Rabu, 21 Oktober 2020

ISKANDAR HARDJODIMULJO SENIMAN WAYANG YANG MENDAUR “ SAMPAH “.

NusanTaRa.Com                                                                                       byJoneDPringgoNDandI,                                                                08     J  u  l  i     2020         

 

Iskandar Hardjodimuljo seorang seniman asli Indonesia, yang menekuni bidang perwayangan dan pembuatan  wayang atau seniman melukis wayang, beliau lahir dan dibesarkan di sebuah kampung pinggiran Yogyakarta, sebuah kota yangg dikenal sebagai pusat kebudayaan Jawa dan tempat terakhir dimana seorang sultan Jawa masih bertahta.    Sesuatu yang sangat menarik dari wayang buatannya yang sekilas tampak sederhana, terbuat dari Karton-karton dan plastik bekas bisa dibilang Sampah yang di ukir dan diwarnai dengan menarik.

Wayang-wayang ciptaan beliau sangat jauh berbeda dari buataan seniman Indonesia lainne yang lebih terkesan elegan dan mewah layaknya wayang tradisional milik dalang-dalang kenamaan yang biasa berpentas di sasana-sasana besar nan megah.  Kalau wayang buatan para dalang kenaman terbuat dari kayu atau kulit kayu yang terukir dan diwarnai dengan sempurna, tapi milik Iskandar H berwarna-warna Cerah, mentereng dan mencolok dicet serampangan buat ank sekolah an orang biasa.

“  Lewat wayang uwuh  (bahan sampah), ada pesan lingkungan hidup, budaya dan sosial  ”,  Ujar SiDin Iskandar H pria  55 tahun.   “  Saya ingin memperkenalkan wayang kepada semua orang, terutama anak-anak.  Saya juga ingin mengajarkan bahwa sampah bisa diubah menjadi karya seni dan sesuatu yang mempunyai nilai dan manfaat tinggi  ”.  Sehingga ditempatnya kita akan menemukan berbagai wayang yang terbuat dari berbagai barang bekas semisal tutup tempat makan,  kemasan air minum bekas dsb.

Iskandar memang sudah tertarik dengan wayang semenjak kecil,  meski tak pernah bermimpi untuk menjadi seorang seniman, apalagi seorang pembuat wayang,  “ Waktu SMA, saya pernah membuat batik dengan motif wayang. Waktu kuliah, saya sama sekali tidak tertarik mengembangkan jiwa seni saya  ”, Ujar SiDin Iskandar H.   Malahan kecintaannya pada dunia seni tumbuh saat dia mulai bekerja sebagai seorang akuntan, sebuah profesi yang ditekuninya selama 25 tahun,  “  Saya melukis karena hobi. Saya belajar secara otodidak. Tetapi saya selalu melukis wayang dari dulu, untuk mengenang masa kecil saya. Waktu kecil, saya sering menonton wayang di kampung  ”,  Ujar SiDin Iskandar H.

Iskandar H mulai dikenal sebagai satu dari segelintir seniman yang menggeluti seni melukis wayang secara khusus sebelum tahun 2000, karenanya tahun itu saya sudah ikut wayang karyanya.   “  Prosesnya panjang. Tetapi, pada akhirnya saya memutuskan untuk menjadi seniman  ”,  Ujar SiDin Laji dan berhenti bekerja sebagai akuntan pada tahun 2012 dan  Iskandar H saat itu hanya melukis tokoh-tokoh wayang di atas kanvas ia merilis buatan wayang pertamanya di tahun 2013.   “  Saya ikut pameran Jakarta Biennale. Waktu itu temanya, ‘Seni di Antara Kita  ”,  Ujar SiDin Laji. 

“  Saya waktu itu jadi relawan, mengajar di kampung seni di pinggiran Sungai Ciliwung. Tahun itu banjir besar. Jadi ada banyak plastik, triplek, botol yang hanyut ke kampung tempat saya jadi relawan  ”,  Ujar SiDin  Iskandar,   “  Saya langsung punya ide. Saya bisa bikin wayang dari benda-benda ini ”.   Meskipun awalnya wayang uwuh hanyalah sebuah proyek sampingan untuk pameran, karya seni ini kemudian menjadi sebuah obsesi bagi Iskandar.  “ Saya suka membuat wayang dari sampah. Saya bisa berinovasi dengan bahan-bahan yang berbeda. Kreatifitas kita jadi tertantang. Sekarang, kalau saya melihat sampah saya langsung berpikir: ‘Ini bisa saya jadikan apa ? ".

