Jumat, 29 Juli 2011

JAMUR BERKHASIAT TAPI DAPAT BERACUN

JAMUR BERKHASIAT  TAPI  DAPAT BERACUN


       Jamur merupakan tumbuhan yang tidak berklorofil bersifat heterotrof, Jamur ada yang uniseluler dan multiseluler. Tubuhnya terdiri dari benang-benang yang disebut hifa, hifa dapat membentuk anyaman bercabang-cabang yang disebut miselium. Reproduksi jamur, ada yang dengan cara vegetatif ada pula dengan cara generative terdiri dari 6 devisi (Myxomycotina/Jamur Lendir, Oomycotina, Zygomycotina, Ascomycotina, Basidiomycotina dan Deuteromycotina/Jamur tidak sempurna). Habitat hidupnya banyak tumbuh di permukaan tanah atau substrat tumbuhan dengan agak basah, kadar udara lembab, Agak gelap (terlindungi) dan oksigen rendah.
       Ironisnya tanaman ini dikalangan masyarakat awam dikenal sebagai Tumbuhan beracun sementara disisi lain para tabib banyak melihat sebagai ramuan obat.  Namun di era program Diversifikasi pangan maka Jamur atau yang biasa dikenal sebagai Fungi dijadikan salah satu alternatip bahan pangan yang dapat dimakan seperti Jamur Tiram (Pleurotus sp.), Jamur Merang (Volvariella volvaceae), Jamur Kuping (Auricularia polytricha), Jamur Kancing atau Champignon (Agaricus bisporus), Jamur Shitake (Lentinus edodes), Jamur Sawit.


      Namun anggapan Jamur sebagai Tumbuhan beracun bukanlah isapan jempol bahkan cukup besar jumlahnya sehingga membutuhkan kehati-hatian dalam merambah spesies ini, jamur beracun seperti Amanita muscaria, Lepoita, RussulaCollybia dan Boletus. 

  Ciri-ciri umum Jamur beracun dapat diketahui sebagai berikut  :    1. Bila disentuh bagian kulit permukaannya terasa berlendir, licin dan lengket seperti lem.  2.  Memiliki Cawan atau Cincin melingkar pada batang Jamur dibawah bulatan Payung meski tidak semuanya.   3.  Umumnya jamur beracun memiliki warna menyolok seperti Merah, Biru, Kuning, Hitam, Putih ataupun warna lainnya, hati-hati jangan tertipu oleh keindahan warnanya seperti jenis Amanita muscaria.  4.   Memiliki Bau yang menyengat seperti Amoniak atau seperti bau Habitatnya dari kotoran ternak atau busukan lain, Jamur beracun yang tidak berbau seperti Jamur Tlethong hidup dikotoran ternak sapi, kerbau dan Kuda.    5.  Apabila ditaburi Garam Dapur (NaCl) pada kulit permukaannya akan mengeluarkan buih atau busa.  6.  Jamur beracun bila disayat dengan Pisau anti karat (Stainless steel) akan mengeluar noda warna biru kehitaman pada permukaan pisau. 7.  Bila dipanaskan dan dimasak akan terjadi perubahan warna dari putih ke warna gelap.  8.  Jamur tidak beracun dapat pula beracun karena dibiarkan membusuk sehingga ditumbuhi bakteri penghasil racun seperti Clostridium.


       Senyawa beracun yang terkandung pada Jamur antara lain 1. Kholin, yaitu racun yang paling berbahaya dan besar sekali daya mematikannya. Semua jenis jamur yang disebut "supa upas" (upas = racun) mempunyai senyawa ini, misal: Amanita, Lepoita, Russula, Collybia, dan Boletus.  2. Muskarin, juga racun jamur yang cukup berbahaya dan mematikan dengan takaran antara 0,003-0,005 gram dapat membunuh manusia, racun ini terdapat pada jamur yang tergolong "supa upas".  3. Falin, sama seperti muskarin.   4.  Atropin jamur, sama seperti muskarin.  5. Orellanine, dapat merusak Ginjal.  6. Asam helvelat, sama seperti muskarin dan banyak lagi.
 
       Tanda seseorang keracunan Jamur, 3-6 jam setelah memakan jamur beracun akan muncul tanda berupa akan kehausan, mengeluarkan air mata, berpeluh, berludah, sakit perut yang hebat, muntah – muntah, banyak berak encer, penyempital pupil dan sesk napas lama kelamaan menimbulkan Shock dan akhirnya kematian menjemput.    Bila terlanjur termakan Jamur beracun sebaiknya sesegera mungkin dibawah ke Dokter agar mereka dapat melakukan pencegahan sebaiknya, namu bila kondisi darurat karena jauh dari lokasi perawatan yang layak maka dapat digunakan penawar racun sementara atau darurat berupa  2 bagian Arang Kayu (dapat diganti dengan roti atau beras yang hangus), 1 bagian garam Inggris, 2 bagian Asam Tannin (dapat diganti the-keras/pekat), satu sendok campuran tadi dicampur dengan segelas air masak dan diminum sesegera mungkin.





       Keunikan lain Jamur selain yang terpapar diatas ialah ia banyak digunakan sebagai obat khususnya para tabib seperti Jamur Ling Zhi, Shitake, Maitake, Kordisep, Kombucha dan Agaricus Blazei Murril.  Jamur mempunyai kandungan air sebesar 80 – 90 %,  kandungan keringnya berupa serat  8 – 10 % dengan kandungan Sodium dan lemak rendah sehingga makanan ini cocok buat mereka yang menjaga berat badan dan Hypertensi.  Kaya akan Kalium yang dapat menurunkan tekanan darah dan mengurangi strock, Jamur mengandung banyak Riboflafin, Niacin dan Selenium yang merupakan anti oksidan dengan Vitamin E melindungi sel-sel dari kerusakan oleh radikal bebas, Selenium yang terkandung dalam jamur dapat mencegah pertumbuhan Kangker Prostat dan Ekstrat Jamur Kancing mengurang perbanyakan sel dan memperkecil ukuran Tumor. 

