Rabu, 17 Juli 2013

CAMME TU'TUK KULINER KHAS DARI BUMI ENREKANG




       Menu khas Nusantara ini terbilang sangat sulit untuk di temukan di warung-warun meski ia termasuk menu yang hampir ada di setiap daerah dengan parian yang berbeda yaitu Camme Tu'tuk,  meski ia dibuat dengan bahan yang sangat sederhana tapi itu tidak berarti bahwa makanan ini kurang sedap, bagi saya “ Sekali anda mencicipinya anda akan terus merindukannya “.  Di Era diversipikasi pangan sekarang ini adalah layak bagi kita untuk menghidupkan kembali menu dan menu Lokal lainnya di Nusantara,  ini sejalan dengan kemajuan Kuliner Fast Food western dan east Asia Food tersebut dengan lebih semangat  menghadirkannya pada sesi kuliner  utamanya di dalam rumah tangga kita.

       Menu ini sangat sederhana, mudah untuk membuatnya serta bahannya  mudah di dapat di seluruh pelosok Nusantara karena  termasuk masakan Nusantara khususnya Enrekang sesuai namanya yang berbahasa daerah tersebut yang berarti  “ Sayur yang ditumbuk “  meski   didaerah lain memiliki nama yang agak berbeda serta resep sedikit berbeda namun bahan dasarnya sama yaitu Daung Singkong atau Ubi kayu (Manihot  utilissima).    Di Daerah Enrekang Sul-Sel Camme tu’tuk merupakan penganan sayur pavorit yang disajikan setiap makan bersama Nasi dan Ikan (Ikan kering akan lebih asik), berupa Daun Singkong yang ditumbuk halus dimasak bersama santan kelapa.

Bahan, 

1.      Daun Singkong
2.      Santan Kelapa
Bumbu
1.      Bawang Merah
2.      Bawang Putih
3.      Merica
4.      Garam
5.      Penyedap Rasa
6.      Serai
7.      Lengkuas

Cara membuatnya :

1.      Daun singkong ditumbuk halus di Lessung atau apa saja tapi intinya menghaluskan tapi masih terlihat sebagai lembaran daun.
2.      Daun Singkong yang telah ditumbuk masukkan dengan Santan Kolapa kemudian tambahkan Serai dan Lengkuas yang telah di Kupas dan di pukul-pukul, masak
3.      Setelah akan mendidih masukkan bahan bumbu yang telah di Cobe halus kedalamnya, kemudian tambahkan Garam dan Penyedap rasa, selanjutnya sodap dehhh
4.      Jika sudah masak masukkan dalam mangkuk atau piring siap untuk disajikan bersama nasi, Ikan dan penganan lainnya.
5.      Takaran sangat disarankan pada Selera dan Takaran penikmatnya.  

 Selamat mencoba dan menikamati Masakan khas Bumi Enrekang.




Menjamu selera menjunjung Budaya Bangsa,
Camme Tu’tu berselera tinggi berbahan sederhana.

Senin, 15 Juli 2013

BOROBUDUR KARYA LELUHUR YANG MENGAGUMKAN













    Entah yang keberapa kalinya saya mengunjungi   Candi Borobudur sebuah prasasti  tempat persembahyangan ummat Buddha peninggalan dinasti syailendra yang dibangun   tahun 750  di kabupaten Magelang Jawa tengah,  Kesannya  sangat mengagumkan   akan bangunan yang merupakan  susunan batu besar dan kecil menjadi sebuah candi besar,   serta tehnik  menyusun batu yang sangat  tinggi sehingga tak menggunakan paku dan semen   meski  saat ini ada beberapa bagian telah menggunakannya yaitu bagian yang mengalami  rehab karena kerusakan dan dilakukan para tehnisi  sekarang.



