim ini masih terus dipamerkan selama gelaran Harbin International Ice and Snow Sculpture Festival yaitu sejak tanggal 5 Januari hingga 25 Februari 2020 mendatang.

" Frog Shurfing " patung salju

Patung salju hasil pahatan,
Pemahat salju Indonesia meraih penghargaan di Harbin.

Kamis, 16 Januari 2020

PESAWAT ULTRALIGHT BUATAN MONTIR TAK TAMAT SD DI PINRANG SUKSES TERBANG.


NusanTaRa.Com
byLaSikUAgaY,  17/01/2020


Kini ia menjadi pembicaraan public karena  pesawat ultralight yang dirakitnya selama 3 bulan berhasil mengudara saat uji coba adalah      Chaerul (40), warga Pallameang, Kabupaten Pinrang, Sulsel  dia seorang montir dan tak tamat sekolah SD.  Meski uji coba pesawat ini berhasil sebagai terlihat dalam videonya di atas Pantai Ujung Tape tapi  pesawat ini dinilai belum bisa dikatakan mampu terbang dengan baik karena level ketinggiannya masih di bawah bentang sayap. 

Momen uji coba pesawat ultralight rakitan yang berhasil terbang ini ramai di media sosial. Uji coba dilakukan di Pantai Ujung Tape, Pinrang, Rabu (15/1/2020).   "  Ini masih terbang di ground effect, yaitu dengan ada 'bantal' tekanan udara tinggi di bawah sayapnya, karena terbangnya masih di ketinggian di bawah 1,5 kali bentang sayapnya. Kalau sudah bisa terbang benar, itu kalau sudah bisa terbang terus-menerus di luar ground effect, baru bisa dikatakan terbang  ", Ujar SiDin  Gerry Soejatman pengamat penerbangan dari Jaringan Penerbangan Indonesia (Japri),  Rabu (15/1/2019).

Dia menjelaskan,    Ground effect adalah peningkatan gaya angkat dan penurunan gaya aerodinamis yang dihasilkan oleh sayap pesawat ketika dekat dengan permukaan tetap.  Saat mendarat, ground effect dapat memberi pilot perasaan bahwa pesawat seperti 'mengambang' jelas Garry menambahkan.   Kendati demikian, Gerry tetap mengapresiasi kegigihan Chareul dalam merakit pesawat ini. Dia mengatakan pesawat ini bisa terbang dan lepas dari ground effect ketika ada engine power tambahan.
"  Namun ini merupakan perkembangan yang bagus bagi si perakit. Sebelumnya kan gagal lepas landas. Paling nggak, sekarang sudah bisa lepas landas, tetapi belum bisa free flight. Kalau bisa ada engine power tambahan lagi kemungkinan sih akan bisa terbang lepas dari ground effect  ", Ujar SiDin Gerry.   Video momen terbangnya pesawat Chaerul ini ramai dibagikan oleh netizen di media sosial. Dari video yang beredar, pesawat tersebut take off dan mendarat dengan mulus setelah sempat berputar-putar.

Pesawat terbang jenis ultralight buatan Chaerul  terbuat dari barang bekas, seperti roda gerobak pengangkut pasir, sedangkan sayap yang terbentang di atas pesawat tersebut terbuat dari parasut bekas yang biasa dijadikan penutup mobil. Adapun mesinnya terbuat dari mesin motor Kawasaki Ninja RR 150 cc.   "  Untuk badan pesawat saya menghabiskan biaya Rp 8 juta, sementara untuk mesin motor Rp 15 juta  ", Ujar SiDin Chaerul SanG AppoBeko, Rabu (15/1/2020).