“  Saya ingin membangkitkan kembali minat terhadap warisan budaya kita. Wayang sudah semakin ditinggalkan anak-anak muda. Mereka lebih tertarik pada kebudayaan musik dan seni Barat dan modern  ”.   Iskandar ingin menunjukkan bahwa wayang tak kalah menarik dengan kesenian dan budaya modern; salah satunya dengan memperkenalkan ratusan tokoh-tokoh dunia perwayangan, masing-masing dengan ciri fisik, watak dan kesaktian yang berbeda.

Menurut Iskandar, wayang uwuh telah membuat dirinya diakui sebagai seorang seniman terkemuka. Seiring upayanya mengubah sampah menjadi wayang, dia pun mendapatkan banyak undangan untuk memamerkan karya seninya dan mengadakan lokakarya di luar negeri, mulai dari Thailand sampai Italia.   Ia juga rajin memberikan pelatihan untuk anak-anak dan seniman muda, di mana mereka turut belajar teknik-teknik mengubah sampah menjadi wayang dari sang pelukis ulung.

Seniman wayang uwuh, Iskandar Hardjodimuljo menggantungkan paket makanan gratis untuk yang membutuhkan di dekat pemukimannya jalan Cawang Baru Utara, Jakarta Timur, Sabtu (18/4/2020). Paket bahan makanan yang diberi nama  " Wayang Bersedekah "  tersebut merupakan inisiatif untuk menyisihkan hasil penjualan wayang uwuh (wayang yang terbuat dari sampah plastik dan kardus bekas) demi membantu warga yang kesulitan akibat dampak pandemi covid-19.

 

Wayang pengantar pesan kehidupan, 

Iskandar Hardjodimuljo dari wayang sampah ke seniman.

BUS LISTRIK PRODUKSI INKA DAN TRON-E TELAH UJI COBA DI MADIUN.

 NusanTaRa.Com                                                                                         byAsnISamandaK,                                                    20    O k t o b e r    2020   

"  Ini merupakan pengujian prototype bus listrik ukuran medium di jalan umum jalur arteri area Madiun dan di Jalan tol Madiun - Nganjuk.  Produk ini merupakan kerjasama PT INKA (Persero) dengan Tron-E dari Taiwan sebagai mitra komponen drive train dan baterai bus serta Piala Mas dari Malang sebagai mitra pembuatan bodi bus listrik  ",  Ujar SiDin Budi Noviantoro Direktur Utama PT INKA (Persero).   Uji coba bus listrik  yang diberi nama  E-INOBUS hasil karya INKA bekerjasama dengan Tron-E dari Taiwan berhasil dilakukan PT. Industri Kereta Api (INKA), Senin (19/10/2020).

Bus yang dinamai E-INOBUS itu sebelumnya telah melakukan uji landasan pada 13 Agustus 2020 dan telah lulus uji dengan mendapatkan Sertifikat Uji Tipe (SUT) kendaraan bermotor pada tanggal 10 September 2020 di Balai Pengujian Laik Jalan dan Sertifikasi Kendaraan Bermotor (BPLJSKB) yang berlokasi di Cibitung, Jawa Barat.   Budi melanjutkan pengujian ini untuk mengetes kemampuan bus listrik sebelum dilakukan produksi massal.

"  Sebelumnya telah dilakukan uji landasan pada 13 Agustus 2020 dan telah lulus uji dengan mendapatkan Sertifikat Uji Tipe (SUT). Ini dilakukan sebelum produksi massal  ", Ujar SiDin Budi.   Budi mengatakan, dalam waktu dekat PT INKA (Persero) juga berencana memasarkan produk bus listrik E-INOBUS untuk area dalam negeri, seperti PT TransJakarta. Sedangkan untuk area luar negeri seperti Democratic Republik of the Congo (DRC) yang juga tertarik dan telah mencoba produk ini minggu lalu.

