Ciri-ciri umum Jamur beracun dapat diketahui sebagai berikut : 1. Bila disentuh bagian kulit permukaannya terasa berlendir, licin dan lengket seperti lem. 2. Memiliki Cawan atau Cincin melingkar pada batang Jamur dibawah bulatan Payung meski tidak semuanya. 3. Umumnya jamur beracun memiliki warna menyolok seperti Merah, Biru, Kuning, Hitam, Putih ataupun warna lainnya, hati-hati jangan tertipu oleh keindahan warnanya seperti jenis Amanita muscaria. 4. Memiliki Bau yang menyengat seperti Amoniak atau seperti bau Habitatnya dari kotoran ternak atau busukan lain, Jamur beracun yang tidak berbau seperti Jamur Tlethong hidup dikotoran ternak sapi, kerbau dan Kuda. 5. Apabila ditaburi Garam Dapur (NaCl) pada kulit permukaannya akan mengeluarkan buih atau busa. 6. Jamur beracun bila disayat dengan Pisau anti karat (Stainless steel) akan mengeluar noda warna biru kehitaman pada permukaan pisau. 7. Bila dipanaskan dan dimasak akan terjadi perubahan warna dari putih ke warna gelap. 8. Jamur tidak beracun dapat pula beracun karena dibiarkan membusuk sehingga ditumbuhi bakteri penghasil racun seperti Clostridium.
Jumat, 29 Juli 2011
JAMUR BERKHASIAT TAPI DAPAT BERACUN
Ciri-ciri umum Jamur beracun dapat diketahui sebagai berikut : 1. Bila disentuh bagian kulit permukaannya terasa berlendir, licin dan lengket seperti lem. 2. Memiliki Cawan atau Cincin melingkar pada batang Jamur dibawah bulatan Payung meski tidak semuanya. 3. Umumnya jamur beracun memiliki warna menyolok seperti Merah, Biru, Kuning, Hitam, Putih ataupun warna lainnya, hati-hati jangan tertipu oleh keindahan warnanya seperti jenis Amanita muscaria. 4. Memiliki Bau yang menyengat seperti Amoniak atau seperti bau Habitatnya dari kotoran ternak atau busukan lain, Jamur beracun yang tidak berbau seperti Jamur Tlethong hidup dikotoran ternak sapi, kerbau dan Kuda. 5. Apabila ditaburi Garam Dapur (NaCl) pada kulit permukaannya akan mengeluarkan buih atau busa. 6. Jamur beracun bila disayat dengan Pisau anti karat (Stainless steel) akan mengeluar noda warna biru kehitaman pada permukaan pisau. 7. Bila dipanaskan dan dimasak akan terjadi perubahan warna dari putih ke warna gelap. 8. Jamur tidak beracun dapat pula beracun karena dibiarkan membusuk sehingga ditumbuhi bakteri penghasil racun seperti Clostridium.
Rabu, 20 Juli 2011
JUNG JAWA PENGUASA PELAYARAN NUSANTARA
Pada abad ke 16 Para penjelajah laut dan pengelana samudra telah memiliki apa yang disebut jaringan hubungan masyarakat bahari di Tanah Air. Dari Arsip-arsip Daghregister, Pada masa itu telah ada Syahbandar sebuah jabatan penting di pelabuhan untuk mengurusi berbagai masalah perdagangan dan pelayarana. Syahbandar ini diangkat langsung oleh raja dari orang yang memiliki pengalaman berdagang dan umumnya dari kalangan orang kaya serta memahami banyak bahasa asing. Tugas syahbandar ialah menyelesaikan segala permasaalahan yang terjadi di pelabuhan. Selain Daghregister, kita dapat memakai Undang-Undang Laut dan ilmu mengenai metereologi dan navigasi namun teknik perkapalan zaman dulu hampir tidak ditemukan karena pembuatan kapal dan kepelautan pada masa itu erat kaitannya dengan kepercayaan setempat.
Jung memegang peranan penting dalam perdagangan Asia Tenggara pada masa lampau, Ia menyatukan jalur perdagangan Asia Tengara yang meliputi Campa (ujung selatan Vietnam) , Ayutthaya (Thailand), Jawa, Aceh, Malaka dan Makassar.
berkurang.
barang pertanian dan transportasi semakin berkurang atau terbatas.
mematikan daya saing Jung.
pantai membatasi perkembangan Jung.
Perdagangan.