    Ke Borobudur  saya bersama rombongan  12 orang setelah melakukan  Agrowisata selama 3 hari di Kabupaten Sleman,   dari Jokyakarta  tempat  bermalam  kami meluncur menuju  Borobudur dengan Bus Carteran, mengenakan baju seragam  warna Kuning.   Perjalanan  ditempuh selama   1 jam 10 menit melewati  beberapa desa pertanian yang berhiaskan pertanian dan sesekali terlihat  puncak bukit merapi.    Setelah melewati Candi mendut yang berbentuk segi  empat  tak lama kemudian kamipun memasuki  area  parkir  Taman Wisata Borobudur, dari area parkir melewati beberapa stand jualan menuju  pintu masuk  dengan  tiket  yang sebelumnya  dibeli  di loket  seharga Rp 30.000 per kepala.



    Melewati  jalan bersemen seluas  2 m  rombongan menuju bangunan candi ,  sepanjang jalan   banyak ditemukan penjaja  cenderamata seperti  replika Candi  Borobudur, baju, topi, tas, manik-manik  dll yang umumnya bermotipkan candi Borobudur denga harga cukup murah,  dan mainan  kereta api  yang mengitari  taman Candi.  Taklama kemudian melewati  jalan yang lurus dua jalur sepanjang  300 m menuju gerbang  Timur  masuk Candi dari sini Landscap candi Borobudur berbentuk pyramid  terlihat secara utuh  dan cukup baik buat berfoto,  kesempatan ini kami gunakan buat  berpoto berombongan dengan tukang  foto yang banyak  berkeliaran dijalur  tersebut dengan harga Rp 30.000 per klik.



    Gerbang  masuk dengan tangga seluas 3 meter,  dari sini terlihat kebesaran  dan keagungan Candi  Borobudur  berbentuk  piramit   enam susun yang berhiaskan  504  buah arca dan 2.672 panel reliep yang sakral  dan tersusun dari batuan  andesit  yang disusun  hingga berbentuk  bangunan kokoh,   Star  dari tangga dasar di sebelah  timur candi yang berhiaskan singa dan tangga ini tersusun lurus menanjak hingga kelantai  enam dengan  melewati  beberapa  gapura pada setiap lantai yang di atasnya berhiaskan Dewa Dwaraphala manusia  bertaring, mata besar dan memegang gadah.    Di tangga pengunjung saling berdesakan diantaranya rombongan sekolah SMA di Jakarta.   Setiap mencapai lantai tertentu  kami mengitari lantai tersebut meski hanya seperempatnya saja dari yang panjangnya   500 meter,  untuk menikmati ukiran dan gambar yang menghiasi dinding,  arca  dan stupa berjumlah 72 buah (keseluruhan di candi Borobudur)  berbentuk  kubah yang berlobang-lobang,  serta menikmati pemandangan  alam disekitar candi disetiap lantai juga ditemukan tempat persembahyangan berupa ruang seluas 1 x  2,5 meter didalamnya terdapat dewa seperti  dewa  siwa dan beberapa diantaranya terdapat taburan bunga dan bau dupa.



    Menaiki  lantai demi lantai sambil memperhatikan ukiran yang memperlihatkan berbagai gambaran baik  kegiatan masyarakat, peribadatan, budaya  maupun satwa  yang ada  dimasa pembuatannya cukup melelahkan, di lantai ketiga terlihat sederet kerangka besi berdiri disudut  Timur  laut  ternyata disini ada pekerjaan perbaikan candi yang runtuh akibat gempa bumi tahun  lalu.    Dua lantai di atas tidak berbentuk segi empat sebagaimana didasar melainkan bundar dengan stupa di sepanjang lingkaran,  di Puncak candi terdapat stupa besar berupa  bulatan yang berlobang-lobang  di dalamnya terdapat patung  Buddha  yang duduk bersila dengan tangan rapat di dada, beberapa pengunjung mengatakan bahwa jika kita beruntung dapat menyentuh patung tersebut maka apa yang kita mohonkan saat itu mudah terkabul. 