Pantun Peringatan  :
" Makanan berkhasiat makanan beracun, Jamur tak dimengerti toh lehh jangan dimakan "    


Meski misteri penuh Maut
Keindahan Jamur penuh Khasiat








Rabu, 20 Juli 2011

JUNG JAWA PENGUASA PELAYARAN NUSANTARA


JUNG JAWA  PENGUASA PELAYARAN NUSANTARA



       “ Nenek moyangku orang Pelauk gemar melaut  luar biasa “  Lagu ini sangat tepat menggambarkan semangat bahari Bangsa Indonesia sebuah bangsa yang memiliki  wilayah dengan luas lautan 70 %,  secara alami tentunya akan mempengaruhi sikap dan budaya bangsa.           
      Sejak lama Nenek moyang bangsa Indonesia yang menghuni bumi nusantara yang terpampang sepanjang Garis Khatulistiwa terkenal sebagai pelaut dengan cadik kecil berani mengarungi samudra luas seperti kisah La Kumbala dengan sampan kecilnya berlayar sampai ke sailan.  Dari Nusantara tercatat beberapa jenis perahu yang cukup terkenal bahkan sampai kealur pelayaran Internasional seperti Jung Borobudur, Jung Jawa, Jung Nusantara dan Phinisi dan mereka dijaman dulu  sangat berjasa dalam stabilitas perdagangan dan perjuangan kemerdekaan RI.
       "Orang Jawa sangat berpengalaman dalam seni navigasi. Mereka dianggap sebagai perintis seni paling kuno ini. Walaupun banyak yang menunjukkan bahwa orang Tionghoa lebih berhak atas penghargaan ini, dan menegaskan bahwa seni ini diteruskan dari mereka kepada orang Jawa."
Para penjelajah laut dari Nusantara diperkirakan sudah menjejakkan kaki mereka di Benua Afrika melalui Madagaskar sejak masa-masa awal tarikh Masehi, Jauh lebih awal daripada bangsa Eropa mengenal Afrika.
Diego de Couto dalam buku Da Asia, terbit 1645,  pelaut Portugis yang menjelajahi samudera pada pertengahan abad ke-16 menyebutkan, orang Jawa lebih dulu berlayar sampai ke Tanjung Harapan, Afrika, dan Madagaskar, Ia mendapati penduduk Tanjung Harapan  berkulit cokelat seperti orang Jawa. “Mereka mengaku keturunan Jawa,”  
      Antara abad ke-5 dan ke-7, kapal-kapal Jung Barobudur mendominasi pelayaran dagang di Nusantara hingga ke beberapa negara asia. Kronik China serta risalah-risalah musafir Arab dan Persia menorehkan catatan agung tentang tradisi besar kelautan nenek moyang bangsa Indonesia.  
      Pada  abad ke 16 Para penjelajah laut dan pengelana samudra telah memiliki apa yang disebut   jaringan hubungan masyarakat bahari di Tanah Air.  Dari Arsip-arsip Daghregister,  Pada masa itu telah ada Syahbandar sebuah jabatan penting di pelabuhan untuk mengurusi berbagai masalah perdagangan dan pelayarana. Syahbandar ini diangkat langsung oleh raja dari orang yang memiliki pengalaman berdagang   dan  umumnya dari kalangan  orang kaya serta memahami banyak bahasa asing.  Tugas syahbandar ialah menyelesaikan segala permasaalahan yang terjadi di pelabuhan. Selain Daghregister, kita dapat memakai Undang-Undang Laut dan  ilmu mengenai metereologi dan navigasi namun teknik perkapalan zaman dulu hampir tidak ditemukan karena pembuatan kapal dan kepelautan pada masa itu erat kaitannya dengan kepercayaan setempat.  