Sebelumnya TransJakarta sedang menguji coba penggunaan bus bertenaga listrik ini yakni  bus listrik melayani rute Balai Kota-Blok M dua unit,   uji coba bus listrik Transjakarta telah dilakukan sejak awal Juli 2020 lalu akan berlangsung selama tiga bulan.  Pemprov DKI Jakarta sendiri memiliki tujuan agar udara Jakarta menjadi lebih bersih  salah satu alternatip adalah percepatan penggunaan kendaraan listrik dan Armada bus TransJakarta tak ketinggalan menggunakan teknologi elektrifikasi tersebut.

"  Untuk TransJakarta saat ini sedang diuji coba layanan bus listrik. Ada 2 unit bus listrik yang kami operasionalkan, melayani rute Blok M-Balai Kota. Dan tentu ini sebagai bahan evaluasi untuk pengembangan kendaraan bermotor ramah lingkungan di Jakarta  ",  Ujar SiDin  Syafrin Liputo Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, dalam sebuah diskusi virtual yang digelar SBM ITB.  Menurut Syafrin, Pemprov DKI Jakarta akan memperbanyak bus listrik TransJakarta, dalam 10 tahun lagi yaitu tahun 2030, targetnya semua armada bus TransJakarta adalah bus listrik.

Bicara spesifikasi, Budi menambahkan untuk kecepatan maksimal bus E-INOBUs mampu tembus 90 KM/jam dan memiliki maks gradeability (kemampuan kendaraan mendaki tanjakan) 14%.    "  Waktu yang diperlukan dalam pengisian daya sampai penuh diperlukan waktu 3 - 4 jam. Tingkat kebisingan pada bus listrik jauh lebih baik (rata - rata sebesar 71 dB) jika dibandingkan dengan bus diesel (rata - rata sebesar 85 dB)  ", Ujar SiDin Laji.

Sedangkan pengisian daya sekitar 3-4 jam dengan jarak tempuh sekali charging 200 KM. Selayaknya bus listrik yang terkenal senyap, E-INOBUS memiliki tingkat kebisingan rata-rata 71 dB.   Keunggulan lain dari bus listrik ialah efisiensi, dari segi perawatan dan konsumsi bahan bakar. Budi menyebut untuk bus listrik lebih efisien 58% lebih efisien dibanding bus diesel. Hal ini didasar dari catatan pengujian yang sudah dilakukan E-INOBUS dari lintas dalam kota dan luar kota (tol) dengan total jarak 122 km.

"  Didapatkan pemakaian rata - rata 1,4 km/kwh, maka untuk biaya operasional per kilometer = 0,71 x Rp1650/kwh = Rp1171/km. Pemakaian bus diesel dapat menempuh jarak 3km/liter, dengan harga solar perliter Rp 9.300/liter, maka didapatkan biaya operasional per kilometer = 0,3 x Rp9.300/liter = Rp 2.790/km  ",  Ujar SiDin Budi Noviantoro dengan Plabomoranya (hebatnya).

"  Pemeliharaan lebih efisien bus listrik sebesar 49% dengan perbandingan pemeliharaan bus diesel dan bus listrik pernah disampaikan pada Maintenance Forum tahun 2018 di Serbia, di mana kedua bus dijalankan sejauh 250 km per hari. Hasil perbandingan biaya pemeliharaan bus Diesel 396 Euro (Rp6,7 juta) bus listrik 201 Euro atau Rp 3,4 juta  ",  lanjutnya ke tandasnya.

     

Si Doel naik Bajaj dari CiPete,

Bus Listrik akan jadi angkutan umum di Jakarte.

Jumat, 16 Oktober 2020

3 SOLUSI MEMPERBAIKI KINERJA RISET DOSEN YANG HANYA SEPERTIGANYA.

 NusanTaRa.Com                                                                                                 byAnditAAuliAPratamA,                                                                           16    A g u s t u s    2020  

Berdasarkan Science and Technology Index (SINTA) keluaran Kementerian Riset dan Teknologi, saat ini jumlah orang yang telah mempublikasikan artikel ilmiah baru mencapai sekitar 200 ribu orang.  Padahal, jumlah dosen dan peneliti di Indonesia yang tercatat di basis data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)  dan juga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan totalnya melebihi 305 ribu orang, bermakna lebih dari sepertiganya belum mempublikasikan artikel ilmiah yang menjadi salah satu tuntutan profesi mereka.