    Setelah istirahat  di puncak candi Borobudur sambil menikmati panorama gunung merapi  yang terlihat dari kejauhan  berlatarkan pedesaan dengan sawah  yang indah menghijau di kaki bukit,  Kami tak melewatkan   momen  berharga ini dengan  mengabadikannya dalam bentuk foto baik persendirian maupun bersama,  lalu turun melalui pintu Barat,  sebenarnya  ada ada empat pintu keluar tapi  pintu  Utara di tutup untuk perbaikan,   sekitar 25 menit barulah kami tiba di dasar candi,  jadi kami berada dicandi sekitar 3 jam woow cukup puas. 
 
    Ternyata Candi  Borobudur dibangun dipuncak  dua  buah  bukit  yang dirangkai jadi satu dan diperkirakan  dulu kaki bukit merupakan sebuah Danau tapi telah menjadi lahan pertanian penduduk,  setelah melewati gapura  sebelum sampai dipintu gerbang keluar  pengunjung  dapat menikmati Perpustakaan, Cafe, Ruangan Videorama dan stand  pusat  Cinderamata yang berada dalam satu jalur keluar.  Selamat tinggal Candi Borobudur jumpa di lain kesempatan.




Menyusun Batu membentuk budaya hidup,
Menata kehidupan dengan keserasian tempat menetap.

Jumat, 12 Juli 2013

BUNGA BANGKAI BUNGA BERBAU BUNGA NUSANTARA






     Tumbuh Anggun muncul dari permukaan tanah sekuntum bunga yang sangat  besar dapat mencapai 3 meter dan berat 80 kg dengan warna yang sangat menarik akan mempesona siapapun yang memandang Bunga Bangkai (Amorphophallus titanum) tersebut, namun disebalik ke anggunan tersebut bunga ini akan mengeluarkan bau yang sangat jelek menyerupai bau bangkai, aroma ini  bagi tanaman berguna untuk mengundang Lalat dan Kumbang melakukan penyerbukan.




Kerajaan :  Plantae,  Devisi :  Magnoliophyta,  Kelas :  Liliopsida,  Ordo :  Alismatales,  Famili : Araceae,  Genus : Amorphophallus,  Spesies : Amorphophallus  titanum.

Status konservasi : Terancam.

Bunga Bangkai ini merupakan bunga terbesar di dunia dengan ketinggian 3,17 meter di Kebun Raya Cibodas Bogor pada 11 Maret 2004,  termasuk endemik Sumatra dan oleh Pemprov Bengkulu di jadikan lambang  resmi daerah dengan bahasa daerahnya Bunga Kibut.



Amarphophallus titanium sangat baik tumbuh di lereng perbukitan dataran rendah hingga ketinggian 800 meter dpl, dengan karakteristik tanah poros mengandung humus, berkapur, air mengalir baik di hutan-hutan sekunder 


      Perkembangan Bunga bangkai terjadi secara Vegetatip dan Generati.  Vegetatif  dengan menanam Umbi yang akan mengeluarkan batang semu dan daun,  masa ini disebut fase vegetative membutuhkan waktu 5 bulan – 1 tahun dan bila kondisi tidak mendukung ia  akan layu dan menghilang dari permukaan tanah.  Gerneratif pertumbuhan bunga bangkai  yang dimulai dari penanaman biji bunga hasil penyerbukan sedang fase Generatif adalah perkembangan dari umbi menghasilkan batang semu, daun kemudian menghasilkan bunga dan suksesnya penyerbukan yang membuahkan biji yang kembali menjadi benih baru, dari mulai berbunga hingga menjadi bibit hasil penyerbukan membutuhkan waktu 1 – 3 bulan.  Bila Umbi yang menghasilkan Batang semu, daun dan bunga kemudian layu dan tidak tumbuh lagi karena faktor lingkungan maka terjadi  dorman yaitu masa umbi tidak tumbuh hingga kondisi mendukung ini dapat terjadi selama   4 tahun disebut fase  NonAktip.   Hutan Raya Rajolelo Bengkulu telah melakukan penangkaran Bunga Bangkai dalam masa 2 -3 tahun sudah dapat menghasilkan bunga dengan penanaman umbi seberat 25 – 70 kg.
 