       Perahu bercadik yang terpahat di Borobudur disebut Jung  Borobudur, merupakan petunjuk bahwa kapal-kapal dan pelayaran telah  memainkan peran besar dalam segenap urusan di Laut dalam berbagai kepentingan selama  berabad-abad  sekitar abad 6 dan 9.  Maka tidak mengherankan tatkala pelaut Portugis  mencapai   perairan Asia Tenggara pada awal tahun 1500-an mereka telah menemukan  wilayah  ini  didominasi kapal-kapal dagang milik orang Jawa yang disebut dengan  "Jung Borobudur dan Jawa". Pada saat itu jung-jung  menguasai jalur rempah yang  sangat  penting, yang terbentang antara Malaka, Jawa   dan Maluku. 
       Istilah "Jung"  pertama kali digunakan dalam catatan perjalanan Rahib  Odorico, John de Marignolli, dan Ibnu Battuta pada abad ke-14. Sebagian  pendapat  menyatakan bahwa istilah "jung" berasal dari kata chuan (bahasa Cina) yang  berarti perahu. Hanya saja, perubahan pengucapan dari chuan menjadi jung  nampaknya terlalu jauh. Yang lebih mendekati adalah kata jong (bahasa Jawa) yang  berarti kapal.   Manguin bersikeras mengartikan jong sebagai kapal sebagaimana  ditemukan  dalam sejumlah prasasti Jawa kuno abad ke-9. Makna itu kemudian masuk ke  dalam  bahasa Melayu menjelang abad ke-15, sehingga dalam Undang-undang Laut Melayu  (The Malaya Maritime Code) yang disusun pada akhir abad ke-15 juga menggunakan  kata  jung untuk menyebut kapal pengangkut barang dan Jung China yang banyak melayani angkutan sungai atau pantai.
       Kapal/Jung Borobudur telah memainkan peran utama dalam hal pelayaran, selama ratusan tahun hingga sebelum abad ke-10 sebuah kapal dengan ciri khas bercadik, tiang layar dua, body kapal tidak menggunakan Paku dan bobot sekitar 40-150 ton.  Setelah itu   peran Jung  Borobudur tergeserkan oleh  Jung besar Jawa yang bercirikan  tiga atau empat layar. Pelaut Portugis menyebutnya juncos dan pelaut Italia  menyebutnya zonchi.  
      Jauh sebelum Cheng Ho dan Columbus membuat sejarah pelayaran mereka yang fenomenal, para penjelajah laut Nusantara sudah melintasi sepertiga bola dunia.  Meskipun sejak 500 tahun sebelum Masehi orang-orang China sudah mengembangkan beragam jenis kapal dalam berbagai ukuran namun hingga abad VII peran kapal China dalam pelayaran laut lepas masih kecil.  Dalam catatan perjalanan keagamaan I-Tsing (671-695 M) dari Kanton ke Perguruan Nalanda di India Selatan disebutkan bahwa ia menggunakan kapal Sriwijaya, negeri yang ketika itu menguasai lalu lintas pelayaran di ”Laut Selatan”.
       Tentang lokasi pembuatan Jung Jawa pada abad ke 11 - 14, didapatkan bahwa Jung Jawa awalnya banyak dibuat di Pegu kemudian keberbagai daerah lain seperti di Rembang.  Bangsa yang berdagang di Malaka banyak yang  memesan kapal-kapal mereka dari Pegu,  yang terkenal dengan  tukang-tukangnya yang sangat terampil dan banyaknya kayu jati Burma dan Siam yang diakui sebagai  bahan pembuat kapal yang     paling baik didapatkan di sana.   Sehingga galangan kapal di Martaban, bandar  utama Pegu  tempat   banyak memasok jung bagi  para  saudagar Malaka,  Jawa, Sumatra dan  Luzon  bahkan beberapa Saudagar China Selatan juga membeli Kapal dari Pegu di Malaka.
       Selain Pegu daerah Jawa dan Kalimantan juga dapat memproduksi Jung sebagaimana tercatat bahwa tahun 1590 an JUNG BANTEN (Jung Nusantara) yang terbesar dibuat di Kalimantan, sedang di Jawa terkenal Rembang, Juwana, Lasem, Jepara dan daerah pantai utara jawa sebagai sentra pembuatan Jung  disamping daerah ini memiliki ahli pembuat jung daerah ini khususnya Rembang kaya hutan penghasil Kayu Jati. Tanah Beru Sulawesi Selatan juga tercatat sebagai tempat pembuatan Jung Nusantara Jenis Pinisi pada saat tersebut.

       Tomé Pires dalam catatannya memberikan gambaran keadaan pelabuhan Nusantara (Cortesao, 1967: 170-173). Bantam merupakan pelabuhan besar terletak di tepi sungai, dari pelabuhan ini perdagangan berlangsung hingga Sumatra dan Kepulauan Maladewa. Barang-barang yang diperdagangkan antara lain beras dan lada.  Pomdam  merupakan pelabuhan yang baik berada pada muara sungai, kapal besar (junk) dapat berlabuh di sini. Barang dagangan berupa bahan makanan terutama beras dan lada. Cheguide merupakan pelabuhan bagus yang bisa didarati kapal besar. Pelabuhan ini merupakan pintu gerbang ke Jawa dari Pariaman, Andalas, Tulangbawang, Sekampung dan tempat-tempat lain.  Barang-barang dagangan berupa beras, buah-buahan, lada, dan bahan makanan.  Tamgaram juga merupakan pelabuhan dan kota dagang yang bagus. Barang dagangan sebagaimana pelabuhan yang lain.  Calapa merupakan bandar yang paling bagus. Pelabuhan ini sangat penting dan terbagus di antara yang lain. Jalinan perdagangannya sangat luas yaitu hingga Sumatra, Palembang, Laue, Tamjompura, Malaca, Makasar, Jawa dan Madura serta beberapa tempat lain. Chemano merupakan pelabuhan yang cukup ramai meskipun kapal besar tidak dapat berlabuh di sini. Di kota ini sudah banyak warga muslim. Perdagangan yang dijalin dengan Chemano hingga seluruh Jawa. 

      Konstruksi perahu bercadik atau Jung Borobudur, Kiri kanan kapal dipasang cadik sebagai penyeimbang kapal, memiliki dua tiang layar dan layar berbentuk segi empat.   Lambung perahu dibentuk dengan menyambungkan papan-papan pada lunas kapal, dengan pasak kayu tanpa menggunakan kerangka, baut, atau paku besi. Ujung haluan dan buritan kapal berbentuk lancip, dilengkapi dengan dua batang kemudi menyerupai dayung. Kapal Borobudur jelas berbeda dengan kapal Tiongkok yang lambungnya dikencangkan dengan bilah-bilah kayu dan paku besi. Selain itu kapal Tiongkok memiliki kemudi tunggal yang dipasang pada palang rusuk buritan.
       Jung Jawa  karena perkembangnya menjadi sebuah armada kapal niaga dan perang maka konstruksi mengalami perubahan dengan dinding kapal yang lebih tebal menggunakan 4-6 lapis papan sehingga mampu menahan tembakan meriam kapal Portugis, mempunyai ukuran tonase yang lebih besar 100-600 ton bahkan sampai 800 ton, Kapal ini memiliki empat tiang layar.
       Perkembangan selanjutnya adalah Jung Nusantara mempunyai tiang layar 2-4 tiang, ukuran kapal lebih besar dengan rata-rata 600 ton dapat mencapai 1000 ton seperti milik kerajaan Demak tahun 1513 dan periode ini Jung memiliki keragaman yang banyak karena setiap daerah di Nusantara mempunyai ciri tersendiri
       Jenis Jung Nusantara seperti kapal Kora-kora, Pinisi dan lain-lain. Kapal Kora-kora berkembang di kawasan Filipina, Maluku dan Indonesia bagian timur. Kapal kora-kora ini digunakan untuk perang pada abad 16, satu armada perang terdapat 200-300 pendayung yang sekaligus juga prajurit yang bersenjata panah, sumpit, pedang dan tombak. Armada kora-kora di Maluku dimanfaatkan VOC untuk melakukan Pelayaran Hongi. Selain kora-kora ada pula Kapal Pinisi yang berlayar di seluruh lautan Nusantara, bahkan hingga ke Singapura. Sejak Jung Jawa menghilang, maka Pinisi segera menggantiknnya sebagai kapal laut. Kapal ini biasanya bertiang  dua dengan berat antar 600 ton. Kapal ini berasal dari Sulawesi selatan.


