Sabtu, 10 Januari 2015

KEARIFAN LA TENRITATTA ARUNG PALAKKA RAJA BONE



Foto lukisan Arung Palakka di Museum Lapawawoi Bone










NusanTaRa.Com          Arung Palakka, merupakan legenda sejarah masyarakat Bone yang memiliki sikap dan pandangan yang mulia yang  berhasil menghidupkan kembali kejayaan Kerajaan Bone setelah di taklukan Kerajaan Makassar dengan merencanakan dan persekutuan perlawanan terhadap kerajaan Makassar, Menumbuhkan dan mempersatukan raja-raja yang ada di wilayah Bone dan menjadi Raja Bone yang paling berhasil memberikan kejayaan dan kebesaran kekuasaan selama ia menjadi raja.   Lahir di Lamatta, Mario-ri Wawo, Soppeng pada 15 September 1634 dan meninggal di Bontoala 06 April 1696 dan bertahta menjadi Raja atau Arung Kerajaan Bone pada tahun1672 sampai 1696.

            
Bisa dikatakan, Arung Palakka adalah tokoh yang memiliki sejarah besar dalam perjuangan di Sulawesi Selatan.  Lahir disituasi politik yang tidak menentu dengan hidup dibawah perbudakan kerajaan Gowa dan daerah yang tercabik oleh ketidak adilan, membentuk satu jiwa perlawanan dan menjadi ombak besar dalam kehidupannya yang menjadikan "nakhoda" terkuat dalam sejarah. Berbagai sumber mengisahkan perjalanan hidupnya, baik catatan kronik kerajaan hingga tradisi tutur.

Lahir dari orang tua yaitu La Pottobunne Arung Tanatengnga Datu Lompulle dan We Tenrisui Datu Mario, beliau adalah cucu Arumpone La Tenriruwa Sultan Adam MatinroE ri Bantaeng.

Bernama dan bergelar lengkap, La Tenritatta To Appatunru Daeng Serang Datu Mario Arung Palakka Arumpone Sultan Sa'aduddin Petta MalampeE Gemme'na MatinroE ri Bontoala

Kisah beliau umum berkisar tentang sisi heroiknya. Namun pada kesempatan ini, kami mencoba untuk mengangkat sisi kearifannya yang tertulis dalam naskah.

Berikut pesan Arung Palakka yang dihimpun oleh bapak A.M.Ali :

Makkedai "Petta MaLampe'e Gemme'na":
Patampuangeng aja' murennuangngi,seuwa'e awaraningengnge,maduanna accae,metellunna asugirengnge,maeppa'na darae. Apa' aju tabu'sa tu sikuwae. Iya aju tabu'e, ritaroi ritanae bebbu'i, ritaroi ri uwae masiga'i atamang, ri taroi ri apie masiga'i puppu'.
 

Terjemahan bebas 
Berkata "Petta Malampe'e Gemme'na":
Empat hal yg jangan engkau harapkan. Pertama Keberanian, Kedua Kepintaran,Ketiga Kekayaan, Keempat Derajat Kebangsawanan. Sebab keempatnya bagai kayu lapuk. Adapun kayu yang lapuk, ketika di tanah termakan rayap, ketika di air cepat kemasukan air, ketika di letakkan diatas api akan cepat habis.


Kalimat sederhana pesan beliau memiliki makna yang sangat dalam. Jelas sekali betapa beliau berpesan agar keberanian, kepintaran, kekayaan serta derajat kebangsawanan hendaknya jangan diandalkan. Beliau mengibaratkan keempatnya tak lebih dari kayu lapuk. Keempat hal tersebut adalah kelebihan, namun dapat menyebabkan kesombongan yang justru menjerumuskan manusia dalam kehancurannya.

Pada dasarnya, melihat sejarah kehidupan Arung Palakka, keempat hal tersebut ada pada dirinya. Beliau adalah seorang pemberani yang memiliki kecerdasan dalam mengatur pergerakannya. Kemenangan atas peperangan dan posisi politiknya sebagai orang nomor satu membuat Arung Palakka menjadi berlimpah harta. Dan tentu bahwa dalam dirinya mewarisi darah kebangsawanan yang memantaskan dirinya menjadi seorang pemimpin terkemuka dizamannya.