Video yang beredar di dunia maya memperlihatkan  pesawat rakitan ultralight itu terbang dan mendarat dengan mulus setelah berputar-putar di udara.   "  Saya masih gemetar , merasakan sensasi terbang untuk pertama kalinya  ", Ujar SiDin  Chaerul.   Sebelumnya Chaerul sudah dua kali uji coba pesawat rakitannya diatas laut yang menakutkannya, namun tak berhasil tapi keberanian sang  Chaerul akhirnya mengutak-atik komponen hingga pesawat rakitannya bisa terbang

Kesuksesan Chaerul ini tentunya jadi berita yang menjawab berita sebelunya, yang menggambarkan beberapa para montir tanah air yang mencoba membuat pesawat Ultralight namun gagal terbang bahkan telah mendapat kunjungan dari menteri.   Sebagaimana berita sebelumnya seorang montir di abndung mencoba merakit Helikopter meski gagal daalam melakukan uji coba penerbangan, sebagaimana tambak dalam videonya kipas terputar tapi helykopternya hanya  terseret  terputar-putar  disiti-situ saja.  




AppoBeko Cucu kesayangan langit,

Montir Chaerul  sukses terbangkan pesawat Ultralight.

Rabu, 15 Januari 2020

KOMUNITAS JAWA DALAM PERJALANAN SEJARAH NEW CALEDONIA DI PASIFIK SELATAN.

NusanTaRa.Com
byRaisALembuduT, 09/08/2019



NEW CALEDONIA,  merupakan gugusan kepulauan seluas 18.575 kilometer persegi di Samudera Pasifik tepatnya di utara New Zealand dan tenggara Papua New Guinea yang beribukota di Noumea.   Gugusan ini pertama kali ditemukan penjelajah James Cook,  4 September 1774 ketika melakukan pelayaran  keduanya di kawasan Pasifik kemudian memberikannya nama New Caledonia karena teringat tanah kelahirannya, Skotlandia.  Prancis mengambil alih NC secara resmi pada 24 September 1853 di bawah Napoleon III   dan membangun Port de France (Noumea) yang sekarang menjadi ibu kota NC pada 25 Juni 1854.

Kepuluan yang berada di sebelah timur Benua Australia dengan jumlah penduduk 240.000 jiwa (2014) sebagian besar dihuni warga asli Kanak masih keturunan Austronesia yang datang pada 1.500 SM, diduga berasal dari Asia namun pola migrasi kedatangannya masih dipertentangkan.  Namun paska kedatangan penjelajah dari eropah ke  New Caledonia bersamaan dengan penemuan berbagai sumberdaya alam, kepulauan ini menjadi ramai dengan kedatangan berbagai suku seperti  China, Vietnam, India, Eropah, Arab dan Indonesia (Jawa) yang datang menjadi pekerja dan hingga kini mereka telah menjadi warga di sana.

Pertumbuhan pertambangan dan perkebunan di New Caledonia yang membutuhkan tenaga kerja, maka tahun 1864-1897  maka  kawasan ini sempat menjadi lokasi pembuangan  bagi 22.000 narapidana,   setelah Gubernur Prancis di NC, Paul Feillet memberi penghapusan hukuman dan pengembalian ke kampung halaman mereka  maka imigran dari Asia datang mengisi peluang  kerja tersebut.    Prancis kemudian meminta buruh untuk pertambangan nikel dan perkebunan di NC, maka dikirimlah 170 pekerja dari Pulau Jawa yang tiba  di New Caledonia  pada 16 Februari 1896.  Warga Jawa baik yang sudah warga negara maupun yang masih WNI di New Caledonia berkisar 7.500 jiwa (2014).

Keturunan Jawa di New Caledonia
Ketibaan tenaga kerja Indonesia di New Caledonia ada tiga gelombang  :  Pertama,  tahun 1896  kedatangan 170 para pekerja dari pulau Jawa bekerja di tambang nikel,  saat kontrak  habis  ada yang pulang dan tetap tinggal di NC. Kedua  periode 1933-1939  sebelum Perang Dunia II  saat kekurangan tenaga kerja padahal tambang nikel dan produksi kopi sedang meningkat,  lebih dari 7.800 datang dengan kontrak selama lima tahun.   Ketiga
Yang terakhir yaitu tahun 1970  lebih dari seribu orang Indonesia datang, khususnya untuk membangun jembatan Nera di Cote Ouest, jembatan di Cote Est dan menara St. Quentin di Magenta.