       Jung memegang peranan penting dalam perdagangan Asia Tenggara pada masa lampau, Ia menyatukan jalur perdagangan Asia Tengara yang meliputi Campa (ujung selatan Vietnam) , Ayutthaya (Thailand), Jawa, Aceh, Malaka  dan  Makassar.
       Hanya saja, keadaan itu berbanding terbalik menjelang akhir abad ke-17, Keberadaan Jung Jawa mulai menurun dominasinya di seluruh perairan Nusantara, beberapa hal yang menyebabkannya adalah :
     1. Banyaknya peperangan di Tanah jawa sehingga perhatian akan kemaritiman
         berkurang.
     2. Karena Peperangan tersebut Aktipitas pengangkutan . 
         barang pertanian dan transportasi semakin berkurang atau   terbatas.
     3. Berdirinya Kantor VOC di Batavia dengan armadanya yang besar 
        mematikan daya saing Jung.
    4. Sikap  Refresip Sultan Agung dari Mataram terhadap daerah  
        pantai membatasi perkembangan Jung.
    5. Pengganti Sultan Agung berikutnya yang membuat Mataram anti 
        Perdagangan.
    6.  Monopoli yang diterapkan Belanda atas Perdagangan dan pelayaran.
    7.  Keberadaan Galangan Kapal yang semakin berkurang.
    8.  Kekuatan Ekspansi Militer dan Perniagaan VOC yang semakin kuat.
    9.  Kapal VOC menggunakan tehnologi Kapal Uap.

Indah Bahari karena Bahtera,
Lebih elok dihiasi Jung Nusantara



Minggu, 17 Juli 2011

MENOLAK MENJADI INDONESIA SUATU KENISCAYAAN DI KEP. TERUTARA

NusaNTaRa.Com                                                                                                                                        byTeukUKemaLFasyA,                                                                                                              07      N o v e m b e r     2012

Tulisan ini saya dapat ketika melakukan penelitian di Natuna dan Anambas  Kab.  pemekaran dari Natuna,  saya menemukan banyak hal yang mungkin tidak daapatkan di daerah  Indonesia lainnya.    Kedua kabupaten kaya minyak dan gas (migas) ini,  yang  disebut  ” Pulau Tujuh ”,  hidup dalam keragaman yang sangat tinggi.   Meskipun etnis Melayu adalah mayoritas, tetapi tidak menjadi etnis dominan dan manipulative karena  etnis lain  seperti Minang, Siak, Kampar, Bugis, Jawa, Batak, dan China  dapat hidup rukun-damai dlam aspek yang luas.   Agama di wilayah ini bukan hanya enam (orang masih melupakan Konghucu sebagai agama resmi sejak era Abdurrahman Wahid), tetapi bisa tujuh atau delapan.

Masyarakat asli (indigenous people) Anambas bukanlah suku Melayu, melainkan suku Laut yang tinggal di Air Sena dan Air Asuk  Pulau Siantan.   Sampai hari ini sebagian besar suku Laut masih hidup dengan agama lokal.   Bagi masyarakat lain disana (melayu, minang, Bugis, Jawa dll)   mereka tidak dianggap aneh bahkan diantara mereka  ada yang berpindah menjadi Katolik, Buddha atau Islam,  tetapi tidak berdasarkan politik islamisasi atau kristenisasi melainkan  dengan alasan-alasan yang sangat personal.

Peroalan komplik perkauman hampir tidak ada,   hampir seumur hidup mereka tidak pernah ada sejarah konflik berbasis agama dan etnis. Etnis China tidak mendapatkan perlakuan diskriminatif, bahkan banyak yang duduk di pemerintahan dan politik.   Muhammad Jamil, tokoh politik Natuna keturunan Aceh yang telah berada di Bunguran (Natuna) sejak 1965 ketika Orde Lama dan yang telah melancarkan agresi anti-Malaysia, mengatakan, daerah ini bebas dari segala pengaruh buruk Jakarta.  Fenomena pembantaian pengikut PKI pada 1965 atau perampasan dan pemerkosaan etnis China pada 1998 tidak pernah jadi realitas di daerah ini.

Secara kultural NU   tak ada representasi politik dominan,   ada 11 partai yang mendapatkan kursi di  DPRD Natuna dan 13 partai di Anambas,  sebagian besar partai politik berhaluan nasionalis. Momen elektoral, seperti pilkada, pun tidak pernah bergumuruh dan luruh oleh kekerasan. ”Natuna dan Anambas bebas dari darah politik dan permusuhan yang kerap ditemukan di Pulau Jawa,” kata Jamil.

Definisi politis.