Akan tetapi, beliau berpikir jauh kedepan terhadap respon masyarakat akan prestasinya. Demikian pula bersikap, manusia hendaknya saling menghormati. Sehingga beliau mengajak pendengarnya untuk lebih rendah hati. Keberanian mesti dilandasi kerendahan hati. Kecerdasan mesti dilandasi kerendahan hati. Kekayaan mesti dibarengi kerendahan hati. Derajat kebangsawanan mesti dibarengi kerendahan hati.

Kedalaman kebijakan beliau diperkuat dengan sikap yang keras telah menempatkan dirinya sebagai pribadi Arung yang disegani.  Ketidak tegaannya meyaksikan penindasan atas keluarga kerajaannya dan masyarakat Bone oleh Kerajaan Gowa membuatnya memutuskan untuk melaksanakan perlawanan, sehingga beliau melarikan diri ke Batavia untuk mendapatkan kekuatan bagi membebaskan cengkraman Kerajaan Gowa dan mengembalikan keluarganya menduduki tahta kerajaan Bone yang berdaulat dan martabat, Perjuangannya yang berlandaskan Siri Na Pacce tersebut mengantarkannya sukses membuat kerajaan Gowa melepaskan cengkeramannya pada kerajaan Bone pada tahun 1967 dengan ditandatanganinya perjanjian damai Bungaya antara Kerajaan Gowa dan VOC atau Belanda selaku sekutu Arung Palakka.  Kemudian berujung penobatannya menjadi Arung Palakka ke - 15  tahun 1670 untuk beberapa wilayah di kesultanan Bone yang diakui Belanda atas jasa-jasa beliau kemudian menjadi Sultan Bone tahun1672 setelah menurunkan secara paksa paman beliau.
Reffrensi. RahmatMunawar-DISKUSI LEPAS.COM



Petta MaLampe'e Gemme'na Arung  bijak dari Bone,
Hati  Bijak akan menempatkan keunggulan pribadi manusia.

Minggu, 04 Januari 2015

" BRUSH WITH DANGER " FILM KARYA SUTRADARA INDONESIA



 
Film Hollywood karya sutradara Indonesia "  Brush with Danger " masuk nominasi Oscar bersaing dengan film Hollywood alinnya seperti :   "  Interstellar, Fury, Fox Catcher,dan The Hunger Games : Mockingjay Part 1.  "
 
NusanTaRa.Com          Brush with Danger, merupakan sebuah film produksi Hollywood karya sutradara kelahiran Indonesia, Livi Zheng.  Film tersebut  telah dipilih  Academy of Motion Picture Arts and Sciences  masuk ke dalam seleksi nominasi pemilihan piala Oscar tahun 2015 yang akan bersaing dengan film - film Hollywood lainnya seperti  Interstellar, Fury, Fox Catcher, dan The Hunger Games: Mockingjay Part 1.   Brush with Danger sudah tayang di kota - kota besar di Amerika  sejak tanggal 19 September 2014 di antaranya :  New York City, Los Angeles, Seattle, Cleveland, Washington DC, San Francisco, San Jose, Austin dan Dallas.  

Livi zheng terbilang sutradara baru di dunia perfileman Hollywood,  ia mulai mengenal dunia film  dengan menjadi krue film dan ikut bermain film sebagai peran pembantu dan stundwoman, dari situlah ia mulai mengamati dan mempelajari secara otodidak pembuatan film seperti cara memproduksi film dan bagaimana berperan dengan baik.   sebelum ia mendapat dorongan dari dalam diriya untuk mengembangkan bakat tersebut  menjadi sutradara.   Satu hal yang ia pegang  bahwa kerja  merupakan kunci penting bagi dirinya untuk memasuki dunia sineas tersebut khususnya sebagai Sutradara, karena Hollywood bukanlah arena biasa  " Disini banyak orang beradu nasib dengan berbagai multi talenta yang tinggi, terkadang banyak kalangan sineas yang mengejar karier disini harus berakhir dengan mimpi karena tingginya tingkat persaingan dari berbagai penjuru dunia,  sehingga  kerja keras adalah kunci utama " tandas Livi.

