Selasa, 06 Maret 2012

SWORD OF PROPHET MUHAMMAD Saw

Sword of Prophet Muhammad Saw.
by Bakri Supian



Dalam sejarah da’wah Islam di zaman Nabi Muhammad saw tak luput dari peperangan untuk menegakkan siar Islam dari berbagai ancaman, sebagai pemimpin ummat islam saat itu membuat Nabi Muhammad saw harus turun kekancah peperangan bersama pengikutnya baik sebagi suri teladan maupun sebagai pemimpin.   Karena perjalanan Hidup nabi inilah yang mengharuskan Beliau memiliki Pedang sebagai alat pertempuran saat itu, dibawah ini di Paparkan beberapa Pedang  yang pernah Nabi Muhammad saw gunakan semasa hidupnya yang ditemukan diberbagai daerah.   
                                   
     1. Al-Battar.

Pedang ini digelar "Pedang Para Nabi ", sebuah pedang Nabi Muhammad SAW  yang bernama Al-Battar hasil rampasan dari Banu Qaynaqa,  di dalam pedang ini terdapat ukiran Arab bertulisan nama Nabi : 'Nabi Daud AS, Nabi Sulaiman AS, Nabi Musa AS, Nabi Harun AS, Nabi Yusuf AS, Nabi Zakaria AS, Nabi Yahya AS, Nabi Isa AS, Nabi Muhammad SAW'. Di dalamnya juga terdapat gambar Nabi Daud AS ketika memotong kepala dari Goliath pemiliki awal dari pedang ini serta tulisan Nabataean.   Pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 101 cm. Menurut beberapa kisah pedang ini yang akan digunakan Nabi Isa AS untuk mengalahkan Dajjal kelak ketika kembali kebumi.                
                                                                         
     2.   Al-Mikhdham 

Pedang ini memiliki dua persih kisah :
1). Merupakan Milik Nabi Muhammad Saw yang diberikan pada Ali bin Abi Rhalib yang diteruskan kepada anaknya Ali.  2).  Pedang Ini milik Ali bin Abi Thalib hasil rampasan perang yang dipimpinnya di Syria.   Sekarang Pedang ini tersimpan di Museum Tokapi Istambul berbentuk Blade Panjang 97 Cm, berukiran Arab bertuliskan “ Zayn al-Din al-Abidin “. 
    
3. Al-Qadib                   
          
Pedang ini adalah Pedang pertahan diri Nabi saat bepergian tapi bukan buat peperangan,  disebut Al-Qadib sejenis Blade tipis menyerupai tongkat. Di samping pedang tertulis ukiran perak yang berbunyi syahadat: "Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad Rasul Allah - Muhammad bin Abdallah bin Abd al-Mutalib." Pedang hanya berada di rumah Nabi Muhammad SAW  dan kemudian digunakan oleh khalifah Fatimid. Pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Panjangnya 100 cm dan memiliki sarung berupa kulit hewan yang dicelup indah.          

      4.   Dhu Al-Faqar   

Dhu Al-Faqar Pedang milik Nabi Muhammad SAW sebagai hasil rampasan  perang Badr. Kemudian oleh Nabi Muhammad SAW  pedang ini diberikan kepada Ali bin Abi Thalib.   Ketika Perang Uhud Ali mengembalikannya, ketika itu Ali dalam keadaan bersimbah darah dari tangan dan bahunya membawa Dhu Al-Faqar di tangannya.  Sumber lain mengatakan bahwa pedang ini milik Ali Bin Abi Thalib dan keluarga. Berbentuk blade dengan dua mata.

5.     5.  Al-Rasub

     Pedang ini di rumah Nabi Muhammad SAW sangat terjaga oleh keluarga dan sanak saudaranya seperti layaknya bahtera (Ark) yang disimpan oleh bangsa Israel.   Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 140 cm, mempunyai bulatan emas yang didalamnya terdapat ukiran tulisan Arab yang berbunyi: 'Ja'far al-Sadiq'. 