Genus Armophophallus merupakan tumbuhan yang banyak dihutan Rain Forest daerah Subtropik dan tropic dari Famili Araceae atau Talas-talasan yang memiliki ratusan spesies diantaranya Armophophallus gigas dll.







Bunga Bangkai sibau dari permukaan tanah yang sangat Indah,

Berbagi kepedihan dengan sesama menjadikan hidup lebih kokoh.

Minggu, 16 Juni 2013

IBRAHIM BERHASIL MENYEBERANGI SELAT MADURA DAN SELAT BALI




       IBRAHIM  RUSLI, pria kelahiran Balikpapan  17 Juni 1965 yang kesehariannya   Pegawai Negeri Sipil di Sekwan DPRD Kota Tarakan hanyalah Salah satu dari adventurer eksentrik  biasa meski waktu kuliah di Jawa ia pernah memasuki club Pencinta Alam dan sebelum ini ia pernah berpetualang menaklukkan Gunung dan perairan,  bahkan Media Radar Tarakan membuat head line tentang Keberhasilannya menyeberangi Selat Bali  sebagai seorang  Perenang Kampung.
      Baginya  penaklukkan Selat Madura dan Selat Bali adalah suatu petualangan mendadak tidak terencana dengan baik namun berjalan begitu saja karena tuntunan jiwa yang ada saat itu.  Bermula dengan Menyeberangi  Selat  Madura ke Surabaya pada 30 Mei 2013 Jam 07.15 waktu setempat, dengan lokasi star dari Pelabuhan Ferry Kamal  Bangkalan Madura  dan finish di Pelabuhan Ferry Tanjung Perak Surabaya Jam 09.40 waktu setempat.  Dalam menyeberangi selat ini Ibrahim memilih jalur   berenang  tepat berada di bawah Jembatan Suramadu,  sehingga saat itu ia melihat banyak penonton dari atas jembatan menyoraki memberi  semangat dan melambaikan tangan, ada juga yang mengambil gambarnya  dan beberapa Nelayan  disekitar situ memberikan dukungan dalam aksinya saat itu.
       Menurut  Ibrahim menyeberangi Selat Bali suatu moment yang sangat menegangkan disamping kurangnya perencanaan yang mapan karna ia berjalan mengikuti hasrat jiwa seketika itu juga.  Berawal dari Taman Nasional Bali Barat menuju Pantai Wisata Watudodol Banyuwangi dari Pukul 11.52 waktu setempat,  awalnya Ibrahim hanya ingin  berenang  ringan mengenakan celana pendek saja, Ujar Ibrahim nang Sederhana itu.   Situasi menjadiserius ketika berada di pertengahan Selat Bali,  yang saat itu kondisinya tidak menentu baik suhu maupun arus, saat dipertengahan  ia sempat melihat arus berputar  yang cukup kuat dan ia mencoba menghindari lokasi tersebut meski ia hampir terseret oleh  arus laut berputar yang cukup kuat,  Arus selat Bali ini telah terkenal  banyak memakan korban  dan di beberapa titik ia menemukan sesekali   perubahan arus yang sangat kuat dan menyeretnya,  sementara kondisi suhu memang awalnya  cukup hangat namun makin lama ketengah suhu semakin dingin yang tentunya baginya sangat mempengaruhi kondisi pisik, namun setelah 1 Jam 34 menit Ibrahim berhasil menyeberangi  Selat Bali yang berjarak 4 km  dengan mendarat jam 13.27 wita di Pantai Watudodol  Kab. Banyuangi.   Dalam aksinya ini  ia mendapat bantuan keselamatan dari IMAPALA  Universitas Merdeka Malang.
       Sebagai  Petualang Eksentrik Ibrahim selain pengalaman  ketika menjadi  anggota Club pencinta Alam  selama mahasiswa di Jawa,  prestasi yang  pernah beliau lakukan adalah Menaklukkan Gunung Kinabalu,  Juni 2010 berenang di Sungai Kayan sejauh 12 km,  tahun yang sama berenang di seputaran Laut Derawan dan  Januari 2011 berhasil menaklukkan Selat antara P Sebatik RI  dengan Tawau sabah Malaysia sejauh 8 km yaitu Selat Ambalat Sebatik.  Kedepan Ujar Ibrahim ia berencana  menaklukkan dua  perairan lagi yaitu Perairan SUNDAK  dari Serawak Malaysia ke Brunei Darussalam dan  Kepulauan Alor  NTT (Nusa Tenggara Timur) menuju Pulau Atarau di Timor Leste.  Kegiatan ini ia lakukan semata selain tuntutan Jiwa juga buat memperkenalkan Kota Tarakan dan Provinsi Baru Kalimantan Utara serta Indonesia pada umumnya dan tak lupa memberi dorongan buat petualang muda untuk lebih berprestasi.
By  Bakri Supian .  RT 14/6/2013                