Livi Zheng merupakan seoramg gadis yang terdorong oleh keinginannya yang  tinggi untuk menjadi orang sukses, sehingga pada usia 18 tahun ia meninggalkan sekolah SMA dan latihan Wu Shunya di Beijing menuju Amerika untuk mengejar impiannya menjadi orang yang berarti dan akhirnya mengatarkan dirinya menjadi seorang sutradara muda di Hollywood.  Merupakan wanita kelahiran tanah air Indonesia tepatnya di Kota Belitar Jawa Timur pada 03 April 1989 sedangkan Ken Zheng merupakan adiknya,  seorang pemula dalam dunia film sekaligus membantu dalam membuat naskah film tersebut yang merupakan atlit Wu Shu dari DKI dan meraih juara Nasional pada Kejuaran WusHU Nasional tahun 2011.

Film Brush with Danger merupakan produksi pertama Livi Zheng yang kisahnya terinspirasi dari kisah temannya yang berasal dari Ethiopia yang sangat mengenaskan.   Sahabatnya tersebut mengisahkan perjalanan hidupnya melarikan diri dari negara Ethiopia karena peperangan yang selalu berkecamuk dan membuat hidupnya selalu terancam, Di Amerika ia berusaha bekerja keras dengan harapan suatu saat ia dapat menjemput kekasihnya untuk hidup bersama dirantau, ketika ia mempunyai cukup uang ia pulang kekampung untuk menjemput sang kekasihnya namun apa nyatanya sang kekasih telah menikah dengan pria lain. 

Dasar alur kisah sahabatnya tersebutlah yang diarensemennya dalam betuk kisah film produksi pertamnya yaitu "  Brush with Danger  ",  mengisahkan perjuangan  hidup kakak beradik yang datang dari daratan Cina ke Seattle, Washington Amerika Serikat dengan menumpang kapal konteiner secara ilegal terdorong sulitnya hidup dikampung dan dorongan untuk meraih kesuksan hidup di rantau.   Sang kakak bernama Qiang Alice yang diperankan oleh Livi, adalah seorang pelukis dan sang adik bernama Qiang Ken  merupakan seorang petarung di film ini.

Untuk mempertahankan hidup di negeri Paman Sam mereka mencari nafkah dengan menjual lukisan karya sang kakak dan mengamen dengan melakukan atraksi bela diri di pasar lokal bahkan hingga ke hidup di jalan-jalan.   Karena kepolosannya, mereka terjebak masuk ke dalam cengkeraman seorang pebisnis gelap yang selama ini telah memalsukan lukisan karya pelukis ternama di dunia.   Adalah Jutus Sullivan (Norman Newkirk)  yang tertarik membeli lukisan milik Alice untuk dipajang di sebuah galeri.  Singkat cerita, ketika Sullivan melibatkan Alice untuk mencari karya Van Gogh, yang telah lama hilang, ia justru terjebak dalam skema pembunuhan dan berupaya untuk menghindari kejaran polisi dan pelaku kriminal yang mencarinya. 

Brush with Danger merupakan sebuah film yang bergenre aksi seni bela diri yang diperankan oleh Livi Zheng (Aktris utama), Ken Zheng (Aktor utama) serta  Norman Newkirk,  Nikita Breznikov, sutradara dan produser oleh Livi Zheng,  Writer Scrip Livi Zheng,  Zane Thomas Produser eksekutif  dan film diproduksi perusahaan berbendera  Sun and Moon Films.  

Livi Zheng berujar tidak  mudah tantangan yang harus dia hadapi untuk berkiprah sebagai produser muda film di Hollywood,  ia harus dapat meyakinkan mitra-mitranya  yang merupakan orang-orang yang  memiliki jam terbang tinggi di industri perfilman Hollywood.  “Awalnya mereka meragukan saya karena saya masih muda (35 tahun),  orang Asia pula dan  status saya seorang perempuan dimana status tersebut di Hollywood  didominasi laki-laki. ”  ujar Livi Zheng tertawa.

Secara formal  Livi memang tidak pernah belajar tentang film malah selama di AS ia  kuliah S1 jurusan ekonomi di Washington University, Seattle. Paling-paling dia mengambil kursus-kursus singkat mengenai film dan ia  lebih banyak belajar dari  lokasi syuting ketika tidak ada jam kuliah serta menyimak banyak  hal yang tidak bisa dipelajari di kelas,” katanya.