           6. Al-Mat’thur.

Lebih Populer dengan sebutan 'Ma'thur Al-Fijar' sebuah pedang Nabi Muhammad SAW sebelum dia menerima wahyu yang pertama di Mekah. Pedang ini diberikan  ayahnya, waktu hijrah pedang ini dibawa serta dari Mekah ke Medinah sampai akhirnya diberikan bersama-sama dengan peralatan perang lain kepada Ali bin Abi Thalib.  

Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 99 cm. Pegangannya terbuat dari emas dengan bentuk berupa 2 ular dengan berlapiskan emeralds dan pirus. Dekat dengan pegangan itu terdapat Kufic ukiran tulisan Arab berbunyi: 'Abdallah bin Abd al-Mutalib'.  

7.  Al-Adb
Pedang Al-Adb satu pedang nabi yang tersimpan di Masjid Husain Kairo Mesir. Pedang ini dibagi-bagikan pada sahabat Nabi Muhammad Saw sesaat sebelum perang Badar dan Nabipun menggunakan Pedang ini saat Perang Uhud yang diikuti para pengikutnya sebagai tanda kesetian pada Nabi Muhammad Saw. Nama Al-'Adb pedang ini berarti “memotong atau Tajam”.  

8.  Hatf
Merupakan satu koleksi pedang Nabi Muhammad SAW yang juga  hasil rampasan dari Banu Qaynaqa yaitu pedang Hatf.   Sebuah kisah bahwa Nabi Daud AS merampas pedang dari Goliath yaitu Al-Battar ketika dia berhasil mengalahkan Goliath tersebut pada saat umurnya 20 tahun,  kemudian Allah SWT memberi kemampuan kepada Nabi Daud AS untuk 'bekerja' sebagai pandai besi  membuat baju baja, senjata dan alat perang  sehingga senjatanya sendiripun ia yang buat seperti Hatf,  menyerupai Al Battar tetapi lebih besar.  Dia menggunakan pedang ini kemudian disimpan oleh suku Levita (suku yang menyimpan senjata-senjata barang Israel) dan akhirnya sampai ke tangan Nabi Muhammad SAW.  Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade, dengan panjang 112 cm dan lebar 8 cm.  

9.  Qal’a
Pedang ini merupakan salah satu dari tiga pedang Nabi Muhammad SAW yang diperoleh sebagai hasil rampasan perang dari Bani Qaynaqa, kelainan pedang ini dari lainnya terletak pada desainnya yang berbentuk Gelombang.   Namun ada juga cerita yang mengatakan bahwa kakek Nabi Muhammad SAW menemukan pedang ini ketika dia menemukan air Zamzam di Mekah.   Pedang ini dikenal sebagai "Qal'i" atau "Qul'ay." Nama yang mungkin berhubungan dengan tempat di Syria atau tempat di dekat India-Cina.  Ulama negara lain bahwa kata "qal'i" merujuk kepada "timah" atau "timah putih" yang di tambang berbagai lokasi.   Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 100 cm. Didalamnya terdapat ukiran bahasa Arab berbunyi: " Ini adalah pedang mulia dari rumah Nabi Muhammad SAW, Rasul Allah ".



Perang Badar Perang Kandak,
Meski dengan Pedang Islam harus Tegak.

Sabtu, 03 Maret 2012

HARAPAN PADA PERTANIAN AGROEKOLOGIS


HARAPAN  PADA  PERTANIAN   AGROEKOLOGIS

 by  Bakri Supian
Kerusakan Lingkungan yang hampir menyentuh semua aspek kehidupan dan kegiatan di muka bumi ini telah terasa sangat nyata mengancam kehidupan di Planet bumi dalam hal ini rumah kehidupan manusia,  dampak ini telah memasuki pada lingkup krisis  pangan dunia sebagai dampak kelanjutan dari anomali iklim yang mempengaruhi pola pertanian produktip.