Indeks riset  keluaran  jurnal ternama Nature,  keluaran riset Indonesia dalam satu tahun terakhir  menempati urutan ke-11 di Asia Pasifik, kalah dari Vietnam dan Thailand yang memiliki jumlah dosen yang jauh lebih sedikit.  Sementara Riset memiliki peranan sangat penting dalam pembangunan suatu negara baik sebagai inovasi maupun tuntunan pembangunan.  Data di atas menunjukkan bahwa jumlah akademisi yang menghasilkan penelitian masih sangat sedikit apabila dibanding dengan negara-negara maju.

Publikasi berkualitas tinggi yang melalui proses (peer-review)   atau tinjauan ketat oleh tim akademisi lain - pun masih sedikit,   dari  2,8 juta dokumen ilmiah peneliti Indonesa di Google Scholar hanya 100 ribu artikel jurnal terindeks Scopus (salah satu pengindeks artikel ilmiah dengan kualitas riset tinggi yang saat ini diakui di Indonesia).  Saya melihat ada beberapa alasan mengapa tidak semua dosen Indonesia menjadi peneliti  :  beratnya beban tugas mereka dalam mengajar, masih buruknya sistem evaluasi kinerja riset, serta kurangnya jumlah dosen yang memiliki kompetensi doktoral.  Dari masalah tersebut, saya menawarkan tiga solusi sebagai berikut  :

Beban mengajar dosen terlalu berat,  sediakan ‘staf akademik’ khusus.


Dalam satu semester, dosen diwajibkan memenuhi beban kerja ‘Tri Dharma’ - mengajar, melakukan penelitian, serta terlibat dalam pengabdian masyarakat - sebanyak minimal 12 SKS (satuan kredit semester) dalam hal angka ini cukup mudah dipenuhi mengingat dosen Indonesia kebanyakan mencapai sekitar 15 SKS.

Riset tersebut menyoroti bahwa beban jatuh terlalu terbanyak pada porsi pengajaran,  dosen tidak hanya bertanggung jawab atas isi materi perkuliahan, namun juga metode pembelajaran hingga evaluasi belajar mahasiswa dan semua itu cukup memberatkan kerja dosen  dalam bidang pengajaran.  Padahal, untuk mendukung sistem pendidikan tinggi yang berkualitas, harusnya ada pemisahan antara perumusan pedagogi dengan substansi mata kuliah.

Saya menyarankan universitas untuk menyediakan staf kependidikan khusus sebagaimana  lazim diterapkan di universitas maju seperti di Singapura - untuk membantu dosen menyusun teknis penyampaian dan sistem evaluasi dalam suatu mata kuliah.   Staff kependidikan membantu dosen dalam mendesain, mengajar, dan mengevaluasi mata kuliah di National University Singapore. (Fun Man Fung, Ph.D), Author provided (No reuse).

Penelitian di tiga universitas Eropa menunjukkan bahwa melibatkan ahli pedagogi dalam merancang pembelajaran daring,  misalnya, dapat membuat teknologi, materi  dan desain pembelajaran menjadi lebih baik.   Inti keterlibatan mereka akan memberi keleluasaan bagi dosen agar dapat fokus melaksanakan penelitian.

 Sistem evaluasi kinerja riset harus mendorong dosen untuk meneliti

Setelah mengurangi beban kerja dosen dalam bidang pengajaran, hal selanjutnya adalah membangun sistem pengawasan kinerja penelitian dosen yang membantu mereka melatih kapasitas riset.   Saat ini dosen diwajibkan untuk mengisi Beban Kinerja Dosen (BKD) di awal semester, Laporan Kinerja Dosen (LKD) di akhir semester, serta Sasaran Kerja Pegawai (SKP) setiap tahun.   Ketiga dokumen ini sama-sama berisi rincian pekerjaan yang dilakukan dosen - berapa porsi SKS untuk pendidikan, penelitian, pengabdian, dan kegiatan lain.

Untuk kapasitas meneliti, sistem pelaporan dan evaluasi semestinya dibangun berdasarkan indikator performa riset yang terukur dan objektif.   Sistem evaluasi riset nasional Australia atau Excellence in Research for Australia (ERA), misalnya, tidak hanya melihat jumlah penelitian dan keterlibatan dalam kegiatan riset,  tapi juga :  kualitas penelitian (melalui analisis sitasi, telaah sejawat oleh komite riset, dan menimbang reputasi karya ilmiah yang diterbitkan); serta dampak penelitian  (seperti paten yang dihasilkan, dan pendapatan dari komersialisasi riset).