Saat ini Livi tercatat sebagai mahasiswi S2 jurusan sutradara di University of Southern California (USC) yang akan merilis Film keduanya tahun 2015 yang bergenre Aksen bela diri. Film ini berkisah tentang dua saudara yang dikaruniai indra keenam dan mengalami jalan hidup yang pahit lantaran kelebihan yang mereka punyai. Genre-nya masih tetap, yaitu film action dengan konten beladiri.  “  Sebenarnya untuk film kedua ini kita ingin syuting di Indonesia. Saya sudah bawa produser ke Jakarta untuk melihat lokasi. Tapi karena ada berbagai kendala di sini, akhirnya diurungkan,”  ujar Livi, yang beranggapan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi tanah kelahirannya, tetapi juga salah satu sumber inspirasi misalnya dia memasukkan unsur gamelan dalam musik di filmnya dan ia juga mengaku antusias untuk melakukan syuting di Indonesia dan berkolaborasi dengan insan film tanah air.                                                                                                                                                              
 byRianSyahputra
http://images.detik.com/content/2014/11/04/229/livdlm.jpg
Livi saat Syuting " Brush With Danger "
Benyamin S aktor kondang anak Betawi,
Berkarya di dunia seni membentuk persahabatan saling menghargai..

Jumat, 02 Januari 2015

NIGHT GLORIOUS OF HAPPY NEW YEAR 2015 SINGAPORE





NusanTaRa.Com        SG 50, Merupakan satu icon program Kota Singapore yang dilaksankan secara serentak dan menyeluruh untuk penyambutan Happy New Year 2015 Singapore dengan berbagai paket seperti 25.000 bola harapan yang mengambang di Marina bay,  Konser Out Door, Karnaval, Bazaar tepi, Pemantauan beberapa titik perayaan, Penyiaran terpadu, Kembang api 30 menit  Laguna Marina Bay, dan Account down hingga tahun 2015 di pusatkan di sekitar Marina Bay,  sebagai ungkapan kuat masyarakat Singapore memasuki 50 tahun kemerdekaannya.

Mengunjungi Kota Singapore suatu hal yang sangat menyenangkan disaat libur terlebih bila kita dapat menikmati malam tahun Baru di kota termegah se Nusantara sehingga tak salah bila kota  ini termasuk 10 kota besar di Dunia.  Banyak titik pusat kota yang sangat menyenangkan untuk dikunjungi baik untuk sekedar jalan-jalan,  shoping, kuliner dan untuk menikmati malam New Year 2015 yang saya lakukan.


Marlion Park, merupakan salah satu tempat yang sangat baik menjadi tempat tujuan untuk menikmati malam tahun baru di Singapore, meski banyak tempat lain juga menyelenggarakannya seperti di seputaran River Side, Orchard  Center,  Marine Bay Sand, China Town, atau bersama keluarga di Pubb bangunan pencakar langit namun marlion park pusat kegiatan new year yang sangat Glorious.   Dari Marlion  saya dapat menikmati keagungan Patung SingaIkan (Marlion/kepala singa badan ikan tinggi 8,6 m) yang dibangun Inggris  Sir Stanford Raffles tahun 1964,  Bola-bola yang mengapung di Laguna dapat berubah berbagai warna bagai alunan musik, Menikmati kuliner dan musik di Restoran sepanjang laguna, atau menyaksikan Keindahan Marina bay sand sebuah bangunan tinggi berpilar tiga menopang perahu dengan cahaya gemerlap.

Sekitar jam 12.00 WS (Waktu Singapore) Rabu, 31 Desember 2014 saya menuju Marlion park untuk observasi lokasi tempat menyambut New Year 2015.  Ternyata sepanjang jalan Fullerton telah di pasangi pembatas pagar besi serta Polisi penjaga sehingga jalan tersebut tak bisa dilalui kendaran hingga ke Esplanada Bridge, Raffles Avenu street hingga ke Bayfront Bridge Marina Bay Sands.  Saat ini telah banyak pengunjung yang memasuki anjungan disepanjang Marina bay untuk mendapatkan tempat yang nyaman.   Untuk tribun terbuka (multi-Purpose/tempat penyelenggaraan konser besar) dekat  Helix Bridge  telah banyak remaja yang berkemah didepannya bahkan ada yang telah dua hari menginap di tempat tersebut sedangkan  dekat Patung Marlion  hamper tidak ada  tempat kosong.