Kota Tarakan terkenal dengan penganan Ikan Tipis,
Menyeberangi laut mendaki Gunung menjadikan pribadi  yang  tegas.

Sabtu, 15 Juni 2013

MELINTASI PERBATASAN DARI PAPUA KE PAPUA NEW GUINEA




          Tak pernah terbayangkan sebelumnya olehku dan teman-teman untuk dapat melihat perbatasan di ujung timur Indonesia.  Sabtu setelah sopir  mendapatkan info  bahwa situasi aman untuk melintas perbatasan kamipun ke perbatasan yang berjarak 80 km dari Jayapura ditempuh dalam waktu 1,5 jam. 
Melintasi jalan berkelok-kelok menembus Tanah Hitam Yosefa banyak dihuni oleh warga dari kota Makassar, Kemudian dilanjutkan melalui ke Nafri km 9 yang dulu dikenal daerah merah karena penduduknya banyak yang pro OPM,  pak sopir harus mengendarai mobil dengan hati-hati karena kalau sampai menabrak babi atau anjing ganti ruginya sangat mahal dihitung hingga tujuh turunan pada hal hewan tersebut dilepas bebas berkeliaran di jalan.


          Selanjutnya melalui perkampungan Koya Koso yang dihuni oleh suku Enrekang yang dapat dikenal dari bentuk rumah panggungnya, yang hidup dari bercocok tanam  pinang, sirih, coklat, pisang dan jagung.  Penduduk Papua banyak yang makan buah sirih tidak seperti di daerah Jawa yang memakan daunnya sehingga banyak ditemukan penjual buah sirih dan pinang disepanjang jalan.   Banyak sekali ditemui penjual buah sirih dan pinang di pinggir jalan.   Memasuki \ kampong Wamena tempat suku asli Papua dengan rumahnya berbentuk Honai di sini terlihat pasilitas Puskesmas dan orang Wamena memakai Noken (tas yang terbuat dari serat) dipunggungnya. Selanjutnya melalui kampung Abepantai  penduduknya banyak yang berasal dari daerah Buton Sulawesi.
          Memasuki Koya Barat, daerah transmigran dari Jawa dikiri kanan jalan terlihat lahan pertanian yang subur dengan pengolahan lahan menggunakan Handtractor dengan tanaman Padi dan Palawija sehingga daerah ini dikenal  sebagai penghasil beras. Di daerah ini terlihat warga lebih  sejahtera terlihat banyak rumah yang memiliki motor, parabola bahkan beberapa mobil buat mengangkut hasil pertanian kepasar Abepura. Memasuki Koya Timur terlihat Gereja dan Mesjid berdampingan dan Mobil parkir di lokasi pemancingan yang baik dengan restorannya dengan alunan lagu daerah Papua dan Ambonne.
          Setelah melewati Pasar Sehito di muara Tami ramai pada hari Sabtu karena baanyak penduduk turun gunung, Perjalanan dilanjutkan ke Skouw Mabo  dengan gedung  sekolah yang lengkap dari SD s/d SMA,  Uniknya muridnya banyak berasal dari PNG (Papua New Guinea), dengan bahasa pengantar bahasa Inggris.  Selanjutnya perjalanan menuju Pos Perbatasan melalui hutan lebat dengan jalan berkelok-kelok menanjak dan melewati  jembatan sungai Tami yang kerap banjir,  di pos pertama Muara Tami mobil harus berjalan perlahan dengan membuka kaca dan penjagaan kali ini dilakukan oleh Kodam Diponegoro kemudian sopir melambaikan tangan karena beliau telah dikenal. 