Jika indikator-indikator ini dimasukkan ke dalam pelaporan dan evaluasi kinerja dosen dalam sistem Pendidikan Tinggi (DIKTI), dosen bisa memiliki insentif untuk meningkatkan kapasitas riset mereka karena kenaikan jabatan dan tunjangan finansial mempertimbangkan pengalaman dan pencapaian mereka dalam riset.   Sistem laporan dan evaluasi sebaiknya juga dilengkapi oleh statistik dan pemeringkatan nasional agar dosen juga bisa melihat di bagian mana kapasitas riset mereka masih tertinggal.

 Berikan akses luas untuk peningkatan kompetensi riset dosen.

Organisasi Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi Dunia (OECD) menjelaskan bagaimana gelar doktor merupakan predikat akademik tertinggi yang memiliki kompetensi terbaik dalam melaksanakan riset. Gelar doktor juga memudahkan peneliti untuk mendapatkan pendapatan lebih tinggi, peluang riset yang lebih luas, dan juga akses lebih untuk kesempatan pengembangan diri.


Hasil Riset  menyebutkan bahwa dosen lulusan S3 akan cenderung menghabiskan waktu lebih banyak melakukan penelitian.   Artinya, seiring dengan mengatasi dua permasalahan sebelumnya, peningkatan kualifikasi dosen bisa menjadi kebijakan pendukung dalam meningkatkan kualitas riset di Indonesia.  Sayangnya, mayoritas kualifikasi dosen Indonesia didominasi oleh lulusan magister (S2). Berdasarkan data Statistik Pendidikan Tinggi Tahun 2018, mayoritas dari sekitar 295 ribu dosen di Indonesia merupakan lulusan S2 (204.576 atau sekitar 69,4%).   Lulusan S3 hanya sebanyak 42.670 (atau sekitar 14,5%) dan sisanya merupakan lulusan S1 dan Diploma.

Selain memperluas akses tersebut, pemerintah sebenarnya bisa mendorong universitas-universitas terbaik di Indonesia untuk melakukan lebih banyak proyek riset yang kemudian membuka lowongan peneliti PhD untuk dosen. Skema ini lazim dilakukan di beberapa negara seperti di Belanda.  Peneliti yang dipekerjakan tidak hanya dibebaskan dari biaya kuliah, namun justru dibayar untuk melakukan suatu disertasi dan mendapatkan gelar doktor.

Pemerintah telah menyediakan banyak beasiswa meski belum banyak yang terakses.  Tahun lalu, pemerintah baru menyediakan 1.100 beasiswa doktoral untuk dosen, ketika jumlah dosen S2 jauh lebih banyak dari itu.    Berbagai skema ini bisa menjadi alternatif untuk mendorong lebih banyak dosen yang bergelar doktor dan berkapasitas tinggi dalam riset di Indonesia.                                                dr.TheConservation-AnditAAuliAPratamA-DosenFH-UGM-16/08/2020


Daun jatuh ke air hanyut ke hilir,

Kinerja riset dosen dukung pembangunan lancar.

“TOKO INDONESIA” HADIR DI KRAYAN DAERAH PERBATASAN, PJ GUBERNUR INI KEMUDAHAN MASYARAKAT

 NusanTaRa.Com                                                                            byIndaHPalloranG,                                                                    13    O k t o b e r    2020  

H Teguh Setyabudi,  Penjabat Sementara (Pjs) Gubernur  Kalimantan Utara (Kaltara)  bersama  Sekretaris Provinsi (Sekprov) H Suriansyah,   melakukan serangkaian kunjungan kerja ke wilayah perbatasan negara di provinsi ini.  Agenda pertama kunjungan beliau. Selasa (13/10/2020)   Pjs Gubernur tiba di Krayan, Kabupaten Nunukan  meninjau  “ TOKO INDONESIA “  yang dibangun melalui APBD Provinsi Kaltara dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat Pedalaman dan pengenalan produk Indonesia .