Melalui jembatan penyeberangan Fullerton dari sebuah bangunan HSBC, disepanjang jembatan tersebut stand  penjualan barang bermerek exclusive harga tidak ada di bawah $ 1.000 (dolar Singapore), setelah itu melewati Hotel Fullerton yang terlihat sibuk dengan acara New Year 2015nya, terus menuju Marlion Scapture sepanjang anjungan, restoran  dan sekitar Marlion Scapture penuh dengan pengunjung  untuk menikmati malam spesial  tahun baru tersebut bersama keluarga sambil berpoto mengabadikan keindahan dilokasi tersebut seperti Marlion Scapture yang mengeluarkan air dari mulutnya,  Bangunan Marina Bay sand yang memukau, Gedung pencakar langit disekitar Marlion Park yang berhias gemerlapnya lampu serta menikmati alunan musik disekitar.


Pengunjung disepanjang Tepian Esplanada juga tak kalah seru dari berbagai kaum memenuhi anjungan tersebut kadang terlihat dan terdengar logat Jakarta, Jawa, Batak, Manado disamping China, Malayu, India, Arab, Bule dan Afrika.  Disepanjang anjungan ini terdapat dua pentas musik all Night dekat esplanade dan tribun outdoor multi-purpose.   Tribun outdoor  dipenuhi penontong dan menjadi tempat resmi  pembukaan tahun baru yang dilakukan wakil perdana menteri Singapore  serta penampilan musik multi etnis yang ada.   Semakin larut Glorious semakin memuncak bola-bola ditengah Laguna menampakkan warna-warni indah mengikuti irama, Cahaya bangunan pencakar langit semakin Beautifulfull,  serta dentuman musik dari  pentas dekat Esplanada menampilkan artis Singapore  Drew Rivera dengan lagu-lagu Lionel Richie membuat beberapa pengunjung harus bergoyang pinggulnya.  Sementara dari tribun outdoor multi-purpose menampilkan hiburan yang lebih menggelegar dengan musik berbagai etnis seperti Barat, China, India dan Melayu, bahkan saya sempat mendengarkan Kucik kucik hwu Tahe.

Pembukaan  acara new Year 2015 di dahului sambutan oleh Deputy Ministry of Singapore TEO CHEE HEAN tentunys dengan berbagai harapan dan pesan buat semua warga Singapore yang memasuki  50 tahun kemerdekaannya.   Mendekati perlintasan waktu ke 2015 dilakukan COUNT DOWN hingga ke zero dan memasuki 2015 Pesta kembang api selama 30 menit dimulai dengan berbagai warna yang menyala keangkasa menghiasa bumi Singapore dengan latar banguna pencakar membuat malam tersebut semakin Glorious diiringi tepuk tangan dan suara riuh para peserta di sepanjang anjungan Marina Bay.   Terlihat para pengunjung saling berpelukan  dan bersalaman sebagai ungkapan gembira memasuki 2015 serta mengabadikan detik special tersebut baik melalui HP, Tab dan Kamera  dengan memphoto pesona Kembang api serta latar bangun berhias cahaya yang  ditembakkan dari Boat Touris yang ada di tengah Laguna.

Kesan yang tak kala menariknya dari saya dalam mengikuti Night New Year 2015, saat pulang di persimpangan Boat Quay street River Side bertemu seorang Jawa bermotor hiasa dengan lampu yang cantik kemudian memutar musik Lagu Jawa “ Stasiun Balapan “ hingga tak sadar aku menggoyangkan badan Ala joget kemudian di ikuti beberapa pemuda sekitar tersebut seperti dua pemuda India, Cina, Bule dll,  Assiiiikkkk.
ByBakriSupian.


Marlion Singapore Patung Ikan berkepala Singa,
Singapore negara multi etnik yang kaya akan berbagai Budaya.

Kamis, 01 Januari 2015

" TERASI " PENYEDAP RASA WARISAN NUSANTARA





















NusanTaRa.Com.    Penyedap rasa merupakan bumbu yang ditambahkan pada masakan agar dapat lebih memberikan rasa lebih enak dan menimbulkan rasa khas dari masakan tersebut.   Nusantara negeri yang kaya akan fauna dan flora sebagai bahan dasar pangan dengan sendirinya mengilhami penduduk daerah tersebut untuk memiliki berbagai menu masakan yang dapat dibanggakan bahkan sitandeng dengan masakan dunia lainnya,  sebut saja Coto Makassar, Gado-Gado,  Nasi Kuning, Soto Banjar, Empe-empe Palembang dan sebagainya bahkan banyak diantaranya telah disajikan sebagai kuliner Internasional.