Minggu, 17 Juli 2011
MENOLAK MENJADI INDONESIA SUATU KENISCAYAAN DI KEP. TERUTARA
NusaNTaRa.Com byTeukUKemaLFasyA, 07 N o v e m b e r 2012
Tulisan ini saya dapat ketika melakukan penelitian di Natuna dan Anambas Kab. pemekaran dari Natuna, saya menemukan banyak hal yang mungkin tidak daapatkan di daerah Indonesia lainnya. Kedua kabupaten kaya minyak dan gas (migas) ini, yang disebut ” Pulau Tujuh ”, hidup dalam keragaman yang sangat tinggi. Meskipun etnis Melayu adalah mayoritas, tetapi tidak menjadi etnis dominan dan manipulative karena etnis lain seperti Minang, Siak, Kampar, Bugis, Jawa, Batak, dan China dapat hidup rukun-damai dlam aspek yang luas. Agama di wilayah ini bukan hanya enam (orang masih melupakan Konghucu sebagai agama resmi sejak era Abdurrahman Wahid), tetapi bisa tujuh atau delapan.
Masyarakat asli (indigenous people) Anambas bukanlah suku Melayu, melainkan suku Laut yang tinggal di Air Sena dan Air Asuk Pulau Siantan. Sampai hari ini sebagian besar suku Laut masih hidup dengan agama lokal. Bagi masyarakat lain disana (melayu, minang, Bugis, Jawa dll) mereka tidak dianggap aneh bahkan diantara mereka ada yang berpindah menjadi Katolik, Buddha atau Islam, tetapi tidak berdasarkan politik islamisasi atau kristenisasi melainkan dengan alasan-alasan yang sangat personal.
Peroalan
komplik perkauman hampir tidak ada, hampir
seumur hidup mereka tidak pernah ada sejarah konflik berbasis agama dan etnis.
Etnis China tidak mendapatkan perlakuan diskriminatif, bahkan banyak yang duduk
di pemerintahan dan politik. Muhammad
Jamil, tokoh politik Natuna keturunan Aceh yang telah berada di Bunguran
(Natuna) sejak 1965 ketika Orde Lama dan yang telah melancarkan agresi
anti-Malaysia, mengatakan, daerah ini bebas dari segala pengaruh buruk Jakarta.
Fenomena pembantaian pengikut PKI pada
1965 atau perampasan dan pemerkosaan etnis China pada 1998 tidak pernah jadi
realitas di daerah ini.
Secara kultural NU tak ada representasi politik dominan, ada 11 partai yang mendapatkan kursi di DPRD Natuna dan 13 partai di Anambas, sebagian besar partai politik berhaluan nasionalis. Momen elektoral, seperti pilkada, pun tidak pernah bergumuruh dan luruh oleh kekerasan. ”Natuna dan Anambas bebas dari darah politik dan permusuhan yang kerap ditemukan di Pulau Jawa,” kata Jamil.
Definisi politis.
Persis ungkapan ikonik Natuna : ” mutiara terpendam dari utara ” Indonesia., dengan kandungan potensi mineral berlimpah yang membuatnya tak terlepas ke tangan Vietnam atau Malaysia sejak awal brdirinya. Namun, tokoh nasional, seperti Mohammad Hatta, pernah menjejakkan kakinya ke Natuna, bahkan ketika belum mengetahui potensi alamnya pada pertengahan 1950-an. Politik Indonesia diingat bersemangatkan Hobbesianism, Demokrasi diterjemahkan sebagai praktik menyebar fitnah dan mekanisme kompleks untuk menguntungkan diri sendiri dan perkauman, bahkan tidak ada harmoni dan kerukunan kecuali di ujung retorika, tidak ada ketulusan atas perbedaan yang bisa merusak iman dan mengganggu eksistensi golongan.
Wacana seperti ini tidak bisa dikatakan kesalahan seluruh rakyat Indonesia. Kekaburan memaknai Indonesia ini sesungguhnya hanya disebabkan beberapa kesalahan. Kesalahan pertama karena sebagian besar penelitian dan penulisan Indonesia dikonstruksikan melalui lensa miopik. Bukan hanya sarjana asing, cendekiawan pribumi pun sering latah menyebutkan praktik dan budaya politik ”pusat” adalah representasi Indonesia. Penelitian tentang dinamika politik Indonesia hanya bertemu narasumber di Jakarta, paling luas Jawa.
Kesalahan kedua adalah narasi. Narasi ”negara” lebih menawan untuk dibaca dan dimaknai, tetapi secara bersamaan narasi masyarakat, apalagi masyarakat sipil, dianggap kurang seksi untuk dibaca. Akhirnya penyebutan tentang Indonesia adalah yang berhubungan dengan ”serba negara”. Belum lagi penyebutan Indonesia yang memermanenkan limitasi temporer dan spasial, yaitu rezim yang sedang berkuasa (Simon Philpott, Rethinking Indonesia : Postcolonial Theory, Authoritarianism and Identity, 2000).