Persis ungkapan ikonik Natuna :    ” mutiara terpendam dari utara ” Indonesia.,  dengan kandungan potensi mineral berlimpah yang membuatnya tak terlepas  ke tangan Vietnam atau Malaysia  sejak awal brdirinya.   Namun, tokoh nasional, seperti Mohammad Hatta, pernah menjejakkan kakinya ke Natuna, bahkan ketika belum mengetahui potensi alamnya pada pertengahan 1950-an.    Politik Indonesia diingat bersemangatkan Hobbesianism,   Demokrasi  diterjemahkan sebagai praktik menyebar fitnah dan mekanisme kompleks untuk menguntungkan diri sendiri dan perkauman,   bahkan  tidak ada harmoni dan kerukunan kecuali di ujung retorika,  tidak ada ketulusan atas perbedaan  yang  bisa merusak iman dan mengganggu eksistensi  golongan.

Wacana seperti ini tidak bisa dikatakan kesalahan seluruh rakyat Indonesia. Kekaburan memaknai Indonesia ini sesungguhnya hanya disebabkan beberapa kesalahan. Kesalahan pertama karena sebagian besar penelitian dan penulisan Indonesia dikonstruksikan melalui lensa miopik. Bukan hanya sarjana asing, cendekiawan pribumi pun sering latah menyebutkan praktik dan budaya politik ”pusat” adalah representasi Indonesia. Penelitian tentang dinamika politik Indonesia hanya bertemu narasumber di Jakarta, paling luas Jawa.

Kesalahan kedua adalah narasi. Narasi ”negara” lebih menawan untuk dibaca dan dimaknai, tetapi secara bersamaan narasi masyarakat, apalagi masyarakat sipil, dianggap kurang seksi untuk dibaca. Akhirnya penyebutan tentang Indonesia adalah yang berhubungan dengan ”serba negara”. Belum lagi penyebutan Indonesia yang memermanenkan limitasi temporer dan spasial, yaitu rezim yang sedang berkuasa (Simon Philpott, Rethinking Indonesia :  Postcolonial Theory, Authoritarianism and Identity, 2000).

Kesalahan ketiga karena pencampuran hal-hal ilmiah dan politik mengaburkan mana yang disebut fakta dan opini, mana yang bisa disebut ketepatan dan mana yang bersifat berlebih-lebihan, generalisasi  dan penyederhanaan. Ini bisa dilihat dari wacana para politikus, demagog, fundamentalis, oportunis, dan lain-lain, yang sifatnya elitis. Mereka membangun teori serba suram tentang Indonesia. Padahal, Indonesia yang diteoretisasikan itu tak lebih luas dari pikiran, tempat tinggal, dan lingkungannya.

Anti-Jakarta  ?.

Apa yang sebenarnya berlaku dalam wacana poskolonial bisa juga digunakan untuk mendefinisikan Indonesia versi baru. Wajah buruk demokrasi hari ini disebabkan elite-elite (Jakarta atau pengikut Jakarta) yang minim semangat kebangsaan, anti- keberagaman, pikiran taklid, dan serakah berada di tengah kekuasaan. Sebagian keburukan itu pun mengalir ke daerah-daerah. Akan tetapi, tidak semua terkena dampaknya. Ada daerah-daerah yang sama sekali tidak mengikuti langgam Jakarta.

Saat ini politik nasional dipenuhi praktik serba fitnah, jegal, dan korup, tetapi ada juga daerah-daerah yang tak suka—baik secara esensial maupun instrumental—budaya itu. Kalau kini ”Indonesia” dikacaukan oleh praktik kekerasan atas nama kesucian agama, kepentingan mayoritas, dan arogansi tempatan, masih ada ”Indonesia-indonesia” kecil yang mentradisikan sebaliknya. Andaikata muncul opini ”keniscayaan Indonesia harus menjadi negara agama”, siapa pula yang mengklaim itu sebagai keniscayaan?. 

Jika ada yang mengatakan dulu politik lokal dimanipulasi oleh elite nasional, apakah ada pembenaran elite lokal sekarang berhak memanipulasi sub-lokalnya  ?  Nilai etis mana yang membenarkannya ?  Tidak ada akar historisisme dan keilmiahan yang mengharuskan kita takluk oleh opini entah dari mana dan untuk kepentingan siapa itu.    Kalau  ” Indonesia ”  yang direpresentasikan serba melarat,  preman,  korup, a nti-perbedaan   dan monolitik,  selayaknya kita menolak  ” Indonesia ”  seperti itu. Karena ada Indonesia lain yang masih bersih dan otentik, yang belum rusak oleh budaya impor Jakarta dan Barat.   Ia bertempat jauh dari pusat, masih hening di tengah hiruk-pikuk, dan mempraktikkan kebaikan berbangsa,  berwarga-negara  dan bermasyarakat.   dr. KOMPAS.com,  Teuku Kemal Pasya,  07/11/2012.

Taman Indah beragam bunga,

Keragaman warga Natuna jadikan bahagia.

Sabtu, 09 Juli 2011

SaiNS Baheula BangSA INdoneSIA

SaiNS BahEUla BangSA INdoneSIA
 
       Nenek moyang Bangsa Indonesia sebenarnya telah mewariskan begitu banyaknya warisan berharga bahkan bisa disebut sebagai warisan dunia, namun kita kurang mengetahui, menganggap enteng dan tidak mengembangkannya sebagaimana mestinya sehingga tidak menjadi setara dengan beberapa kemajuan dunia yang sebenarnya beberapa diantaranya memiliki dasar keilmuan dari Penemuan nenek moyang kita, Dibawah ini dipaparkan beberapa Dunia Sains Nenek moyang yang patut  di banggakan bahkan dapat di sejajarkan dengan penemuan dunia lainnya.