Toko Indonesia semacam mall atau pusat perbelanjaan satu lantai di dalamnya terdapat beberapa Loss, yang dibangun dengan dana APBD Provinsi Kalimantan Utara di daerah perbatasan yaitu Long Bawan Krayan berbatasan dengan negeri bagian Serawak Malaysia.   Di dalam Toko Indonesia terdiri dari beberapa loss yang diisi pengusaha kecil untuk memasarkan berbagai barang dagangannya, khusus untuk memudahkan masyarakat pedalaman disekitarnya untuk mendapatkan barang-barang produk dalam negeri yang terkadang sulit sampai ke daerah tapal batas itu dengan harga berpatotan.

Kondisi saat ini, Toko Indonesia sudah tahap penyelesaian dan akan segera dioperasikan untuk melayani penjualan produk-produk Indonesia di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia tersebut.   Menurut Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Kaltara Hartono yang turut mendampingi kunjungan tersebut, Toko Indonesia dibangun dengan tujuan untuk menghadirkan pusat perbelanjaan bagi masyarakat di kawasan perbatasan  dan sebagai  sentral pemenuhan barang kebutuhan sehari-hari masyarakat di Krayan dan sekitarnya.

Daerah Krayan terdiri dari Lima Kecamatan yaitu Krayan Induk, Krayan Solata, Krayan Utara, Krayan Timur dan Krayan Barat dengan jumlah penduduk keseluruhan 45 ribu jiwa.  Secara Geograpis daerah ini berada di pedalaman atau sentral Kalimantan jauh dari pusat pertumbuhan kota dan belum memiliki akses perhubungan darat dengan pusat kota melainkan dengan perhubungan udara di dua lapangan terbang perintis dengan pelayanan dua kali seminggu.  Perhubungan darat daerah ini justru lebih terbuka dengan negeri tetangga Malaysia seperti Bakalalan, Lawas, Brio dll sekaligus sumber produk kebutuhan mereka.

Toko Indonesia dibangun sejak 2017 dan kini sudah rampung 100 persen,   pembangunan dilakukan secara bertahap atau poyeek tahun jamak.    Pada  tahun  2017 dialokasikan  anggaran  APBD  Provinsi sebesar Rp 5 miliar untuk kegiatan konstruksi struktur toko,  tahun 2018  dialokasikan anggaran sebesar Rp 4 miliar  dan  terakhir tahun kemarin (2019) dikucurkan dana APBD sebesar Rp 6,5 miliar untuk kegiatan penyelesaiannya.   “  Kami masyarakat Pedalaman khususnya Krayan sangat gembira dengan kehadiran  “TOKO INDONESIA”.  Untuk memenuhi kebutuhan kami tak perlu lagi harus terbang ke Tarakan, Malinau dan Nunukan krna sudah tersedia disini  “,  Ujar Sidin Eliyas  Yeyasa salah seorang tokoh masyarakat Krayan,   Selasa (13/10/2020).

Pjs Gubernur menyampaikan, kehadiran  “ TOKO INDONESIA “   akan memberi efek ganda yang besar, seperti kemudahan dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat serta menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang pada gilirannya memacu peningkatan kesejahteraan masyarakat perbatasan yang selama ini banyk menggunakan barang – barang produk Malaysia yang lebih mudah hadir di sini.

Terutama lagi, kehadiran  “ TOKO INDONESIA “  juga untuk mengurangi disparitas harga kebutuhan pokok di wilayah perbatasan  yang selama sangat mahal berbanding di daerah lain dan akan melahirkan kecintaan  akan penggunaan produk Indonesia dalam kehidupan.   “  Kita patut bersyukur dengan dibangunnya fasilitas perbelanjaan ini.  Kita berharap Tahun Anggaran 2020 Toko Indonesia sudah bisa operasional untuk menyiapkan paket kebutuhan pokok untuk masyarakat Krayan yang tinggal di perbatasan  ”,   Ujar SiDin  Teguh Setyabudi.

Dari Bakalalan berjalan sampai Long Bawan, 

Toko Indonesia jawaban kebutuhan perbatasan.

SUKU SEKO TO LEMO DI JANTUNG SULAWESI (SULSEL-SULBAR-SULTENG DAN SULTRA)

NusaNTaRa.Com            byIndaHPalloranG,       J   u   m   a   t,    2   1     A   g   u   s   t   u   s     2   0   2   6             Se...