Kesalahan ketiga karena pencampuran hal-hal ilmiah dan politik mengaburkan mana yang disebut fakta dan opini, mana yang bisa disebut ketepatan dan mana yang bersifat berlebih-lebihan, generalisasi dan penyederhanaan. Ini bisa dilihat dari wacana para politikus, demagog, fundamentalis, oportunis, dan lain-lain, yang sifatnya elitis. Mereka membangun teori serba suram tentang Indonesia. Padahal, Indonesia yang diteoretisasikan itu tak lebih luas dari pikiran, tempat tinggal, dan lingkungannya.
Anti-Jakarta ?.
Apa yang sebenarnya berlaku dalam wacana poskolonial bisa juga digunakan untuk mendefinisikan Indonesia versi baru. Wajah buruk demokrasi hari ini disebabkan elite-elite (Jakarta atau pengikut Jakarta) yang minim semangat kebangsaan, anti- keberagaman, pikiran taklid, dan serakah berada di tengah kekuasaan. Sebagian keburukan itu pun mengalir ke daerah-daerah. Akan tetapi, tidak semua terkena dampaknya. Ada daerah-daerah yang sama sekali tidak mengikuti langgam Jakarta.
Saat ini politik nasional dipenuhi praktik serba fitnah, jegal, dan korup, tetapi ada juga daerah-daerah yang tak suka—baik secara esensial maupun instrumental—budaya itu. Kalau kini ”Indonesia” dikacaukan oleh praktik kekerasan atas nama kesucian agama, kepentingan mayoritas, dan arogansi tempatan, masih ada ”Indonesia-indonesia” kecil yang mentradisikan sebaliknya. Andaikata muncul opini ”keniscayaan Indonesia harus menjadi negara agama”, siapa pula yang mengklaim itu sebagai keniscayaan?.
Jika
ada yang mengatakan dulu politik lokal dimanipulasi oleh elite nasional, apakah
ada pembenaran elite lokal sekarang berhak memanipulasi sub-lokalnya ? Nilai
etis mana yang membenarkannya ? Tidak
ada akar historisisme dan keilmiahan yang mengharuskan kita takluk oleh opini
entah dari mana dan untuk kepentingan siapa itu. Kalau ” Indonesia ” yang direpresentasikan serba melarat, preman, korup, a nti-perbedaan dan
monolitik, selayaknya kita menolak ” Indonesia ” seperti itu. Karena ada Indonesia lain yang
masih bersih dan otentik, yang belum rusak oleh budaya impor Jakarta dan Barat. Ia
bertempat jauh dari pusat, masih hening di tengah hiruk-pikuk, dan
mempraktikkan kebaikan berbangsa, berwarga-negara dan bermasyarakat. dr. KOMPAS.com, Teuku Kemal Pasya, 07/11/2012.
Taman Indah beragam bunga,
Keragaman warga Natuna jadikan bahagia.Sabtu, 09 Juli 2011
SaiNS Baheula BangSA INdoneSIA
Candi borobudur sendiri adalah stupa raksasa yang di dalamnya terdiri dari stupa-stupa lain yang lebih kecil. Terus hingga ketidak berhinggaan. Sungguh mengagumkan nenek moyang kita sudah memiliki pengetahuan seperti itu. Bangunan Candi Borobudur benar-benar bangunan yang luar biasa.
2. Kapal Jung Jawa : Teknologi kapal raksasa
4. Keris: kecanggihan teknologi penempaan logam
5. Benteng Keraton Buton : Arsitektur bangunan untuk pertahanan
6. Si Gale gale : Teknologi Robot tradisional Nusantara
7. Pengindelan Danau Tasikardi : Kecanggihan Teknologi Penjernihan Air
8. Karinding : Teknologi pengusir hama dengan gelombang suara
9. Rumah Gadang : Arsitektur Rumah Aman Gempa
10. Tempe : Pemanfaatan bioteknologi untuk makanan
11. Pranata Mangsa : Sistem ilmu astronomi nenek moyang kita
SUKU SEKO TO LEMO DI JANTUNG SULAWESI (SULSEL-SULBAR-SULTENG DAN SULTRA)
NusaNTaRa.Com byIndaHPalloranG, J u m a t, 2 1 A g u s t u s 2 0 2 6 Se...
-
NusaNTaRa.Com byKulaIAgabaG, K a m i s, 0 2 J a n u a r i 2 0 2 5 Pasukan Merah Borneo ...
-
Akhirnya X FACTOR 2013 INDONESIA program Ajang pencarian Bakat penyanyi Indonesia yang menjadi satu program Ungul...
-
NusaNTaRa.Com byKulaLAgabaG, S e l a s a, 0 2 F e b r u a r i 2 0 2 6 Dayak Tomum / dayak ...