Penanganan Krisis Pangan sekarang ini menuntut pengembangan Pertanian berbasis pengolahan lahan atau tanah yang ramah Lingkungan kerennya Agroekologi sebagai jawaban untuk meningkatkan ketahanan pangan dimana sistem pertanian menerapkan konsep yang sesuai proses alami yang dapat menjaga keseimbangan ekologi seperti  pembiakan varietas  yang memberi hasil tinggi dan dapat berfungsi sebagai  tanaman konservasi dalam menjaga ekosistem lahan. 
 
Menurut Special Rapporteur PBB untuk Hak Azasi Memperoleh Pangan Oliver De Schutter, Agroekologi salah satu  cara pengembangan Pertanian yang memiliki kaitan konseptual kuat dengan Hak azasi manusia memperoleh pangan, cara ini dinilai mampu memberi  kenaikan produksi cukup tinggi dan meningkatkan kesejahteraan petani kecil miskin dan mendukung pertanian berkelanjutan.

Meniru Proses Alami
Dinyatakan juga bahwa agroekologi merupakan ilmu dan perangkat praktek pertanian yang terdiri dari dua disiplin ilmu agronomi dan ekologi yang diwujutkan dalam aplikasi ilmu lingkungan pada study, disain dan manjemen agroekosistem yang berkelanjutan.  Sebagai perangkat perangkat praktek pertanian,  agroekologi mencari cara pertanian  yang mirip proses alami dengan keseimbangan  atau kestabilan sumberdaya alam berkelanjutan yaitu terjadinya interaksi dan sinergi biologis yang harmonis diantara komponen komponen agroekoistem.  

Prinsip dasar agroekologi tidak lepas dari menyiapkan kondisi tanah yang paling baik bagi pertumbuhan tanaman khususnya pengolahan tanah  dengan penggunaan bahan organic dan meningkatkan aktivitas biotic tanah berupa pengutamaan daur ulang hara dan energy pada lahan pertanian ketimbang penggunaan asupan dari luar, integrasi tanaman dengan ternak, penganeragaman spesies dan sumberdaya genetic dalam agroekosistem dan lebih menekankan pada interaksi  dan produksi ketimbang pada spesies individual.

Pendekatan Teknis.
Penerapan tehnolgi ini tentunya menggunakan pendekatan-pendekatan tertentu yang konsepnya tak lepas dari pengolahan lahan berbasis lingkungan dengan hasil akhir  produksi yang maksimal, meliputi pemeliharaan dan introduksi keragaman hayati pertanian, manajeman hara terpadu, penampungan dan penyimpanan air (water harvesting)  seperti  Tumpangsari anti serangga sekaligus bisa dijadikan pakan ternak di kebun jagung di Kenya dan telah dikembangkan di kawasan Afrika Timur.  Pemeliharan Itik  pemakan Gulma, serangga dan hama lainnya dipersawahan Padi sebagai pengganti pestisida petani di Jepang, Cara ini telah dikembangkan di China, India, Philipina dan Banglades.

Pendekatan konsep seperti ini menurut laporan PBB tersebut telah meningkatkan hasil pertanian seperti pada 286 proyek Pertanian agroekologis dengan luas 37 ha di 57 negara mencatat kenaikan hasil rata-rata 79 % dan di Afrika mencapai rata-rata 116 %.

Bertanam Jagung di Lahan Perbukitan Tandus,
Hasil Berlimpah dan Berkelanjutan Barulah Sukses. 