1.     Borobudur :  Bukti kecanggihan teknologi dan arsitektur


       Borobudur merupakan bangunan candi yang sangat megah dan Luar biasa   yang diperkirakan mulai dibangun sekitar 824 M oleh Raja Mataram bernama Samaratungga dari wangsa Syailendra.
       Keunggulan bangunan ini adalah sebuah bangunan besar di atas bukit terdiri dari tujuh susun tanpa menggunakan paku dan semen dan menggunakan batu yang sangat banyak tanpa kendaraan seperti sekarang serta bentukan relif batu yang sangat indah, Di zaman sekarang membangun seperti Candi Borobudur  yang mengadopsi Konsep Fraktal (Bentuk Geometris yang memiliki elemen-elemen yang mirip dengan bentuk secara keseluruhan) sangat mustahil.
       Candi borobudur sendiri adalah stupa raksasa yang di dalamnya terdiri dari stupa-stupa lain yang lebih kecil. Terus hingga ketidak berhinggaan. Sungguh mengagumkan nenek moyang kita sudah memiliki pengetahuan seperti itu. Bangunan Candi Borobudur benar-benar bangunan yang luar biasa.

2. Kapal Jung Jawa : Teknologi kapal raksasa
       Penjelajah Laut Nusantara telah melanglang sepertiga bola dunia jauh sebelum Pelaut Cheng Ho dan Colombus melakukan pelayaran.  Meski sejak 500 SM orang Cina telah mengembangkan berbagai jenis kapal namun hingga abad VII pelayaran Laut Bebas mereka belum ada.  Sebagai bukti Perjalanan keagamaan I-Tsing (671-695 M) dari Kanton ke Perguruan Nalanda di India Selatan  menggunakan Kapal Sriwijaya kapal yang menguasai pelayaran Laut Cina Selatan, yang merupakan bentuk kapal Jung Jawa.
       Konstruksi perahu bercadik sangat unik.  Lambung perahu dibentuk sebagai menyambungkan papan-papan pada lunas kapal. Kemudian disambungkan pada pasak kayu tanpa menggunakan kerangka, baut, atau paku besi. Ujung haluan dan buritan kapal berbentuk lancip.  Kapal ini dilengkapi dengan dua batang kemudi menyerupai dayung, serta layar berbentuk segi empat, untuk Kapal Perang dengan bobot 500-1000 ton dinding kapal terbuat dari 4-6 lapis papan yang tahan atas letupan bom dan tiang layar 4-5 tiang.  Kapal Jawa jelas berbeda dengan kapal Tiongkok yang lambungnya dikencangkan dengan bilah-bilah kayu dan paku besi.         Selain itu kapal Tiongkok memiliki kemudi tunggal yang dipasang pada palang rusuk buritan.
       Sejarah perkembangan kapal Jawa berawal dari bentuk Kapal Jung Borobudur sebagaiman tergambar pada relif di dinding Candi Borobudur, kemudian berkembang menjadi Jung Jawa dan selanjutnya menjadi Jung Nusantara pembedaan ini bagi saya semata-mata melihat perkembangan kapal dari Ukuran kapal, layar, tiang layar dan ketebalan dinding yang lebih besar, Kegunaan kapal yang tadinya untuk transportasi biasa menjadi kapal perang dan Niaga khusus dan dari sisi pengguna kapal yang tadinya hanya kalangan kerajaan Jawa kemudian menjadi kapal resmi buat penguasa di Nusantara.
       Bukti lain kepelautan bangsa Indonesia di ungkapkan oleh Pelaut Portugis yang mengarungi samudra pertengahan abad 16  Diego De Coute dalam buku Da Asia terbit tahun 1645 yang mengatakan bahwa pelaut Jawa lebih dulu tiba di Tanjung Harapan, Afrika dan Madagaskar, karena ia menemukan warga disana yang berkulit Coklat yang mengaku sebagai turunan Jawa.

3.  Tambak :  Awalnya tempat penangkapan dan Pembesaran Ikan.

       Hal yang patut disyukuri bangsa Indonesia bahwa Nenek moyang kita sebagai bangsa bahari tidak saja meninggalkan warisan sebagai pelaut yang ulung tapi beberapa warisan kebaharian  lainnya, diantaranya pembuatan Tambak yaitu sebuah kolam ditepi laut untuk memelihara ikan.
       Budidaya ikan Tambak ini mulai dikenal di Indonesia di daerah Takalar Sulawesi Selatan jauh sebelum bangsa Taiwan dan China mengenal Budidaya Tambak, meski penggunaan Tambak dulu tidak semutahir sekarang tapi dasar tersebutlah yang berkembang hingga perkembangan budidaya tambak sekarang, karena bertambak dulu prinsipnya hanyalah membuat petakan air di pinggir laut dengan tanah (kolam) kemudian pada saat air pasang, air yang masuk bersama biota laut ke tambak kemudian ditutup sehingga saat surut air tetap di tambak, kemudian ikan yang besar ditangkap sedang yang kecil dikurung untuk dipelihara hingga dewasa.
        Berdasarkan Prasasti Karang Bogem bahwa Kerajaan MajaPahit pada tahun 1387 M memiliki seorang Patih Tambak yang bertugas memungut Upeti dari para Nelayan Tambak, ini berarti bahwa masyarakat Gersik pesisir sejak dulu telah mengenal dunia Tambak.   
      