          Pos PerBatasan selanjutnya didepannya terdapat 3 (tiga) helipad dan disampingnya terdapat “ Kios “ (Pasar) wilayah RI yang ramai dikunjungi oleh warga PNG untuk berbelanja keperluan kawasan ini sangat ramai pada hari Jum;at, Sabtu, Minggu dan Rabu karena pada hari itu ada kapal merapat dari Venimo PNG yang terdekat.  Kami melapor pada tentara yang bertugas diperbatasan dan sangat muda sambil berfoto,  wilayah perbatasan RI-PNG  terbuka dengan pembatas pagar setinggi 1,5 meter ditengahnya terdapat area terbuka (open space) selebar 5 meter diujungnya dibangun menara konon tempat ini menjadi area pertukaran sandera jika terjadi perang.   Orang RI jika ke PNG tak perlu melapor sementara orang PNG jika ke RI untuk melintas dan berbelanja  harus mencatat dalam register.
         Begitu memasuki PNG  hujan turun dengan deras terpaksa kami berteduh dikantor imigrasi PNG dan  mengobrol dengan Mr. Jeffrey Owen   Customs Border Operation berasal dari kota Vanimo. Saya  membujuknya agar dibolehkan  ke desa Putung (desa terdekat di wilayah PNG), namun karena banyak orang Mr. Jeffrey tak  memberikan ijin karena nanti akan dipertanyakan,  setelah  hujan reda kami menuju ke pasar PNG yang terdiri “ hanya” 10 tenda. Yang dijual berupa: topi, payung, kaos, mug(cangkir), makanan kaleng, kain panjang sejenis sarung. Mereka agak sulit diajak transaksi walaupun ramah, dan semua harga bulat, seperti: Rp.25 ribu, Rp.50 ribu, Rp.100 ribu, Rp.150 ribu dst nya.   Karena tak membawa paspor  maka kampung Putung yang terletak dipinggir laut hanya dapat kami nikmati dari atas bukit. Orang PNG lebih tinggi dan lebih berani bertatap muka selebihnya sama dengan oraang Papua. Mata uangnya disebut Kina, dan 1 Kina=Rp.3000,-.  Orang PNG lebih banyak yang melintasi perbatasan  wilayah RI  untuk berbelanja beras, gula juga elektronik dan sandang,  dibanding orang Indonesia yang ke PNG  umumnya hanya untuk jalan-jalan ingin melihat seperti apa perbatasan tersebut. Ternyata daerah perbatasan orangnya ramah, jalan beraspal yang ramah dengan tentara yang selalu siap berjaga.
          Jujur saja bahan kaos di PNG lebih tipis dan lebih mahal dibandingkan yang di pasar RI,  mereka membawa barang belanjaannya dengan  kereta dorong  mirip  kereta dorong pengangkut bahan bangunan, dari besi dan berwarna hijau. Sebagian penjual di kios wilayah RI ini rata-rata juga berdagang di pasar Hamadi Jayapura dan berasal dari Makassar. Mereka menginap di kios Indonesia hanya saat hari ramai, dan pulang kembali untuk berdagang di Hamadi.
by Edratna, 13 Agustus 2007










Orang Wamena menanak sagu di dalam gubuk Honai,
Budaya Hidup turun temurun merupakan identitas Jati diri.





SUKU SEKO TO LEMO DI JANTUNG SULAWESI (SULSEL-SULBAR-SULTENG DAN SULTRA)

NusaNTaRa.Com            byIndaHPalloranG,       J   u   m   a   t,    2   1     A   g   u   s   t   u   s     2   0   2   6             Se...