Reff.
Sinar Tani No. 3043 thn 2011

PEMBUDIDAYAAN TIRAM DI PLASMA NUTFAH P. TINABASAN

PEMBUDIDAYAAN TIRAM DI PLASMA NUTFAH P. TINABASAN

 by Bakri Supian 

      Tehnik Budidayaan Tiram secara khusus belum ada bahkan pengusahaan secara ekonomis besar-besaran belum banyak ditemukan, namun bila menilik sifat alaminya hidup di habitat mangrove, tahan terhadap perubahan kondisi alam, hidup berkoloni dan menempel pada substrat serta dapat hidup dengan tingkat kepadatan tinggi,  maka pengusahaan hal tersebut tentulah tidak sulit.   Pengembangan ini tentulah sangat penting mengingat Tiram merupakan Panganan yang sangat diminati masyarakat, rasanya lezat, mempunyai nilai ekonomi dan mempunyai khasiat tertentu dan mengingat areal habitatnya yang semakin terbatas tentunya membutuhkan suatu penanganan khusus sehingga dengan  lahan terbatas tapi produksinya dapat ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pasar, tapi untuk produksi yang lebih baik masih dibutuhkan satu penelitian untuk mendapatkan metode Budidaya yang cocok.   

      Habitat  Tiram (Crassostrea spp)  daerah hutan rawa mangrove (mangal) dekat pantai yang masih dalam kawasan pasang surut dengan dasar berupa lumpur dan pasir berlumpur dengan salinitas antara 16 – 32 o/oo,  kondisi ini sangat sesuai dengan ekosistem yang ada di P Tinabasan Kab. Nunukan dengan keluasan 1.807,34 Ha,  dengan tingkat Biodiversity (keragaman hayati) yang cukup tinggi seperti terdapatnya jenis mangrove berupa Avicennia, Rhizophora, Bruguera dan Sonneratia dengan luasan 853,34 Ha dan yang telah dikonversi menjadi lahan tambak  290,10 Ha.   Topografi lain dari pulau ini, mempunyai gusung yang menjorok jauh kelaut terlebih saat surut dengan luasan mencapai 500 Ha,  pulau ini merupakan kawasan plasma nutfah yang potensial  bagi perkembangan berbagai jenis ikan dan udang serta beberapa molusca seperti Tiram, Kerang Dara dan jenis kerang kerangan lainnya. 

      Lahan Budidaya Tiram yang dikelola masyarakat sekarang di P Tinabasan  seluas 14 Ha,  Pengembangan budidaya di pulau ini masih sangat sederhana sebagian besar masih dikelola secara alami dengan pembatasan kawasan hak milik kemudian memanemnya bila tiba musim dan sebagian telah melakukan usaha budidaya dengan Penebaran bibit dan pengawasan tertentu.   Menilik potensi inilah maka Dinas Perikanan dan Kelautan sejak tahun 2004 telah mendirikan dikawasan tersebut Pusat Pengembangan Tiram yang diharapkan dapat mendukung kemajuan Produksi masyarakat dan menjaga fungsi Plasma Nutfah pulau bagi perairan Nunukan.

      Sebelum menebar  bibit Tiram harus dilakukan penyiapan lahan terlebih dahulu berupa pemetakan lahan baik di lahan terbuka maupun di dalam tambak yang berlumpur dan berpasir seluas 50 x 10 m/petak agar memudahkan dalam pengolahan nantinya.  Tehnik pembudidayaan bisa dengan pematokan kayu atau perentangan tali pada lahan tersebut tempat menempel atau berpegangnya Tiram dengan jarak tertentu 30 – 50 Cm yang disusun rapi, bibit yang ada atau yang diperoleh dari alam di lekatkan ke Tiang atau terikat di tali tersebut, khusus yang dalam tambak  bibit tersebut dapat di tanam dalam lumpur karna tidak akan terbawa ombak atau arus air laut.

      Padat penebaran Tiram (Crassostea spp) dalam setiap petakan sebanyak 2000 ekor  spat (bibit tiram)  tiram dewasa dari alam berusia 5 bulan berukuran 5 -7 Cm dan biasanya dalam setiap bibit akan diikuti atau ditempeli 3 – 6 ekor spat (bibit Tiram) yang telah berusia 2 – 3 bulan berukuran 1 – 3 Cm, sehingga dapat diprediksi pada saat panen  produksi yang dihasilkan mencapai 3 – 6 kali dari jumlah padat penebaran.   Panen dilakukan pada saat masa budidaya 1 – 2 tahun dengan melepaskan Tiram dari tempatnya dan jangan lupa menyisahkan ukuran tertentu untuk penebaran berikutnya bila dalam koloni tersebut terdapat bibit yang layak.