4. Keris: kecanggihan teknologi penempaan logam

       Penempaan logam sejak lama telah ditemukan di bumi Nusantara diantaranya dalam pembuatan keris sehingga lahirlah para Empu sebagai cerdik Pandai dalam pembuatan Keris dengan menempa dan pelipatan berbagai jenis logam sebagai bahan dasar bukannya dengan pengecoran.
       Pembuatan Keris yang dimulai dari lembaran besi yang ditempa dengan berkali lipatan dapat mencapai ribuan kali, merupakan suatu kegiatan cukup istimewa dan menarik, Perkembangan Penempaan disertai pelipatan tersebut yang mewujudkan suatu teknologi tersendiri sehingga lahirlah Tekni Tempa TOSAN AJI (Tosan=besi dan Aji=berharga).
       Pemilihan bahan tempaan dalam pembuatan Keris juga telah dikuasai dalam TOSAN AJI termasuk pemilihan Akan batu Meteorit yang mengandung unsur Titanium sebagai bahan Keris terbaik karena sifatnya Ringan dan kuat.
       Pemilihan akan batu meteorit yang mengandung unsur titanium sebagai bahan keris, juga merupakan penemuan nenek moyang kita yang mengagumkan. Titanium lebih dikenal sebagai bahan terbaik untuk membuat keris karena sifatnya ringan dan sangat kuat, namun ada juga permasalahannya yaitu bahan ini mempunyai titik lebur yang sangat tinggi mencapai 60 ribu derajat celcius dari dari titik lebur logam lain yang hanya mencapai 10 ribu derajat celcius.  Dalam alam modern sekarang ini Titanium banyak digunakan untuk Pelapis Hidung Pesawat Angkasa luar, Ujung Roket dan Peluru Kendali antar Benua.


5. Benteng Keraton Buton : Arsitektur bangunan untuk pertahanan 

       Bekas ibu kota salah satu Kesultanan Buton di Sulawesi Tenggara terdapat sebuah benteng yang cukup unik dan artistic sebagai suatu bukti kejayaan tehnologi masa lampau yang patut kita banggakan dan menjadi kekayaan khasana budaya Bangsa. 
        Benteng tersebut dibangun di atas bukit seluas sekitar 20,7 hektar di Buton berbentuk Lingkaran dengan panjang lingkaran 2.740 meter dengan Pintu Gerbang 12 buah dan Pos Penjaga/Kubu Pertahanan (bastion) atau Balura (bahasa setempat)  dan terbuat dari Batu Kapur.
       Kekhasan lain Benteng ini tiap Pintu Gerbang (lawa) dan Balura dikawal 4-6 meriam, secara keseluruhan jumlah meriam benting ini sebanyak 52 buah, Pojok kanan sebelah selatan terdapat Godana-Oba (gudang mesiu) dan Gudang Peluru disebelah kiri.  Letaknya pada puncak Gunung yang tinggi dengan Lereng terjal mengitarinya membuatnya sebagai Benteng terbaik dizamannya.  


6. Si Gale gale : Teknologi Robot tradisional Nusantara

       Kalau diluar negeri kita mengenal Patung yang sangat terkenal dengan kisah melegendanya yaitu PINOKIO di Indonesia kita juga mengenal beberapa Boneka atau Patung khas sampai ada yang menyerupai Robot karena dapat bergerak-gerak secara khusus layaknya robot seperti Sigale-Gale dari Batak.
       Sigale – Gale merupakan Boneka khas dari Batak Sumatra Utara dengan Legenda Kisahnya bahwa dulu kala Seorang Raja dari Suku Karo di Samosir membuat Patung dari Kayu untuk mengenang anak satu-satunya yang telah meninggal dunia dan melepaskan kerinduan dan kesedihannya pada anak tersayangnya tersebut.
       Keunggulan Boneka tersebut sehingga disebut sebagai Robot karena ia dapat bergerak dan bertingkah layaknya manusia seperti membungkuk, menggerakkan tangannya, gerakan mata, gerakan kepala dan menari-nari yang digerakkan manusia melalui tali-tali yang menghubungkannya, jadi komplisitas tali yang menghubungkannya dengan beberapa orang yang memainkannya serta ketinggiannya dapat mencapai satu meter setengah membuat ia merupakan suatu penemuan yang cukup special dijamannya dulu dan bisa dikatakan sebagai awal dari dunia kerobotan dunia.


7. Pengindelan Danau Tasikardi :  Kecanggihan Teknologi Penjernihan Air
       Nenek Moyang kita tepatnya di zaman Kesultanan Banten sekitar abad ke 16-17 telah dapat membangun satu jentra pemprosesan air bersih yang diambil dari waduk Tasikardi yang dialirkan ke bangunan Keraton Surosowan untuk keperluan seharian.
       Tehnik pisik penjernihan air yang banyak digunakan jaman sekarang telah diterapkan dijentra tersebut seperti Pengendapan dan Penyaringan air kotor dalam proses ini,  air dari waduk sebelum mencapai Keraton Surosowan akan melalui tiga bangunan penyaringan air seperti tersebut diatas yaitu bangunan yang diberi nama Pengindelan Putih, Abang dan Emas.
       Setelah melalui Pengidelan barulah air dibagikan ke Keraton Surosowan melalui pipa-pipa yang berdiameter 40 Cm dan terbuat dari tanah liat.
         Sebagai rangkaian kemajuan Kesultanan Banten dibidang Ilmu Pengetahuan saat itu selain pemprosesan air bersih tersebut pada zaman itu juga dibangun sebuah Danau buatan yang disebut  Danau Tasik Ardi sebagai pemasok kebutuhan air bersih bagi Penduduk disekitar dan pemasok air bagi lahan pertanian, suatu yang luar biasa.


8. Karinding : Teknologi pengusir hama dengan gelombang suara


       Kerinding merupakan alat music Sunda yang terbuat dari Pelepah Kawung atau Bambu berukuran 20 x 1 Cm yang di Potong menjadi tiga bagian yaitu bagian Jarum tempat keluarnya nada (Cecet Ucing atau Ekor Kucing), Pembatas Jarum dan Bgaian Ujung disebut Penenggeul (Pemukul) alat ini selain berfungsi untuk hiburan ternyata bermanfaat untuk mengusir Hama.
       Jika alat musik ini bagian Penenggeulnya dipukul bagian jarum akan bergetar mengalunkan suara dan ketika dirapatkan ke mulut akan menghasilkan bunyi khusus.   Bunyi bernada ini tidak hanya untuk menghibur karena nada yang dihasilkan alat ini mempunyai gelombang sangat rendah atau low decibel yang dapat menyakitkan pendengaran hama dan mengganggu konsentrasi hama akan membuatnya segera menjauhi ladang pertanian  .