Kekayaan budaya kuliner bangsa Indonesia tentunya tidak lepas dari banyaknya rempah dan bumbu yang menjadi penyedap masakan yang terdapat di Indonesia seperti Cengkeh, Merica, Garam, Pala, Kayu Manis, Serai dan masih banyak yang lainnya.  Diantara bumbu tersebut Indonesia juga memiliki Bumbu Penyedap rasa yang dapat dibanggakan sebagai produk Nusantara  dan  mampu memberikan satu cita rasa masakan yang sangat enak yaitu TERASI,  semisal jika anda membuat menu Sambal, Gado-Gado, sayur,  masak daging dan ikan jika diberikan penyedap rasa Terasi maka akan menjadi lebih gurih.

Terasi sebenarnya penyedap rasa yang fungsinya mirip dengan Vetsin (Monosodium Glutamat) seperti merek Ajinamoto, Sasa dan Miwon yang awalnya kita kenal merupan produk Jepang tapi sekarang telah berhasil diproduksi oleh industry dalam negeri sendiri.    Vetsin umumnya bahan dasar pembuatannya dari Tebu sementara TORASI penyedap rasa yang diperbuat dari Udang dan Ikan kecil yang diperoleh dari hasil tangkapan di laut.

Mencari daerah asal pembuatan Terasi tentunya bukanlah hal yang muda karena kita harus memutar balik berbagai sejarah kejadian untuk mendapatkan sumber yang benar,  Dari berbagai sejarah yang ada saya menemukan sejarah Tuban, Cirebon, Ambon,  Bagan siapi-api, Thailand, Pare-Pare, Sidoarja yang dalam sejarahnya sejak dulu kala telah mengenal pembuatan TERASI dan sebagian besar diantaranya hingga kini masih memproduksi terasi.

Buku “ Jaringan Asia “ by Denny Lombard  1996, menyebutkan bahwa tahun 1387 M di daerah Lasem Pantai utara Pulau Jawa  ditemukan petakan sawah dan tambak-tambak ikan yang diperuntukkan sebagai tempat pembuatan Terasi.   Catatan kaki De Haan pada sumber yang sama, De Haan mengutip “ Priangan “ sebuah tanah kecil di Pamotan milik raja yang diperuntukkan sebagai tempat pembuatan terasi bagi keperluan Keraton, dan dalam catatan itu bahwa Terasi disebut sebagai Belacan.

Kota Cirebon menurut beberapa catatan sejarah mendapatkan nama tersebut terkait dengan pembuatan Terasi.   Tahun 1445 dipesisir pantai Cirebon banyak ditemukan rumah-rumah kecil sebagai tempat pembuatan terasi dengan peralatan Lumpang dan Alu warga desa disekitarnya banyak yang datang kedaerah tersebut untuk membeli Cie-Rebon (Udang Rebonbahan dasar pembuatan terasi) atau terasi, sehingga sejak tahun 1447 daerah tersebut resmi disebut dengan nama Cirebon.

Diperkirakan terasi atau belacan telah dikenal penjelajah Eropah dari negeri kepulauan Nusantara sejak akhir abad ke 17.    Tahun 1880-an Penjelajah Natural asal Inggris, Henry Ogg Forbess dan istrinya Anna Forbess telah menjelajah Nusantra yang bermula di Batavia-Makassar dan Ambon, di Kota Ambon inilah Anna Forbess mulai mengenal Terasi,  dimana  masyarakatnya bahkan juru masaknya sendiri Kobez (Nyong Ambon manise) banyak menyajikan masakan dengan menggunakan Terasi dan beliau sendiri mengagumi rasa tersebut meski realitanya ia merasa bau yang menyengat dan menjijikkan awalnya,  dalam salah satu catatannya ia menulis “ Sari barang busuk (terasi) itu telah digunakan sebagai bumbu “.   Seabad kemudian kisah perjalanan tersebut diterbitkan dalam buku berjudul " Unbeaten Tracks in Islands of The Far East ".  

Mungkin catatan  tertua  tentang Terasi bagi penjelajah  Eropah ditorehkan   William Dampier,  penjelajah Inggris pertama yang mengelilingi dunia sebanyak tiga kali sejak 1679 – 1691 dan telah mendarat di Australia 80 tahun sebelum Kapten James Cook mendarat di sana.   Dalam catatan penjelajahan Dampier berjudul " A New Voyage Round the World "   terbit tahun 1707,  tercatat  Dampier  sempat mampir di daerah Ambon mengungkapkan dan mengungkapkan  “ Sebuah komposisi bau yang kuat  namun menjadi hidangan yang lezat bagi penduduk asli “ dan "  Campuran udang dan ikan kecil dibuat semacam acar lembut ditambah garam dan air dimasukkan dalam bejana dari tanah liat yang tertutup rapat ".