      Dengan perkiraan berat daging per Tiram dewasa yang dapat dihasilkan per ekornya sekitar 20 – 45 gram, maka untuk 1 kg daging dibutuhkan 50 – 25 ekor.  Sehingga dengan padat penebaran 6.000 sampai 12.000  ekor pada setiap petakan dapat memproduksi daging Tiram 120.000 kg dan untuk satu hektar tentunya akan menghasilkan 2.4 ton daging tiram yang siap dilego dipasar dengan harga memuaskan untuk pasaran Nunukan seharga Rp 35.000  per kilo Gram.

      Pengembangan Budidaya tiram di kawasan P Tinabasan  di harapkan dapat menjaga  kawasan Plasma Nutfah yang potensial dengan biodiversity tinggi dan fungsi  habaitatnya  dapat mendukung siklus kehidupan produksi ikan dan kerang-kerangan secara alami bagi perairan sekitarnya serta   menjadi sumber potensial alami bagi ketersedian dan kelanjutan produksi hayati di pulau mangrove tersebut.   Khususnya Tiram tentunya diperlukan pola pengembangan yang berencana dan berkeseimbangan serta penataan lahan yang baik dikawasan tersebut.


 Si Omong Nelayan Tiram Tinabasan,
Meski SintinG Uang BerkecukuPan.







Jumat, 02 Maret 2012

Magisnya Tarian Belian (Medicine Dance)

Magisnya Tarian Belian (Medicine Dance)
  



          Sebuah tarian adat yang banyak diketemukan di Nusantara terlebih bila dilihat dalam bentuk nama lain namun pada dasarnya semua itu mempunyai asas yang sama yaitu  tarian  yang berintikan doa pada sang dewa atau pada roh leluhur untuk memenuhi hajat mereka.   Tarian dengan sebutan Belian umumnya banyak diketemukan di daerah Kalimantan khususnya oleh suku-suku asli  seperti Dayak, Banjar, Kutai  dan Tidung dll serta ada beberapa suku asli di Sumatra juga menggunakan nama tersebut dengan tujuan yang kurang lebih sama.

          Tarian Belian merupakan satu persembahan sakral  karena berintikan pada hubungan manusia atau sipembuat hajat dengan hal gaib seperti Tuhan, Mahluk Halus dan Roh Leluhur yang diyakini dapat memberikan satu kekuatan dalam kehidupan nyata, khusus dalam Tarian ini harapan ditujukan untuk Pengobatan apakah itu berupa menyembuhkan orang sakit  dan mengusir atau mencegah penyakit mendatangi sebuah warga kampong serta mengusir roh jahat.  

          Umumnya tarian ini dilakukan  orang-orang yang telah berumur dari kalangan tetua adat atau dukun Kampung yang mempunyai pengertian akan semangat spiritual dari tarian tersebut,  namun pada beberapa daerah juga diketemukan dibawakan oleh anak muda belia baik wanita maupun pria.    Bentuk tarian biasanya si Pesakit ditaruh ditempat upacara atau ruangan yang agak  luas dengan dibaringkan,  disekitarnya ada pembakaran dupa dan sesajian kemudian siBelian atau Penari akan menari-nari disekitarnya atau mengitari sipesakit dengan suara nyanyian mantera daerah masing-masing dengan tangan melambai memegang sejenis Tumbuh-tumbuhan, bulu burung atau  Mandau sesekali sang pawang akan memercikkan air dan menghamburkan beras berwarna kuning pada sipesakit dan sekitarnya ini untuk ritual penyembuhan.  Sedangkan untuk mengusir penyakit dari warga suatu kampong maka pesakitnya tidak ada digantikan dengan semacam sajian atau tonggak yang berhias tumbuhan bermakna magis kemudian menjadi objek sang pawang seperti diatas tapi dengan mantra yang agak berbeda.