9. Rumah Gadang : Arsitektur Rumah Aman Gempa 

       Para nenek moyang orang Minang ternyata berpikiran futuristik alias jauh maju melampaui zamannya dalam membangun rumah. Konstruksi rumah gadang ternyata telah dirancang untuk menahan gempuran gempa bumi. 
       Konstruksi Rumah Gadang di Sumbardengan daya lentur dan soliditas tinggi membuatnya mempunyai kemampuan yang tinggi dalam menghadapi Gempa sehingga yang berkekuatan di atas 8 skala richter, karena guncangan yang tiba akan diterima secara sama pada semua bagian konstruksi. 
       Tingginya kelenturan bangunan ini disebabkan oleh penyambungan atau penghubung beberapa bagian dari bangunan tidak terbuat dari paku yang kaku tap oleh pasak yang lebih pleksibel selain itu kaki bangunan tidak ditanam ke bumi melainkan diletakkan di atas batu sandi.   Batu sandi ini dapat berfungsi meredam getaran yang ditimbulakan bumi yang akan mencapai bangunan lainnya, sehingga saat Gempa besar bangunan hanya berayun lunak saja


10. Tempe : Pemanfaatan bioteknologi untuk makanan


       Dalam dunia Kuliner Bangsa Indonesia sejak dulu kala telah menemukan Pengolahan buah kedelai menjadi pangan makanan yang cukup terkenal yaitu “ Tempe “.   Tempe sudah dikenal sejak berabad-abad lalu dibumi Nusantara, dalam Bab 3 dan Bab 12 Manuskrip Serat CENTHINI dengan setting Jawa abad ke 16 telah ditemukan kata  “Tempe”.
       Sebenarnya bangsa Cina, Jepang, India dll sejak dulu juga telah mengenal pengolahan Kedelai menggunakan Ragi tetapi Penggunaan Ragi jenis Rhizopus yang merupakan proses Mikroba atau Mikroorganisme tersebut pertamakali hanya digunakan oleh Nenek moyang bangsa Indonesia.


11. Pranata Mangsa : Sistem  ilmu astronomi nenek moyang kita

       Budaya bangsa Indonesia sejak dulu telah mengamati perkembangan astronomi atau Dunia Langit sehubungan dengan keterkaitannya dengan kehidupan mereka sebagai bangsa Bahari dan Agraries.  Di Jawa ilmu ini dikenal dengan PRANATAMANGSA yaitu peramalan musim berdasarkan gejala-gejala alam yang umumnya berhubungan dengan tata letak bintang di langit.  
       Sebagai Bangsa Indonesia kita harus bangga karena telah diwariskan sebuah pengetahuan yang sangat besar setara dengan bobot penanggalan bangsa lain di muka bumi seperti penanggalan bangsa Mesir Kuno, China, Maya dan Burma dan tak kalah bila dibandingkan dengan penanggalan dunia riset sekarang dalam berbagai sector Cuma pengembangan kita sebagai penerus kurang terperhatikan sehingga kita tak mengenal disiplin tersebut.
       Menurut Daldjoeni dibukunya “ Penanggalan Pertanian Jawa Pranata Mangsa “ penggunaan Pranatamangsa masih sangat relevan dengan keadaan sekarang karena ilmu ini oleh moyang kita dibikin dengan mempelajari keadaan alam seperti musim Hujan, musim kemarau, musim berbunga, Musim berbuah, Musim Hama, Posisi Rasi bintang, Pengaruh Bulan Purnama dll.


12.  Main Raga :  Hiburan berunsur atraksi Bola. 

       Di Muka bumi ini siapa yang tak mengenal Sepak Takraw sebuah olah raga yang mulai dipopulerkan di daratan Semenanjung Malaysia, suatu olah raga yang menggunakan Bola terbuat dari anyaman Rotan dan dimainkan dalam sebuah Garis segi Empat menggunakan Net sebagai pembatas dan penghalang antara regu pemain, dalam permainan ini pemain hanya boleh menggunakan kaki, Badan dan kepala untuk memainkan bola.

       Tapi siapa sangka bahwa Sepak Takraw yang mendunia ini awalnya berkembang dari sebuah olah raga daerah, bahkan bisa dikatakan sebagai atraksi dan hiburan rakyat, yang dimainkan sekelompok orang yang mempunyai kemampuan memainkan secara atraktip bola rotan tersebut yang disebut RAGA dari Makassar, sedang perbedaan yang ada hanyalah sebuah perubahan disebabkan oleh pengaruh Olah raga lain yang lebih dahulu popular yang menggunakan Net dan lapangan.
       Zaman dulu ketika raja dihibur oleh sekelompok Pemain dengan atraksi Raga yang Atraktip, Menarik dan Lucu, maka raja akan memilih pemain berdasarkan kriteria tersebut untuk dijadikan juara mendapatkan hadiah atau untuk dijadikan kerabat raja.  Raga ini oleh Pendatang atau perantau dimainkan di merata Nusantara kemudian di Semenanjung Malaysia dengan pengaruh olah raga lain seperti PoliBall, BadMinton, BasketBall, Soccer dll mengalami perubahan menjadi Sepak Takraw yang dimainkan rakyat di jalan-jalan.


Main RaGa Raja  MeLayu
Raja Bijak Karena BerilMu















































SUKU SEKO TO LEMO DI JANTUNG SULAWESI (SULSEL-SULBAR-SULTENG DAN SULTRA)

NusaNTaRa.Com            byIndaHPalloranG,       J   u   m   a   t,    2   1     A   g   u   s   t   u   s     2   0   2   6             Se...