Bagi saya yang menetap di daerah Perbatasan Kalimantan Utara, peranan terasi dalam masakan sangat terasa hingga tahun 1968 teringat ketika makan sayur tumis dan sambal saat itu yang berbumbu Garam dan terasi terasa sangat lezat,  setelah tahun itu keberadaan Vetsin telah memasuki daerah Kalimantan Utara yang tentunya banyak mempengaruhi masakan saat itu.

Diperkirakan keberadaan terasi di Daerah Cina selatan dibawa  pedagang dari Asia tenggara dan Indo-China sebagaimana bumbu kari dari India.    Periode tahun 1928-1931  usaha perikanan di daerah pesisir sumatera seperti Medan dan Bagan Siapi-api mencapai kejayaannya sehingga daerah ini banyak mengirimkan ikan dan Terasinya ke Jawa, Madura bahkan ke China Selatan hingga berpuluh ribu ton per tahunnya.

Saat ini produksi Terasi tentunya telah jauh berbeda dengan tempo Doeloe yang umumnya berupa pasta agak basah yang dibungkus anyamana daun dan sangat berbau, sekarang Terasi sangat bagus cita rasa yang baik, aroma kurang menusuk, dalam berbagai kemasan dibungkus plastic, kotak, kaleng bahkan ada yang berupa serbuk kering.   Daerah di Nusantara yang masih potensial dengan produksi Terasi seperti Ambon, Pare-Pare, Bitung, Bontang, Sidoarjo, Bima, Tuban, Cirebon, Bagan siapi-api dan masih banyak yang lainnya.

Tahun 2010 ketika saya berkunjung ke Kota Bontang yaitu daerah Kuala Bontang suatu pemukiman nelayan di atas air dimana banyak pengusahanya mendapat binaan dari PT. LNG Bontang, nelayannya banyak memproduksi berbagai  jenis terasi dengan cita rasa yang bagus.  Bima merupakan satu sentera produksi Terasi yang sangat popular dilaksanakan para nelayan dan pengusaha kecil dengan berbagai model produk dan cita rasa.

Cara pembuatan Terasi :  Bahan dasarnya Udang dan Ikan kecil (umumnya udang Rebon), Garam dan  Pewarna.  Udang atau Ikan di Jemur, setelah agak kering di Tumbuk halus,  dijemur lagi sampai kering kemudian ditambah garam secukupnya (berfungsi pengawet dan penambah rasa)dan zat pewarna (merah)  ditumbuk lagi kemudian disimpan dalam bejana tertutup dalam dua hari setelah itu dapat dikemas atau dapat dibuat serbuk halus dengan ditumbuk halus kemudian di panaskan hingga kering.  Selamat mencoba.

Jika anda membutuhkan terasi anda dapat menghubungi alamat di bawah ini, 
1.  TERASI LOMBOK
     Kampung Media At Tabayyun
    Alamat : Jl. Balok Datok, Km 1 Montong Gamang - Janapria, Kopang Lombok Tengah 83554          Tlp.  081936772005 (XL, 081232197234 (TELKOMSEL) BB . Pin 25B9A3E1.

2.  LANDI FOODS - BONTANG
     Jln. Ternate 8 HOP E No. 57
     Bontang, Kalimantan Timur-Indonesia
     Telp. (0548) 557415 -  E-mail :  herlinawhd@yahoo.co.id
byBakriSupian





Terasi terbuat dari Udang dan Ikan Kocil,
Terasi penyedap rasa warisan budaya bercitarasa lokal.

Selasa, 30 Desember 2014

PRIYAYI MAKASSAR DI LEGIUM FRANCIS ABAD 17

"   Atas dasar kelas sosial dua bocah Tanah Daeng, Raja Louis XIV bertanggung jawab memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan mereka di Prancis.   "

 

NusanTaRa.Com       Kisah ini bermula dari sebuah drama di perkampungan Makassar di Ayuthia, Negeri Siam—kini Thailand—pada akhir abad ke-17. Seorang pangeran Makassar, bernama Daeng Mangalle, telah dituduh terlibat dalam persekongkolan muslim yang berencana membunuh Raja Siam.