Djintar Tambunan (65) warga Batak yang saat ini bekerja sebagai pemborong bangunan sekaligus Ketua Persatuan Masyarakat Indonesia dan Keturunannya di New Caledonia (PMIK), seiring waktu warga Jawa yang menetap di sana berbaur dengan berbagai suku lain dan berbudaya yang beragam, sehingga warga jawa disana terbagi dalam tiga kelompok tentunya dengan budaya tersendiri.

"  Para pekerja Indonesia dan keturunannya saat ini telah diterima dengan baik oleh masyarakat New Caledonia dan juga telah memberikan sumbangsihnya terhadap pembangunan New Caledonia  ", Ujar SiDin Ade Sukendar  Konsul Jenderal Republik Indonesia untuk New Caledonia (NC) yang masuk  negara dibawah  protektorat Prancis. 

Tiga kategori masyarakat   (Indonesia) dan keturunannya yang tinggal di New Caledonia saat ini ,  yaitu golongan niaouli, wong baleh dan wong jukuan.   " Niaouli “  itu adalah keturunan pertama masyarakat Indonesia yang lahir di NC dengan orang tuanya berasal langsung dari Indonesia,   kata Djintar. "  Dulu belum ada cuti, termasuk cuti melahirkan jadi begitu si ibu melahirkan anak, tiga hari kemudian, ia harus melaksanakan tugas sebagai orang kontrak, jadi anak tersebut dibalut dengan kain batik dan ditaruh di bawah pohon niaouli saat orang tuanya bekerja  ", Ujar SiDin Djintar.

Wong baleh artinya  " orang-orang yang kembali (balik) ".   "Setelah kemerdekaan Indonesia  sekitar tahun 1950-an, orang-orang kontrak menuntut pulang ke Indonesia tapi ternyata di sana mereka sulit untuk hidup sehingga kembali lagi ke New Caledonia  ",  sekitar tahun 1939-1940 terdapat keturunan Jawa 20.000 orang dan pada  tahun 1952 dan 1954-1955 tercatat pemulangan masal warga Jawa sehingga hanya tinggal 2.000 orang menetap di New Caledonia.  Sedangkan  " wong jukuan " artinya adalah bawaan keluarga atau mereka yang lahir di Indonesia namun dibawa ke NC oleh orang Indonesia yang tinggal di NC.

Djintar Tambunan yang wong Batak berkata, Istrine  Soetina masuk  gol.  Niaoli  ayahnya dari Sragen dan dari Slawi, dalam keseharian Soetina  menggunakan bahasa jawa ngoko di rumah dan bahasa Prancis --bahasa resmi di New Caledonia  saat berada di luar rumah. Djintar pada awal  tibanya mengalami  kesulitan  dalam bahasa di New Caledonia namun dalam makanan dan budaya tidak karena disini beberapa makanan dan budaya Jawa masih ada.  "  Saya seperti berada di daerah Tegal karena makanannya nasi, tempe dan singkong, itu karena mayoritas masyarakat Indonesia di sini orang Jawa dan berbahasa Jawa, masalahnya saya tidak mengerti bahasa Jawa  ",  Ujar SiDin Djintar Tambunan terpingkal-pingkal dgn gaya khas bataknya.  

Kurun waktu tersebut telah membuat warga Jawa yang bergaul dengan berbagai suku seperti  China, Arab, Vietnam, Eropah, India dll dalam berbagai tatanan sosial dalam membangun bersama sehingga tercatat beberapa orang yang penting.   Beberapa keturunan Jawa yang menjadi orang penting di New Caledonia  seperti,  Roesmaeni Sanmohammad yang menjadi anggota parlemen, Corine Voisin yang sekarang menjabat sebagai Walikota La Foa, salah satu wilayah di Provinsi Selatan, Emmanuelle Darman mantan Miss New Caledonia 2005 dan Mohamed Raden Kasim (alm) yang namanya diabadikan sebagai nama taman didaerah Sixeme.

                      
   
Wong Jowo gitu lohh,
Warga Jawa di New Caledonia telah menyatuh.

SUKU SEKO TO LEMO DI JANTUNG SULAWESI (SULSEL-SULBAR-SULTENG DAN SULTRA)

NusaNTaRa.Com            byIndaHPalloranG,       J   u   m   a   t,    2   1     A   g   u   s   t   u   s     2   0   2   6             Se...