          Semua sesajian baik berupa makanan atau dekorasi tumbuhan/hewan  yang di sertakan dalam tempat ruangan tarian belian atau yang diletakkan pada suatu tempat tertentu yang di anggap dapat mewadahi dari sakramen sacral tersebut tentunya dibuat berdasarkan simbolik dan magna ritual tersebut, dan ini biasanya setiap daerah mempunyai motip dan gaya yang berbeda-beda.  

RajaWali Gagah Menari di Angkasa,
Menari Belian Mengusir Penyakit dan Bala.

by Bakri Supian






Kamis, 01 Maret 2012

DAUN GELINGGANG PENYEMBUH PANAU



     Betapa menjengkelkannya ketika bercermin untuk berhias karena akan menemui kekasih atau klein  tiba-tiba kita menemukan ada bundaran kecil dimuka berwarna putih berlainan dengan kulit muka umumnya terlebih bagi yang berkulit Hitam, karena ia merupakan satu penyakit kulit yang disebut Panau bahasa inggrisnya Tinea Versicolor yang disebabkan oleh pertumbuhan jamur.

     Bila terkena problem seperti ini jangan bersedih terlebih bila sampai kehilangan percaya diri karna banyak cara penyembuhannya dan waktunya cukup singkat seperti salep yang banyak dijajakan di Apotik dengan harga murah atau anda ingin mencoba resep obat Tradisonal di Kampung saya Nunukan Kalimantan Timur, penggunaan Daun Gelinggang suatu metode  pengobatan ala herba ini sangat mujarab terlebih bila tekun menggunakannya.

     Cara penggunaannya  : 1.  Ambil 7 – 15 lembar daun Gelinggang akan lebih baik bila daun mudanya.    2.  Sediakan garam secukupnya/sedikit.     3.  Tumbuk halus daun tersebut dan campur dengan Garam, Jadi dehh.     4.  Tempelkan ramuan tadi pada Panau yang bisa membuat pacar anda atau klein anda tak percaya  sesering mungkin minimal 3 kali sehari utamakan sebelum tidur.   Yakin deh 4 hari kemudian SiDia Pasti Nempel balik.  InsyaAllah.

     Tanaman Gelinggang dengan nama ilmiahnya   Cassia  quaderialata  merupakan jenis perdu Besar dengan ketinggian mencapai 5 meter, daun loncong, batang berduri dan bunga berwarna Kuning yang ada di ujung tangkai pohon.  Tanaman ini sering ditemukan di semak semak bersama perdu lain dengan kondisi tanah agak lembab.

    Gelinggang Cassia  quadeialata juga berkhasiat untuk beberapa penyakit kulit lainnya seperti Kutu air dan Kurap serta dapat dijadikan sebagai Insektisida herba untuk memberantas jamur yang menyerang buah dan tanaman dengan mencampur daun Gelinggang 5 ons, Lengkuas 3 ons, Jahe 3 ons, Ekstrak Thitonia kemudian campuran  ini diperas dan disaring .  500 cc ekstrak ini diencerkan dengan 10 liter air, kemudian semprotkan ketanaman 2 kali sehari menggunakan tangki semprot, InsyaAllah ini akan mengurangi pertumbuhan Jamur.  Selamat mencoba.


Lihat semak terlihat Gelinggang, 
Meski tak semarak  tanpa penyakit hidup lebih tenang.

By  Bakri Supian

SUKU SEKO TO LEMO DI JANTUNG SULAWESI (SULSEL-SULBAR-SULTENG DAN SULTRA)

NusaNTaRa.Com            byIndaHPalloranG,       J   u   m   a   t,    2   1     A   g   u   s   t   u   s     2   0   2   6             Se...