Akhirnya, tuduhan yang belum terbukti itu telah berujung pada tewasnya Daeng Mangalle dan orang-orang Makassar dalam suatu penyerbuan militer atas perintah Sang Raja. Lelaki ningrat asal Makassar itu meninggalkan dua orang anak berusia belasan tahun. Namanya, Daeng Ruru dan Daeng Tulolo. 


Mungkin karena iba, kantor perwakilan dagang Prancis di Siam memberi kesempatan kedua pangeran malang itu untuk belajar ke Prancis. Pada masa itu pendidikan militer untuk anak lelaki telah menjadi tradisi kebanggan kerajaan-kerajaan Nusantara.


Saat itu pelayaran ke Eropa sungguhlah lama. Keduanya berlayar dengan kapal Coche menuju Eropa pada akhir November 1686, dan baru berjejak di Prancis pada September 1687. Setelah dibaptis, mereka mendapatkan nama kehormatan—bak Raja Prancis. Daeng Ruru bergelar Louis Pierre Makassar, sementara saudaranya Daeng Tulolo mendapat gelar Louis Dauphin Makassar.


Sebagai anak dari tanah seberang benua dan samudra, keduanya mendapat pengajaran bahasa Prancis di kolose jesuit Louis le-Grand. Lembaga sekolah yang didirikan akhir abad ke-16 tersebut, hingga kini masih mengajarkan nilai tradisi Prancis dan mempertahankan tradisi keterbukaan terhadap dunia luar. Setidaknya sepersepuluh dari siswanya selalu berasal dari penjuru dunia. 


Setelah lulus dari kolose jesuit itu mereka diterima di sekolah tinggi Clermont yang bergengsi. Kemudian, keduanya mendapat rekomendasi dari Louis XIV untuk melanjutkan ke sekolah perwira angkatan laut yang pada sohor sebagai perintis sekolah marinir di Prancis. Salah satu syarat untuk diterima menjadi kadet adalah si calon harus berusia di bawah 18 tahun dan berasal dari keluarga ningrat.


Karir marinir Daeng Ruru meroket. Dia lulus tercepat dengan menempuh sekolah selama dua tahun. Pangkatnya letnan muda pada usia 19 tahun—setara letnan di angkatan darat. Setahun kemudian dianugerahi pangkat letnan angkatan laut.


Bantuan keuangan sungguh diperlukan, lantaran Ruru tak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga uang. Tak seperti kakaknya yang berkarir melejit, Daeng Tulolo harus menanti 13 tahun lamanya untuk mendapatkan pangkat letnan muda.


Masa-masa keemasan kedua ningrat itu kian mendekati akhir. Pada 1707, Daeng Ruru bertugas di sebuah kapal yang menyergap kapal-kapal militer Belanda dan membantu armada Spanyol untuk memerangi Inggris di Havana. Ironisnya, Pada 19 Mei 1708 Daeng Ruru tewas karena perkara yang tidak jelas. 


Sementara itu, Daeng Tulolo yang karirnya mentok berpangkat letnan muda, melanjutkan dinasnya di sebuah kapal India. Dia wafat 30 November 1736. Beberapa kolega angkatan laut menghadiri penghormatan terakhir kepada Sang Louis Dauphin Makassar. Suatu kehormatan, keturunan raja-raja Makassar itu dimakamkan di tempat terhormat dalam Gereja Saint-Louis de Brest, barat laut Prancis.

Demikianlah kisah dua bangsawan asal Tanah Daeng yang mengembara hingga ke Prancis. Tampaknya hubungan antara orang Prancis dan orang Indonesia sudah terjalin sejak ratusan tahun silam.
(Mahandis Y. Thamrin/NGI. Sumber: Bernard Dorleans, "Orang Indonesia dan Orang Prancis Dari Abad ke XIV sampai dengan Abad XX".)
by,  NGI, 17 Juli 2013.



Pa' Bambangan Na Tolo istilah  anak Makassar,
Hidup yang baik haruslah memiliki Hati yang baik dan Jujur.

SUKU SEKO TO LEMO DI JANTUNG SULAWESI (SULSEL-SULBAR-SULTENG DAN SULTRA)

NusaNTaRa.Com            byIndaHPalloranG,       J   u   m   a   t,    2   1     A   g   u   s   t   u   s     2   0   2   6             Se...